
Hardi berada di ruangannya sedang membuka berkas kerja sama MK company dan Lean Beauty. Pikirannyavsudah bulat untuk segera memutus kontrak dengan Aini. Dia merasa kesal mengingat kejadian malam itu, saat Aini menjebaknya untuk tidur dengannya. Hardi memanggil Rio untuk segera datang keruangannya, tak lama Rio masuk ke ruangan Hardi.
"Tolong kau urus semua ini, saya minta pemutusan kontrak dengan Lean beauty. Untuk uang ganti rugi kontrak berikan sesuai yang ia inginkan." tegas Hardi dengan emosi menyerahkan berkas-berkas yang ada di tangannya.
"Tapi pak, apa ada yang salah? Kenapa pak Hardi mendadak memutuskan kontrak dengan Lean Beauty" Rio merasa bingung dengan keputusan Hardi.
"Saya tidak ingin bekerjasama dengan perempuan murahan itu, tak usah membantah. Kerjakanlah sesuai yang saya perintahkan" ucap Hardi dengan sangat geram.
"Ba..baik pak, saya pamit" Rio merasa ngeri jika Hardi sudah mulai marah, ia pun segeranl keluar dari ruangan Hardi untuk mengurus semuanya.
"Perempuan muraha? apa maksud dari perkataan pak Hardi itu?" gumam Rio dalam hati.
***
Rio menghubungi Aini untuk bertemu di sebuah restoran, Aini yang mendapat telpon mendadak itu oun sedikit terkejut, ia bisa menebak apa yang akan terjadi. Tanpa pikir panjang ia pun menyetujui nya.
Rio meminta harus saat ini juga karena jika Hardi sudah marah harus di selesaikan dengan cepat sesuai permintaannya, Rio sudah hafal sekali dengan sikap dan watak atasannya.
Pukul 3 sore, Rio dan Aini sudah berada di sebuah restoran tak terlalu jauh dari kantor MK Company, tanpa basa-basi Rio langsung menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya, yang isinya tentang pemutusan kontrak secara sepihak dari MK company.
"Ini apa maksudnya? pemutusan kontrak sepihak kayak gini. Saya benar-benar tak terima, apa saya melanggar kontrak kerjasama kita? tidak, kan!" Aini sedikit emosi dengan berkas yang dibacanya, ia tidak menerima apa yang di tulis di sana.
"Saya hanya menjalankan tugas, untuk alasan pastinya saya juga kurang paham namun mohon tandatangani suratnya sekarang juga" tegas Rio menyerahkan bolpoin di sakunya.
"Tidak tidak, saya sudah bersusah payah ikut membuat produk HaSa Beauty, saya tak terima di putus kontrak begitu saja, harus ada penjelasan yang jelas yang memperkuat keputusan ini." Aini masih saja menolak untuk menandatangani berkasnya.
__ADS_1
"Kami akan mengganti kerugian yang anda alami, baik material atau immaterial. Anda tinggal mengajukan seberapa jumlah yang anda minta untuk menutupi kerugian anda, pasti kami akan memberikannya langsung ke tangan anda tanpa kurang sepeserpun. Mohon di tandatangani berkasnya dan tulis nominal yang anda inginkan di Cek ini." Rio kembali memberikan penawaran kepada Aini dan menyodorkan selebar cek kosong pada Aini.
Aini sedikit memikirkannya dan mempertimbangkannya dengan cukup matang, hingga ia akhirnya menyetujui tawaran Rio dan menandatangani berkas pemutusan kontrak tersebut serta menuliskan 10 milyar rupiah di cek kosong yang di berikan Rio.
"Baiklah, terimakasih atas kerjasamanya dan pengertiannya, uang yang anda minta akan segera kami transfer ke rekening anda secepatnya. Anda tidak perlu khawatir" jelas Rio, membawa berkas-berkasnya dan meninggalkan cek tersebut setelah di cap stempel tanda perusahaan dan langsung bisa Aini cairkan, lalu mereka pun berpisah.
Aini baru ingat mungkin karena kesalahannya waktu itu yang membuat Hardi memutuskan kontrak dengannya, jika tebakkannya benar berarti malam itu Hardi benar-benar sadar dan mengingat semunya. Aini sangat menyesali perbuatannya. Padahal bekerjasama dengan MK company itu adalah sebuah keberuntungan yang tidak mungkin terilang kembali, namun karena nafsunya membuatnya lenyap begitu saja.
"Sialan... Mengapa aku melakukan tindakan bodoh itu? Dasar sial sial sial" batin Aini menyesal dan memaki dirinya sendiri. Karena memang nasi sudah menjadi bubur, tak dapat di ubah kembali.
***
Hardi pulang pukul 10 malam, langsung masuk kedalam kamar. Terlihat Sarah belum tidur dan masih menonton televisi di atas tempat tidur. Melihat Hardi masuk kamar dan langsung terduduk menyandarkan dirinya di atas sofa dengan memijit pelipisnya yang terlihat sedang pusing, membuat Sarah ingin menghampirinya. Namun Sarah merasa ragu, khawatir jika ia malah akan mengganggunya dan malah menambah pusing suaminya.
Namun dia mencoba menawarkan minum pada suaminya walau masih ragu. Dengan agak terbata-bata Sarah mencoba menawarkan pada suaminya.
"Boleh, bawa saja" jawab Hardi yang masih memijit pelipisnya.
Sarahpun turun menuju ke dapur, terlihat disana ada bi Sumi sedang mencuci piring. Sarah mengambil gelas, kantung teh dan sedikit gula lalu mencari air panas.
"Air panas di mana bi?" tanya Fitri.
"Tadi habis nyonya, sebentar biar saya panaskan airnya" ucap bi Sumi namun Sarah menghebtikannya.
"Tak apa bi, bibi lanjutkan saja mencuci piringnya, biar saya yang masak airnya" Sarahpun menyalakan kompor dan menaruh teko kecil untuk memasak air panasnya.
__ADS_1
Tak berapa lama airnya pun telah masak, sarah segera menuangkan ke dalam gelas lalu membawa teh itu ke kamarnya.
"Pak ini minum teh nya dulu" ucap Sarah menaruh gelasnya di atas meja.
Lalu Hardi mengambil gelas dan langsung meminumnya, tanpa di sadari airnya masih panas, lalu ia menyemburkan air tehnya dan meletakan gelasnya di atas meja, lidahnya yang terasa panas karena air teh itu.
"Panas banget, hah hah... Dasar kau, panas banget ini" gerutu Hardi meninggikan nada suaranya sambil menjulurkan lidahnya keluar dan mengipas-ngipas dengan tangannya.
"Uh maaf pak, maaf saya tak memberitahu kalau airnya masih panas" Sarah panik melihat Hardi yang kepanasan, ia segera turun untuk mengambil air dingin dan menyerahkannya kepada Hardi dan Hardi pun segera meminumnya.
"Kau tuh yah, bikin lidah orang terbakar. Dasar malah tambah buat aku jengkel" geram Hardi merasakan lidahnya yang masih panas.
Sarah hanya tertunduk menyesal dengan apa yang terjadi dan teepihat tangannya mulai gemetar. Melihat reaksi Sarah seperti itu membuat Hardi merasa khawatir jika rasa traumanya kambuh kembali.
"Yaudah, saya juga yang salah tak mengecek dulu airnya, malah langsung minum saja. Kamu istrirahat saja sana, sudah sangat larut. Cepetan gih" ucap Hardi dengan tegas.
"Yaudah pak kalau begitu, sekali lagi saya minta maaf" ucap Sarah lalu menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya lalu menyelimuti tubuhnya.
Hardi pun melihat Sarah terlihat lebih baik, tubuhnya yang tadi gemetar sudah tak bergetar lagi.
"Kenapa emosiku selalu saja tak bisa ku kendalikan? padahal aku sangat ingin bersikap baik terhadapnya. Hardi, kamu harus bisa, agar dia tak takut lagi terhadapmu" batin Hardi mencoba melakukan yang terbaik untuk istrinya.
Bersambung......
Akankah Hardi akan tetap bersikap dingin atau akan mengubah sikapnya?
__ADS_1
Nantikah Up Author selanjutnya 😊