Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Membaik


__ADS_3

Cilla menghampiri Sarah yang terduduk di tempat tidur dengan selimut yang menyelimuti kaki sampai pinggangnya. Cilla naik ketempat tidur dan duduk disamping Sarah.


"Bunda Sakit, Cilla sedih" ucap Cilla memeluk Sarah.


"Bunda tak apa-apa sayang, besok bunda pasti sembuh" ucap Sarah menenangkan.


"Apa ayah jahat lagi?" tanya Cilla.


"Gak sayang, Siapa yang bilang? ayah baik sama bunda kok" sanggah Sarah meyakinkan.


"Cilla bagaimana sekolahnya, Cilla bisa belajarnya?" tanya Sarah mengalihkan topik.


"Cilla bisa, tadi menggambar. Bikin bulan yang gede banget, di bawahnya Cilla kasih danau biar indah . Bu Sita bilang kalau gambar Cilla bagus." ucap Cilla antusias sambil memperagakan dengan tangannya.


Sarah tersenyum dengan tingkah menggemaskan Cilla membuatnya mulai bertambah tenang. Tak berapa lama Hardi masuk ke dalam kamar dan tersenyum melihat Cilla begitu lengket dengan Sarah.


"Cilla... Cilla makan dulu gih, kan sudah sore. Tapi mandi dulu soalnya udah bau acem" ucap Hardi menggoda Cilla.


"Ih ayah, Cilla itu wangi tau walau belum mandi. Iya kan bunda" ucap Cilla lalu melirik Sarah.


Namun Sarah menggodanya dengan menutup hidungnya seolah memang Cilla itu bau. Melihat itu Cilla merasa tak senang lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Ok, Cilla mandi. Huh" Cilla pergi dengan tampang cemberut. Melihat tingkah Cilla membuat Sarah dan Hardi tersenyum.

__ADS_1


Hardi duduk di kursi samping tempat tidur, menatap ke arah sarah.


"Kau sudah baikan?" tanya Hardi.


"Alhamdulillah sudah pak, maaf respon saya kemarin tak baik kepada bapak" balas Sarah.


"Tak masalah, mungkin saya yang salah malah menyentuhmu" ucap Hardi.


"Pak Hardi seharusnya anda masih di kantor pada jam begini" Sarah melihat jam karena memang masih belum jam pulang kantor.


"Saya sengaja pulang lebih awal, ingin memastikan keadaanmu. Saya suruh handle semua kerjaan saya pada Rio" jelas Hardi.


"Saya akan memanggilkanmu dokter Psikiater, agar kau bisa menjalani terapi pascatrauma mu. Mungkin bisa menyembuhkanmu nantinya" ucap Hardi menambahkan.


Ddiinngg ddoonnggg


Suara bell pintu berbunyi, tak lama ada yang mengetuk pintu kamar, Hardi membuka pintu kamarnya.


"Iya ada apa bi?" Hardi bertanya kepada bi Lilis yang ada di depannya.


"Ada den Rio, katanya ada perlu. Dia juga membawa beberapa orang" jelas bi Lilis.


Hardi pun segera keluar untuk menghampiri Rio yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


"Rio, kau sudah dapat yang saya minta kemarin!!" tanya Hardi


"Iya, saya sudah membawa orang-orang yang akan bekerja di sini. Ini pak Maman, 45 tahun untuk menjadi supir anda. Ini bi Entin dan bi sumi untuk menjadi asisten rumahtangga di sini. Saya sudah menyeleksi dengan baik, hingga pasti sesuai yang pak Hardi inginkan" jelas Rio memperkenalkan orang-orang yang di bawanya.


"Ok, kerja bagus. Kau boleh pergi. Dan kalian langsung bekerja mulai hari ini" ucap Hardi.


"Bi Lilis, tolong antar mereka ke belakang" Hardi memanggil bi Lilis, lalu bi Lilis segera menuju ke kamar para asisten rumah tangga di belakang di ikuti oleh ketiganya.


Cilla kembali lagi kedalam kamar menemui Sarah. Lagi-lagi naik ke atas tempat tidur dan mendekat kepada Sarah.


"Bunda, coba cium deh. Udah wangi kan" Cilla mendekatkan dirinya pada Sarah agar Sarah mencium aromanya.


"Iya, anak bunda sudah wangi banget" Sarah mencium gemas pipi Cilla.


Sarah menyalakan televisi yang berada di depannya, menyetel Chanel kartun kesukaan Cilla. Sarah tersenyum melihat Cilla menceritakan dengan antusias tentang kartun yang tayang karena memang sudah sering sekali ia tonton jadi Cilla hafal dengan adegannya.


Setelahnya Cilla terlihat tertidur memeluk pinggang Sarah, lalu Sarah pun ikut tertidur. Hardi masuk kedalam kamarnya, dia melihat Cilla yang tidur memeluk Sarah yang juga terlelap, dia tersenyum melihat kedekatan Sarah dan Cilla sudah seperti anak dan ibu kandung.


***


Jangan lupa Like dan Vote untuk mendukung Author. Komen juga jika ada yang ingin di sampaikan.


. terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2