
Pagi hari semuanya sudah bersiap-siap untuk aktifitas masing-masing. Cilla dan adik-adiknya sudah berangkat ke sekolah sementara Hardi dan Sarah masih berada di dalam kamar.
" Sayang, kita berangkat bareng."
" Mas saja duluan, aku belum selesai." Jawab Sarah yang masih duduk di depan meja riasnya.
" Yasudah mas tunggu sampai selesai."
" Tak perlu, lagi pula ada meeting pagi, aku juga masih lama." Sarah memasang anting di telinganya.
" Yasudah kalau begitu mas berangkat dulu, kamu pakai supir saja biar mas nyetir mobil sendiri." ujar Hardi memakai jasnya dan membawa tasnya lalu keluar kamar.
Sarah menghela nafas, ia bisa menghindari Hardi dengan berbagai alasan. Bukan karena ia masih kesal ataupun marah namun ia masih berharap Hardi menyadari kesalahannya, walau hal kecil namun sebagai suami harus peka terhadap istrinya.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Sarah pun berangkat dengan menggunakan supir pribadinya. Dalam perjalanan, Sarah terus berpikir apa tindakannya benar dengan bersikap dingin pada suaminya tersebut.
Setelah sampai di kantor dia baru ingat jika dia membawa bekal makanan untuk suaminya, sebelumnya Hardi tidak sempat sarapan. Namun ia ragu sehingga dia menyuruh officboy untuk mengantarkannya ke ruangan Hardi.
" Permisi pak, saya mau mengantarkan ini untuk bapak dari bu Sarah."
" Oh iya, terimakasih."
Hardi menghampiri kotak makan yang di letakkan di atas meja lalu ia duduk lalu membukanya. ' Ternyata dia masih perhatian padaku tapi kenapa sikapnya dingin seperti itu?' gumam Hardi.
Hardi melahap makanannya, dia tahu betul jika makanan yang ia makan adalah buatan istrinya bukan buatan asisten rumah tangganya, Hardi menghabiskan bekalnya sampai tak tersisa sambil mengingat-ingat apa selama ini ia melakukan kesalahan sampai membuat Sarah bersikap dingin padanya.
_______
Malam hari di kediaman Rio.
Sita dan Rio sudah bersiap untuk tidur, sebelumnya Sita memastikan jika putri semata wayangnya sudah tertidur.
" Tari sudah tidur?"
" Sudah mas, lelap sekali. Ayo kita juga tidur, sudah lumayan malam juga."
Rio terus saja senyum-senyum penuh arti pada Sita dan Sita pun tahu sekali maksud dari suaminya tersebut.
" Apa sih senyum-senyum? pasti ada maksud nih. Mas, aku malah sering teringat waktu malam pertama kita dulu, mas hanya diam saja tertunduk malu tanpa berbicara atau memegang aku."
" Iya mas ingat banget, soalnya kamu yang agresif duluan."
" Kalau gak kayak gitu paling malam pertama kita berlalu begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Mas tahu gak! aku sampai melewati batas maluku untuk berinisiatif agresif padamu, sampai rasanya wajahku merah padam."
" Iyakah! Mas baru tahu, tapi memang berkat kamu kita jadi seperti sekarang yah."
" Tapi dengan mas seperti itu aku semakin yakin jika aku adalah perempuan pertama untuk mas."
" Iya sayang, kamu adalah wanita pertama dan terakhir untuk mas." Rio mencium kening istrinya.
" Aawww... apaan sih, tangannya pegang-pegang itu, kan geli!"
" Gak apa-apa kali sayang, sudah biasa juga masih kaget gitu."
" Mas sih pegangnya suka mendadak jadi aku kaget, semenjak punya Tari, mas semakin agresif saja."
" Yah soalnya kan kamu tambah cantik jadi mas tambah suka."
Rio menarik selimutnya hingga menutup seluruh tubuhnya dan tubuh istrinya, apa yang dilakukan? silahkan untuk menafsirkan sendiri.
_______
Sementara di rumah keluarga Hardi.
Sarah masih memperlakukan Hardi dengan dingin namun ia tetap menyiapkan kebutuhan suaminya seperti pakaian ataupun makanan dan Sarah juga bersikap biasa jika di depan anak-anak. Seharian ini Hardi sudah memikirkan apa kesalahannya, ia akan meminta maaf dengan apa yang ia perbuat sama dengan yang ia pikirkan.
" Sayang, bisa bicara sebentar?" Sarah hanya menjawab dengan anggukan.
" Belakangan ini sikap kamu berbeda dari biasanya, bahkan jarang sekali berbicara padaku dan seakan seperti menjauh dariku."
" Aku rasa biasa saja, aku hanya capek jadi perlu banyak istirahat."
" Tapi mas merasa kamu sedikit berubah, apa mas punya salah padamu?"
" Coba pikirkan saja sendiri, aku mau tidur badanku lelah sekali." Sarah menarik selimutnya dan kembali tidur dengan memunggungi Hardi. Hardi hendak memegang pundaknya namun ragu hingga dia mengurungkan niatnya, apa salahnya? Kenapa Sarah begitu marah? pikir Hardi penuh tanda tanya.
" Sayang, sayang, mas tahu kalau kamu belum tidur. Mas mau tanya sekali lagi, kenapa kamu marah pada mas?"
" Karena mas gak peka." Jawab Sarah tanpa membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
" Gak peka, maksudnya? mas sama sekali gak ngerti sayang, kamu bilang dong apa masalahnya biar mas bisa minta maaf. Kalau kayak begini kan mas juga gak tahu mesti bagaimana."
Sarah pun merenung lalu ia memutuskan untuk mengungkapkannya.
" Mas, apa rasa cinta mas padaku masih sama seperti dulu?" Sarah akhirnya menghadap ke arah Hardi.
" Tentu saja, mas masih sangat mencintai kamu."
" Terus jika benar begitu kenapa setelah meninggalnya papa, mas memberikan beban berat padaku."
" Beban berat! maksudnya apa lagi?"
" Mas gak sadar apa! Berapa kali mas menghubungiku saat di rumah mama? Berapa banyak mas menanyakan kabarku dan kabar anak-anak? Berapa besar aku mengorbankan waktu untuk menghandle semua pekerjaanmu hingga membuatku sangat lelah? Mas benar-benar gak menyadari itu semua."
Deggg..... Hardi akhirnya tahu masalah apa yang membuat istri tercintanya marah besar, dia benar-benar tak menyadari perbuatannya. Memang tak ada salahnya untuk membantu dan menghibur orangtua agar tak merasa sedih lagi namun malah melupakan kewajiban lain karena sudah memiliki keluarga lain, bahkan lupa dengan kewajiban dalam pekerjaan dan membebankan semuanya pada pundak istrinya.
" Maafkan mas, memang belakangan ini mas malah tak memperhatikan kalian dan tak memperhatikan pekerjaan, mas terlalu fokus untuk menghibur mama sampai mas melupakan semuanya padahal mama sering sekali mengingatkan mas untuk memperhatikan istri dan anak-anak mas namun mas selalu mengabaikan perkataan mama." Hardi memeluk tubuh istrinya.
" Maaf juga aku sudah marah dan bersikap dingin pada mas, aku berharap mas harus bisa membaginya dengan adil agar tak ada kesalah fahaman kembali."
" Iya sayang, mas janji akan adil pada semuanya." Hardi semakin mempererat pelukannya.
" Mas bagaimana jika mama tinggal bersama kita?" wajah mereka sangat dekat hingga jantung mereka berdetak.
" Mmmm... nanti mas coba bicarakan sama mama." Hardi hendak mencium Sarah namun Sarah malah menghindar.
" Kenapa?"
" Ini hukuman mas karena sudah mengabaikanku." Sarah mendorong tubuh Hardi hingga sedikit menjauh.
" Tapi sayang, sesuatu dalam diriku sudah bangkit, aku harus menuntaskannya." keluh Hardi yang menahan hasratnya.
" Itu terserah mas, aku tak mau melakukannya. Mas masih punya tangan kan! selesaikan saja sendiri." Sarah pun kembali memunggungi Hardi dan menarik selimutnya hingga leher. Sarah tersenyum puas telah menghukum suaminya yang telah mengabaikannya sebulan kebelakang.
Berapa lama Sarah sudah terlihat tertidur namun Hardi masih terlihat gelisah, dia gulang guling kesana kemari seperti tak nyaman.
' Sarah enak sekali bisa tertidur tapi aku malah tak bisa tidur. Apa aku harus tuntaskan sendiri? tapi itu malah membuatku semakin tak nyaman, namun jika tidak sepertinya aku tak akan bisa tidur sampai pagi. Aakkzzz .... yasudah lah, terpaksa.' gumam Hardi lalu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
__________
Cilla terlihat duduk melamun di kursinya, memang Cilla selalu datang ke sekolah lebih awal untuk membaca buku pelajaran namun kali ini ia hanya memegang bukunya tanpa membacanya.
" Apaan sih loe Mel! bikin orang kaget aja."
" Loe sih, pagi-pagi udah ngelamun, entar kesambet baru tahu rasa."
" Iya Cilla, memangnya loe ngelamunin apa pagi-pagi?" Dona duduk di samping Cilla.
" Gak kok, gue gak melamun apa-apa."
" Oh iya si Reza katanya jadi ke luar negeri, dia akan mengurus surat-surat pindahan hari ini."
" Apa? beneran?" Ucap Cilla dengan sangat terkejut.
" Loe kenapa kaget banget kayak gitu? kayak yang merasa kehilangan."
" Gak, siapa yang kaget. Gue hanya gak nyangka aja kalau si Reza mau ke luar negeri." balas Cilla tergagap.
" Gak nyangka atau gak rela, jangan-jangan loe malah demen lagi sama si Reza."
" Enak aja loe, mana mungkin gue suka sama cowok pengganggu dan pecicilan kayak dia."
" Gue denger loh kalian bicarain gue." suara Reza mengagetkan semuanya hingga mereka menatap dengan tatapan terkejut.
" Reza! kok loe ada disini! katanya loe mau pindah ke luar negeri." suara Cilla dengan nada tinggi.
" Iya, gue mau ke Australia karena papa di tugaskan di sana jadi sekeluarga harus ikut. Gue kesini mau ngurus surat-surat kepindahan gue saja. Kenapa memang? Loe kangen yah gue kerjain."
" Enak aja, malahan gue bersyukur loe pindah jadi hari-hari gue bisa tenang." balas Cilla dengan tenang.
" Yasudah, gue mau ke ruang kepala sekolah, sekalian gue mau pamit sama kalian, jangan pada kangen yah." ucap Reza dengan cengiran khasnya lalu pergi meninggalkan mereka. Cilla terlihat tak begitu senang namun dia mencoba tersenyum untuk menutupinya.
' Kenapa gue gak rela Reza pergi? Apa karena sudah kebiasaan gue di kerjain dia? hah... apaan sih gue, ngapain juga peduliin cowok pengganggu dan pecicilan kayak dia, masih banyak cowok baik. Cilla tolong jangan mikirin si Reza, ok aku harus fokus dengan pelajaran, semangat.' suara hati Cilla.
________
Hardi dan Sarah memutuskan untuk pulang lebih cepat karena memang pekerjaan mereka tidak terlalu banyak sehingga mereka bisa pulang untuk istirahat. Sarah meminta di buatkan makan malam lebih cepat kepada asisten rumah tangganya sebab ingin tidur lebih cepat. Sambil menunggu makanan selesai, Sarah menonton televisi sambil merebahkan diri di ranjang.
Hardi baru keluar kamar mandi dengan telanjang dada hanya melilitkan handuk di pinggangnya, memperlihatkan perut sixpack nya dan otot lengannya yang kekar, di tambah rambutnya yang setengah basah menambah keseksiannya.
__ADS_1
" Sayang, jangan rebahan saja, cepat mandi sana."
" Iya mas, lagian aku juga kan nunggu mas selesai mandi."
" Oh iya, kenapa kita tadi gak mandi bareng aja yah." ucap Hardi cengengesan, Sarah hanya mengerucutkan bibirnya lalu berlalu ke kamar mandi.
Kemudian terdengar suara ketukan dari luar kamarnya, Hardi membuka pintu dan terlihat asisten rumah tangganya memberitahu jika makan malam sudah siap. Tak lama Sarah keluar dengan pakaian handuknya menuju ruang ganti untuk memakai baju piyamanya. Mereka berdua pun turun menuju meja makan disana sudah ada Cilla, Arsa dan Arka. Sarah dan Hardi pun duduk di kursi meja makan.
Hardi memperhatikan Sarah yang sedikit murung, " Cilla, kenapa? sepertinya kurang bersemangat, itu makanan juga cuma di aduk-aduk saja."
" Oh gak apa-apa ayah, cuma lagi kurang nafsu makan saja." balas Cilla lalu sedikit memakan makanannya.
" Arka dan Arsa bagaimana sekolah kalian? Kalian gak bandel kan?"
" Gak ayah, kami sekolah dengan benar, ayah juga tahu kan kalau kami selalu masuk 10 besar di sekolah." balas Arka dengan bangga.
" Bagus, itu baru putra-putra ayah." Hardi pun sangat bangga dengan keduanya yang tumbuh dengan pintar dan tampan.
" Aku sudah selesai." ucap Cilla lalu beranjak dari duduknya.
" Kamu mau kemana? makanannya belum habis." tanya Sarah.
" Aku mau ke kamar, banyak tugas yang harus aku kerjakan." Cilla melanjutkan langkahnya.
" Kalian tahu ada apa dengan kakak kalian?"
" Mungkin baru putus."
" Apa kakak kalian punya pacar?"
" Entahlah."
Makan malam pun selesai, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Sarah sudah menguap, dia benar-benar capek hingga ingin segera tidur. Setelah gosok gigi, Sarah langsung naik ke atas ranjang di susul oleh Hardi yang bertelanjang dada.
" Kenapa gak pakai baju?"
" Aku kegerahan sayang, AC nya kan rusak, besok harus di service." tak berapa lama mereka pun tertidur.
Namun tepat jam 1 malam Sarah terbangun, dia melihat suaminya yang tertidur terlihat sangat tampan apalagi wajahnya mulus karena baru bercukur. Pandangan Sarah mengarah pada dada bidang dan perut sixpack nya yang membuat Sarah menelan air liurnya. Sarah mengelus halus wajah Hardi dari kening, hidung, bibir hingga kedagunya . Kemudian Sarah mengecup sekilas bibir Hardi yang sedikit terbuka, Sarah melanjutkan dengan mengelus dada bidang Hardi, perut hingga berhenti di pusarnya segera Sarah menarik tangannya namun tangan Hardi segera meraih tangan Sarah.
" Eh... mas bangun!" Sarah sedikit terkejut.
" Bagaimana mas bisa tidur kalau tubuh mas di raba-raba kayak gitu, bahkan di cium segala." Hardi sekarang berada di atas tubuh Sarah.
" Soalnya tubuh mas masih sebagus itu di usia 43 tahun, masih seperti usia 30an jadi aku gak sadar menyentuhnya."
" Mas kan menjaga tubuh mas untuk tetap bugar dengan berolahraga, itu juga demi kamu kan." ucap Hardi lalu menyusupkan kepalanya kesamping leher Sarah yang membuat Sarah kegelian.
" Maafkan aku mas, ayo kita tidur lagi." Sarah mencoba berkilah.
" Siapa coba yang membangunkan macan tertidur, aku gak akan melepaskanmu. Lagi pula sudah sangat lama kita tak melakukannya, siap-siap saja kamu akan kelelahan." Hardi mencium seluruh wajah Sarah tanpa terlewat seinci pun.
" Tapi besok aku....." Sarah tak bisa melanjutkan perkataannya karena bibirnya telah menyatu dengan bibir Hardi.
Pakaian Sarah yang sangat mudah untuk di lepas, di lempar begitu saja oleh Hardi. Sehingga memudahkan Hardi untuk melakukan segala aktivitas yang ia lakukan kepada Sarah. Sekarang Sarah hanya pasrah dan menikmati apa yang dilakukan suaminya, hanya suara desahan dan sedikit erangan keluar dari mulut keduanya. Namun tiba-tiba Hardi terhenti ketika sudah hampir pada puncaknya.
" Kenapa mas? kok berhenti!"
" Mas, gak kuat sayang, mas lemas." ucap Hardi lalu ambruk di atas tubuh Sarah.
Sarah sedikit mengeluh karena tidak terselesaikan namun ia merasa ada yang aneh dengan suhu tubuh suaminya, lalu dia memeriksanya dan ternyata memang tubuh Hardi sangat panas. ' Mas Hardi demam.' pikirnya.
Sarah membaringkan tubuh Hardi di ranjang lalu menyelimuti tubuh suaminya tersebut. Sarah segera beranjak dari tempat tidur lalu mengenakan pakaiannya dan turun untuk mengambil obat demam. Sarah kembali dengan membawa obat serta segelas air dan di berikan kepada Hardi yang sekarang sudah berpakaian lengkap.
" Sudah minum obat, mas istirahat saja yah."
" Maafin mas yah."
" Tak perlu minta maaf, lain kali bisa melakukannya lagi."
" Terimakasih sayang." Hardi lalu menutup matanya lalu tertidur.
Sebenarnya Sarah memang sedikit kecewa namun dia tak terlalu mempermasalahkan karena sakit itu bisa datang dengan tiba-tiba.
Bersambung....
Selalu dukung Author dengan cara memberi Hadiah, Vote, like dan komen.
Terimakasih ☺️
__ADS_1