
Beberapa hari pun berlalu sekarang Sarah sudah kembali seperti semula, dia sudah terlihat ceria kembali. Di luar telihat hujan turun, terdengar suara mobil berhenti dan Cilla keluar dari mobil sambil berlari tanpa menunggu pak Tono memayunginya hingga dia kehujanan.
" Bunda, aku pulang!" ucap Cilla sedikit berteriak.
" Cilla sudah pulang, loh kok kamu kebasahan! kamu lari yah tanpa menunggu pak Tono ngambil payung!" ujar Sarah ketika melihat Cilla yang rambutnya basah. Cilla hanya cengengesan lalu Sarah memanggil Lia memintanya untuk membawakan handuk untuk Cilla.
" Sayang, lain kali jangan seperti itu yah. Cilla jangan hujanan seperti ini, nanti kalau Cilla sakit gimana?" ujar Sarah sambil mengelap rambut Cilla dengan handuk.
" Iya bunda.... hhhuucchhhiiii " ucap Cilla kemudian bersin.
" Tuh kan bunda bilang apa, sekarang Cilla ganti baju dulu gih dengan mbak Lia, habis itu kita makan siang." ujar Sarah.
Cilla berlari ke arah kamarnya dan Lia mengikuti Cilla dsri belakang, Sarah hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Cilla. Sarah kembali ke kamarnya dab melihat putra-putranya masih terlelap, Sarah sangat senang karena memiliki putra-putra yang tidak rewel sehingga dia bisa menjalankan perannya sebagai seorang ibu baik itu untuk putranya ataupun bagi Cilla.
Sarah menitipkan Arka dan Arsa kepada Lia untuk menjaganya, karena memang Sarah menggunakan susu formula untuk membantu selain ASI. Sementara Sarah dan Cilla makan siang di meja makan, Cilla sudah tak pernah lagi di suapi semenjak dia punya adik, Cilla selalu berkata jika dia sekarang sudah besar dan sudah menjadi kakak jadi harus mandiri.
Selesai makan Cilla dan Sarah kekamar untuk melihat adik kecilnya, Cilla senang ketika adik kecilnya sekarang sudah bangun dan tenang tak menangis. Cilla mencoba menggoda adik-adiknya dan mereka sudah bisa merespon dengan senyuman gemas mereka, Cilla juga sangat gemas sampai dia menyentuh pipi adik-adiknya bergantian.
" Bunda, kulit dede bayinya lembut banget dan empuk kayak bakpao." ujar Cilla.
" Iya sayang, mereka kan masih bayi jadi kulitnya masih terasa halus." balas Sarah.
" Gemas banget, kapan Cilla bisa main dengan mereka? Kapan mereka bisa jalan?" tanya Cilla yang tak sabaran.
" Beberapa bulan lagi mereka akan bisa merangkak dan nanti berjalan, Cilla sabar saja nanti Cilla bisa bermain sama mereka." balas Sarah.
Cilla terus saja bermain dengan adik kecilnya yang sekarang sudah di leyakan di kasur lantai di kamar Sarah agar Cilla bisa dengan mudah bermain dengan mereka.
________
Malam harinya Cilla keringatan, tidurnya guling-guling kesana kemari, wajahnya pun berubah memerah dan tubuhnya seperti menggigil. Karena mendengar suara dari Cilla, Lia yang tidur menemani Cilla pun terbangun. Dia menatap Cilla yang tidurnya seperti tak nyaman lalu Lia mencoba memeriksa kening Villa yang ternyata sangat panas, Lia segera menyelimuti Cilla yang terlihat menggigil kedinginan lalu Lia segera berlari ke luar kamar, mengetuk pintu kamar Sarah dengan tergesa-gesa. Sarah yang mendengarnya terbangun lalu membangunkan suaminya, mereka pun segera keluar kamarnya.
__ADS_1
" Lia, ada apa?" tanya Sarah setelah membuka pintu.
" Nyonya tuan, maaf ganggu. I... itu... non Cilla, non Cilla demam nyonya." ujar Lia.
Hardi dan Sarah segera menuju kamar Cilla, Hardi memegang kening Cilla yang sangat panas lalu ia segera menggendong Cilla.
" Suruh pak Tono siapkan mobil, kita ke rumah sakit." perintah Hardi pada Lia.
Hardi menggendong Cilla lalu setengah berlari menuju ke arah mobil, Hardi dan Sarah segera masuk mobil dengan Cilla berada dalam pangkuan Hardi. Sarah meminta Lia untuk menjaga si kembar, Sarah tak ingin membawa putranya ikut karena memang sudah larut malam serta mereka sedang terlelap tidur.
Setelah sampai rumah sakit, Hardi segera membawa Cilla menuju IGD, perawat segera datang dan menyuruh Hardi untuk meletakan Cilla di atas ranjang. Perawat mempersilahkan Hardi dan Sarah untuk menunggu di luar karena dokter akan segera memeriksa Cilla. Tak berapa lama dokter pun keluar, lalu Hardi dan Sarah segera menghampiri dokter tersebut.
" Bagaimana dokter dengan keadaan putri saya?" tanya Hardi yang terlihat cemas.
" Putri anda baik-baik saja pak, bu, mungkin dia kehujanan? Soalnya dia terkena flu, tinggal istirahat dan minum obat akan sembuh. Putri bapak dan ibu tak perlu di rawat, bisa di bawa pulang malam ini dan harus jaga makanan saja." ujar Dokter.
" Terimakasih dokter, syukurlah anak saya baik-baik." ucap Hardi lega dan begitupun Sarah merasa senang tak ada yang perlu di khawatirkan.
" Alhamdulillah yah mas, untung Cilla tak apa-apa." ucap Sarah.
" Iya sayang, tadi mas panik dan khawatir sekali dengan keadaan Cilla, sampai mas langsung segera membawa Cilla ke rumah sakit, mas tak kepikiran untuk menelpon Devan." ucap Hardi.
" Iya mas, selain keluarga Devan kan dokter pribadi keluarga, kenapa kita tak kepikiran yah. Padahal jarak rumah Devan dan rumah kita tak begitu jauh di bandingkan ke rumah sakit" ucap Sarah tersenyum.
" Yah begitulah sayang kalau kita sedang panik, jadi kita tak dapat berpikir jernih." ucap Hardi ikut tersenyum.
Sampailah mereka di rumah, Hardi menurunkan Cilla dalam gendongannya di ranjang di kamar Hardi, Hardi sengaja tak menidurkan Cilla di kamarnya karena ingin menjaga putrinya. Cilla tidur dengan Sarah sementara Hardi akan tidur di sofa dekat tempat tidurnya. Terlihat Cilla sudah terlelap dan Sarah sudah mulai membaringkan dirinya di samping Cilla, si kembar juga masih terlelap tak terusik sama sekali. Sebenarnya Hardi merasa tidak nyaman tidur di sofa tapi apa boleh buat demi putrinya dia harus mengalah.
Sejam berlalu, Hardi tetap saja tidak bisa tidur sementara Cilla dan Ssrah sudah tertidur pulas. Hardi bangkit menghampiri Cilla lalu mengelus kepala putrinya tersebut sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang. ' Maafkan ayah yah Cilla, ayah menjadi kurang perhatian padamu, ayah janji tak akan pernah mengesampingkan mu, ayah sangat sayang padamu Cilla.' batin Hardi lalu mengecup pucuk kepala Cilla. Hardi kembali berbaring di sofa lalu memejamkan matanya mencoba untuk terlelap.
_________
__ADS_1
Suara burung sudah bernyanyi, sinar mentari sudah menyeruak di balik gorden kamar Hardi. Sarah sedang memakaikan pakaian pada Arka dan Arsa, Cilla berada di samping adik-adiknya dengan ceria karena sekarang Cilla sudah baikan sementara Hardi masih terlelap tatkala ia terbangun mendengar teriakan girang Cilla ketika bermain dengan kedua adiknya. Mata Hardi mencoba terbuka walau sesekali tertutup kembali karena silau terkena sinar matahari, setelah cukup sadar Hardi pun bangun dan duduk di sofa tersebut.
" Sudah bangun mas?" tanya Sarah yang telah selesai mendandani kedua putranya.
" Iya sayang, mas kesiangan yah! Soalnya semalam mas susah tidur." ucap Hardi.
" Pasti tak nyaman yah tidur di sofa?" tanya Sarah.
" Ita sayang, sekarang punggung mas terasa pegal." ujar Hardi sambil merenggangkan tubuhnya.
" Mau aku pijat atau injak-injak punggungnya mas?" tanya Sarah.
" Tak usah sayang, kamu bantu mas pasang koyo aja nanti setelah mandi." balas Hardi lalu menekan-nekan bagian yang dirasanya tidak nyaman.
" Iya mas, sekarang mas mandi dulu saja nanti aku pasangin koyonya." ujar Sarah lalu Hardi pun segera pergi ke kamar mandi.
Tak lama Hardi keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, memperlihatkan otot dada dan perutnya yang indah membuat Sarah terpesona walaupun itu bukanlah kali pertama ia melihatnya namun setiap kali Sarah melihat tubuh polos suaminya dia selalu saja terpesona.
" Hey... bengong aja, katanya mau bantu pasangin koyok di punggung mas." ujar Hardi menyadarkan lamunan Sarah.
" Eh.. iya mas, maaf." ujar Sarah lalu mengambil koyo lalu menempelkannya di tempat yang Hardi tunjuk.
" Kamu tuh yah, udah sering lihat masih saja tertegun." ujar Hardi cengengesan.
" Apaan sih, gak juga kali." elak Sarah
" Halah ... ngelak aja nih, kayaknya udah kangen nih yang udah lama tak dikasih jatah." goda Hardi.
" Tak begitu mas, udah ah selesai nih, sana pake baju." ucap Sarah menepuk punggung suaminya lalu kembali beralih kepada putra putri nya, mengalihkan untuk bermain dengan anak-anak.
Hardi tersenyum senang namun memang malah ia sendiri yang merindukan kasih sayang dari istrinya karena memang sudah lama tak mendapatkan haknya.
__ADS_1