Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Motif yang sama !


__ADS_3

Aini mengajak bertemu dengan Hardi dengan alasan bisnis, namun Aini meminta Hardi datang sendiri tanpa Rio sekertaris nya hanya untuk memberikan beberapa berkas dan membahas sedikit hal yang ingin Aini sampaikan. Janji temu mereka pukul 8 malam di restoran dekat apartemen Aini. Seperti biasanya tanpa pikir panjang jika menyangkut dengan bisnis pasti Hardi akan datang.


"Rio, saya mau ada janji dengan bu Aini, tolong siapkan mobil!" pinta Hardi sambil mengenakan Jas nya.


"Baik pak, saya akan siapkan dan saya juga akan mengambil tas saya dulu sebentar" balas Rio.


"Kau tak perlu mengantarku, kau langsung pulang saja. Biar saya pergi dengan supir saja, lagian ini hanya sebentar saja." ucap Hardi, Rio pun mengangguk.


Hardi berangkat menuju apartemen Aini, tepatnya restoran dekat apartemen Aini, dengan di antar oleh pak Maman supirnya. Waktu sudah menunjukan pukul 8.45 malam, Hardi baru sampai di depan restoran di samping apartemen Aini.


Sebuah Apartemen mewah yang di khususkan untuk orang yang berduit banyak, disampingnya terdapat restoran yang cukup mewah pula. Hardi pun segera masuk ke dalam restoran tersebut, terlihat Aini sudah berada disana melambaikan tangannya kepada Hardi.


"Silahkan duduk, maaf saya sudah mengganggu waktu pulang bapak dan juga maaf lancang telah memelesankan kopi untuk pak Hardi tanpa bertanya dulu, sebentar lagi datang pesanannya" ucap Aini.


"Iya tidak apa-apa, tak perlu banyak basa-basi. Saya kesini juga karena memang menyangkut masalah bisnis kan, mana berkas yang ingin anda berikan pada saya" ucap Hardi dengan dingin. Tak berapa lama pesananpun datang.


"Diminum dulu pak kopinya dan ini berkasnya" ucap sarah sambil menyerahkan map warna biru pada Hardi. Hardi meminum kopinya tanpa rasa curiga. Aini menatap Hardi dan menyeringai ketika Hardi meminum kopinya tanpa Hardi sadari, karena kopi tersebut sudah ia tambahkan sesuatu.


"Ok terus apa yang akan anda bicara........." Hardi ambruk di depan Aini, sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, membuat Aini tersenyum senang.


Aini memanggil pelayan yang tadi mengantarkan kopi ke mejanya untuk membantu mengangkat Hardi untuk di bawa ke Apartemennya. Setelah sampai di apartemennya, Hardi di baringkan di atas tempat tidur, Aini memberikan uang kepada pelayan tersebut selain untuk memberinya upah sekaligus uang turup mulut. "Terimakasih, kerjamu bagus" senyum licik mengembang di bibi tipis Aini.

__ADS_1


Aini mengunci pintu apartemennya lalu menghampiri Hardi yang tak sadarkan diri. Sebelumnya ia membuka pakaiannya dan menggantinya dengan dress tidur tipis yang terbuat dari kain satin.


"Hardi malik, CEO muda yang tampan dan kaya raya. Malam ini aku akan melayanimu atau lebih tepatnya akan melahapmu" Aini merangkak di atas tempat tidur mengelus wajah Hardi yang tampan dari kening hingga ke dagunya dengan jari telunjuknya.


"Aku akan memuaskanmu lebih dari yang Sarah berikan kepadamu." Aini membuka perlahan kancing kemeja Hardi satu persatu.


Aini mengangkat sedikit tubuh Hardi untuk membuka jasnya lalu membuka kemejanya. Tubuh atas Hardi sudah tak berpakaian. Aini mengelus tubuh Hardi yang berotot indah mulai dari leher hingga ke pusarnya.


"Bukan hanya wajahmu yang tampan tetapi tubuhmu juga indah, tuhan menciptakanmu begitu sempurna. Membuatku tambah terpesona, tapi mengapa kau pilih wanita yang biasa saja untuk menjadi istrimu? Kenapa tak mencari wanita yang sebanding denganmu? seperti aku ini." gumam Aini dengan ekspresi genit masih meraba tubuh bagian atas Hardi.


Tangan Aini sudah turun mengarah ke bagian celana milik Hardi, ia membuka gesper nya dan hendak ke kancing celananya namun tiba-tiba Hardi mulai sadar dari pingsannya. Dia mulai membuka matanya lalu memegang kepalanya yang masih pusing. Aini yang melihatnya langsung tersentak kaget, sebelum dia sempat membuka kancing celana Hardi. Menyadari apa yang terjadi Hardi mendorong cepat tubuh Aini yang berada di atas pahanya dengan kasar. Aini terjerembab ke samping tempat tidur membuatnya merasa kesakitan.


"APA YANG KAU LALUKAN?" bentak Hardi bangkit dari tempat tidur mencari pakaiannya walau kepalanya masih sedikit pusing dengan jalan terhuyung.


Aini yang tersungkur terduduk di lantai merasa sangat kesal akan rencananya yang gagal total.


"Sialan... rencanaku gagal, yang aku tahu obat itu reaksinya cukup lama tapi kenapa di tengah-tengah Hardi terbangun. Pelayan bodoh, mungkin ia tak memasukan obatnya semuanya. Brengsek kau Hardi, awas saja aku tak terima di permalukan seperti ini" Geram Aini karena begitu marah dengan semua ini.


Hardi yang berhasil turun dari apartemen Aini masih terlihat berjalan limbung dan memegang kepalanya dengan tangannya, pak Maman yang dari tadi menunggunya didalam mobil di depan antara apartemen dan restoran, segera menghampiri dan membantu Hardi yang terhuyung-huyung. Dengan rasa khawatir pak Maman memapah Hardi sampai ke dalam mobil. Kerena memang saat Hardi di papah menuju apartemen Aini, pak Maman tidak mengetahuinya karena ia tertidur sebentar.


"Cepat antar saya pulang" pinta Hardi lalu menyenderkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya mencoba menghilangkan rasa pusingnya. Setelah agak mendingan, ia mencoba memakai pakaiannya kembali dan merapikan semuanya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Hardi di papah oleh pak Maman kedalam rumah oleh pak Mamah. Sarah yang melihatnya langsung menghampiri Hardi yang terhuyung-huyung.


"Pak Maman, kenapa dengan pak Hardi?" tanya Sarah khawatir.


"Saya tidak tahu nyonya, saya melihat tuan Hardi sudah seperti ini ketika ia keluar dari sebuah apartemen samping restoran tempat bertemu klien." balas pak Maman.


"Yaudah pak tolong saya membantu pak Hardi untuk ke kamar" Sarah dan pak Maman memapah Hardi hingga kekamar dan mereka merebahkan tubuh Hardi di atas tempat tidur.


"Tolong bisa ambilkan saya, air hangat di wadah serta teh hangat untuk pak Hardi." pinta Sarah.


"Baik nyonya" pak Maman pun turun, lalu tak lama kembali membawa apa yang diminta majikannya.


Sarah mengambil saputangan handuk lalu memasukannya pada air hangat dan memerasnya, lalu mengusapkan secara perlahan pada wajah suaminya yang berkeringat.


Sarah membantu membuka jas yang dikenakan suaminya serta membuka sepatu serta kaus kakinya. Hardi masih saja terbaring tak berdaya walau dia tak tidur karena tubuhnya terus bergerak. Sarah dengan telaten mengganti pakaian suaminya dengan pakaian yang lebih nyaman. Walau sesekali ia tak mencoba menatap tubuh Hardi secara langsung.


"Sebenarnya anda kenapa pak? sampai seperti ini" ucap Sarah yang begitu khawatir sambil terus mengusapkan handuk kecil hangat itu di wajah suaminya.


Berasambung.......


Makin seru dan penasaran kan?

__ADS_1


Terus tunggu Up Author selanjutnya 😊


__ADS_2