Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Season 2 : Awal


__ADS_3

Hari ini adalah hari bahagia bagi keluarga Hardi dan Sarah karena hari ini adalah hari wedding anniversary mereka yang ke 10 tahun, dirumah mereka mengadakan pesta kecil-kecilan, bisa dibilang mereka hanya mengadakan makan besar dengan keluarga saja.


Hardi sengaja tidak menyuruh para asisten rumah tangganya untuk memasak, di momen yang spesial ini Hardi sengaja mendatangkan chef di restoran terkenal langganannya untuk membuatkan hidangan-hidangan lezat yang masih fresh.


Meja makan sudah tertata indah terletak di taman belakang rumah Hardi, di atasnya sudah terhias oleh beberapa vas bunga dan lilin yang menambah cantik untuk di lihat. Meja yang memang cukup panjang dan lebar yang memang di khususkan untuk ke lima anggota keluarga.


Hardi dan Sarah sudah siap dengan pakaiannya, Sarah yang terlihat cantik dengan gaun berwarna krem panjang dipadukan dengan sepatu high heels berwarna putih yang membuatnya terlihat cantik sekaligus elegan sementara Hardi mengenakan toxedo dengan warna yang senada dengan warna gaun Sarah di padukan dengan jam tangan mewah serta sepatu berwarna hitam yang menambah ketampanannya. Mereka berjalan menuju ke meja makan dimana di sana sudah ada anak-anak yang menununggu dengan sabar kedua orangtuanya datang.


Cilla yang duduk manis dengan senyuman cantiknya yang kini dia sudah beranjak remaja, Cilla yang sekarang sudah memasuki usia remaja dan sudah mulai bersekolah kelas 1 SMA terlihat sangat cantik mirip sekali dengan ayahnya. Sementara Arka dan Arsa yang sekarang sudah kelas 4 SD dan sudah mulai terlihat ketampanan keduanya yang memang lebih mirip kepada Sarah.


Sarah dan Hardi duduk bersebelahan di mana anak-anak mereka duduk di hadapan mereka, tak lama makanan pun datang, para pelayan mulai meletakan satu per satu hidangan yang telah chef buat untuk mereka, Chef mulai menghampiri mereka melayani dan menjelaskan apa saja yang terhidang di hadapan mereka dan bagaimana menikmatinya dengan benar satu per satu. Hardi dan keluarga sangat menikmati hidangan yang tersedia karena memang rasanya amat sangat lezat. Ketika sedang menikmati makanan tiba-tiba ponsel Hardi bergetar, dilihatnya ada yang menghubunginya dengan nomor yang tidak di kenal. Hardi hanya melihat lalu meletakkan kembali ponselnya tanpa mengangkat telpon tersebut, Hardi kembali mengobrol sambil melanjutkan makannya. Tak lama lagi-lagi ponsel Hardi bergetar untuk yang kedua kalinya, dan kembali Hardi mengabaikannya. Untuk yang ketiga kalinya ponsel Hardi bergetar dan terlihat memang masih dari nomor yang sama, dengan sedikit geram dan nada tinggi Hardi mengangkat telponnya.


Wajah Hardi yang tadinya kesal berubah jadi cemas, khawatir dengan mata yang berkaca-kaca. Tiba-tiba Hardi beranjak dari duduknya yang membuat Sarah dan lainnya bingung.


" Kenapa mas?" tanya Sarah menatap Hardi dengan penuh tanda tanya.


" Aku pergi sebentar." Hardi pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun, Sarah yang masih bingung hanya menatap kepergian Hardi yang semakin menjauh dari pandangannya.


" Ayah mau kemana, bun?" Cilla bertanya kepada Sarah.


" Bunda juga tidak tahu, kita lanjutkan dulu saja makannya nanti ayah bilang juga perginya sebentar." Mereka pun kembali melanjutkan makannya, Arka dan Arsa yang memang masih kecil asik dengan dunia mereka sendiri sedangkan Sarah dan Cilla merasa bingung dengan Hardi yang pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun tak seperti biasanya.


Malam pun semakin larut, Arka dan Arsa sudah tertidur di kamarnya, Cilla masih asik dengan ponselnya karena memang besok hari libur akhir pekan sedangkan Sarah masih terjaga duduk di sofa namun terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya. Sarah terus mencoba menghubungi suaminya namun ponsel suaminya tak dapat dihubungi, Sarah juga sempat beberapa kali mengirim pesan namun sama sekali belum di baca oleh Hardi. Rasa cemas Sarah semakin memuncak sehingga dia tak dapat sekalipun memejamkan matanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, sesekali Sarah memeriksa ponselnya namun tak ada sekalipun notifikasi dari Hardi, Sarah yang cemas benar-benar tidak tidur sama sekali. Sarah hanya mondar mandir di depan tempat tidur, sesekali duduk untuk melemaskan kakinya lalu kembali mondar mandir sambil memegang ponselnya yang dia harap ada panggilan masuk ataupun pesan dari suaminya.


Hardi memasang wajah sedih menatap Sarah yang tengah menatapnya dengan berlinang air mata, Hardi lalu mengusap air mata di sisi istrinya dan berkata " Maafkan aku." Sarah hanya terus meneteskan air matanya yang terus mengalir tak tertahankan, " Apa ini memang jalan terbaik untuk kita?" Hardi hanya tersenyum namun matanya berkata lain, " Sekali lagi aku minta maaf." ucap Hardi yang hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan. " Apa mas sudah tak menyayangi anak-anak?" Sarah semakin meratapi keterpurukannya. " Aku akan tatap bertanggung jawab pada masa depan mereka." Hardi meyakinkan Sarah untuk tak khawatir. " Mas... aku mohon, mas...." Sarah terduduk di bawah dengan menggenggam tangan Hardi. Hujan pun turun membasahi tubuh mereka berdua, Hardi menarik tangannya perlahan dari genggaman Sarah. Tanpa berkata apa-apa Hardi berbalik lalu pergi meninggalkan Sarah yang menangis tersedu-sedu, " Mmmaaass..... Aku mohon jangan pergi... aku masih mencintaimu mas... Mas .. Mas... Mas Hardi." Sarah pun terbangun dari tidurnya, ternyata itu semua hanya mimpi. Namun rasa sakit kehilangan begitu ia rasakan dalam hatinya dan air mata pun benar-benar keluar di kedua sudut matanya. Sarah menatap jam sudah pukul 9 pagi, lalu Sarah memeriksa ponselnya, tetap saja tidak ada kabar dari suaminya.


Sarah keluar dari kamarnya dan bertemu dengan salah satu asisten rumah tangganya.


" Anak-anak mana bi?"


" Mereka sudah berangkat sekolah, nyonya."


" Apa tua sudah pulang? atau dia menelpon." Sarah berharap Hardi pulang dan tidur di kamar lain, atau sekedar menelpon ke telpon rumah.


" Tuan belum pulang nyonya."


" Yasudah, siapkan roti bakar dan teh hangat untuk saya sarapan dan antarkan ke kamar."


"Baik nyonya."


Sarah kembali masuk ke kamarnya menuju ke kamar mandi dan Sarah pun membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi, Sarah mendengar ketukan di pintu kamarnya, asisten rumah tangganya datang membawa roti bakar dan secangkir teh hangat lalu meletakkannya di meja dekat jendela dimana Sarah sering menghabiskan waktu disana.


" Permisi nyonya."


" Iya terimakasih bi."


Sarah pun duduk sambil memandang keluar rumahnya, karena memang kamar Sarah berada di lantai 2, dia bisa melihat seluruh taman belakang rumahnya. Dia sama sekali tak menyentuh sarapannya hanya memainkan gagang cangkir di tangannya, Sarah hanya melamun sambil berpikir kemana perginya suaminya sampai tak ada kabar sama sekali bahkan di hubungi pun susah. Entah apa yang suaminya lakukan sekarang? dan dimana dia tidur semalam? banyak sekali pertanyaan di kepalanya yang membuatnya bingung akan semuanya.


Tiba-tiba terdengar dering ponselnya, dengan segera Sarah mengambilnya lalu mengangkat panggilan di ponselnya.


" Halo mas, mas kemana saja? Kenapa tidak menelpon? Semalam mas tidur dimana? Mas tidak apa-apa kan?"


" Halo Sarah, ini mama. Memangnya Hardi kemana? apa dia pergi?" ternyata yang menelpon Sarah adalah bu Rahma, mamanya.


" Oh itu.. ma.. Semalam mas Hardi pergi ketika kami makan malam untuk perayaan anniversary kami, sampai sekarang tidak pulang dan tidak ada kabar sama sekali."

__ADS_1


" Oh... Mungkin saja dia ada sesuatu yang mendesak dan tak sempat memegang ponsel, bisa saja ponselnya kehabisan baterai. Kamu positif thinking saja yah nak, tunggu saja nanti suamimu pasti menghubungimu atau bahkan pulang."


" Iya mah terimakasih."


" Yasudah, kamu datang saja ke restoran mama, ada yang ingin mama bicarakan."


" Iya ma." Sarah dengan lesu menutup ponselnya, lalu ia berganti pakaian untuk segera ke restoran mama nya.


Sarah menyetir mobilnya sendiri, walau sebenarnya Sarah malas namun dia harus tetap menemui mama nya mungkin saja ada hal penting yang sampai tak bisa mengatakannya lewat telpon.


Mobil Sarah memasuki parkiran restoran, dengan lunglai dia keluar dari mobilnya. Namun dia merasa aneh, kenapa restoran mama nya sepi? tak ada pengunjung satupun di sana. Yang ada hanya mama nya yang menunggu di sebuah meja yang di khususkan untuk reservasi keluarga dan banyak sekali hidangan mewah di atasnya. Bu Rahma tersenyum manis ke arah Sarah dan menyuruh Sarah untuk duduk.


" Sebenarnya ada apa sih ma?" Sarah duduk namun tidak bersemangat.


" Tunggu sebentar, ada orang yang ingin bertemu denganmu." Bu Rahma terus saja tersenyum, Sarah seperti acuh tak acuh karena memang sedang banyak sekali hal yang berkecamuk di pikirannya.


Tiba-tiba terdengar alunan music yang indah dari jauh dan lama kelamaan semakin mendekat, lalu terlihat sosok yang dia harapkan semakin mendekatinya. Benar? itulah Hardi, suaminya. Hardi terlihat tampan dengan pakaian yang dipakainya dan memegang sebuah buket bunga mawar yang besar nan indah. Alunan musik yang terdengar ternyata berasal dari musikus yang berada di bekang Hardi, lalu Hardi berlutut di hadapan Sarah sambil menyodorkan buket bunga yang di bawanya.


" Happy anniversary sayang, I love you so much..."


Sarah yang terkejut hanya bisa menahan air matanya namun senyuman sekarang sudah kembali menghiasi wajahnya.


" Kamu jahat, mas. Aku benar-benar mengkhawatirkan kamu."


" Maafkan aku sayang, ini demi memberi kejutan tak terlupakan padamu." Hardi duduk di samping Sarah lalu mengambil sesuatu di saku jasnya, sebuah kotak hadiah, Hardi serahkan kepada istrinya. Sarah membukanya dan disana tersimpan kalung yang sangat cantik, Sarah kembali tersenyum bahagia dengan apa yang Hardi berikan. Hardi mengambil kalungnya lalu memasangkannya kepada Sarah, Sarah bahagia terlihat dari wajahnya yang sangat sumringah, Sarah memegang kalungnya menatapnya dengan senang.


" Kamu suka?"


" Suka sekali mas, terimakasih." Sarah mengecup pipi suaminya.


" Ih... malu... ada mama tuh." Hardi terkejut dan wajahnya memerah karena di depannya ada ibu mertuanya yang melihat. Bu Rahma hanya tersenyum melihat keromantisan putri dan membantunya.


" Mas semalam tidur di hotel kita sayang, semalam Rio menelpon jika semua persiapan sudah selesai. Dan drama pun dimulai saat malam itu, sebentar lagi juga Rio dan Sita datang."


" Kamu benar-benar jahat banget sama aku." Sarah memukul dada bidang suaminya dan menoleh ke arah berlawanan seolah dia benar-benar kesal.


" Ih... imutnya istriku ini.." Hardi mencubit gemas kedua pipi istrinya.


" Malu ah mas, di lihatin mama tuh. Gemas apanya lagian aku kan sudah tua." Wajah Sarah merah bak udang rebus.


" Apanya yang sudah tua sayang? kamu kan masih 36 tahun, kalau aku baru sudah tua. Usia kita kan bedanya lumayan jauh."


" Gak apa-apa? walau sudah om-om tapi rasa berondong." Sarah tak sungkan mencium pipi suaminya yang memiliki bulu tipis di wajahnya.


" Cie... cie... mesranya nih kayak pengantin baru..." Suara Sita terdengar dari sebelah mereka.


" Hei... Sita... Rio... " Sarah berdiri dari duduknya lalu memeluk sahabatnya itu.


" Hai... cantik... sekarang sudah besar yah..." ucap Sarah gemas pada anak Sita.


" Kalian duduk dulu, baru kita ngobrol-ngobrol." ajak Hardi dan Mereka pun duduk.


Tak lama Cilla dan si kembar pun sudah tiba, mereka langsung duduk di sebelah bu Rahma.


" Tari, ayo makan ini sayang." Sita memberi sosis kesukaan putrinya.


" Kok Tari! bukankah dulu namanya bukan itu yah kalau tak salah Syifa atau siapa gitu." Tanya Sarah.

__ADS_1


" Iya, kami ganti nama putri kami soalnya waktu dulu sering sakit-sakitan jadi kami ganti saja."


" Oh iya, Tari dan si kembar satu sekolah kan!"


" Iya pak, mereka satu kelas." Jawab Rio yang sedang memotong daging stik di piringnya.


" Lah padahal kan mereka beda satu tahun."


" Yah namanya juga anak perempuan, mas. Biasanya masuk sekolah lebih cepat." Sarah memberikan air pada Arsa yang terlihat tersedak.


" Cilla sudah besar semakin cantik saja, pasti banyak yang suka nih."


" Ah tante, temanku banyak yang lebih cantik kalau aku di bandingkan mereka tak ada apa-apa nya." Cilla menikmati hidangan di hadapannya.


" Masa anak ayah kalah cantik sih, ayah gak percaya."


" Beneran ayah...."


" Yah walaupun anak ayah paling cantik sedunia, ayah tak akan merelakan kamu untuk pacaran apalagi nikah muda." Sikap posesif Hardi mulai di tunjukan kembali.


" Apaan sih ayah, Cilla saja masih kelas 1 SMA, belum ada kepikiran untuk pacaran, sama pelajaran saja pusing. Apalagi memikirkan nikah muda! masih jauh kali, Yah."


" Iya juga mas, yah kalau suka-suka sama cowok mah wajar lah mas."


" Iya wajar, tapi harus sekedar suka jangan sampai pacaran, ayah takut......" Hardi tak melanjutkan perkataannya.


" Sudah, sudah... Jangan bahas yang aneh-aneh, kita kan lagi bahagia."


Sarah beralih kepada Sita, " Oh iya Sita, kata Rio kamu sedang hamil anak ke dua."


" Iya Sarah, Alhamdulillah dapat amanah lagi."


" Udah berapa bulan?"


" Baru saja 2 bulan."


" Wah... pasti lagi mual-mual ya!"


" Untuk kehamilan sekarang, aku tak merasakan mual-mual, seperti biasa saja bahkan makan juga banyak."


" Iya, mual-mual sih enggak tapi ngidamnya bikin susah." tambah Rio yang malah di cubit oleh istrinya.


" Enak banget kalau bisa hamil tapi gak mual-mual, kalau ngidam sih resiko pak suami yah hehehehe."


" Kalau begitu kita tambah anak lagi yuk sayang." timpal Hardi.


" Apaan sih mas ini? anak kita udah 3 tahu."


" Yah... gak apa-apa sayang, banyak anak banyak rezeki."


" Maunya.... huh..."


Mereka pun terus berbincang dengan penuh canda tawa, tawa lepas Hardi dan Rio berbanding terbalik dengan saat mereka di kantor. Kemesraan kedua pasangan suami istri pun tak malu-malu lagi mereka tunjukan sehingga tak ada kecanggungan di antara mereka.


Bersambung......


Mau lanjut?

__ADS_1


Selalu dukung Author yah, dengan cara Vote, like dan komen....


Terimakasih 😊


__ADS_2