
Martin di jebloskan kedalam penjara, dia berteriak-teriak di sel kantor polisi seperti orang gila, untuk sementara Martin di dalam sel kantor polisi sebelum ada keterangan lebih lanjut dan bisa di jebloskan kedalam penjara tindakan kriminal.
Pagi hari Hardi datang ke kantor polisi di temani oleh beberapa pengawalnya yang menunggu di luar kantor serta seorang pengacara pribadinya untuk menghadap polisi dengan beberapa bukti yang ia bawa, rekaman CCTV, ponsel Sarah dan ponsel Martin dll. Hardi memerikan keterangan dan menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan oleh polisi untuk memperkuat tuntutannya.
Setelah semuanya telah cukup sebagai bahan tuntutan untuk sidang, hingga Hardi tinggal menunggu waktu sidang di mulai untuk menjebloskan Martin kedalam penjara. Hardi merasa lega karena masalah telah terselesaikan dan dia bisa hidup dengan nyaman untuk beberapa saat.
________
Di rumah Hardi
Devan tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa, membuat Hardi dan Sarah terkejut di buatnya.
" Mas, mas... Apa benar yang aku dengar hari ini soal Martin?" tanya Devan yang masih mengatur nafasnya karena sedikit berlari.
" Kau tenang dulu dan duduk dulu, nanti mas jelaskan semuanya." ucap Hardi dan Devan pun duduk.
" Coba jelaskan semuanya mas, aku ingin mendengar semuanya." pinta Devan, Hardi pun menjelaskan semuanya dengan rinci apa yang terjadi hingga Martin bisa masuk ke dalam penjara.
" Jadi begitu! Dasar b*jing*n tuh si Martin, aku kira dia orang yang sangat baik karena dia adalah dokter anak, dia sangat lembuy dan sopan. Aku tak menyangka jika kelakuannya ternyata sebejat itu " geram Devan.
" Kau tahu dari mana memangnya? padahal mas belum memberitahumu." tanya Hardi.
" Tadi di rumah sakit ada sidang darurat (Etika kedokteran) yang membahas pencopotan lisensi kedokteran dan pemecatan Martin di rumah sakit, sebenarnya aku sudah tahu sebagian makanya aku meminta mas lebih menjelaskan semuanya padaku dan ternyata masalahnya berat, pantas saja Martin sampai di pecat dan di copot lisensi kedokteran nya." jelas Devan.
" Syukurlah tak ada kejadian buruk pada kalian, kalau kalian kenapa-kenapa aku bisa turun tangan menghabisi si Martin itu." ucap Devan emosi.
" Sudahlah Van, buktinya tak terjadi apa-apa, biarlah hukum yang menghukum Martin." ucap Sarah.
" Memangnya sidangnya kapan mas?" tanya Martin.
" Paling cepat dalam dua minggu ini paling lambat sekitar sebulan dari sekarang, soalnya semua butuh proses di pengadilannya, namun berkas sudah lengkap sepertinya akan segera di sidang." balas Hardi.
" Syukurlah, semoga Martin di jerat dengan hukuman yang setimpal." ujar Martin.
_________
__ADS_1
Sebulan pun telah berlalu, Martin di jerat dengan hukuman 2 tahun penjara, Sarah dan Hardi cukup puas dengan keputusan pengadilan karena memang Martin hanya mengancam tanpa menyakiti sehingga hukumannya tidak bisa lebih dari pada itu.
Kehamilan Sarah sekarang sudah akan menginjak usia 4 bulan dan perutnya sudah terlihat agak membuncit di bagian bawahnya, Hardi yang senang melihatnya suka sekali mengelus perut istrinya tersebut dan terkadang mengecupnya lalu berbicara seolah sedang berbincang dengan kedua bayinya di dalam perut Sarah. Cilla pun sangat menantikan kehadiran kedua adiknya itu, sehingga dia sering sekali menemui Sarah hanya untuk menanyakan adik bayinya yang masih dalam kandungan bundanya tersebut.
Sesekali keluarga Hardi ataupun ibunya Sarah datang untuk melihat keadaan Sarah dan untuk melepaskan rasa rindu mereka melihat anak dan cucunya. Sarah berharap ibunya bisa menginap beberapa hari di rumahnya namun ibunya menolak karena rumah makan / restoran yang dikelolanya sedang sibuk-sibuknya namun ibunya berjanji akan selalu mengunjungi rumah putrinya tersebut.
Sarah pun sedang asik menonton televisi di kamarnya ketika dia melihat iklan Pizza hingga membuat dirinya seolah tergiur akan nikmatnya dan lezatnya pizza yang di iklankan tersebut, lalu Sarah segera menelpon Hardi yang berada di kantor untuk membelikannya sebuah pizza ukuran besar.
Sarah : Halo mas! mas bisa belikan aku pizza yang ukuran besar?
Hardi : Bisa sayang, mau yang topping apa?
Sarah : Yang apa aja yang paling enak disana
Hardi : Ok sayang, nanti sepulang kerja mas belikan
Sarah : Apa tak bisa saat ini juga mas? jangan nunggu sore, aku sudah ingin memakannya.
Hardi : Yasudah kalau begitu mas akan menyuruh Rio untuk membelikannya dan langsung mengantarkannya padamu. Atau kau bisa memesannya langsung ke gerainya.
Sarah : Tidak mau mas, aku inginnya mas yang membelikannya untukku dan mengantarkannya langsung, titik. Kalau tidak kedua anak kita nanti pada ngeces.
Sarah : Aku tak mau tahu, aku ingin mas yang membelikannya dan mengantarkannya saat ini juga.
Hardi : Iya iya, mas akan membeli dan mengantarkannya sekarang juga, kau jangan ngambek seperti itu. Tunggu mas, mas janji tidak akan lama.
Sarah : Ok sayang, aku tunggu
Dan sambungan telponpun terputus, Hardi segera menghubungi Rio untuk menghandle beberapa pekerjaan karena ia harus membeli pizza pesanan istrinya jika sudah mengantarkannya Hardi akan kembali ke kantor secepatnya. Rio pun mengiyakan perintah bosnya tersebut yang memang terlihat sangat terburu-buru.
Hardi membeli pizza dekat kantornya, bukan hanya 1 tapi ia membeli beberapa dengan rasa yang berbeda agar Sarah bisa memilih mana yang ia suka. Segera Hardi melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, tak butuh waktu lama Hardi pun sampai di rumahnya. Hardi segera memanggil-manggil istrinya dan membawa beberapa kantung kresek yang berisikan pesanan Sarah.
" Sayang... Sayang... kau dimana? ini mas bawakan pizza pesananmu." ucap Hardi sedikit berteriak dan meletakkan 4 buah kantung yang di bawanya.
" Mas sudah datang! Wah ini kok banyak banget belinya mas." ucap Sarah sedikit terkejut.
__ADS_1
" Biar saja sayang, mas sengaja soalnya mas tak tahu rasa apa yang kau inginkan jadi mas beli saja beberapa dengan rasa yang berbeda. Sisanya bisa kau berikan pada yang lainnya." ujar Hardi.
" Iya mas, tapi mas temani aku makan yah." pinta Sarah sambil membuka ke empat bungkus pizzanya.
" Tapi mas harus segera kembali ke kantor " ujar Hardi.
" Aku tak ingin memakannya jika mas tak ada, aku ingin mas temani aku makan ini." rengek Sarah dengan wajah di tekuk.
" Iya istriku tercinta, mas temani. Kau makan yang banyak agar bayi kita sehat." ujar Hardi gemas.
Sarah pun mengambil sepotong pizza lalu ia memakannya dan menyuruh Hardi untuk memakannya juga yang memang kebetulan Hardi juga belum sempat makan siang. Hardi menghabiskan 5 potong sedangkan Sarah hanya memakan 1 potong saja.
" Sayang, kenapa hanya sedikit makanannya?" tanya Hardi.
" Aku sudah kenyang mas, apalagi melihat mas yang makan dengan lahap, tapi aku senang melihat mas seperti itu." ucap Sarah tersenyum.
" Oh begitu, nanti kau makan lagi yah sekalian nanti bareng Cilla sebentar lagi dia kan pulang sekolah." ucap Hardi.
" Iya mas, nanti aku akan makan lagi ketika Cilla sudah pulang." balas Sarah.
" Yasudah, mas kembali ke kantor lagi yah sayang soalnya masih banyak pekerjaan, mas janji akan segera menyelesaikannya hingga bisa pulang tepat waktu." ujar Hardi.
" Iya mas, hati-hati di jalan dan jangan ngebut " ucap Sarah.
" Iya sayang, mas pergi dulu." ujar Hardi mencium kening istrinya lalu segera berangkat kembali menuju kantornya.
_______
Tak berapa lama Cilla pun pulang, ia melihat beberapa bungkus pizza di atas meja dan Sarah sedang menonton televisi.
" Bunda, beli pizza banyak banget." ucap Cilla.
" Iya sayang, ayo makan. Ini ayahmu yang membelikannya sengaja beli banyak katanya.' balas Sarah.
Cilla dan Sarah pun mulai memakan pizzanya dan sekarang Sarah makan cukup banyak daripada saat ia bersama Hardi. Sebenarnya Sarah tadi bukan karena tidak nafsu makan namun ia malah fokus menatap wajah suaminya yang sangat tampan dimanatanya.
__ADS_1
Ketika anak dan istrinya sedang sibuk memakan pizza, Hardi sedang sangat sibuk berkutat dengan berkas-berkas dokumen dimejanya. Terlihat raut wajah lelah namun ia tetap mengerjakan pekerjaannya dengan fokus dan di bantu oleh Rio yang memang sekertaris pribadinya.
Bersambung......