
**Mohon maaf, Author terlambat up soalnya Author beberapa hari ini tidak enak badan. Author akan usahakan up seminggu 2x.
terimakasih ☺️
👉**
7 hari di adakan acara tahlil di kediaman orangtua Hardi, selama itu pula Devan dan Hardi menemani bu Yesi dan menghiburnya agar tak terlalu terpuruk dan merasa kehilangan. Namun Devan harus segera kembali ke Amerika, bukan hanya karena pekerjaan namun dia merasa sudah meninggalkan keluarganya terlalu lama.
" Ma, aku minta maaf, besok aku harus ke Amerika lagi soalnya aku harus kembali bekerja."
" Iya tak apa van, mama juga sudah baikan, mama sudah menerima kepergian papa, mama sudah ikhlas." jawab bu Yesi dengan lemas.
" Iya, kamu pulang aja van, kasihan Bella dan Leo di tinggal lama, biar mama aku yang jaga."
" Makasih mas, aku janji jika ada libur panjang, aku akan datang kesini bersama Bella dan Leo."
" Iya, biar mas saja yang menjaga mama, kamu pulang saja."
" Makasih mas, besok aku akan pulang ke Amerika, malam ini aku akan siap-siap."
______
Keesokan harinya
" Aku berangkat yah, ma, mas. Nanti aku sering-sering nelpon mama biar mama gak kesepian."
" Iya nak, hati-hati yah. Mama doakan kamu selamat sampai tujuan."
" Hati-hati bro, salam sama Bella dan si ganteng Leo."
Devan pun berangkat dengan mobil keluarga menuju bandara, Hardi membantu mamanya masuk kedalam rumah. Memang bu Yesi masih terlihat syok dan lesu karena tak nafsu makan, badannya pun terlihat tidak sehat setelah kepergian suaminya. Bu Yesi duduk di sofa ruang keluarga, Hardi menyalakan televisi untuk menambah ramai suasana namun bu Yesi hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
" Ma, mama mau sarapan apa? Biar Hardi siapkan untuk mama, kalau perlu Hardi masak sendiri."
" Tak perlu Di, mama tak nafsu makan. Mama cuma butuh istirahat saja, kamu pulang saja kerumah, kasihan istri dan anak-anakmu di rumah."
" Tak apa-apa ma, lagipula aku sudah memberitahu Sarah untuk tinggal sementara di sini. Untuk menemani mama sampai mama kembali seperti semula."
" Tapi mama sudah tak apa-apa, mama sudah bisa menerima kepergian papa. Mama sudah ikhlas, jadi kamu pulang saja sana."
" Hardi ingin menemani mama beberapa hari lagi, mungkin mereka juga pasti mengerti."
" Yasudah kalau kamu tetap kekeh, mama senang-senang saja."
" Ok, Hardi buatkan mama sandwich dulu yah, mama harus makan."
Hardi beranjak ke dapur dan bu Yesi hanya mengagguk sebagai tanda persetujuan. Baru sampai meja dapur, terasa ponsel Hardi bergetar lalu Hardi mengambilnya dan tertera nama 'Istriku' di sana, Hardi segera mengangkat panggilan telpon dari Sarah.
Sarah : ' Halo mas! Mas masih di rumah mama kan? Hari ini mas akan pulang kan? Soalnya tahlilan sudah selesai, aku dan anak-anak sudah menunggu mas.'
Hardi : ' Iya, tapi mas belum bisa pulang hari ini kayaknya, mas masih mau menginap di rumah mama, kasihan mama sendirian. Devan baru saja kembali ke Amerika, kamu bisa mengerti kan bagaimana kondisi mama sekarang. Paling hanya beberapa hari lagi saja, sampai mama terlihat baik-baik saja dan sudah menerima kepergian papa.'
Sarah : ' Oh.. Yasudah, mungkin besok aku akan ke rumah mama lagi untuk menemani mama selama kamu kerja mas.'
Hardi : ' Besok gak usah datang sayang, besok mas ijin kerja soalnya mas mau mengajak mama untuk jalan-jalan cari udara segar, siapa tahu mama bisa lebih tenang.'
Sarah : ' Baiklah kalau begitu, salam buat mama.'
Sarah menutup telponnya, Sarah terlihat sedikit kecewa karena memang semenjak papa mertuanya meninggal, Hardi selalu menginap di rumah orangtuanya. Memang selama itu pula Sarah membantu setiap hari untuk acara tahlilan namun dia tak pernah menginap di karenakan harus mengurus anak-anak yang sekolah. Sarah melihat jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 9 pagi, dia harus segera berangkat ke kantor, hari ini pasti sibuk karena selama acara tahlilan Sarah dan Hardi tak berangkat bekerja.
______
Di kantor
Sarah sedang duduk di mejanya, banyak dokumen yang menumpuk karena banyak pekerjaan yang tertunda, di tambah sebagian pekerjaan Hardi yang di limpahkan padanya dan sebagian lagi di kerjakan oleh Rio.
" Ini bu Sarah, berkas-berkas yang harus di kerjakan hari ini. Besok akan ada rapat untuk membahas isi berkas ini, jika masih ada kekurangan, bu Sarah bisa memberikan kembali kepada saya nanti saya akan refisi." Rio meletakkan 3 map berkas di meja Sarah.
" Baik Rio, akan saya periksa. Terimakasih." Balas Sarah tanpa menatap Rio karena sibuk dengan pekerjaannya.
" Oh iya Rio, tolong pesankan saya makanan untuk makan siang nanti dan letakkan di meja kantornya mas Hardi, saya akan makan disana." lanjut Sarah.
" Baik bu." Rio pun permisi.
Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam namun Sarah masih berkutat dengan pekerjaannya, dia terus memeriksa semua berkas-berkas penting sampai lupa waktu. Terdengar suara ponselnya berbunyi dari Cilla.
Cilla : ' Halo bunda! Bunda masih di kantor?'
Sarah : ' Iya sayang, kenapa?'
Cilla : ' Gak apa-apa sih hanya saja sudah malam belum pulang.'
__ADS_1
Sarah pun melihat jam di dinding ruangannya.
Sarah : ' Ya ampun, sudah jam 8 malam lagi. Maaf sayang, bunda tak melihat jam, bunda lupa waktu dari tadi sibuk bekerja. Sebentar lagi bunda akan pulang, kamu mau bunda belikan apa? tanya Arsa dan Arka, mereka mau apa?'
Cilla : ' Gak usah bun, aku sudah pesan pizza buat cemilan malam tadi Arka dan Arsa ngerengek pengen di pesenin.'
Sarah : ' Yasudah, kalian bertiga jangan tidur kemalaman, besok kan kalian harus sekolah.'
Cilla : ' Iya bunda, Siap!'
_______
Sarah menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Dilihat waktu sekarang sudah pukul 11 malam, dia pun bersiap-siap untuk pulang namun sebelumnya dia melihat ponselnya yang tak ada panggilan atau pesan dari suaminya. ' Kemana saja sih mas Hardi sampai gak memberi kabar? kirim pesan saja gak, apa lagi telpon.' gumam Sarah dalam hati.
Sarah menelpon supirnya untuk siap-siap pulang, tubuhnya terlalu lelah sampai ia tertidur selama perjalanan.
Ttoookkk ttoookkk ttoookkk
Suara ketukan di kaca mobil membangunkan Sarah, ternyata Sarah sudah sampai di depan rumah. Dengan sedikit terhuyung, Sarah berjalan masuk ke dalam rumah, seorang asisten rumah tangga menghampirinya dan mengambil tas serta sepatu Sarah untuk di bereskan.
" Siapkan saya choco drink panas dan letakkan di kamar, saya mau mandi dulu." pinta Sarah.
" Baik nyonya."
Sarah masuk ke dalam kamar, dia membuka jasnya lalu masuk ke kamar mandi, dia menyalakan shower air hangat untuk menghilangkan rasa penatnya. ' Kenapa mas Hardi selalu menginap di rumah mama? Apa mas Hardi tak merindukanku? padahal aku sangat merindukannya. Sudah seminggu ini mas Hardi tak ke kantor, aku pun tak bisa ke rumah orangtuanya karena sibuk bekerja.' gumam Sarah dalam hati dan menghembuskan nafas keras sambil air shower mengguyur tubuhnya.
Sarah keluar dari kamar mandi dengan baju handuknya, dia duduk di sofa dan menyalakan televisi. Telah ada secangkir choco drink di mejanya, sambil meminum sedikit demi sedikit Sarah menatap acara di televisi dengan tatapan kosong padahal acara telah menayangkan stand-up comedy kesukaannya. Seolah banyak hal yang ia pikirkan.
Sarah berganti pakaian dengan piyamanya dan menyelimuti dirinya namun dia belum bisa tertidur, sesekali Sarah memeriksa ponselnya berharap suaminya memberi kamar namun sayangnya itu hanya harapan.
_______
Hardi melihat mamanya masih di ruang keluarga sambil menonton televisi.
" Mama belum tidur? sudah larut loh ma." Hardi duduk di samping mamanya.
" Mama belum ngantuk, apa kamu sudah menghubungi istrimu? beberapa hari ini kamu juga kan gak berangkat kerja. Harusnya kamu cepat pulang, mama sudah tak apa-apa. Kasihan Sarah dan anak-anak pasti menunggy kamu pulang."
" Tapi ma, Hardi masih ingin menemani mama."
" Mama tahu kamu khawatir pada mama tapi kamu juga harus memikirkan anak-anak dan istrimu. Terutama Sarah, pasti dia kesepian hampir sebulan ini kamu tak pulang."
" Iya ma, besok Hardi akan pulang. Tapi mama beneran sudah tak apa-apa kan?"
" Ok Hardi pulang besok, nanti Hardi akan menugaskan asisten pribadi untuk menjaga mama dan biar mama gak kesepian. Hardi juga akan sering-sering datang ke sini untuk mama."
" Iya iya.... yasudah mama juga sudah ngantuk."
" Goodnight ma."
Hardi masih duduk di sofa, dia melihat jam di tangannya sudah pukul 2 malam. Hardi hendak menghubungi Sarah namun di ragu lalu mengurungkan niatnya menghubungi istrinya karena Hardi berpikir pasti jam segini Sarah sudah tertidur jadi dia tidak mau mengganggu istrinya.
________
Cilla sedang berada di perpustakaan, seperti biasa dia sangat senang menghabiskan waktu di perpustakaan bukan hanya untuk membaca buku pelajaran namun ada juga beberapa novel yang dia baca dan sangat menarik isinya. ' Novelnya seru banget, tapi memang ada yah dulunya saling benci tapi malah menikah karena perjodohan, ah sepertinya dunia nyata tak akan seperti itu. Itu sih cuma ada di dunia novel saja.' Gumam Cilla.
" Hayo baca apa!" suara Citra mengagetkan Cilla.
" Kayaknya baca novel ++ tuh." Amel merebut novel di tangan Cilla.
" Enak aja lo, gue masih lurus kali, gak kayak loe yang piktor mulu."
" 'Menikah karena perjodohan', loe baca novel ini jangan-jangan loe di jodohin yah!"
" Enak aja lo, gue cuma suka alur ceritanya bukan karena gue di jodohin."
" Yah cuma nebak doank sih, jangan sewot kali. Tapi kalau gue sih mau aja di jodohin asal cowoknya ganteng dan tajir sih gak masalah."
" Hahaha ngarep loe, Mel. Emang ada cowok cakep yang mau sama loe?" ejek teman-teman.
" Ada lah, gue kan kece gak bakalan ada cowok yang nolak."
Semuanya tertawa namun tawa mereka terhenti karena dapat teguran dari penjaga perpustakaan untuk tak berisik. Mereka pun keluar dari perpustakaan menuju ke kantin agar mereka bisa lebih leluasa untuk berbincang dan bercanda layaknya remaja.
" Kalian mau pesan apa?" tanya Cilla.
" Aku bakso aja."
" Sama aku juga bakso aja."
" Kalau loe Don, mau pesan apa?"
__ADS_1
" Gue pesan somay aja."
" Ok deh, aku juga mau somay aja."
" Cill, loe yang traktir yah." ucap Amel sambil mengedipkan matanya.
" Enak aja, bayar masing-masing, uang jajan gue mulai menipis gara-gara sering mentraktir kalian."
" Huh... pelit." gerutu Amel.
" Loe ini, tiap hari minta di traktir, yah tekor dong si Cilla." bella Citra.
Pesanan mereka pun datang, seperti remaja pada umumnya, mereka sangat suka pedas apalagi Amel hampir sepenuhnya merah karena saus yang begitu banyak.
" Mel, loe mau makan bakso apa makan saos?"
" Sewot aja loe Cit, suka-suka gue dong."
" Gue bukannya sewot, gue takut lambung loe kenapa-kenapa."
" Iya iya, besok-besok gue gak bakalan banyak banget saosnya."
" BTW si Reza 2 hari ini gak kelihatan, biasanya dia sering jahilin Cilla."
" Tahu tuh, emang gue pikirin."
" Iyalah ngapain juga mikirin anak gak penting itu, hidup gue kan jadi adem ayem."
" Tapi Cill, gue denger denger sih dia mau pindah sekolah, katanya mau ke luar negeri karena bokapnya di tugasin keluar."
" Biarin aja kali, gue bersyukur gak ada yang gangguin gue kan."
" Iya juga sih."
Lalu guru olahraga yang masih mudah dan tampan lewat di depan mereka, menuju ke ibu kantin untuk memesan makanan untuk makan siang.
" Siang pak Remon!" sapa Amel dengan cengiran termanisnya.
" Siang juga, kalian sedang makan siang?"
" Iya pak, mau gabung sama kami!" ajak Amel tak sungkan walau mata yang lain pada melotot tanda tak percaya.
" Oh gak usah, bapak gak mau mengganggu kalian, lanjutin saja makan kalian. Bapak kesana dulu yah, pesanan sudah siap."
" Ok bapak, ganteng." balas Amel yang salting karena terpesona dengan pak Remon.
Setelah pak Remon pergi ke meja lain, Amel terus di sindir teman-teman namun dia hanya cengengesan tanpa rasa canggung atau malu sedangkan pak Remon tersenyum ke arah mereka hingga Amel kembali meleleh.
_________
Setelah hampir sebulan Hardi selalu menginap di rumah mamanya akhirnya dia pun pulang. Hardi merebahkan tubuhnya di kasur, dia melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 5 sore. ' Baru jam segini dan Sarah belum pulang, anak-anak juga masih di tempat les, mending aku tiduran dulu saja.' gumam Hardi.
Hardi merasakan tubuhnya diguncang-guncang hingga dia pun membuka matanya.
" Eh... Sayang sudah pulang?" tanya Hardi setengah sadar sambil mengucek matanya dengan tangannya.
" Mas pulang kapan?"
" Mas pulang sore tadi, kamu baru pulang? kamu pulang selarut ini." ucap Hardi ketika melihat jam sudah jam 11 malam.
" Iya mas, selama mas tak masuk kerja aku jadi selalu pulang larut."
" Maafkan mas, sayang. Gara-gara mas pasti kamu kecapean."
" Iya, itu sudah tugasku kok mas. Syukurlah mas sudah pulang." ucap Sarah dingin.
" Kamu gak kangen aku? sini peluk mas dong " Hardi merentangkan kedua tangannya.
" Kangen tapi aku harus mandi dulu, gerah banget." Sarah tak menggubris Hardi dan dia beranjak ke kamar mandi.
Hardi menyadari sikap Sarah yang aneh, wajah Sarah tak berekspresi malah terlihat dingin tak seperti biasanya. Tak berapa lama Sarah pun keluar dari kamar mandi dengan telah menggunakan piyamanya. Sarah lalu naik ke kasur, berbaring dan menarik selimutnya, Sarah tidur membelakangi Hardi. Melihat itu Hardi semakin yakin jika istrinya bersikap dingin padanya, Hardi tak mengerti kenapa Sarah begitu kepada dirinya.
" Sayang, sayang, kenapa membelakangi mas?" Hardi memegang pundak istrinya dan mendekatkan tubuhnya pada istrinya.
" Kenapa mas? aku capek, aku mau tidur." ucap Sarah tanpa mengubah posisinya.
" Yasudah kalau begitu, selamat tidur." Hardi mengecup pipi istrinya lalu sedikit menggeser tubuhnya menjauh.
Sebenarnya Sarah tak langsung tidur, dia juga tak suka mengabaikan suaminya. Bukan hanya karena tubuhnya yang lelah tapi juga karena dia sedikit kesal dengan suaminya yang tak menyadari kesalahannya.
Bersambung..
__ADS_1
Terus dukung Author dengan Vote, like dan komen, terimakasih....