Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Honeymoon


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun tiba, di depan rumah Sarah dan Hardi sudah bersiap dengan kopernya, Pak Herman dan Bu Yesi sudah berada di sana bersama Cilla. Pak tono memasuka 2 koper ke dalam bagasi mobilnya. Sebelum pergi Hardi dan Sarah berpamitan terlebih dahulu.


"Cilla... Ayah dan bunda pergi dulu yah. Cilla baik-baik sama oma dan opa" Hardi mengusap kepala putrinya dan Cilla mengangguk.


"Bunda!" Cilla menghampiri Sarah dan memeluknya.


"Cilla jangan rewel yah, bunda dan ayah tidak pergi lama, 5 hari lagi kita bertemu." Sarah mengelus punggung Cilla lalu mengecup pipinya yang menggemaskan.


"Kami pamit mah, pah" ujar Hardi lalu mereka menyalami tangan orangtua Hardi bergantian.


"Hati-hati di jalan yah, kalau sudah sampai jangan lupa hubungi kami" ujar Bu Yesi.


Sarah dan Hardi pun menaiki mobilnya pergi menuju ke bandara, untuk jadwal penerbangan pagi hari.


1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di Bali, lalu mereka menuju ke hotel yang telah di reservasi sebelumnya.


Hotel yang begitu nyaman dan mewah dengan pemandangan pantai tepat di depan jendela. Di atas tempat tidur sudah ada kelopak bunga mawar yang di susun berbentuk hati menambah kesan romantis. Serta beberapa tangkai bunga mawar merah dan mawar putih diletakakkan di ranjang.


"Wah Rio bisa aja nih membuat suasana romantis begini, aku tak salah menyuruhnya menyiapkan semuanya" batin Hardi puas.


Sarah terperangah ketika melihat kelopak bunga mawar berbentuk hati dan beberapa tangkai mawar di atas ranjang itu.


"Wah... ini pak Hardi yang pesan, Romantis sekali, padahal sebelumnya hanya melihat di film-film dan sekarang aku mengalaminya sendiri." masih tetap tak percaya.


"Kau suka" tanya Hardi.


"Aku seka sekali, sangat suka" senyum mengembang di wajah cantik Sarah.


Sarah berjalan menuju jendela lalu membuka jendelanya, ia merasa sangat terpesona akan pemandangan di depannya. Hardi menghampirinya ikut menikmati pemandangan di depannya.


"Bagaimana pemandangannya? Kau suka?" tanya Hardi.


"Indah sekali, bahkan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Saya suka sekali pak" Sarah tersenyum senang dengan wajah masih terpesona akan keindahan di depannya

__ADS_1


"Bisa tidak, kau memanggilku dengan sebutan lain, jangan bilang pak atau bapak terus. Sebenarnya sekarang aku mulai risih, aku ingin panggilan yang pantas sebagai suamimu." ujar Hardi memeluk pinggang istrinya.


"Terus saya harus bilang apa?" Sarah bingung menundukan kepalanya karena malu.


"Bilang Sayang saja atau Mas, itu terserah kamu yang penting jangan bapak lagi" Hardi menarik tangan Sarah satu persatu ke atas pundaknya.


Mengetahui maksud Hardi, Sarah pun mengalungkan kedua tangannya di belakang leher suaminya. Hardi tersenyum karena Sarah tahu maksud keinginannya. Hardi menarik pinggang Sarah agar semakin mendekati tubuhnya.


"Kau sudah siap dengan tugasmu malam ini!" tanya Hardi tersenyum menatap Sarah. Dan Sarah hanya mengangguk malu tersenyum menatap suaminya.


Perlahan wajah mereka begitu dekat, hingga hembusan nafas terasa hangat di wajah masing-masing. Hardi mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya namun tiba-tiba.


"Room service, Room service" terdengar suara petugas hotel diluar, hingga merrka pun berhenti dari niatnya dan saling bertukar senyum.


Sarah menatap Hardi lalu berjalan ke arah pintu, ia begitu merona saat Hardi tadi hendak menciumnya.


"Maaf nyonya, ini hidangan yang telah di reservasi untuk hari ini" ujar petugas hotel.


Petugas Hotel pun meletakkan dan membereskan semuanya di atas meja, setelah menerima tips dari Hardi, ia pun pergi.


"Kita makan dulu Sarah, ini sudah lewat dari jam makan siang. Pasti kau lapar" ujar Hardi yang telah duduk di kursi.


Sarah pun menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya. Hardi mememotongkan daging Steak di atas piringnya sampai terpotong semua lalu memberikannya kepada Sarah dan Sarah menerimanya dengan senang. Hardi mengambil Steak yang masih utuh dari Sarah lalu dia memotongnya, dia tidak langsung memakannya tapi malah menyodorkan potongan daging itu ke arah Sarah.


Hardi ingin menyuapi istrinya, Sarah pun mengerti ia membuka mulutnya lalu melahap daging tersebut. itu membuat Hardi senang.


Ini adalah hal romantis yang dulu hanya bisa Sarah lihat di drama yang ia tonton. Namun sekarang ia merasakannya sendiri, ternyata membuatnya merasa bahagia. Seperti pemeran wanita yang mendapat hal romantis dari pemeran pria dalam drama, namun yang berbeda tak ada musik yang mengalun mengikuti alur ceritanya.


"Terimakasih pak, eh... Mas" Sarah tersenyum malu ke arah Hardi.


"Saya senang, kau sudah memanggilku mas. Untuk kedepannya panggilah seperti itu" Hardi mengembangkan senyumnya.


_________

__ADS_1


Malam Hari


Hardi dan Sarah duduk di atas ranjang, keduanya terlihat gugup dan ragu untuk memulai pembicaraan. Sarah meremas-remas tangannya yang terasa dingin karena terlalu gugup. Melihat itu Hardi perlahan memegang tangan Sarah, itu membuat sarah tersentak.


Hardi menggenggam tangan tersebut lalu mengangkatnya dan mengecup punggung tangan Sarah. Sarah tersenyum malu-malu diperlakukan seperti itu.


"Sekarang, bolehkah aku meminta hakku akan memiliki dirimu seutuhnya" ucap Hardi lembut dan Sarah pun mengangguk.


Hardi membaringkan Sarah di ranjang secara perlahan. Ia menatap sayu pada istrinya yang terlihat sangat gugup. Jantung mereka berdegup saling bersautan. Hardi menyibakkan rambut yang ada di wajah istrinya yang dirasa sedikit mengganggu. Tiba-tiba Hardi mulai menciumi telinga hingga leher Sarah dengan lembut namun Sarah masih terlihat tegang.


"Tenanglah sayang, aku akan memperlakukan mu dengan sangat lembut jadi kau jangan khawatir, nikmatilah" bisik Hardi lirih di telinga Sarah.


Sarah pun mencoba menenangkan hatinya lalu mencoba menikmati setiap serangan lembut dari suaminya. Tak lama sudah tak ada secarik benangpun yang menutupi mereka.


"Aku mulai yah, jangan tegang dan nikmatilah" lirih Hardi di tengah permainannya.


Akhirnya mereka pun melakukan hubungan yang selama ini mereka tunda terutama Sarah yang baru siap malam ini. Dan kewajibannya sebagai seorang istri akhirnya bisa ia laksanakan dengan baik berkat perlakuan lembut dari suaminya.


Permainanpun selesai, suasana yang tadinya sedikit bising kini hanya tinggal kesunyian. Hanya deru nafas mereka berdua yang terdengar dimalam yang telah ini karena aktivitas yang telah mereka lakukan bersama.


"Terimakasih sayang, atas malam ini" ucap Hardi mengelus lembut rambut istrinya yang tergerai sedikit acak-acakan.


"Tak perlu berterimakasih mas, ini sudah kewajiban saya sebagai seorang istri. Malah saya yang harus minta maaf karena baru bisa memberikan keeajibanmu malam ini" ucap Sarah sedikit menyesal.


"Semua bukan salahmu atau salah siapapun, hanya keadaan yang membuat kita tak cepat sedekat ini. Yang penting sekarang kau telah memberikan kewajibanmu dan aku telah mendapatkan hakku, masalah waktunya kapan itu tidak penting. Yang terpenting mulai sekarang kita telah menjadi pasangan suami dan istri yang sesungguhnya" ucapan Hardi membuat Sarah kembali luluh, ternyata pria sedingin Hardi bisa berkata hal yang romantis seperti itu.


Hardi menarik dekat tubuh istrinya, membiarkan Sarah tidur di lengan kekarnya. Hardi mendekap penuh rasa sayang, Sarah pun menerima itu dengan senang hati. Mereka menutupi tubuh mereka dengan selimut disana dan tak lama mereka pun terlelap dengan nafas yang sudah mulai tenang.


'Terimakasih mas, kau telah memberiku cinta yang baru. Mulai malam ini dan seterusnya aku akan berusaha menjadi istri yang menyenangkan suami' batin Sarah sebelum ia terlelap.


Bersambung.......


Ada yang menunggu adegan ini?🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2