
Hardi meminta anak-anak untuk tetap di villa bersama oma dan opanya, Hardi ingin sekali menghabiskan waktu berdua walau hanya sehari dengan istrinya. Sebenarnya Sarah sempat menolak karena tak rela harus meninggalkan anak-anak hanya untuk jalan-jalan berdua namun Hardi terus saja membujuknya sampai Sarah bersedia dengan ajakan Hardi.
Sebenarnya Hardi tak mengajak jauh-jauh Sarah, dia hanya mengajak Sarah berjalan-jalan di kebun teh dekat Villa dan melihat perkebunan sayuran yang ada di sana. Mereka berjalan bergandengan tangan di tengah hijaunya perkebunan teh disana, udaranya sangat segar sehingga mereka berjalan perlahan menghirup dan menikmati kesegaran udaranya. Sesekali mereka berpapasan dengan penduduk asli dan pemetik teh disana yang menyapa mereka dengan rama dan mereka pun membalasnya dengan senyuman. Hardi dan Sarah berjalan berdampingan selayaknya seorang yang sedang kasmaran, mungkin memang bisa di bilang masih kasmaran mengingat mereka menikah tidak melalui tahap pendekatan ataupun pacaran. Sekarang walaupun sangat terlambat namun mereka menikmatinya bak sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu berdua di keindahan alam yang terhampar luas.
Jalanan setapak yang berbatu membuat jalan mereka perlu kehati-hatian, Hardi selalu membantu Sarah dengan menggenggam tangan istrinya dengan erat agar tidak terjatuh. Namun nasib tak dapat ditolak, Sarah salah melangkah hingga terpeleset di batuan kecil yang ia injak.
" Aawwww....." teriak Sarah.
" Kamu tak apa-apa sayang? kamu masih bisa berdiri?" tanya Hardi yang terlihat khawatir, lalu Hardi membantu Sarah berdiri.
" Awwwww.... sakit mas, kayaknya kakikku terkilir." ujar Sarah sambil meringis menahan sakit.
" Yasudah, kamu tak perlu berjalan, sini mas gendong saja." ujar Hardi sambil berjongkok agar Sarah naik ke punggungnya.
" Beneran mas kuat menggendongku?" tanya Sarah tak yakin.
" Kamu saja kuat menahan tubuhku masa hanya segini aja masa gak kuat. Tubuh mas kan lebih berat dari tubuh kecilmu ini hehehehe." ujar Hardi cengengesan.
" Kamu tuh yah mas, di saat seperti ini masih aja bisa bercanda." ujar Sarah sedikit malu.
" Udah, ayo naik, mas udah pegal dari tadi jongkok terus." pinta Hardi dan akhirnya Sarah pun berada di gendongan suaminya.
Hardi mulai berjalan perlahan dengan tubuh Sarah berada di gendongannya, karena keadaan Sarah, Hardi pun akhirnya berbalik arah ke arah Villa yang tadinya ingin melihat perkebunan dari dekat mereka urungkan karena harus segera memeriksa kaki Sarah yang terkilir.
" Sudah berapa lama yah aku tak menggendongmu seperti ini?" tanya Hardi.
" Ini yang pertama kali mas." jawab Sarah.
" Benarkah? perasaan mas sering menggendongmu deh." ujar Hardi mengingat-ingat.
" Iya mas memang sering menggendongku tapi menggendongku di punggung mas ini baru pertama kalinya." balas Sarah.
" Oya.... benar juga sih, aku paling gendong kamy di depan saat ingin jatah yah hehehehehe." ujar Hardi tersenyum.
__ADS_1
" Mulai lagi nih genitnya, ngomongnya ceplas-ceplos terus." ujar Sarah menepuk punggung suaminya.
" Yah emang itu kenyataannya sayang, kalau tak ada maunya aku tak pernah menggendongmu hehehehe." ujar Hardi dan memang benar perkataan Hardi, Sarahpun menyetujuinya walau hanya dalam pikirannya.
" Kita istrirahat dulu sebentar yah sayang, tangan mas sudah mulai kesemutan." ujar Hardi ketika melihat sebuah gubuk kecil di tengah perkebunan.
Hardi menurunkan Sarah untuk duduk di bangku yang ada di sana dan Hardi pun meregangkan tangannya yang terasa pegal karena memang sudah cukup jauh Hardi menggendong istrinya. Tiba-tiba hujan pun turun dan langsung lebat, sehingga perkebunan teh yang tadinya banyak orang menjadi sepi karena mereka pada berteduh ke gubuk-gubuk kecil yang ada di sana. Gubuk kecil yang di tempati Hardi dan Sarah memang cukup jauh dari para pemetik teh sehingga tak ada orang yang ikut berteduh disana hanya ada Hardi dan Sarah saja.
Setelah menunggu cukup lama namun hujan tak kunjung reda, malah semakin deras dan kabut mulai datang sehingga pandangan mulai pendek terhalang kabut yang cukup tebal. Sarah melipat kedua tangannya kedepan sesekali dia mengusap-usap lengannya dengan telapak tangannya agar menjadi hangat, Hardi menyadari itu lalu mendekati istrinya.
" Kamu kedinginan sayang?" tanya Hardi.
" Iya mas, tadi aku lupa pakai jaket, hanya pake kardigan tipis ini jadi lumayan dingin." balas Sarah.
" Yasudah sini mas peluk biar hangat." Hardi pun merangkul pundak Sarah menarik ke pelukannya.
Hujan malah semakin lebat hingga kabut semakin menebal, rasa dinginpun semakin menusuk kulit keduanya. Hardi juga hanya menggunakan sweater biasa yang tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya sendiri. Terlihat Sarah semakin mempererat pelukannya pada suaminya, Hardi memperhatikan istrinya dan tertuju pada bibirnya yang sedikit bergetar.
Tiba-tiba pikiran nakal melintas dalam pikirannya, Hardi menarik dagu istrinya ke atas dan Sarah hanya diam saja tanpa bertanya maksud dari suaminya, kemudian Hardi mendekatkan wajahnya dan kedua bibir mereka pun bersatu. Hardi terus saja menciumi bibir istrinya dan Sarah pun mulai mengimbangi pergerakan bibir suaminya, tubuh mereka mulai menghangat, rasa dingin yang mereka rasakan semakin berkurang. Ternyata ide Hardi benar adanya, keadaan alam yang dingin bisa sirna dengan hangatnya bibir mereka berdua.
" Kamu kenapa sayang?" tanya Hardi heran.
" Kamu kenapa pegang-pegang disitu?" ujar Sarah.
" Memangnya kenapa? kita sudah suami istri dan kamu tak pernah mempermasalahkan itu." lagi-lagi Hardi heran.
" Aku tak masalah soal sentuhanmu tapi jika menyentuhku di tempat seperti ini, aku tak mau mas." balas Sarah yang merasa risih.
Hardi pun menyadarinya, ia terlalu terbawa suasana hingga tak menyadari jika mereka berada di area terbuka.
" Oh iya sayang, maaf. Mas terlalu asik hingga lupa tempat hehehe." ujar Hardi sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Terlihat hujan pun sudah terhenti, Sarah mengajak Hardi untuk segera kembali ke villa dan sudah merasa rindu dengan anak-anaknya. Hardi pun kembali menggendong istrinya dan berjalan menuju ke Villanya, tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di villa.
__ADS_1
Pak Herman dan bu Yesi melihat Sarah yang di gendong Hardi merasa khawatir.
" Hardi? Sarah kenapa?" tanya bu Yesi.
" Oh ini, sepertinya kaki Sarah terkilir, apa ada dokter disini?" tanya Hardi.
" Sepertinya lumayan jauh untuk ke dokter, tapi bi Yati (istri penjaga villa) bisa mengurut deh." balas Pak Herman.
" Yasudah, coba dulu sama bi Yati kalau parah nanti kita kedokter." ujar Hardi.
Bu Yesi pun memanggil bi Yati untuk mengurut kaki Sarah, tak lama bi Yati pun datang dan langsung memeriksa kaki Sarah. Ternyata Sarah hanya salah urat saja untung tulang sendinya tidak bergeser sehingga bi Yati bisa mengurutnya walau pasti terasa nyeri.
Sarah pun mulai meringis ketika bi Yati mulai mengurutnya. Sarah memegang tangan Hardi dengan erat hingga Hardi pun merasa nyeri jadi keduanya pun teriak secara bersamaan hingga membuat orang-orang yang ada di sana ikutan tersenyum. Setengah jam kemudian akhirnya Sarah pun selesai di urut lalu di oleskan obat hangat untuk meredakan rasa nyerinya. Hardi memapah Sarah hingga ruang keluarga, Sarah pun duduk di sofa dengab kaki yang sakit di luruskan di atas meja.
" Oh iya mah, pah, anak-anak pada kemana?" tanya Sarah.
" Mereka tertidur di kamar kalian, ketiganya tidur seranjang saat hujan tafi." balas bu Yesi.
" Oh begitu syukurlah, pantas sepi dari tadi. Aku mau melihat mereka sekarang." ujar Sarah yang hendak berdiri dari duduknya namun Hardi melarangnya.
" Kamu di sini saja, istirahat dulu biar cepat sembuh, biar mas yang melihat mereka." ucap Hardi yang langsung ke kamarnya dan melihat ketiganya benar-benar tertidur lelap.
" Bagaimana mereka mas?" tanya Sarah ketika Hardi kembali menghampirinya.
" Mereka tidur nyenyak sayang, jadi jangan ganggu mereka. Kita disini saja istirahat sambil menonton televisi, tangan dan punggung mas juga cukup lelah." ujar Hardi.
Bi Yati membawakan minuman hangat untuk Hardi dan Sarah serta beberapa toples cemilan untuk menemani waktu istirahat mereka.
Bersambung.....
Selalu dukung Author dengan Like, Vote dan Komen...
terimakasih 😊
__ADS_1
Baca juga " Terpikat pesona janda kembang ",, udah tamat, di jamin seru 😊