
Operasi berjalan begitu alot, sejam menunggu masih belum diketahui hasilnya. Lalu keluarga Hardi pun tiba bersama ibunya Sarah, bu Yesi segera memeluk anaknya yang terlihat lusuh dengan baju yang masih berlumuran darah.
" Hardi, kamu tak apa-apa kan, nak? mamah cemas sekali ketika mendengar kalian kecelakaan. Bagaimana keadaan Sarah sekarang?" tanya bu Yesi yang memang khawatir.
" Iya nak Hardi, apa Sarah tidak apa-apa?" tanya bu Rahma yang sangat cemas.
" Sarah.... Sarah masih berada di ruang operasi, jadi Hardi belum tahu keadaan Sarah saat ini." Wajah Hardi mengisyaratkan kesedihan.
Mendengar jawaban Hardi, semua yang ada di sana masih merasa cemas dan khawatir, 2 jam berlalu dan akhirnya dokter pun keluar dengan tampang puas.
" Bagaimana dok, keadaan istri saya?" tanya Hardi.
" Syukurlah, istri anda telah melewati masa kritisnya, operasinya juga lancar, kami berhasil menghentikan pendarahan pada kakinya. Namun sepertinya untuk sementara istri anda tidak dapat menggunakan sebelah kakinya karena kaki sebelah kiri itu yang sangat parah keadaannya. Tapi nanti kita lihat perkembangannya setelah beberapa minggu, jika terjadi kelumpuhan atau kesulitan untuk di gerakan, kami sarankan untuk melakukan terapi rutin untuk mengembalikan fungsi kaki bu Sarah nantinya. Namun saya doakan semua keadaan ibu Sarah bisa seperti semula setelah proses penyembuhan pasca operasi." jelas dokter panjang lebar.
" Yasudah kalau begitu saya permisi, nanti istri anda di bawa ke ruang rawat inap." ujar dokter meninggal Hardi dan keluarga.
Tak berapa lama, Sarah di dorong pada sebuah ranjang menuju kamar inapnya, terlihat Sarah masih tak sadarkan diri dengan kondisi kedua kaki yang telah di perban. Bu Rahma menangis melihat putri satu-satunya terluka separah itu, mereka pun mengikuti para perawat yang mendorong ranjang rumah sakt.
Sesampainya di kamar inap, perawat meminta hanya 2 orang yang bisa menjenguk Sarah, agar pasien bisa beristirahat pasca operasi. Maka hanya Hardi dan bu Rahma yang masuk menemui Sarah yang masih terbaring tak sadarkan diri.
" Sayang, syukurlah kamu masih selamat, aku khawatir dengan semua ini." ucap Hardi menggenggam tangan istrinya.
" Sarah, mamah sangat khawatir padamu, semoga tak ada kejadian seperti ini lagi." ujar bu Rahma menangis di depan putri semata wayangnya.
________
2 jam sudah menunggu namun Sarah belum juga sadarkan diri.
" Mah, bagaimana dengan anak-anak?" tanya Hardi.
" Tadi waktu mamah berangkat kesini, mereka sedang tidur nyenyak, mungkin kecapekan karena perjalanan jauh." balas bu Yesi.
" Hardi, ini pakaian untukmu, gantilah bajumu terlebih dahulu, lihat bajumu lusuh dan banyak noda darahnya." ujar pak Herman memberikan setelan untuk Hardi.
" Terimakasih pah." Hardi lalu beranjak ke toilet untuk berganti pakaian.
__ADS_1
" Tono, kamu pulang saja, mungkin keluargamu juga khawatir dan istirahatklah sampai lukamu baikan." ujar pak Herman lalu pak Tono pun pamit untuk pulang.
Hardi kembali dengan pakaian bersih lalu membuang pakaian yang lusuh dan banyak noda darahnya.
" Aku mau masuk lagi ke kamar Sarah, aku tak ingin meninggalkannya." ujar Hardi.
" Apa kamu tak makan dulu saja nak? biar mamah yang jagain Sarah." ujar bu Rahma.
" Tidak mah, mamah dan yang lain saja makan, aku belum lapar." balas Hardi.
" Tapi kamu belum makan dari siang, sekarang sudah jam 9 malam, makanlah kamu juga kan harus meminum obat untuk kesembuhan lukamu." ujar bu Yesi sedikit memaksa.
" Yasudah, kalian makan saja dulu, nanti bawakan Hardi makanan, Hardi tak ingin berjauhan dengan Sarah." ujar Hardi.
" Baiklah, kami pergi makan dulu yah. Nanti mamah bawakan makanan buatmu." ujar bu Yesi.
Hardi kembali masuk ke dalam kamar inap Sarah, Hardi duduk di samping istrinya yang masih belum membuka matanya. Waktu terus berlalu, Hardi terus saja menggenggam tangan Sarah sambil menatap penuh rasa cemas pada istrinya tersebut. Tiba-tiba mata Sarah bergerak, Sarah mulai membuka perlahan matanya.
" Sayang... Sayang... kau telah bangun, Sayang... Syukurlah..." Hardi tersenyum lebar walau matanya berkaca-kaca, ia sangat bahagia karena Sarah sudah sadarkan diri.
" Mas, aku dimana?" tanya Sarah yang masih belum sadar seutuhnya.
" Anak-anak dimana mas?" tanya Sarah.
" Anak-anak ada di rumah, mereka pasti sedang tidur." balas Hardi.
" Kakiku! kenapa dengan kakiku mas?" tanya Sarah.
" Kakimu terjepit di antara kursi sehingga harus dilakukan tindakan operasi, kata dokter tidak ada yang perlu di khawatirkan, jadi kamu tenang saja." ujar Hardi menghibur istrinya.
" Tapi mas, kakiku tidak bisa di gerakkan?" ujar Sarah panik.
" Tenang sayang, kan baru di operasi dan di gif juga, kamu jangan cemas jika semuanya sudah sembuh kamu akan berjalan normal seperti semula." ujar Hardi lagi-lagi menghibur istrinya, yang memang Hardi juga ragu akan hasilnya nanti.
" Kau tidur saja, tenang saja semuanya akan baik-baik saja." ujar Hardi menenangkan istrinya.
__ADS_1
" Mas juga terluka, apa mas baik-baik saja?" tanya Sarah melihat perban di kepala Hardi.
" Oh ini, hanya luka sedikit, kamu tak usah khawatir, mas baik-baik saja." balas Hardi tersenyum kecil.
Akhirnya Sarah kembali memejamkan matanya, Hardi menatapnya dengan senyuman. Dia bersyukur karena istrinya tengah sadarkan diri dan berharap jika kaki istrinya akan kembali normal seperti sedia kala.
_______
Pagi harinya Cilla bangun, ia langsung menuju kamar kedua orangtuanya namun Cilla tak melihat siapapun disana. Cilla berlari turun ke bawah dan melihat oma opanya sedang duduk di ruang keluarga seperti sedang membicarakan sesuatu.
Cilla menghampiri mereka dengan masih menggisik matanya dan rambut yang acak-acakan.
" Oma.. Opa.. ayah dan bunda kemana? tadi Cilla kekamar mereka gak ada." tanya Cilla lalu duduk di pangkuan bu Yesi.
" Oh ayah sama bunda sedang ada urusan beberapa hari jadi Cilla dan adik-adik sama oma dan opa dulu, nanti juga mereka akan pulang. Sekarang Cilla mandi dulu sama mbak Lia, nanti kita ke taman sama Arka dan Arsa." ujar bu Yesi yang tak memberitahukan hal yang sebenarnya.
Lia pun datang untuk membawa Cilla ke kamar mandi.
" Lia, apa Arka dan Arsa sudah bangun?" tanya bu Yesi.
" Belum nyonya besar, mereka masih terlelap di kamarnya." balas Lia.
" Yasudah, kamu mandikan Cilla dulu dan ajak dia sarapan nanti." ujar Bu Yesi.
" Baik nyonya besar." balas Lia lalu pamit pergi untuk memandikan Cilla.
Tiba-tiba terdengar dering suara ponsel milik pak Haerman. Dan pak Herman pun mengangkatnya, sepertinya obrolan yang sangat serius dengan seseorang di seberang telpon.
" Ada apa pah? seperti ada hal yang penting." tanya bu Yesi penasaran karena melihat ekspresi suaminya yang serius.
" Ini mah, di perusahaan Hardi ada klien penting yang datang dari luar negeri, karena Hardi tak bisa hadir jadi papah yang harus menemui mereka. Jika mengandalkan Rio, sepertinya tidak akan berhasil untuk membujuk mereka nanti." jelas pak Herman.
" Yasudah papah segera ke kantor Hardi, biar nanti-nanti saja pergi ketamannya, mungkin Cilla juga akan mengerti." ucap bu Yesi.
" Ok mah, papah pergi dulu." ujar pak Herman lalu berangkat menuju kantor.
__ADS_1
Bersambung......
Ingin tahu cerita selanjutnya?... Selalu nantikan up Author selanjutnya 😊