
Hardi selalu menatap wajah istrinya berharap ia akan segera sadar. Ia menggenggam tangan istrinya dan setia menunggu sampai Sarah tersadar.
"Cepat sembuh sayang, aku merindukanmu sangat merindukanmu. Sadarlah Sarah, mas disini" Gumam Hardi terus menatap sayu ke arah istrinya yang masih tak sadarkan diri.
Namun rasa kantuk menyerangnya, tak bisa ia tahan lagi karena memang tubuhnya sangat letih, tanpa sadar ia pun tertidur sambil tetap menggenggam tangan istrinya.
Beberapa saat taerlihat jari tangan Saraylh bergerak, tak lama Sarah membuka matanya secara perlahan dan pelan. Ia menatap langit-langit yang bercat putih, ia mencoba menyadarkan dirinya. Tangannya terasa berat serta sulit digerakkan seperti seseorang menggenggam dan menindih lengannya.
Dilihatnya Hardi sedang tertidur pulas sambil memegang tangannya, Sarah tersenyum tipis kearahnya. Tangan sebelahnya mengarah ke kepala Hardi mencoba mengelusnya pelan.
Hardi merasakan elusan di atas kepalanya, dia mencoba bangun dari tidurnya. Dilihatnya Sarah sudah tersadar membuatnya sangat bahagia.
Hardi langsung tersenyum bahagia, "Sayang, kau sudah sadar. Alhamdulillah, akhirnya kau sadar juga. Aku sangat cemas dan khawatir" Hardi menggenggam tangan Sarah erat.
Segera Hardi sedikit berteriak memanggil keluarganya yang berkumpul duduk di Sofa di ruang rawat Sarah.
"Mah, pah, Sarah sudah sadar" Hardi mamanggil orangtuanya dan yang lainnya dengan senyum yang mengembang, mereka langsung menghampiri Sarah.
Mereka tersenyum bahagia melihat Sarah sudah siuman, terutama bu Rahma yang sangat mengkhawatirkan putrinya itu.
"Sarah! kamu tak apa-apa nak? Mamah khawatir sekali" Bu Rahma tersenyum bahagia tak terasa air matanya menetes lalu memeluk tubuh istrinya yang masih terbaring.
"Sarah baik-baik saja mah, mamah tak usah nangis begitu" Sarah mengusap air mata di pipi mamahnya dan tersenyum.
Tak berapa lama dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Sarah. Setelah Hardi memanggil karena Sarah telah sadar. Dokter memeriksa keadaan Sarah secara rinci.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Hardi.
"Bu Sarah tidak apa-apa, dehidrasi dan kurang asupan makanan yang dialami bu Sarah yang membuat ia lemas, namun semuanya stabil. Dia hanya butuh banyak istrirahat dan makan makanan yang bergizi serta minum yang cukup. Juga selalu mendukungnya agar mentalnya pun stabil. Sehari ini masih harus di rawat dan besok sudah bisa pulang." jelas Dokter, kemudian dokter meninggalkan ruangan.
Hardi menggenggam tangan istrinya menempelkannya pada pipinya yang terdapat bulu-bulu pendek yang belum di bersihkan.
"Aww......" teriak Sarah.
"Kenapa sayang? ada yang sakit?" Hardi langsung terlihat sangat khawatir begitupun yang lainnya.
Sarah tersenyum, "Hehehe aku tidak sakit, cuma mas sepertinya belum cukuran yah. Bulunya nusuk tanganku".
__ADS_1
"Dikira kenapa!, mas gak sempat mikirin cukuran yang ada di pikiran mas cuma keadaan dan keselamatan kamu. Tapi kalau kayak gini kan malah bagus, ada sensasi lain buat kau rasakan" canda Hardi tersenyum ceria.
Semua yang berada di sana pun akhirnya tertawa, melihat Sarah dan Hardi yang gemas akan istrinya. Hardi malah sengaja mendekatkan tangan Sarah ke kumis, jenggot dan cabangnya membuat Sarah tertawa karena merasa geli.
__________
Malam sudah tiba, di rumah sakit hanya ada Hardi saja. Hardi menyuruh yang lainnya untuk pulang agar mereka beristirahat, biar Hardi sendiri yang menjaga Sarah.
"Mas, apa mas khawatir padaku saat aku disekap oleh Malvin?" tanya Sarah menatap Hardi.
"Mas sangat... Sangat khawatir dan cemas sekali. Sampai mas gak bisa makan maupun tidur, selama kau hilang" balas Hardi menatap sayu ke arah istrinya.
"Mas mencintaiku?" tanyanya lirih.
"Kau tidak perlu bertanya. Rasa Cintaku ini tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, karena tak ada yang lebih besar dari rasa cintaku padamu" Hardi mencium punggung tangan Sarah.
Hardi bangkit lalu mengecup kening istrinya, Sarah hanya tersenyum senang melihat perlakuan suaminya yang sangat manis.
"Hhhmmm...hhmmmm" suara deheman mengajutkan mereka.
"Suster!" wajah Hardi merona begitupun Sarah ketika seorang perawat tiba-tiba berada di belakang Hardi.
"Jika besok pagi impusan ini sudah habis, bu Sarah sudah boleh pulang. Itu pesan dari dokter" ujar perawat itu.
Sarah dan Hardi tersenyum setelah perawat itu keluar. Berarti Sarah sudah bisa kembali kerumah.
"Kau sih mas, main cium segala. Ini kan rumah sakit" Sarah merona, tangannya mencubit perut Hardi.
"Aw... sakit sayang. Tapi tak ada salahnya kan mencium istri sendiri, itu juga cuma di kening kan. Apa aku harus menciumnya di bibir" Hardi memonyongkan bibirnya mendekat pada Sarah.
Sarah membelalakan matanya sambil tangannya menahan bibir monyong suaminya.
"Apaan sih mas? nanti kalau ada yang datang lagi gimana?" tolak Sarah.
"Tak akan ada yang datang lagi sayang, mas jamin itu" Hardi masih saja mendekatkan wajahnya.
Akhirnya Sarah pun pasrah menerima perlakuan suaminya. Bibir Hardi mendarat di bibir Sarah, mereka saling berciuman melepas rasa rindu mereka. Tangan Sarah mengalung di leher suaminya sementara Hardi berdiri di samping tempat tidur sambil terus berciuman cukup lama.
__ADS_1
Sampai Sarah memekik membuat Hardi menghentikan ciumannya.
"Kenapa Sayang?" Hardi menatap Sarah khawatir.
"Mas terlalu bersemangat, hingga luka di bibirku terasa sakit" balas Sarah.
"Maafkan mas yah!" Hardi merasa bersalah.
"Tak apa mas, cuma sakit sedikit." ucap Sarah.
"Yasudah, lagian sudah larut juga. Kau istirahat saja. Aku akan selalu berada di sampingmu" Hardi kembali duduk di samping ranjang Sarah. Tak berapa lama mereka pun akhirnya terlelap.
_______
Pagi pun tiba, cairan infus tinggal sedikit. Hardi segera memencet tombol dan tak berapa lama perawat pun datang. Perawat membuka jarum infusan di tangan Sarah, karena hari ini Sarah di perbolehkan pulang.
Tak berapa lama Rio dan Devan datang untuk membantu berbenah di sana, merapikan barang bawaan Sarah dan Hardi. Sarah ke kamar mandi untuk berganti pakaiannya.
Semuanya sudah beres termasuk biaya administrasi yang sebelumnya sudah di urus oleh Rio. Devan dan Rio membawa beberapa bawaan, sementara Hardi memapah Sarah pelan untuk menuju ke Mobil.
Mobil pun melaju, Sarah menyenderkan kepalanya pada bahu lebar suaminya. Rio menyetir mobil sedangkan Devan berada di kursi samping pengemudi.
Hardi terus menatap wajah Sarah yang masih terlihat luka lebam nya.
"Ini masih sakit sayang" Hardi menunjuk lebam di wajah Sarah.
"Sedikit mas" balas Sarah.
Hardi menyuruh Sarah untuk menyenderkan kepalanya di pundaknya yang lebar. Sarah menuruti keinginan Hardi sambil tangannya melingkar di lengan Hardi.
"Terimakasih sayang, kau bertahan dengan masih sehat dan selamat. Mulai saat ini, aku akan lebih melindungimu, tak akan aku membiarkan siapapun menyakitimu. Jika ada yang menyakitimu, akan berhadapan denganku" batin Hardi.
Devan yang melihat mereka di kursi depan pun ikut senang. Apalagi sikap Hardi yang sangat lembut pada Sarah berbanding terbalik saat Hardi masih menikah sama Wulan dulu!. Menurut Devan, hanya Sarah yang bisa melunakkan hati Hardi yang sedingin es. Membuatnya ikut bersyukur karena Hardi telah menemukan pendamping hidupnya sekarang.
Bersambung.......
Selalu dukung Author dengan Like, Vote dan tulis komentar jika memiliki saran ataupun kritik.
__ADS_1
Terimakasih 😊