
Hardi mengajak Sarah ke acara pesta seorang kliennya, ia tak mengajak Cilla karena memang acaranya mulai jam 8 malam. Jam segitu biasanya Cilla sudah tertidur. Lagi-lagi Hardi memakai setelan toxedo hitam kesukaannya, dengan dasi kupu-kupu, dan jam tangan silver yang menambah kesan mewah penampilannya. Sarah berdandan dengan makeup yang agak tegas dengan gaun hitam berkilau yang pas dengan bentuk tubuhnya, lengan panjang namun sedikit terbuka di bagian dadanya dengan bagian bawah yang sedikit panjang menutupi seluruh kakinya, ditunjang dengan high heels warna gold membuat penampilannya sempurna. Segera mereka menuju mobil yang dikendarai pak Tono menuju tempat tujuannya.
Di pesta itu Hardi memperkenalkan Sarah sebagai istrinya kepada seluruh relasi bisnisnya. Dengan bangga dan senyum cerah yang menghiasi bibirnya. Sarah terus berada di samping Hardi dan sesekali ikut berbincang dengan rekan bisnis suaminya itu.
Lalu Hardi permisi pada Sarah untuk di tinggal sebentar karena ia ingin menghampiri kliennya dan membahas bisnisnya. Sarah pun mengangguk, ia pergi ke dekat makanan tersedia. Ia mengambil segelas air yang berwarna merah lalu ia sedikit meminumnya. Sambil melihat suaminya yang terlihat sibuk membahas sesuatu dengan beberapa orang disana.
Sarah terus menikmati minumannya tanpa ia sadari seseorang menghampirinya. Lalu memanggil namanya, "Sarah! Benar ternyata kamu. Aku kira aku salah lihat" tersenyum manis pada Sarah.
"Martin! Kenapa kau disini?" Tanya Sarah ketika melihat Martin di dekatnya. Ia memang pernah sakit hati karena Martin dulu menghiyanatinya namun ia tak menyimpan dendam sama sekali sehingga ia bersikap biasa saja pada mantan pacarnya itu.
"Iya, aku mewakili papahku datang ke pesta ini. Karena beliau sedang tidak enak badan. Kamu disini dengan suamimu?" Martin mengedarkan pandangannya mencari Hardi.
"Iya, aku baru pertamakalinya menemaninya ke pesta relasi seperti ini. Dan memperkenalkan aku sebagai istrinya." jelas Sarah masih meminum minumannya sedikit demi sedikit.
"Emang selama ini kamu tak pernah ikut acara seperti ini?" tanya Martin.
Sarah sedikit tersentak karena ia baru dekat dengan Hardi itu baru 3 bulan belakangan ini. Walau pernikahannya sudah setahun setengah, jadi tak pernah tahu jika ada acara seperti ini sebelum-sebelumnya.
"Tidak, karena aku biasanya kurang menyukai pesta seperti ini" balas Sarah.
"Kau coba buah ini, segar. Jangan minum saja" Martin menusuk sebuah buah strawberry lalu mengarahkannya pada Sarah. Sarah membulatkan matanya tapi ia terima juga walau dengan wajah canggung. Sarah mengobrol dengan akrab dan sesekali mereka tertawa bersama seakan tak ada masa lalu yang buruk.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Hardi memperhatikan Sarah mengobrol dengan sangat akrab bersama seorang pria yang tak ia kenali atau mungkin Hardi lupa akan wajah Martin karena ia pertama kali bertemu di rumah sakit ketika Cilla kecelakaan.
__ADS_1
Pandangan Hardi teralihkan ketika kilennya kembali mengajaknya berbicara. Hardi pun kembali berbincang dengan kliennya untuk beberapa saat sampai menurutnya selesai. Hardi kembali memandang ke arah Sarah namun sekarang Sarah telah sendiri. Kemana lelaki itu pergi? pikir Hardi. Sarah yang melihat Hardi menatapnya pun tersenyum kearah suaminya itu dan Hardi membalas senyuman istrinya.
Tak lama, Hardi pun menghampiri istrinya lalu merangkul pinggangnya.
"Sudah selesai mas?" tanya Sarah.
"Tadi yang bersamamu dan berbincang akrab itu siapa?" tanya Hardi tanpa menjawab pertanyaan Sarah.
"Oh itu, temanku mas. Kebetulan ia mewakili papahnya karena tidak bisa datang" balas Sarah mencoba santai.
"Betulkah dia temanmu, bukan yang lain." Hardi mencoba menekankan perkataannya.
"Betul mas, dia hanya teman" balas Sarah sedikit gugup.
__________
Selam di dalam mobil Hardi hanya diam tak berucap apapun. Sarah pun melihatnya menjadi merasa bersalah karena tidak jujur kepada suaminya. Sarah mulai menguap lalu tanpa disadari dia langsung terlelap, kepalanya jatuh ke arah pundak suaminya. Menyadari itu Hardi membenahi lengannya lalu merangkul tubuh istrinya yang masih menyandarkan kepalanya di bahunya agar Sarah merasa nyaman.
Sampailah di depan rumah, Hardi mencoba membangunkan Sarah pelan namun Sarah tak bergeming. Ia menidurkan Sarah di kursi mobil lalu ia keluar dari mobil. Lalu ia memposisikan Sarah agar ia bisa menggendongnya dalam pangkuannya. Hardi menggangkat Sarah dan menggendongnya menuju ke dalam rumah.
"Pak Tono, tolong bawakan tas dan sepatu istri saya." pinta Hardi yang terus berjalan memangku istrinya.
"Iya tuan" pak Tono membawa tas dan sepatu Sarah, lalu meletakkan di sofa di ruang televisi.
__ADS_1
Tubuh Sarah terlihat ringan di gendongan Hardi, karena ia dengan mudahnya memangku Sarah walau ia harus menaiki anak tangga menuju ke dalam kamarnya. Ia membaringkan tubuh Sarah yangasih terlelap di atas tempat tidur. Hardi melihat Sarah yang sepertinya kurang nyaman akan gaunnya karena terus mengernyitkan dahinya di tengah tidurnya.
Hardi mencoba membuka gaun istrinya, ia memiringkan tubuh Sarah karena memang posisi resletingnya berada di punggungnya. Ia tarik resleting itu hingga ke pinggangnya. Lalu kembali membaringkan ke posisi semula, memcoba membuka gaunnya dari lengan Sarah satu persatu secara perlahan agar istrinya tidak terbangun. Setelah itu ia menarik gaun itu lepas dari tubuh Sarah. Hardi mengambil dress tidur Sarah lalu memakaikannya pada istrinya. Lalu Hardi menyelimuti tubuh Sarah yang tak bergeming mungkin karena sangat lelah. Ia pun berganti pakaian dengan piyama lalu tidur di samping istrinya.
________
Sarah membuka matanya karena sudah merasa gerah, ia melihat jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 7 pagi. Ia melihat pakaiannya telah berganti tapi ia biasa saja karena ia tahu pasti Hardi yang menggantinya. Tapi mengapa semalam ia tak merasakan apa-apa, apa ia begitu lelapnya hingga tak menyadari suaminya membawanya ke kamar dan mengganti pakaiannya. Sarah menatap suaminya yang masih tertidur menghadapnya, ia mengelus wajah suaminya yang terlihat tampan walaupun masih tertidur. Bulu halus menghiasi wajah Hardi yang baru saja bercukur rapi. Membuat Sarah bersyukur telah mendapatkan Hardi sebagai suaminya.
Sarah beranjak dari tempat tidur menuju meja rias karena memang makeup semalam belum ia hapus. Setelah selesai ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sarah memakai pakaiannya lalu turun menuju dapur untuk membuat kopi hitam untuk suaminya. Hardi mencium aroma kopi yang membuatnya membuka matanya. Terlihat kopi sudah berada di atas lemari kecil di samping tempat tidurnya.
"Mas, sudah bangun?" tanya Sarah. Hardi tersenyum lalu duduk di tepi tempat tidur dan meraih gelas kopinya lalu meminumnya perlahan.
"Kopi mu selalu enak" puji Hardi lalu mengecup kening Sarah yang baru ikut duduk di samping Hardi. Sarah merona dengan ucapan sederhana suaminya.
"Terimakasih juga mas karena semalam sudah membawaku sampai kamar, mungkin tubuhku berat yah" ucap Sarah.
"Benar, tubuhmu berat sekali bahkan tanganku sampai pegal" canda Hardi.
"Masa sih" Sarah memegang tangan Hardi dan Hardi pura-pura kesakitan "AAWWW" ucap Hardi padahal Sarah hanya menyentuh pelan.
"Ih.... Dasar. Mas bohong yah. Awas aku beneran buat tanganmu sakit" Sarah mencoba mencubit lengan suaminya namun Hardi bisa mengelak karena ia menggenggam tangan Sarah erat. Sarah terus berusaha melepaskan tangannya untuk mencubit Hardi namun selalu gagal sampai ia menyerah dan cemberut. Hardi hanya bisa cengengesan dengan ulah istrinya.
__ADS_1
Bersambung.......