Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Berbaikan !


__ADS_3

Berhari-hari sikap Hardi sangat dingin terhadap Sarah, ia selalu saja menghindari Sarah dan menjawab seadanya jika Sarah bertanya padanya. Hardi selalu berangkat bekerja pada pagi hari dan pulang kerja pada hampir tengah malam. Membuat Sarah mau tak mau memikirkan kelakuan suaminya itu.


Walaupun Sarah sangat tidak nyaman dengan sikap dingin suaminya namun ia berusaha tersenyum dan bersikap seperti biasanya. Setiap hari Sarah melakukan aktivitas seperti biasanya mengantar Cilla dan mengajar di TK.


Namun ia selalu berusaha melakukan komunikasi dengan Hardi walau di jawabnya dengan datar dan singkat.


"Sekarang lembur lagi pak?" tanya Sarah.


"Iya" jawab Hardi singkat.


Hari berikutnya


"Saya akan belanja bulanan, apa ada yang pak Hardi perlukan?" tanya Sarah.


"Tak ada" lagi-lagi jawaban Hardi dingin.


Hari berikutnya lagi


"Cilla ada kegiatan sekolah! pak Hardi bisa hadir?" tanya Sarah.


"Kamu saja, saya sibuk" balas Hardi datar.


______


Namun semakin lama sikap Hardi semakin membuat Sarah geram, kesalahan apa yang di perbuatannya hingga Hardi mengacuhkannya. Malam ini Sarah memberanikan dirinya untuk bertanya kepada suaminya.


"Pak, kenapa bapak bersikap seperti ini?" tanya Sarah ragu-ragu.


"Bapak, bapak.... terus saja kau memanggilku seperti itu, sampai kapan kau akan memanggilku bapak! Saya ini suamimu, sudah 7 bulan kita menikah kan" tiba-tiba Hardi menjawab dengan sangat emosi, itu membuat Sarah sangat terkejut.


"Apa! Selama ini saya memanggil pak Hardi seperti itu tapi pak Hardi tak pernah keberatan, kan!" jelas Sarah meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Iya sekarang aku peduli dan aku mulai muak dengan sebutan bapak dari mulutmu, aku suamimu, aku berhak mendapat sebutan layak sebagai suami" Hardi masih saja membentak Sarah.


"Kenapa baru sekarang di permasalahkan? apa karena ini pak Hardi selama seminggu ini bersikap dingin dan acuh lagi padaku?" Bentak Sarah yang tersulut semosinya.


Mendapat pertanyaan itu Hardi terdiam, ia tak bisa berkata-kata lagi. Karena memang bukan itu yang menyebabkan ia menjadi marah seperti ini tapi karena hal lain yang membuatnya tersulut emosi.


"Bukan... Bukan karena itu" Hardi sedikit melunak, merendahkan nada suaranya.


"Terus apa?" teriak Sarah yang masih emosi.


"Saya hanya tidak suka penolakan. Saya ini suamimu, saya layak mendapatkan hakku sebagai suami. Kau paham?" Hardi kembali meninggikan suaranya.


Sarah sedikit berpikir akan perkataan Hardi, lalu ia tersadar dan teringat kejadian malam itu dimana ia menolak menerima perlakuan dari suaminya. Tapi itu bukan keinginannya ataupun sengaja menolaknya. Itu reaksi psikis yang membuatnya tak bisa mengendalikan ketakutan pada dirinya sendiri. Sehingga membuatnya bersikap tak seharusnya pada Hardi.


"Oh itu, iya sekarang aku mengerti, jika itu mau pak Hardi malam ini saya siap menurutinya, pak Hardi mau aku melakukannya kan. Ok... aku akan melakukannya." Sarah menurunkan tali tipis dress tidurnya yang sebelah kanan dan kemudian sebelah kiri karena dia hanya memakai baju tidur dress dari bahan satin dengan seutas tali dikanan kirinya sebagai sanggaan bajunya.


Tali pun turun dari kedua pundaknya hingga kelengannya, dia memegang baju itu di bagian dadanya membuatnya terlihat sexy, Hardi melihat ulah istrinya sampai menelan ludahnya, namun ia bisa mengendalikan pikirannya. Ketika melihat Mata Sarah berkaca-kaca yang melanjutkan kegiatannya, membuatnya tak tega.


"Jangan, jangan kau lakukan. Aku tak ingin memaksamu melakukannya. Mohon maafkan aku." Hardi mempererat pelukannya.


"Aku tak akan tidur denganmu jika kau melakukannya dengan terpaksa. Aku sudah tak sanggup lagi jika terus melihatmu menangis. Maafkan aku sekali lagi maafkan aku, Sayang" ujar Hardi dalam pelukannya.


Kata-kata Sayang membuat Sarah terkejut namun ia tetap diam.


Mendapat perlakuan itu, Sarah pun mulai terisak dan menangis dalam pelukan Hardi. Sarah meluapkan semua kesedihannya selama ini, memang seminggu ini hatinya menahan rasa sedih yang teramat karena di acuhkan oleh suaminya.


"Aku mencintaimu" ucap Hardi lirih masih mendekap tubuh mungil istrinya. Sarah tersentak tertegun mendengar kata cinta dari suaminya membuat Sarah tambah menangis lebih kencang. Sehingga Hardi menjadi khawatir apakah ia membuat kesalahan sehingga Sarah malah menangis seperti itu!.


"Apa aku berbuat salah? hingga membuatmu tambah sedih?" Hardi melepaskan pelukannya menatap sayu ke arah istrinya.


"Tidak pak, bukan seperti itu. Ini bukanlah tangis kesedihan. Saya malah sangat bahagia mendengar pengakuan cinta yang mendadak dari anda hingga saya tidak bisa menahan tangis kebahagiaan dari mata saya." balas lirih Sarah.

__ADS_1


"Sebenarnya ini bukan perasaan yang datang begitu saja" Gumam Hardi.


Hardi tersenyum dan kembali memeluk tubuh istrinya, mencium pucuk kepala istrinya dengan hati senang. Cukup lama mereka berpelukan mencurahkan kasih sayang mereka yang selama ini terpendam. Sekarang Hardi tak sungkan lagi melakukan sentuhan fisik pada istrinya. Apalagi melihat Sarah sekarang yang bisa menerima perlakuannya dengan biasa tanpa rasa takut menyerangnya!.


Hardi melepaskan pelukannya, lalu menarik tali di lengan istrinya yang tadi di lepas turun oleh Sarah. Membenahkan kembali seperti semula. Hardi ingin Sarah tenang dulu tanpa merasa tertekan nantinya.


"Kau pakailah kembali, malam ini kita tidur saja. Aku hanya ingin memelukmu sampai kita tertidur" Hardi merapikan pakaian tidur istrinya. Sarah pun mengangguk dengan pernyataan suaminya.


Mereka pun akhirnya berbaring secara berhadapan, Hardi mendekati tubuh istrinya, Sarah pun turut mendekat. Hardi merentangkan satu tangannya sebagai sanggaan kepala Sarah lalu menarik Sarah berada dalam dekapannya. Sarah sangat bahagia bisa mendengar detak jantung suaminya dan sesekali menatap dada bidang suaminya yang membuatnya merona.


"Apa perlu kita bulan madu? Walau terlambat tapi kita harus melakukannya" saran Hardi yang membuat Sarah lagi-lagi terkejut.


"Benarkah? Saya senang mendengarnya" ucap Sarah menengadah menatap suaminya dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Kalau begitu kita ke Bali atau ke luar negeri? Kau ingin pergi kemana?" Hardi antusias.


"Terserah pak Hardi saja, kemanapun yang penting bisa menikmati waktu bersama." Sarah tersenyum cerah.


"Kalau begi kita ke Bali saja yah, yang dekat saja. Yang pentingkan bukan tempatnya tapi suasananya dan siapa orang yang ada di sampingnya." Hardi terus saja mengoceh senang.


"Kita bisa melakukannya disana kan!, aku akan menahannya disini. Aku akan melahapmu ketika kita berbulan madu nanti" mendengar ocehan Hardi, Sarah mencubit perut suaminya karena gemas namun wajahnya merona malu.


Semalaman mereka pun asik mengobrol dan membahas tentang rencana bulan madu mereka nanti. Entah kapan ia merasakan perasaan cinta pada Sarah, namun saat ini ia benar-benar sangat mencintai istrinya. Tak ada apapun yang bisa dibandingkan dengan rasa Cintanya yang kini semakin besar setiap harinya.


Bersambung.......


Bagaimana perasaan kalian setelah mendengar pernyataan cinta Hardi?


Bagaimana kisah mereka selanjutnya?


Selalu nantikan up Author yah 😁

__ADS_1


__ADS_2