Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Lebih Awal


__ADS_3

Hardi mendapatkan telpon dari Devan jika pak Wahyu sudah mulai merespon, dia sudah bisa menggerakkan jarinya walaupun hanya sedikit dan memang dia belum sadarkan diri. Namun dengan adanya sedikit respon itu adalah perkembangan bagus untuk pak Wahyu, mungkin kedepannya akan ada perkembangan yang lebih signifikan.


Hardi memberitahukan hal tersebut pada Sarah yang membuat Sarah merasa begitu senang mendengarnya, namun Sarah belum bisa menjenguk papahnya tersebut karena sekarang kehamilannya sudah memasuki bulan ke sembilan. Sebenarnya Sarah sangat ingin melahirkan secara normal namun tergantung kondisi kesehatannya dan bayinya nanti, jika kesehatan Sarah mendukung dan kuat untuk lahiran normal, dokter akan berusaha membantunya jika tidak mau tak mau Sarah harus di caesar.


Satu minggu lagi Sarah harus melakukan beberapa pemeriksaan untuk kondisinya tersebut. Sarah sangat tidak sabar untuk melihat kedua buah hatinya lahir, Sarah juga sudah sangat tidak nyaman untuk apapun karena kehamilannya tersebut. Bahkan tidur malamnya pun terganggu, Sarah tak bisa bergerak bebas karena bayi dalam kandungannya yang sudah besar.


Hardi sudah mempersiapkan perlengkapan bayi yang harus di bawanya nanti ke rumah sakit di bantu oleh mamah dan mertuanya. Hati Hardi sangat tidak karuan dan gugup tak beralasan, padahal yang akan melahirkan itu Sarah bukan dirinya. Memang ini bukan hal baru bagi Hardi melihat istri akan melahirkan, dulu saat Wulan akan melahirkan Cilla pun Hardi bertingkah seperti ini.


" Nak, kau akan membawa ini semua?" tanya bu Rahma.


" Hardi, kau ini mau ke rumah sakit atau mau pindahan sih hehehehe." ejek bu Mira ketika melihat seberapa banyak tas yang di depannya.


" Ini juga sudah Hardi kurangi mah, bayi Hardi nanti kan ada 2 jadi Hardi menyiapkan masing-masing 3 tas." jawab Hardi.


" Dasar kau ini, bawalah beberapa yang penting dan yang lainnya kau simpan kembali ke kamar. Lagi pula bukan sekarang kan kita kerumah sakitnya, masih ada beberapa hari lagi." ujar bu Mira dan bu Rahma hanya tersenyum melihat tingkah menantunya tersebut.


Hardi pun akhirnya membawa 3 tas saja yang isinya sudah bu Mira dan bu Rahma pilihkan, Hardi pun membawa kembali beberapa tasnya ke dalam kamar karena tak jadi untuk di bawa.


" Mas kenapa di masukan lagi ke kamar tas-tasnya?" tanya Sarah.


" Yah kata mamah jangan terlalu banyak membawa barang, pilih yang penting saja." keluh Hardi.


" Hehehe iya juga sih, tadi aja aku sempat bingung kenapa mas membawa banyak sekali barang, tapi untuk mamah pada bergerak cepat." ucap Sarah sedikit tertawa.


" Kau ini tak tahu apa kalau aku sedang jadi suami siaga, ini malah di tertawakan." ucap Hardi gemas.


" Iya iya, aku senang kok mas sudah siapkan semuanya, tapi jika terlalu banyak juga nanti untuk apa mas, biarkan mamah yang mengatur semuanya, mas hanya harus tetap bersamaku." pinta Sarah.


" Iya sayangku, tenang saja. Beberapa hari kedepan mas tak akan pergi ke kantor, biarkan semua pekerjaan Rio yang mengurusnya." ujar Hardi sambil mencubit hidung mancung Sarah.


" Awww.... Mas ini kebiasaan banget cubit-cubit hidung." keluh Sarah sambil mengelus hidungnya yang memerah.


" Habisnya gemas sih, jadi mau cium." ujar Hardi sambil memanyunkan bibirnya dan tangannya menekan pipi Sarah hingga bibir Sarah pun maju ke depan.


Hardi terus memajukan wajahnya secara perlahan, Sarah yang tadinya memberontak pun sekarang hanya menerima saja dengan memejamkan matanya. Hampir saja bibir mereka bersentuhan tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu kamar mereka yang memang terbuka.


" Duh mesranya, padahal masih siang." suara bu Mira membuat Hardi dan Sarah tersenyum sehingga menghentikan kegiatan mereka. Hardi dan Sarah tersenyum malu, mereka salah tingkah karena terpergok oleh bu Mira.


" Ih mamah ganggu saja sih, padahal hampir saja...." ujar Hardi yang terhenti karena Sarah memukul pundak Hardi dengan keras.

__ADS_1


" Hehehe yasudah nanti kalian lanjutkan malamnya saja, sekarang kita makan siang, semuanya telah siap." ujar bu Mira.


" Iya mah, nanti kami kesana." balas Sarah yang masih malu.


_________


Beberapa hari kemudian, Sarah sedang asik menonton televisi dengan Cilla di ruang keluarga, mereka sangat senang tertawa-tawa menyaksikan siaran cartoon yang tayang di televisi. Hardi ikut duduk di sana sangat dekat dengan Cilla lalu merangkul putrinya itu yang sangat cantik dan sedikit gembul, lalu menciumnya seenaknya membuat Cilla tidak nyaman.


" Iiiihhh.... ayah apaan sih! lepasin aku, aku kan lagi nonton tv." ucap Cilla mencoba melepaskan pelukan ayahnya.


" Gak mau, ayah pengen peluk Cilla." Hardi semakin mempererat pelukannya dan malah mencium pipi putrinya itu.


" Ayah! itu jenggot nusuk Cilla, lepasin tahu..." ujar Cilla. dan Hardi hanya tersenyum telah mengerjai putri semata wayangnya.


Lalu Hardi teralihkan dengan Sarah yang seperti meringis menahan sesuatu hingga Hardi berhenti mengerjai Cilla dan melepaskan pelukannya.


" Kau kenapa sayang?" tanya Hardi.


" Tak tahu mas, pinggangku sakit sekali sampai ke punggung." balas Sarah yang terus meringis.


" Apa perlu mas pijitin?" tanya Hardi.


" Sepertinya kau kecapean, seharian tadi kan bantuin beresin rumah dan masak." ucap Hardi.


" Mungkin saja sih mas... aadduuuhhh aaadduuuhhhh....." ucap Sarah lalu tambah meringis kesakitan.


" Kau kenapa sayang? ada yang sakit lagi?" tanya Hardi yang semakin khawatir.


" aadduuhhh... sekarang perutku sakit mas, aadduuhhhh... " ucap Sarah setengah berteriak menahan rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan.


Hardi pun panik, ia tahu mungkin Sarah akan melahirkan, memang masih 3 hari lagi dari hari perkiraan lahir yang dokter sebutkan namun Sarah merasakannya hari ini. Hardi segera menghubungi ibu Mira untuk mengabari jika Sarah akan melahirkan, karena jarak rumah bu Mira dekat dengan rumahnya. Tak berapa lama bu Mira datang dan melihat Sarah yang terus meringis kesakitan, bu Mira menyuruh Hardi untuk segera menggendong Sarah menuju ke mobil dan segera berangkat ke rumah sakit.


Sarah terus saja meringia dan terkadang menjerit saat kontraksi tiba-tiba datang, Hardi yang menemaninya di dalam mobil sangat khawatir dengan Sarah yang sedang merasakan sakit yang luar biasa yang baru saja dia alami. Tak berapa lama sampailah mereka di rumah sakit, Hardi segera membawanya ke UGD, perawat menyambut dengan membawa ranjang rumah sakit dan Sarah di baringkan di sana. Lalu datang seorang dokter dan memeriksa keadaan Sarah juga mengecek semuanya.


" Ok, ini sudah pembukaan akhir dan ketuban pun sudah pecah, kita langsung bawa ke ruangan bersalin. Ada suaminya yang ingin menemaninya melahirkan?" tanya dokter.


" Saya suaminya, saya akan ikut ke ruang bersalin menemani istri saya." balas Hardi.


" Baik pak, mari kita ke ruang bersalin karena sebentar lagi bayinya akan lahir." ujar dokter lalu perawat mendorong ranjang itu setengah berlari menuju ke ruangan bersalin, Hardi dan dokter mengikutinya dengan cara yang sama. Sesampainya di ruangan bersalin, dokter dan perawat segera mempersiapkan segala yang di butuhkan termasuk baju yang harus di pakai Sarah dan Hardi.

__ADS_1


Hardi menemani istrinya di sampingnya, ia menggenggam tangan Sarah dan membantu sebagai tumpuan di mana Sarah butuh pegangan dalam mengejan nanti. Dokter dan yang lainnya sudah siap, kontraksipun datang membuat Sarah menggenggam kencang tangan Hardi hingga Hardi merasakan nyeri namun ia tahan.


" Ayo bu, semangat agar bayi ibu segera lahir." ucap Dokter.


" aakkkkhhhzzz.... sakit banget dokter. Semua gara-gara kamu, mas." teriak Sarah lalu menjambak suaminya membuat Hardi juga merasakan kesakitan.


" Aaww.... sayang, iya mas salah. Tapi kita buatnya bersama, jangan menjambak rambut mas sayang." ucap Hardi yang sedikit menunduk karena rambutnya terus Sarah jambak.


" Aakkkkhhhzzz..... Biar mas merasakan sakitnya juga.... uh...uh...uh... sakit, mas gak merasakannya sih." teriak Sarah setiap kali konstraksinya datang malah mempererat jambakannya.


" Iya... iya mas minta maaf... aadduuhhh." ucap Hardi mencoba melepaskan jambakan istrinya.


Setelah perujuangan selama 15 menit akhirnya bayi pertama telah lahir, Dokter segera mengangkat bayi tersebut dan membersihkannya, Sarah merasa lega begitupun Hardi. Sarah melepaskan jambakannya di rambut Hardi, mereka senang melihat bayinya yang telah lahir, Hardi mengusap-usap kepalanya yang masih terasa sakit dengan ulah istrinya. Belum sempat dokter memberitahu jenis kelamin bayinya lalu tiba-tiba Sarah merasakan bayi ke 2 akan lahir, segera dokter pun bersiap-siap untuk kedua kalinya. Tak sengaja Sarah menarik lengan Hardi sampai tercakar hingga Hardi merasa perih namun Hardi tetap menahannya karena rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa sakit yang Sarah rasakan.


" Aakkkkhhhzzz... mas, satu lagi ingin keluar." teriak Sarah.


" Iya sayang, tarik nafas, buang nafas, tarik... buang..." ucap Hardi.


" uuuhhhh.. uuhhh... uuhhhh.... kau harus tanggung jawab." teriak Sarah.


" Iya... iya sayang... Mas akan tanggung jawab semuanya." ucap Hardi yang merasakan nyeri karena Sarah mencengkram erat lengannya yang tercakar.


Dokter dan perawat yang mendengar celetukan Sarah dan Hardi hanya tersenyum, karena menurut mereka sangat lucu. Tapi semua yang ada di sana mencoba memberi semangat Sarah untuk melahirkan bayi keduanya. Tak berapa lama tangisan pun terdengar pertanda bayi kedua Sarah telah lahir, semuanya merasa lega yang sekarang lega yang sebenarnya karena bayinya sudah lahir dua-duanya.


Hardi menggenggam tangan Sarah dan satunya mengelus kening Sarah hingga ke rambutnya dengan senyum kebahagiaan. Hardi lalu mengecup kening Sarah yang berkeringat, Sarah sangat bahagia senyumnya mengembang di tengah rasa lelahnya.


" Selamat yah pak Hardi dan bu Sarah, anak kalian laki-laki." ucap Dokter.


" Keduanya laki-laki dok?" tanya Hardi.


" Iya pak Hardi, keduanya laki-laki. Sekarang kami akan membawa mereka ke ruangan bayi dan meletakkannya dalam inkubator karena masih perlu kehangatan di banding bayi pada umumnya." jelas dokter.


" Alhamdulillah, mas punya jagoan 2 sekaligus." ucap Hardi mengembangkan senyumannya.


" Tapi bayi saya tidak apa-apa kan dok?" tanya Sarah khawatir.


" Bayi kalian baik-baik saja, hanya perlu tempat yang lebih hangat. Nanti saat menyusui, perawat kami akan membawanya pada anda." jelas dokter ramah.


Setelah cukup membereskan semuanya, Sarah segera di bawa ke ruang perawatan. Disana semua keluarga telah berkumpul, kedua orangtua Hard, Devan, dan bu Rahma. Mereka sangat bahagia melihat Sarah telah datang ke ruang rawat. Semua berkumpul di ruangan Sarah, sementara Sarah tertidur karena merasa lelah dengan perjuangannya melahirkan kedua buah hatinya.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2