Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Baru tahu !


__ADS_3

Hari ini Hardi terlihat sedang buru-buru untuk pergi ke kantor, katanya hari ini banyak sekali jadwal janji temu dengan beberapa investor. Sarah membantu menyiapkan pakaian, dasi, tas dan lainnya sementara Hardi masih di dalam kamar mandi.


Tak lama Hardi pun keluar dari kamar mandi lalu menggunakan pakaian yang Sarah siapkan yang terletak di atas tempat tidur. Hardi bercermin sekilas melihat penampilannya, serasa semuanya terlihat rapi, Hardi langsung pamit.


"Saya pergi dulu" Hardi langsung berangkat begitu saja tanpa menoleh lagi kepada Sarah


Ttrriinnngggg ttrriinnngggg


Terdengar suara di ponsel Sarah dan dia pun segera melihatnya, ada 1 pesan Chat dari nomor baru yang tak ia kenal lalu sarah membacanya. Ternyata pesan tersebut dari Aini.


Aini : "Hai Sarah, aku Aini. Kenapa tak menghubungiku? padahal waktu itu aku kan sudah ngasih kartu namaku."


Sarah : "Maaf, aku tak sempat menghubungimu. Kamu tahu nomorku dari siapa?"


Aini : "Ada deh... hehehe Kita ketemu yuk, sekedar ngobrol-ngobrol saja. Bisa kan? apa perlu dapat ijin suamimu dulu?"


Sarah : "Eh gak kok, bisa. Mumpung aku sedang ada wktu kosong. Mau di mana?"


Aini : "Di cafe xxx, bawa anak juga gak apa-apa, sekarang yah."


Sarah : "Aku sendiri saja, soalnya anakku sedang tidur".


Aini : "Ok sip, sampai ketemu"


Sarah pun bersiap-siap untuk pergi ke cafe, dia memakai baju santai saja dan makeup tipis natural yang membuatnya sudah terlihat cantik walau berpenampilan sederhana seperti itu.


"Apa aku harus ijin pak Hardi dulu? Apa tak perlu saja? Tapi istri keluar rumah harus ijin suami dulu. Yaudah deh aku kirim pesan saja, mau di balas atau tidak terserah dia sih" batin Sarah.


Lalu Sarah mengirim pesan chat pada Hardi, dia tak berharap Hardi akan membalas pesannya.


Sarah : " Maaf Pak, saya ijin keluar bertemu teman saya, apa boleh?"

__ADS_1


Hardi : "Terserah" Isi pesan singkat Hardi yang benar-benar singkat.


"Huh dasar, dia tetap saja gak berubah. Nyesel aku kirim chat sama dia, di balasnya dingin gitu. Kalau gak niat balas, jangan membalas aja sekalian.....huh" gerutu Sarah sedikit kesal.


Setengah jam perjalanan Sarah tiba di Cafe yang di tempat janjiannya denga Aini, terlihat Aini sudah berada di sana melambaikan tangannya ke arah Sarah. Lau Sarah langsung menghampiri ke mejanya.


"Kamu sudah datang? maaf aku agak lama." ucap Sarah karena sedikit terlambat.


"Tak apa-apa, aku juga baru saja sampai" balas Aini santai.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Aini.


"Aku pesan Juss strawberry dan black Forest saja" balas Sarah.


Aini memanggil pelayan. "Saya pesan 1 jus Strawberry, 1 jus mangga dan 2 potong black forest" Aini memesan pesanan mereka.


"Baik, ditunggu pesanannya yah." balas pelayan lalu pergi.


"Kamu sepertinya sibuk yah, dengan mengajar dan mengurus rumah tangga sekaligus. Apalagi kan sudah ada anak juga, pasti repot!" ucap Aini.


"Tak terlalu sibuk sih ataupun kerepotan, sudah jadi biasa saja. Lagi pula sebagian besar sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga dan baby sitter." jawab Sarah.


"Kamu sendiri pasti lebih sibuk, seorang wanita karir yang sangat sukses pasti lebih banyak kesibukannya kan!!!" Sarah balik bertanya pada Aini.


"Iya sih, aku baru saja mengikat kerja sama dengan MK company, karena mereka membuka bisnis baru di bidang Fashion dan produk kecantikan, jadi mulai sekarang aku akan sangat sibuk." jelas Aini.


Uhuk uhuk uhuk


Sarah tersedak mendengar perkataan Aini tentang tentang perusahaan suaminya.


"Kamu tak apa-apa?" Aini memberikan tisu kepada Sarah.

__ADS_1


"Tak apa-apa, memang MK company bekerja di bidang apa?" tanya Sarah yang memang selama ini kurang tahu akan bisnis suaminya.


"Sebenarnya sih mereka bekerja di bidang properti dan perhotelan, namun mereka sekarang mulai membuka bisnis di bidang Fashion dan produk kecantikan, makanya dia melakukan kerjasama denganku. Anggaplah aku sebagai konsultan di bidang Cosmetic yang akan mereka luncurkan. Padahal MK company itu adalah perusahaan yang sangat terkenal di Indonesia akan kesuksesannya serta pemiliknya yang masih muda dan tampan, tapi sepertinya kamu tidak tahu sama sekali yah?" jelas Aini, heran.


"Aku sih tak terlalu tertarik dengan dunia bisnis, jadi tak begitu tahu tentang mereka." ucap Sarah sesantai mungkin.


Padahal Sarah baru saja mengetahui bisnis suaminya yang ternyata begitu besar. Pantas saja apapun yang Hardi inginkan bisa di dapatkannya dengan mudah, begitu juga Hardi memberinya Black Card untuk digunakan oleh Sarah, karena tak sembarangan orang yang memilikinya. Selama ini memang Sarah tak begitu peduli sih dengan pekerjaan suaminya, yang ia tahu bahwa suaminya itu adalah CEO MK Company tak lebih.


"Oh ya, selain tampan dia juga sukses, jika bertemu pasti kamu akan terpesona melihat tampangnya dan pesonanya" Aini sangat antusias.


"Begitukah! Tapi jika ia sangat tampan pasti banyak yang sudah mengincarnya, apalagi dia itu orang yang sukses pasti banyak sekali kekayaannya, pasti banyak wanita yang cantik-cantik dan modis-modis yang akan mengerjarnya kan." Sarah memainkan sedotan minumannya merasa sebal jika memang benar seperti yang ia katakan.


"Yah begitulah, sosok yang sempurna seperti CEO MK company itu bisa di bilang 1:1000 di dunia ini. Yang aku dengar sih dia sudah menikah lagi, tapi tak masalah juga sih jika ia ingin menjadikanku istri keduanya, aku rela." Aini tersenyum seakan perkataannya memang serius.


"Jangan asal ngomong kamu, jika Istrinya tahu itu bisa membuatnya marah bahkan bisa menggoyahkan rumah tangganya. Emangnya kamu mau di cap pelakor, padahal kan kamu cantik pasti bisa dapatkan pria seperti pak Hardi itu." Sarah mengepalkan tangannya di atas pahanya tanpa sepengetahuan Aini.


"Halah... jangan di bawa serius gitu, aku cuma bercanda saja. Kenapa kau juga terlihat kesal seperti itu?" Aini memperhatikan mimik wajah Sarah yang berubah.


"Yah bukannya aku kesal, tapi jika aku berada di posisi dia. Aku akan sangat marah, aku kan juga sudah bersuami jika suamiku ada yang menggodanya, aku akan sangat marah dan mungkin meminta untui berpisah." jelas Sarah berkilah.


"Yasudah, jangan membahas orang lain lagi. Kita membicarakan diri kita saja" Aini menyeruput minumannya.


"Cilla itu kelas berapa?" tanya Aini.


"Cilla masih Tk. Beberapa bulan lagi ia akan maksud SD" balas Sarah.


"Tapi Cilla, tak mirip denganmu. Apa dia mirip dengan ayahnya?" tanya Aini setelah melihat Cilla waktu itu.


"Iya, Cilla sangat mirip sekali dengan ayahnya" balas Sarah datar.


Mereka pun berbincang cukup lama di sana, hingga hampir 3 jam berlalu, lalu mereka memutuskan untuk pulang kerumah masingmasing.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2