
Chatting
Cilla : Kapan pulang Adrian?
Adrian : Maaf sayang, mungkin besok aku baru bisa pulang.
Cilla : Kok mepet banget sih? Padahal pernikahan kita 3 hati lagi. Kamu udah lihat kan foto-foto yang aku kirim.
Adrian : Iya, semuanya bagus kok, malahan menurut aku itu sangat mewah, apa itu semua tak merepotkan?
Cilla : Kamu tahu sendiri kan kalau kolega ayah banyak sekali, Ayah hanya ingin membuat pesta pernikahan kita ini di kenang sebagai pesta yang paling indah, ayah ingin membahagiakan aku, putri satu-satunya beliau.
Adrian : Aku bahagia jika kamu bahagia, aku ikuti saja sesuai yang telah di siapkan.
Cilla : Kamu suka kan dengan pakaian kita untuk pernikahan nanti?
Adrian : Suka sekali, apalagi baju resepsinya, aku suka karena bertema modern. Pasti kita nanti bak raja dan ratu sehari hehee
Cilla : Makanya kamu cepat pulang, aku udah kangen banget.
Adrian : Siap tuan putri! Tunggu besok aku akan pulang.
Cilla : Janji yah
Adrian : Iya janji
Sebuah tangan pria meletakkan ponsel di atas meja, tak terlihat wajahnya hanya sekilas saja. Itu adalah ponsel yang di gunakan untuk chatting dengan Cilla. Terdengar suara gumaman seorang pria, ' Andaikan kamu tahu nanti, akankah kamu menerimanya?'
Cilla tersenyum senang bahwa Adrian akan pulang besok, dia sudah tak sabar mendengar suaranya nanti, mungkin jika Adrian sudah pulang ke Indonesia, mereka bisa saling telponan bahkan bisa Video Call juga, namun belum boleh bertemu sampai hari pernikahan tiba.
Tookk tookkk
Terdengar suara ketukan pintu kamar Cilla, pintu pun di buka, Sarah masuk ke dalam kamar Cilla.
" Kamu sepertinya lagi senang?"
" Iya Bunda, besok katanya Adrian akan pulang, jadi aku senang." senyuman manis menghiasi bibir tipis Cilla.
" Oh begitu, bagus dong. Memangnya selama ini kalian masih saling berkomunikasi?" tanya Sarah dengan senyum yang terkesan di paksakan.
" Yah pasti dong Bunda, namun aku merasa aneh, selama Adrian berada di Australia. Adrian tak sekalipun menelpon aku, katanya sibuk ini lah itu lah, aku tak mengerti." keluh Cilla.
" Yah, mungkin memang benar Adrian sedang sibuk, kamu sabar saja toh nanti pas hari pernikahan, kalian akan saling bertemu. Itu juga tinggal menunggu 3 hari lagi kan." ucap Sarah namun dengan ekspresi yang seperti menyimpan sesuatu.
" Yasudah, ayo turun. Kita makan malam, semuanya sudah siap dan ada makanan kesukaan kamu, udang Krispy pedas manis."
" Baik Bunda, aku juga sudah lapar."
Mereka pun keluar kamar menuju ke meja makan yang disana sudah ada Hardi dan kedua adik Cilla. Sarah dan Cilla pun duduk di kursi masing-masing dimana biasanya mereka duduk.
" Bagaimana dengan hati kamu? Apa sudah siap menjadi seorang istri?" tiba-tiba Hardi bertanya di tengah makan malam.
__ADS_1
" Insyaallah aku sudah siap ayah."
" Bagus, jika seorang wanita yang sudah menikah dan menjadi seorang istri, harus taat kepada suami, jangan membangkang dan jangan menolak selama dalam kebaikan. Kamu juga jangan terkejut jika suamimu nanti memiliki perbedaan dalam hal apapun, kita harus saling melengkapi satu sama lain. Ayah minta kamu mengerti dan mengingat semua perkataan ayah."
" Iya Ayah, aku akan mengingat semuanya, aku janji akan menjadi Istri yang taat pada suamu."
Sarah menatap Hardi dengan penuh makna seakan mereka saling berkomunikasi satu sama lain.
" Oh iya Cilla, untuk nikahan nanti keluarga Adrian meminta dalam acara ijab Qabul, pengantin laki-laki dan pengantin perempuan jangan dulu bertemu. Biarkan pengantin laki-laki mengucapkan ijab Qabul nya terlebih dahulu baru kalian bisa di pertemukan sebagai pasangan yang sudah halal." jelas Sarah.
" Ok bunda, aku sih tak masalah yang terpenting aku akan menikah dengan orang yang aku cintai." balas Cilla semangat.
__________
Dona, Citra dan Amel datang ke rumah Cilla untuk menginap, itu adalah ritual wajib yang mereka lakukan jika ada yang akan menikah. Mereka akan menghabiskan malam bersama-sama dalam rangka melepas mada lajang. Sebenarnya Amel yang telah menikah memutuskan untuk ikut karena memang itu acara kumpul-kumpul yang sangat jarang mereka lakukan, yang jelas Amel meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya untuk menginap di rumah Cilla.
" Akhirnya kita bisa kumpul lagi, komplit pastinya." ujar Dona.
" Yah jarang-jarang kan kita bisa ngabisin malam bersama, terutama si Amel yang sekarang udah ada yang nemenin tidur." ujar Citra.
" Betul... BTW Mel, loe gak minggat kan?"
" Ya gaklah, gue ini istri yang taat pada suami, pasti sebelum nginap gue izin dulu pastinya." ucap Amel bangga.
" Yah kirain... Tapi kasihan juga laki loe di tinggal, pasti malam ini dia kesepian dan kedinginan." ucap Cilla.
" Emangnya suami gue tidur di hutan! Lah semalam dong gak masalah, orang tiap malam kan udah di manjain terus hehehe."
" Yaelah yang tiap malam sering kelonan." ejek Dona.
" Ntar giliran Cilla nih yang tidurnya ada yang nemenin, gak kayak kita yah Don, cuma bisa meluk guling." Dona pun mengangguk dan kedua jomblo itu saling berpelukan meratapi nasibnya yang masih belum dapatkan calon pendamping.
" Sabar jones-jones, gue doain kalian cepat dapat pacar biar cepat nikah dan merasakan surganya dunia. hehehehe" ujar Amel.
" Emangnya surga dunia rasanya gimana?"
" Ntar juga kalian ngerasain gimana enaknya hehehe, terutama loe Cil yang bakalan buka segel hehehe."
" Yeehhh.... yang udah pengalaman, ngomongnya asik banget." ejek Cilla.
" Bener Cil, nanti kalau loe udah buka segel, cerita-cerita yah sama kita-kita." ujar Dona semangat.
" Enak aja, itu kan urusan pribadi, ogah gue cerita-cerita." tolak Cilla.
" Kirain aja kan bisa belajar hehehe."
" Loe udah tahu kan step by step nya? Apa mau gue ajarin?" canda Amel.
" Kalau yang kayak gitu, gak belajar juga udah bisa langsung mahir, udah naluriah."
" Setuju." ujar Citra dan Dona serentak.
__ADS_1
Asisten rumah tangga mengetuk pintu lalu masuk ke kamar Cilla sambil membawa cemilan dan minuman untuk menemani waktu ngobrol mereka.
_________
Cilla terlihat duduk di depan cermin meja riasnya, dia sedang di rias oleh seseorang yang sangat teliti membubuhkan makeup ke wajah Cilla. Sedikit demi sedikit perubahan mulai terlihat pada wajah Cilla, yang tadinya polos sekarang menjadi semakin cantik. Setelah selesai Cilla pun memakai gaun pernikahannya, untuk acara ijab qobul, Cilla memilih pakaian tradisional berwarna putih bersih. Cilla terlihat cantik dengan riasan wajah, rambut serta pakaiannya bak ratu kerajaan.
Terdengar suara penghulu memulai acaranya, hati Cilla berdegup sangat kencang tatkala ayahnya mulai mengucapkan kata-kata. Namun suaranya tidak terdengar jelas dan terkesan samar-samar karena Cilla berada di dalam kamarnya sementara acara ijab qobul di adakan di taman belakang rumahnya. Kedua telapak tangan Cilla sangat dingin, ia sangat gugup bahkan kakinya sedikit bergetar. Teman-temannya menemaninya disana sambil terus memberikan candaan agar Cilla merasa tenang. Tak lama setelah itu, terdengar suara teriakan para tamu yang menjawab " Syah." yang berarti ikrar ijab qobul telah selesai. Ada kelegaan di hati Cilla bahwa sekarang dia telah menjadi seorang istri, senyuman bahagian terlihat jelas di wajahnya namun tak terasa dia pun meneteskan air mata namun itu air mata kebahagiaan. Teman-temannya membantu Cilla berjalan keluar dari kamarnya menuju taman belakang dimana acara di laksanakan. Selama berjalan, senyuman Cilla tak pernah lepas dari bibirnya. Semakin dekat dan semakin dekat, setelah sampai di tempat acara Cilla mematung, bibirnya yang tadi tersenyum seketika berubah diam. Cilla tak bisa berkata-kata dengan apa yang terjadi, Cilla terus menatap orang yang berada di hadapannya dengan penuh tanya dan penuh rasa tak percaya.
" Cilla, kenapa kamu diam saja, coba kesini dan dekati suamimu." ujar Hardi.
Cilla masih saja mematung, namun Cilla tersadar ketika teman-temannya mulai memanggil Cilla pelan. Dengan langkah lunglai Cilla menghampiri pria yang kini jadi suaminya dan duduk di sampingnya. Cilla mencium tangan suaminya karena di suruh oleh Hardi. Cilla dan suaminya menandatangani surat-surat pernikahan, Cilla tetap saja tidak semangat. Cilla sedikit terkejut ternyata surat-surat pun tak salah tulis, bukan nama Adrian disana namun itu nama suaminya. Cilla memperkirakan jika ini memang tidak mendadak, mengganti calon suaminya dengan pria lain yang tak lain dan tak bukan adalah Reza.
Mereka berfoto berdua memamerkan buku nikah mereka, Reza terlihat sumringah sementara Cilla hanya tersenyum tipis yang terkesan di paksakan. Ia benar-benar tak menyangka jika yang kini jadi suaminya adalah Reza bukan Adrian. Dalam pikirannya penuh dengan tanya, ' Kemanakah Adrian? Kenapa Reza harus menggantikannya? Apa semua ini nyata?' Cilla pun menghela nafas panjang, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia alami saat ini. Pernikahan yang ia dambakan akan menjadi momen yang paling bahagia dalam hidupnya semuanya sirna begitu saja.
Cilla pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dengan pakaian resepsi, seharusnya Reza pun ikut berganti pakaian di kamar namun Reza memutuskan untuk berganti di kamar mandi saja. Setelah semuanya selesai, mereka berdua dan seluruh keluarga menuju Hotel untuk mengadakan pesta resepsi pernikahan. Selama perjalanan, Reza dan Cilla hanya saling diam, tak ada perkataan apapun yang terucap dari keduanya.
Reza dan Cilla berdiri di pelaminan dengan kedua orangtuanya masing-masing. Tamu-tamu mulai berdatangan memberikan selamat kepada kedua mempelai, saling memberi salam satu persatu. Reza dan Cilla mencoba bersikap biasa agar orang-orang yang datang menganggap pernikahan yang normal. Semuanya terlihat bahagia menikmati pesta namun berbeda dengan tokoh utama, mereka hanya diam duduk di pelaminan dengan hanya melihat-lihat tamu undangan tanpa berbicara sepatah katapun.
3 jam sudah pesta pernikahan yang membosankan mereka jalani, iya membosankan menurut pasangan pengantin baru ini. Mereka berdua masuk kedalam kamar hotel yang sudah di sediakan khusus untuk pasangan pengantin baru. Adrian duduk di sofa sementara Cilla duduk di depan meja rias dan mencoba membuka hiasan di rambutnya. Dengan susah payah akhirnya Cilla berhasil membuka semuanya, Reza hanya diam saja. Bukan karena tak ingin membantu namun Reza tak ingin Cilla berpikiran yang tidak-tidak. Terlihat Cilla mencoba membuka resleting di belakang punggungnya dengan susah payah. Reza yang melihat itu lalu menghampirinya dan menarik turun resleting hingga ke pinggang Cilla. Reza tertegun sejenak menatap punggung putih dan mulus tanpa ada noda sedikitpun.
" Terimakasih, maaf aku harus berganti pakaian dulu." ucap Cilla dingin lalu menuju kamar mandi, Reza hanya diam saja dan dia pun segera mengganti pakaiannya selama Cilla di dalam kamar mandi.
Setelah mandi Cilla langsung naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya membelakangi Reza. Sementara Reza masih duduk di atas sofa, tak lama Reza berjalan menuju tempat tidur. Cilla yang mendengar langkah Reza mendekat sangat gugup, namun tak terasa ada yang naik ke atas tempat tidur. Beberapa saat Cilla melirik ke belakang dan melihat Reza yang berbaring di sofa dengan bantal di kepalanya. Ternyata Reza yang mendekat bukan karena ingin tidur satu tempat tidur, Reza hanya mengambil sebuah bantal untuknya berbaring di atas sofa.
Semuanya hening, namun mereka belum terlelap sama sekali. Reza mengingat hari-hari sebelumnya ia memutuskan untuk menikahi Cilla menggantikan Adrian.
*** Flashback
Terlihat Adrian duduk di kursi menghadap ke arah jendela membelakangi Reza yang tengah duduk di atas sofa tak jauh dari Adrian berada.
" Loe udah memutuskan untuk mengabulkan permintaan Abang, kan Za?"
" Abang gila yah! Kenapa Abang gak jujur aja sama Cilla? Kenapa aku yang harus menggantikan Abang untuk menikahinya?" ujar Reza dengan meninggikan suaranya.
" Loe tahu kan keadaan Abang bagaimana sekarang? Abang gak mau Cilla kecewa nantinya. Abang hanya ingin Cilla bahagia, Abang juga tak ingin mempermalukan keluarga Cilla untuk tak jadi menikah sementara undangan telah tersebar."
" Pernikahan Loe tinggal 5 hari lagi bang, waktu segitu masih cukup untuk loe berpikir logis. Jangan gila kayak gini. Aku bisa menggantikan loe jadi suaminya namun aku belum tentu bisa menggantikan loe dalam hatinya." Reza masih tak percaya dengan keputusan Abangnya.
" Abang sudah memutuskan yang terbaik untuk Cilla, jadi Loe harus menjadi suaminya. Loe harus menjaga dan melindungi Cilla, Abang tahu kalau loe masih sayang sama Cilla. Makanya Abang memutuskan memilih loe buat menggantikan Abang."
" Ok, gue terima... Namun ini bukan karena gue masih sayang sama Cilla, tapi gue lakuin ini karena permintaan loe, Bang. Gue janji akan lakukan apa yang loe suruh."
" Thanks, Za. Kalau bukan loe, siapa lagi yang bisa bahagiain Cilla." Adrian menepuk pundak Reza yang masih tak percaya dengan keputusannya.
*** Flashback end
' Sesuai janji gue ke loe bang! Gue bakalan jaga Cilla dengan baik dan menyayanginya dengan tulus, walaupun gue gak mendapatkan hati Cilla lagi nantinya.' gumam Reza, pasrah dengan keputusannya menikahi Cilla walau Cinta dia bertepuk sebelah tangan.
Reza menatap Cilla yang memunggunginya, terlihat dari matanya rasa sayang yang tulus yang tetap ada walaupun waktu sudah berlalu cukup lama. Sementara Cilla hanya diam seolah tertidur namun Cilla masih tak percaya dengan semua ini, bukan Adrian orang yang dia cintai yang menjadi suaminya namun Reza, orang yang ia sukai di masa lalu. Selama ini perasaan Cilla sudah terhapus untuk Reza namun malam ini hatinya berdebar-debar tak karuan karena tengah satu ruangan dengan Reza. Apakah itu debaran Cinta? Ataukah debaran karena rasa khawatir berdua dengan seorang pria?
TAMAT
__ADS_1
Terimakasih pada semua pembaca yang setia mengikuti novel " Bunda untuk Cilla " ...
Sebagai dukungan untuk Author di karya berikutnya, jangan lupa untuk memberikan Hadiah, Vote, Like dan Komen... Terimakasih 😊