
Hari ini Devan akan datang ke rumah kakaknya, ia ingin mengecek apakah luka kakaknya sudah baikan, sudah satu minggu dari hari kejadian.
Pak maman yang tadinya di rumah sakit pun sudah di bolehkan untuk pulang namun tak bisa langsung bekerja karena masih butuh beberapa hari untuk memulihkan dirinya ke kondisi semula.
Devan datang pagi-pagi ke rumah kakanya ketika dia melihat Hardi yang sedang di suapi oleh kakak iparnya dengan sangat manja.
" Pagi mas? Eh ada bayi besar di suapin." ucap Devan ketika melihat kakaknya itu.
" Devan, sudah datang! Iya nih mas mu ini manja banget ingin di suapi segala." ucap Sarah.
" Yah harus bagaimana lagi, tangan mas kan yang sebelah kanan susah di gerakkan, masa makan pake tangan kiri kan susah." balas Hardi.
" Hehehe Yasudah selesaikan dulu sarapannya, nanti aku cek keadaan luka mas." ucap Devan.
Tak begitu lama Hardi pun selesai sarapan, lalu Hardi di suruh duduk di sofa ruang televisi, Devan mulai membuka perban karet di lengan kanan hingga pundak Hardi dan menyuruh Hardi untuk menggerakkan lengannya dan merasakan apa pundaknya sudah tak sakit lagi. Hardi pun mencoba menggerakkan pundaknya walau masih terasa pegal tapi sudah enakan dan tidak sakit lagi, berarti pundak Hardi sudah sembuh.
Kemudian Devan mengecek luka di dahi Hardi, mengecek jahitan yang ada di dahinya itu. Luka dan jahitannya sudah kering, benang jahitannya sudah bisa di lepas dan tak perlu lagi mengenakan perban hanya perlu di beri obat saja. Hardi meminta Sarah untuk meniup luka di keningnya dengan manja, walau Sarah sedikit risih namun ia tetap melakukan keinginan suaminya untuk menyenangkannya.
Setelah semuanya selesai, akhirnya Devan pamit pada Sarah dan Hardi, Devan tidak bisa berlama-lama di sana karena ia harus segera kerumah sakit untuk jadwal prakteknya hari ini.
__ADS_1
________
Malam harinya, waktu sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Semua penghuni rumah sudah terlelap dengan mimpi mereka, keadaan rumah sungguh sunyi hanya suara denting jam yang terdengar setiap detiknya. Namun ada suara langkah yang hanya samar terdengar dari sepatu boot lelaki, suara langkah tersebut tak akan mampu membangunkan siapapun yang sedang terlelap. Terlihat samar-samar dalam kegelapan sesosok tubuh pria yang memakai pakaian serba hitam dari kepala sampai ujung kaki sedang mengendap-endap memasuki rumah Hardi.
Entah apa yang ia cari hingga ia memasuki rumah yang bukan rumahnya sendiri, sosok itu mencari-cari sesuatu membuka kamar satu persatu sampai ia berhenti di sebuah kamar yang ternyata itu kamar Hardi dan Sarah. Ia melangkah perlahan mengendap-endap agar tak membangunkan mereka, pria itu mencari-cari sesuatu dengan menggunakan senter kecil, entah apa yang dia cari karena terlalu fokus sampai ia tak menyadari menyenggol Vas bunga hingga terjatuh membuat Sarah kaget terbangun dan menyalakan lampu tidur di sampingnya. Sementara Pria itu bersembunyi di dalam lemari agar tak ketahuan oleh Sarah. Sarah menggoyangkan tubuh Hardi namun Hardi hanya bergumam tanpa membuka matanya, Sarah meng darkan pandangannya ia melihat vas bunga yang tadinya berada di atas meja riasnya sekarang jatuh pecah berantakan. Tanpa rasa curiga Sarah hanya menghela nafas dan akan membereskannya esok pagi karena rasa kantuk kembali menyerangnya, Sarah mematikan lampu tidurnya dan kembali untuk tidur.
Setelah melihat cukup aman, pria tersebut perlahan membuka pintu lemari tersebut lalu ia mencoba keluar dari sana. Karena apa yang ia cari tak ada di sana, pria tersebut pun berjalan oerlahan ke arah luar pintu kamar Hardi. Ia menuju kamar sebelah, ia mencoba membuka pintunya namun sulit untuk di buka lalu ia mencoba dengan menggunakan alat namun tetap gagal dan malah terdengar suara alarm yang berbunyi cukup kencang dan lampu rumah menyala semua sehingga keadaan menjadi terang. Hardi dan Sarah pun terbangun sementara pria tersebut panik berlari mencari jalan keluar, namun terlambat di depan rumah sudah banyak penjaga yang berkumpul karena mendengar suara alarm tersebut.
Pria tersebut tambah pusing dan seorang penjaga melihatnya hingga ia mencoba berlari untuk menghindari para penjaga namun karena kalah jumlah dan pria itu terpojokka akhirnya pria tersebut tertangkap oleh para penjaga tersebut. Hardi dan Sarah pun keluar dari kamar ketika mendengar keributan di dalam rumah dan melihat seseorang yang tengah di ringkus tengkurap dengan menggunakan topeng hitam.
Hardi menghampiri pria tersebut dan menyuruh Sarah melihat dari jauh karena dikhawatirkan ada berbahaya. Hardi berjongkok lalu ia mencoba menarik topeng hitam yang di kenakan pria tersebut, sedikit sudah karena pria tersebut berusaha menghindar namun tak kalah Hardi dengan cepat membuka topeng hitam tersebut dan betapa terkejutnya Hardi bahkan Sarah karena orang di balik topeng Hitam tersebut adalah Martin, mantan pacar Sarah.
Martin hanya diam saja tak menjawab namun ia terus saja berontak hingga ponselnya terjatuh, Hardi mengambil ponsel Martin dan meminta Martin memberitahu kode ponselnya, pertama tidak menjawab, kedua kalinya pun tidak menjawab, terpaksa Hardi menyuruh penjaga melakukan kekerasan hingga Martin menyebutkan kode ponselnya. Hardi membukanya dan mengecek seluruh isi yang ada di dalamnya, Hardi sedikit terkejut ketika melihat isi beberapa pesan dalam ponsel Martin yang di tujukan untuk Sarah. Hampir semua isi pesan itu adalah sebuah ancaman untuk Sarah.
" Sayang, coba lihat ini. Apakah kau sering mendapatkan pesan seperti ini?" tanya Hardi sambil memperlihatkannya pada Sarah.
" Benar mas, aku sering sekali menerima pesan dan pesan ini persis sekali dengan pesan yang aku terima. Jadi ternyata selama ini kau yang meneror aku, Martin!" ucap Sarah dan menanyakan untuk meyakinkan pada Martin.
" Iya, memang benar semua itu pesan yang aku kirimkan kepadamu. Aku sangat benci jika kau telah bahagia, aku benci kau bisa hidup dengan pria lain, aku benci kau meninggalkanku dan memilih si Hardi, aku ingin membuat hidup kalian berantakan " ujar Martin dengan nada tinggi.
__ADS_1
" Terus apa yang kau lakukan di rumahku? Kau ingin menyelakai Sarah Hah!" bentak Hardi.
" Tidak, bukan itu. Aku datang ke rumahmu ingin mencari sesuatu yang berkaitan dengan perusahaanmu, aku ingin menjadikan senjata untuk menghancurkanmu jika suatu saat caraku untuk merebut Sarah darimu tak terwujud." balas Martin sinis.
" Apa kau bilang? dasar brengsek, kau ingin menghancurkan perusahaanku? Apalagi kau ingin merebut ustriku? Tidak semudah itu, lihat sekarang dirimu hanya bisa berlutut di depanku dengan tangan terikat. Ingat kau tidak akan bisa melakukan apa-apa, yang kau lakukan hanya bersenang-senang di penjara, nikmati waktu liburanmu." ujar Hardi.
" Penjaga, bawa ******** ini ke kantor polisi biar sisanya di urus oleh pengacara." perintah Hardi.
Beberapa penjaga membawa paksa Martin untuk di bawa ke kantor polisi walau Martin terus mengoceh dan mengancam pada Hardi sementara Hardi hanya melambaikan tangan sambil tersenyum sinis ke arah Martin yang terus meracau.
Hardi menghampiri Sarah lalu memeluk istrinya yang terlihat syok. " Tenang sayang, sekarang kau tak akan pernah menerima ancaman lagi dan lainkali mas harap segala sesuatu kau beritahukan padaku. Apalagi sekarang kau sedang mengandung anak kita, kau jangan banyak pikiran apalagi sampai stres, jangan sungkan memberitahu mas." ucap Hardi menenangkan istrinya.
" Iya mas, maafkan aku, lain kali aku akan memberitahu segalanya pada mas, sekali lagi aku minta maaf" balas Sarah sambil mempererat pelukannya pada suaminya.
Hardi tersenyum dan terus menenangkan istrinya dengan mengelus-elus rambut istrinya di balik pelukannya.
Bersambung....
Terus dukung Author yah.... Terimakasih 😊
__ADS_1