
Akhir pekan pun tiba, hari dimana Sita dan Rio akan berkencan. Apa sudah bisa di bilang berkencan? yaitu saatnya mereka pergi berdua untuk lebih saling mengenal dan bisa lebih saling dekat.
Sita sudah bangun pagi-pagi buta padahal waktu janjian mereka masih sore hari. Sita ingin terlihat beda di depan Rio, ia ingin terlihat cantik dan menarik yang akan membuat Rio tertarik. Itu harapan dalam hatinya.
Karena terlalu gugup, ia mencoba menghilangkannya dengan mencari kesibukkan. Yang biasa Sita lakukan adalah membersihkan seisi rumah dan yang lainnya seperti cuci piring, mencuci pakaian, melap perabotan sampai hal yang tak perlu di bersihkan ia lakukan. Ibunya sudah tak aneh lagi, jika Sita melakukan itu semua berarti ia merasa ada beban di pikirannya.
Bukan hanya Sita merasakan hal seperti itu, begitupun Rio. Ia mengurangi rasa gugupnya dengan bermain games seharian dengan kakaknya yang pada kenyataannya ia selalu kalah karena ia tidak bisa konsentrasi akan permainan, yang di pikirannya hanya tentang Sita dan kencan mereka.
"Lo kenapa sih? maen kalah mulu. Kayak gak konsen gitu gak seperti biasanya" Roy merasa heran.
"Gak apa-apa kak. Gue cuma lagi gak mood aja" balas Rio lalu melengos pergi ke kamarnya.
"Dasar orang aneh" Roy menggelengkan kepalanya dan fokus kembali pada permainan games nya.
_________
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 wib, berarti 1 jam lagi menuju waktu janjian. Sita sudah 2 jam berkutat di depan lemari pakaiannya, ia mengeluarkan hampir semua baju di dalam lemarinya. Mencoba satu persatu pakaiannya, merasa tidak cocok ia ganti dan begitupun seterusnya. Hingga akhirnya ia menentukan pilihannya pada dress bermotif bunga-bunga halus dengan panjang lengan hampir sampai sikut dan rok selutut membuatnya terkesan manis, ditambah tas kecil berwarna soft pink menambah cocok penampilannya. Apalagi dengan make up natural yang tak terlalu tebal sehingga wajah cantiknya masih terlihat alami. Sita sudah siap, ia hanya tinggal menunggu Rio menjemputnya.
Sementara Rio yang baru pertama kali akan berkencan, ia juga bingung dalam menentukan pilihan pakaian yang akan ia pakai. Rio meminta bantuan pada kakaknya.
"Kak, mana yang bagus untuk kesan kencan pertama!" tanyanya.
"Gue rasa, kaos merah ini, terus kemeja kotak-kotak ini dan jeans warna dark blue ini. Coba lo pake pasti cocok dan tuh cewek pasti suka" saran Roy.
Rio mencoba memakai pakaian yang di sarankan kakaknya, lalu ia bercermin. Rio mengernyitkan dahinya, "Halah ini sih gaya cowok badboy. Aku gak suka banget" batin Rio.
Rio keluar kamar dengan kaos lengan panjang berwarna putih dengan jaket denim berwarna gelap, celana jeans warna hitam dan serta sepatu kets warna putih membuatnya terlihat sangat tampan.
"Eh lo kok jadinya pakai itu sih, gak ngikutin saran gue" gerutu Roy.
__ADS_1
"Itu bukan gaya gue kak, itu gaya lo jadi gak cocok sama gue" balas Rio.
"Terus lo kenapa minta saran gue kalau lo sendiri bisa milih" kesal Roy.
Rio hanya tertawa kecil lalu pergi keluar begitu saja karena ia agak sedikit terlambat menjemput Sita.
____________
Udah lama menunggu, Sita merasa gelisah karena sudah lewat 10 menit dari waktu janjian. Ia sudah mulai kesal menunggu di depan rumah, ia pun hendak masuk kembali ke rumah namun terhenti setelah mendengar suara klakson mobil di depan rumahnya. Sarah berbalik dan terlihat Rio keluar mobil lalu membuka pintu mobilnya dengan senyum cerah, menggerakkan tangan sebagai isyarat Sita agar segera masuk kedalam mobilnya. Sita pun menghampirinya dan tersenyum tipis lalu masuk kedalam mobilnya dan Rio pun ikut masuk ke dalam mobil di sisi pintu lain.
Rio melajukan mobilnya namun terlihat Sita hanya diam saja, pandangannya lurus kedepan dengan wajah datar. Rio bingung untuk memulai pembicaraan, jarinya di ketuk-ketuk pada Stir mobil yang di kendsrainnya. Namun ia memberanikan diri mencoba membuka pembicaraan dengan Sita.
"Eh... Ma..maaf yah, saya sedikit terlambat." ucap Rio gugup.
"Iya tak apa-apa" balas Sita pendek.
"Soalnya, ta..tadi saya terlalu lama memilih pakaian untuk saya kenakan agar terlihat menarik saat kesan pertama" ucap Rio lagi dengan gugup.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Rio.
"Tak apa, saya kira cuma perempuan saja yang selalu sibuk memilih baju untuk terlihat cantik tapi pria juga sama" ucap Sita dengan senyum sedikit mengembang.
Rio hanya tersenyum malu mendengar perkataan Sita. Obrolan pun berlanjut sepanjang perjalanan hingga memecahkan rasa kecanggungan di antara mereka berdua.
Tibalah di sebuah mall di tengah kota. Tepatnya MK Mall milik Hardi tempat ia bekerja. Memang disana fasilitasnya lengkap hingga cocok juga untuk tempat nongkrong anak muda.
Rio membawa Sita ke arena Ice Skating, cukup banyak orang yang berada di sana terutama anak-anak muda yang gemar berseluncur.
Ternyata Sita senang di ajak kesana namun pakaiannya tidak cocok untuk ice Skating.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Rio melihat kebingungan Sita.
"Aku senang kau ajak aku kesini tapi ini gak pas dengan pakaianku" keluh Sita.
"Tenang saja" Rio membuka jaketnya dan memakaikannya pada Sita dan membuatnya tersenyum. Rio membantu memakaikan sepatu pada Sita karena Sita kesusahan lalu ia memakai sepatunya sendiri.
Sita dan Rio masuk ke arena ice skating nya, Sita langsung berseluncur dengan lancarnya sambil sedikit menunjukkan aksinya tanpa di sadari Rio tertinggal di belakang. Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya di atas es namun ia tidak bisa. Ia terjatuh bangkit dan terjatuh lagi, begitulah seterusnya.
Akhirnya Sita menyadari tak ada Rio di sampingnya, ia mencari-cari keberadaan Rio. Terlihat dari jauh seseorang yang mencoba berdiri namun jatuh lagi, setelah Sita mencoba memperjelas pandangannya ternyata orang itu Rio. Ia pun kembali ke arah Rio dengan senyum yang mengembang tak bisa di tahan dari bibirnya.
Sita mwngulurkan tangannya ke arah Rio yang terduduk karena kembali terjatuh. Rio mendongakkan kepalanya melihat uluran tangan itu. "Sita!" ia pun meraih tangan Sita dengan tersenyum malu.
"Kau tak bisa main ice skating?" tanya Sita, Rio hanya mengangguk malu.
"Terus kenapa kau bawa aku ke tempat ini" heran Sita.
"Aku berinisiatif saja, karena tempat ini biasa di datangi anak muda" balasnya. Sita hanya tersenyum.
Sita membantu Rio berdiri lalu ia mulai mengajari Rio untuk meluncur dengan perlahan Rio mencoba menggerakkan kakinya pelan sementara Sita terus menggenggam kedua tangan Rio agar tak terjatuh.
Lalu Sita mencoba melepaskan Rio karena ia melihat Rio sudah bisa menyeimbangkan diri. Awalnya Rio tersenyum karena ia berhasil berdiri tegak namun lama-lama ia kembali kehilangan keseimbangan sehingga ia pun terjatuh. Itu membuat Sita tak bisa lagi menahan tawanya. Sita tertawa renyah sementara Rio yang masih terduduk dan menatap Sita yang tertawa membuatnya malah tambah terpesona.
Sudah cukup lama mereka main ice skating dan selama itu pula Rio tak dapat berseluncur. Karena lelah mereka pun menyudahinya.
"Kua pasti capek yah, mengajariku yang tak bisa-bisa" ucap Rio.
"Tidak kok, malahan aku senang malah dapat tertawa seperti tadi" balas Sita, Rio hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena terlalu malu.
Di kencan pertamanya bersama Sita yang tadinya ingin terlihat keren namun nyatanya malah membuat dirinya malu sendiri karena tak bisa main Ice Skating. Memang sih masa mudanya dia habisnya hanya dengan bekerja tak memperdulikan dirinya untuk bersenang-senang. Tapi melihat tawa lepas Sita membuatnya cukup bahagia.
__ADS_1
Bersambung.....
Selalu dukung Author dengan Like, vote dan komen. Terimakasih 😊