Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Penyelamatan


__ADS_3

Sarah meringkuk lemas sekaligus sakit, hanya tetesan air mata yang terlihat menggenang di ujung sisi kedua matanya. Dengan tangan dan kaki yang masih terikat, tidak ada gerakan yang berarti yang bisa ia lakukan.


Ini adalah hari ke tiga ia di sekap oleh Malvin, ia hanya minum seadanya tanpa makan sehingga badannya tak bertenaga di tambah lagi sikap Malvin yang terkadang kasar kepadanya, yang tak segan melayangkan pukulan seenaknya.


"Mas, tolong aku. Aku mohon, aku sudah tidak kuat berada di sini" batin Sarah, air mata pun kembali membasahi pipinya.


________


Hardi sudah tak tahan lagi, rasa cemas dan khawatir nya sudah tak terbendung lagi. Dalam diamnya ia tersirat sesuatu dalam kepalanya, iya ingat tentang perkataan Malvin saat ia di toilet dulu. Kata-kata sederhana namun tergurat suatu ancaman.


Hardi langsung bangkit dari duduknya membuat yang lainnya menatap heran.


"Rio.... coba cari tahu tempat tinggal Malvin, klien kita, direktur Sun Grup. Dia itu teman kuliahnya Sarah dulu. Cepat... Sekarang" Hardi terlihat gusar namun ia bersikap optimis, mungkin firasatnya kali ini benar.


Rio langsung menghubungi bawahannya, menyuruh untuk mengirimkan alamat Malvin kepadanya. Tak lama ia pun mendapat pesan, Rio mengirim pesan tersebut pada Hardi.


"Ini kan, komplek rumah mewah yang dekat gudang itu" Hardi membelalakan matanya.


Mereka bertiga kembali bergegas ke tempat tujuan, di ikuti oleh anak buah Hardi. Mereka berharap kali ini lokasinya benar karena mereka sudah sangat cemas akan keadaan Sarah.


___________


Mereka sampai di rumah Malvin, namun mereka tidak bisa membuka pintu gerbangnya karena menggunakan kunci otomatis.


Beberapa polisi datang untuk membantu usaha mereka, polisi mengizinkan untuk merusak pintu gerbang tersebut. Anak buah Hardi mengambil linggis, membongkar pintu itu. Beberapa orang melakukannya, cukup lama dan akhirnya bisa terbuka juga.


Semuanya masuk kedalam halaman rumah Malvin dan berpencar guna mencari keberadaan Sarah. Sementara Malvin yang memasang CCTV hampir di seluruh sudut rumahnya hanya menyeringai menyaksikan mereka di layar laptopnya.

__ADS_1


Semuanya berpencar mengelilingi rumah Malvin yang cukup besar, mereka mencari jalan masuk ke rumah itu. Terlihat sebuah pintu di bagian belakang yang kuncinya masih manual, Hardi menyuruh anak buahnya untuk membuka paksa dengan menggunakan linggis hingga mereka berhasil menerobos masuk kedalam rumah.


Mereka berpencar memeriksa satu persatu isi kamar di lantai bawah, namun Nihil. Hardi melihat seseorang berlari cepat di lantai dua, lalu ia segera berlari menaiki anak tangga. Mencoba mengejar orang itu. Melihat itu, Rio dan Devan pun mengikutinya, di ikuti oleh 2 orang polisi dan 2 orang anak buah Hardi.


Terlihat Malvin yang terpojok di sudut ruangan namun tak ada yang berani mendekat karena ia membawa sebuah pistol di tangannya dan mengarahkannya ke arah mereka.


"Ayo mendekat, hahaha kalian tak berani kan. haha" ejek Malvin yang berusaha kabur.


Salah satu anak buah Hardi maju mencoba memukul Malvin, dengan cepat Malvin menembakan pistolnya hingga tangan anak buah Hardi terluka.


Malvin melemparkan tali ke bawah, lalu ia turun memakai tali itu. Hardi dan yang lainnya membiarkan Malvin, karena memang masih banyak orang di bawah yang masih bisa menangkapnya.


Dua polisi yang bersama Hardi, turun membawa anak buah Hardi yang tertembak untuk segera mendapat pertolongan pertama.


Hardi, Devan, Rio dan seorang anak buah Hardi mencari keberadaan Sarah. Di bukanya satu persatu pintu ruangan yang di lantai dua, namun kosong. Ada pintu terakhir di pojok lantai 2 itu, Hardi mencoba membukanya namun terkunci. Lalu Hardi mengambil linggis yang di pegang salah satu anak buahnya, membongkar paksa handle pintu tersebut dan akhirnya berhasil. Mereka terkejut melihat Sarah yang meringkuk di atas ranjang, dengan keadaan tidak berdaya. Hardi segera berlari menghampiri istrinya, membangunkan istrinya seraya memeluknya.


"Mas.... Akhirnya kau datang menyelamatkanku" Sarah terisak dalam pelukan suaminya.


Hardi segera membuka ikatan di tangan dan kaki istrinya, terlihat banyak lebam di wajah Sarah dan di ujung bibirnya terdapat noda darah yang mengering. Tangan dan Kaki Sarah pun lebam karena gerakan Sarah yang mencoba melepaskan ikatan talinya.


Hardi kembali memeluk istrinya dan mengusap rambutnya mencoba menenangkan istrinya dan agar tak perlu takut lagi karena Hardi telah ada bersamanya.


__________


Sementara di lantai satu sedang ribut, Polisi mengarahkan senjatanya pada Malvin yang membawa senjata api pula dan mengancam akan menembak jika mereka mendekat. Malvin menarik salah satu anak buah Hardi dan menodongkan pistolnya ke kepalanya. Sebagai perlindungan dirinya, Malvin melangkah mundur sambil tetap mengarahkan pistolnya untuk mencoba kearah pintu agar dirinya bisa keluar.


Namun tanpa Malvin ketahui, ada seorang anak buah Hardi di belakangnya membawa alat pemukul baseball, lalu melayangkan pukulannya tepat di tengkuk Malvin membuatnya tersungkur kesakitan. Anak buah yang di sanderanya berhasil melepaskan diri. Senjata yang di pegang Malvin pun terlempar jauh, lalu segera polisi itu mangambil senjatanya dan polisi lain segera meringkus Malvin yang terkapar kesakitan.

__ADS_1


Hardi, Rio dan Devan melihatnya dari lantai 2, mereka tersenyum senang karena melihat Malvin sudah berhasil di tangkap.


Akhirnya Malvin pun di giring oleh polisi memasuki mobil polisi, untuk dibawa dan segera di adili.


Sementara Hardi menggendong Sarah dengan tangannya, berjalan menuju mobilnya bersama Rio dan Devan. Mereka segera menuju ke rumah sakit, karena keadaan Sarah yang lumayan parah.


Saat ini Sarah dalam keadaan pingsan, dalam pangkuan Hardi yang terus menatapnya sayu. Ia tak habis pikir dengan tindakan Malvin yang menyiksa istri kesayangannya. Hardi berharap Malvin mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang di perbuatnya pada istrinya.


"Sayang, bertahanlah aku akan segera membawamu ke rumah sakit. Malvin, awas kau yah. Aku tidak akan pernah memaafkanmu." Batin Hardi.


Sampailah mereka di rumah sakit terdekat, sesegera mungkin Sarah langsung di bawa ke IGD. Hardi menunggu di luar dengan cemas. Ia mondar mandir tak sabar menunggu kabar tentang keadaan istrinya.


30 menit sudah Sarah di dalam sana, lalu dokterpun keluar. Hardi segera menghampiri dokter itu lalu bertanya bagaimana keadaan istrinya sekarang.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya? ia pingsan setelah saya berhasil menemukannya" tanya Hardi.


"Tak ada hal yang serius, istri anda dehidrasi sehingga tubuhnya lemas ditambah ia sepertinya tidak makan karena kekurangan gizi. Serta luka lebamnya di area wajah, tangan dan kakinya tidak perlu di khawatirkan. Bu Sarah hanya perlu di rawat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya. Sekarang ia sedang tidur karena kami telah memberinya obat penenang" jelas dokter panjang lebar.


"Iya makasih dok" Hardi pun merasa lega karena tak ada hal yang serius yang terjadi pada istrinya.


**Bersambung.......


Seru atau tidak nih ceritanya?


Like, vote dan komen yah.


terimakasih 😊**

__ADS_1


__ADS_2