
"Siang pak"
"Selamat datang pak Hardi"
"Siang pak"
"Siang pak Hardi"
Terdengar karyawan-karyawan menyapa Hardi dengan penuh rasa hormat dan Hardi hanya tersenyum tipis membalas sapaan mereka. Hardi seperti pemimpin yang berwibawa dan tegas di hadapan para karyawannya berbanding terbalik jika ia bersama Cilla atau Sarah.
"Siang pak Hardi, bu Sarah" sapa Rio.
"Siang Rio" balas Sarah.
"Rio, ada berkas laporan yang perlu saya periksa?" tanya Hardi langsung pada kerjaannya.
"Ada pak Hardi, semuanya sudah saya letakkan di atas meja kerja pak Hardi." Balas Rio.
"Oh iya, tolong pesankan makan siang yang enak dan antarkan ke ruangan saya, untuk 2 orang" ucap Hardi lalu menarik Sarah masuk ke dalam ruangannya.
"Baik pak" ucap Rio pergi dari depan ruangan Hardi.
Sarah mengedarkan pandangannya kesemua sisi ruangan Hardi yang luas. Ia sangat terperangah dengan ruangan tersebut yang di tata sangat rapi dan nyaman. Terdapat sebuah pintu yang membuat Sarah penasaran.
"Ini pintu ruangan apa mas?" tanya Sarah.
"Oh itu adalah ruang istrirahat mas, jika mas lelah, mas istirahat di sana. Kau mau masuk untuk lihat-lihat, silahkan" Ucap Hardi yang mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Sarahpun membuka pintu ruangan tersebut, ia melihat ada sebuah tempat tidur disana, sebuah lemari dan terdapat televisi juga di sana. Ruangan itu memang tak begitu besar tapi sangat nyaman untuk di tinggali. Sarah mendudukan dirinya di tepi ranjang tersebut, ia menepuk-nepuk kasurnya yang terasa sangat lembut. Aroma pengharum ruangan yang tercium begitu membuatnya bertambah nyaman.
Hardi ikut masuk ke dalam ruang istirahat tersebut lalu menutup pintunya. Hardi menghampiri Sarah yang sekarang sedang berbaring di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke lantai.
"Kau sedang apa?" tanya Hardi membaringkan tubuhnya di sisi Sarah.
"Ruangan ini nyaman sekali mas, rasanya aku bisa langsung terlelap jika berlama-lama di sini" ucap Sarah.
"Benarkah senyaman itu?" tanya Hardi memposisikan dirinya menyamping menghadap Sarah dengan penopang kepalanya menggunakan tangan kirinya.
"Benar mas, Bagaimana kalau aku menunggu mas pulang kerja, aku tunggu di sini?" ucap Sarah.
"Boleh, tidak apa-apa. Lagi pula Cilla akan pulang sore, kan! Kau boleh menunggu sampai kita nanti menjemput Cilla" ucap Hardi terus menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Ih mas, deket banget sih! Menjauh sana." ucap Sarah meminta Hardi menjauh ketika Hardi malah semakin mendekati dirinya.
Hardi tak mengubris perkataan Sarah, ia malah terus mendekatkan tubuhnya lebih tepatnya wajahnya ke wajah Sarah. Sarah terus saja meminta Hardi menjauh dengan berbagai ucapan yang ia lontarkan. Akhirnya bibir Sarah berhenti berucap ketika bibir Hardi tiba-tiba mendarat di bibirnya.
Hardi mencium bibir Sarah dan Sarah hanya terkejut menerimanya. Hardi terus menggerakan bibirnya di bibir Sarah yang diam. Lama kelamaan akhirnya Sarah mulai membalas ciuman suaminya. Mereka pun berciuman semakin panas lalu terdengar suara Rio yang memanggil-manggil nama Hardi dari luar.
Hardi dan Sarah menghentikan Ciumannya lalu mereka saling pandang dan tersipu malu. Hardi bangun dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut begitupun Sarah. Hardi keluar ruang istrirahat terlebih dahulu sementara Sarah mengambil lipstick di dalam tasnya dan mengoleskan kembali ke bibirnya yang lipstick nya telah terhapus.
"Pak Hardi, ini makanan untuk makan siang anda" ucap Rio, lalu seseorang menata makanan tersebut di atas meja depan sofa.
"Iya terimakasih Rio" ucap Hardi.
Rio tersenyum ketika ia melihat wajah Hardi yang di sisi bibirnya terdapat tanda merah pudar seperti warna lipstick. Rio mengerti tentang itu ketika melihat Sarah keluar dari tempat Hardi keluar dan Rio sedikit memperhatikan warna lipstick Sarah dengan warna lipstick yang menempel samar di wajah Hardi.
"Hhhmmmm.... Yasudah pak, saya permisi dulu" ucap Rio menahan senyumnya lalu pergi keluar ruangan Hardi.
"Ayo sayang, kita makan siang dulu" ajak Hardi pada istrinnya.
"Sebentar mas, sepertinya ada yang tertinggal" ucap Sarah merogoh tasnya dan mengambil tisu. Ia menyuruh Hardi diam dan Sarah mengusap sisa lipstick yang ada di bibir dan sedikit kepipi. Walau samar tapi memang terlihat jelas dan Hardi memang tak menyadarinya.
"Memangnya ada apa di wajahku?" tanya Hardi heran.
"Ada sedikit lipstick ku di wajahmu" balas Sarah terus melap dengan tisu.
"Berarti dia tahu apa yang kita lakukan" lanjut Hardi merasa malu. Sarah hanya tersenyum dan menghentikan kegiatannya karena wajah Hardi sudah bersih.
"Benar kan! Dia tahu kalau kita tadi Cium...." perkataan Hardi terpotong oleh Sarah.
"Sudah jangan di pikirkan, sekarang kita makan saja mas" ucap Sarah dan terus tersenyum melihat Hardi yang terus salah tingkah.
"Mas pesan bento?" tanya Sarah.
"Iya sayang. Tak apa kan! Bento di restoran itu enak banget, coba deh." ucap Hardi menyodorkan sumpit kepada Sarah.
"Enak sekali makanannya, benar katamu mas" ucap Sarah setelah mencoba makanan itu. Hardi senang melihat Sarah sangat menikmati makanannya.
Tak berapa lama mereka pun selesai menyantap makan siangnya. Dan Hardi hendak memulai pekerjaannya lagi.
"Yah... waktu begitu cepat dan pekerjaan masih menumpuk. Sayang, mas harus mulai bekerja lagi. Kau istrirahat atau nonton televisi saja di ruang istirahat itu. Tapi sebelum itu, mas perlu pasokan energi dulu darimu" ucap Hardi menarik tubuh Sarah kedalam pelukannya.
"Mas, ini di kantor. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" ucap Sarah mencoba melepaskan pelukan suaminya.
__ADS_1
"Tak masalah, lagipula siapa yang akan menerobos ruangan CEO perusahaan...." sebelum Hardi menyelesaikan perkataannya terdengar suara pintu terbuka tiba-tiba.
Klekkk.... Rio masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rio sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. Hardi langsung melepaskan pelukannya pada Sarah dan langsung salah tingkah, Sarah hanya tersenyum lalu berjalan menuju ruang istirahat.
"Kau... eh ada perlu apa?" tanya Hardi dengan sedikit terbata-bata.
"Maaf pak Hardi, saya mengganggu. Saya ingin memberitahu bahwa besok pak Hendrawan akan datang dan ingin membahas pekerjaan dengan pak Hardi, ini berkas yang akan di bahas dengan beliau" ucap Rio sedikit mesem-mesem.
"Oh itu, iya akan aku pelajari. Sekarang kau boleh keluar." ucap Hardi masih sedikit salah tingkah.
"Baik pak, sekali lagi saya minta maaf. Pak Hardi bisa melanjutkan yang tadi" ucap Rio lalu keluar dengan senyum yang menghias bibirnya.
'Dasar si Rio itu, haduh mau taro dimana mukaku' gumam Hardi. Lalu Hardi menuju ke mejanya dan mulai melakukan pekerjaan yang menumpuk di mejanya.
_________
Pukul 3 sore, Sarah mengajak Hardi untuk segera menjemput Cilla dan Hardi pun membereskan berkas yang sedikit berantakan di meja kerjanya. Tak lama mereka pun pergi menuju ke sekolahnya Cilla.
Hardi menunggu di dalam mobil depan gerbang sekolah sementara Sarah turun dari mobil untuk menyambut Cilla. Setelah cukup lama Sarah menunggu, Cilla tak juga keluar lalu Sarah bertemu dengan salah satu guru yang biasa mengajar di kelas Cilla.
"Maaf bu, apa semua murid sudah keluar? Tapi Cilla kok tak ada yah" tanya Sarah.
"Oh Cilla, tadi dia sudah pulang. Cilla di jemput oleh seorang wanita yang katanya itu tantenya, jadi kami persilahkan" jelas bu guru.
"Seorang wanita? ciri-ciri nya bagaimana bu?" tanya Sarah mulai cemas.
"Cirinya berambut banjang terurai, wajahnya cantik dan pakaian elegan, dia juga memakai mobil berwarna hitam" jelas bu guru.
"Terimakasih bu, saya permisi" Sarah berjalan dengan wajah cemas, ia segera menuju ke dalam mobil.
"Cilla mana sayang?" tanya Hardi setelah Sarah masuk tanpa Cilla.
"Cilla sudah ada yang menjemput katanya mas, oleh seorang wanita berambut panjang, berparas cantik dengan mobil mewah" jelas Sarah cemas.
"Apa?" Hardi terlejut dan sedikit berpikir.
"Wulan, pasti Wulan. Sayang, kita cari Cilla. Pasti Wulan yang membawa Cilla." ujar Hardi lalu melajukan mobilnya mencari keberadaan Cilla.
Bersambung.....
Mau tahu cerita selanjutnya?
__ADS_1
nantikan Up Author selanjutnya 😊