
Rio datang ke ruangan Hardi dengan membawa beberapa berkas untuk di berikannya kepada Hardi. Wajah Rio terlihat serius seperti memang ada masalah menyangkut pekerjaannya.
"Rio, ada apa?" tanya Hardi setelah melihat Rio masuk.
"Begini pak, ada masalah dengan klien kita Sun Group. Mereka tidak setuju dengan konsep design yang kita berikan waktu itu. Mereka ingin kita menggantinya kalau tidak mereka akan memutuskan kontrak dan beralih ke perusahaan lain" jelas Rio.
"Kok bisa begitu! padahal waktu itu mereka bilang setuju akan konsep design yang kita berikan. Yasudah, hubungi pihak bersangkutan untuk janji temu, saya akan menemuinya langsung" Pinta Hardi, Rio pun pergi keluar ruangan Hardi.
Setelah Rio menghubungi pihak yang bersangkutan. Akhirnya mereka setuju untuk bertemu hari ini juga di sebuah restoran yang terletak di tengah kota.
Rio menyiapkan semua yang mereka perlukan lalu menemui Hardi untuk segera berangkat ke tempat janjian dengan pihak Sun Group.
______
Di sebuah restoran mewah Hardi dan Rio sedang menunggu pihak Sun Group. Cukup lama mereka menunggu dari janji temu mereka. Hardi terus menatap jam di tangannya, ia sedikit kesal karena baru kali ini ia harus menunggu yang biasanya ia yang di tunggu.
Setelah 30 menit menunggu datanglah 2 orang perwakilan Sun Group. Rio mempersilahkan mereka duduk sementara Hardi masih saja membaca berkas-berkas yang di pegangnya tanpa melihat siapa yang datang.
"Selamat siang pak Hardi", Suara itu membuat Hardi tercengkat dan melihat ke arah suara tersebut, benar saja suara yang familiar itu ternyata Malvin. Hardi langsung menatapnya tajam, seolah ingin menghunuskannya pada Malvin.
"Perkenalkan, saya Malvin wijaya, Direktur eksekutif Sun Group" Malvin mengulurkan tangannya pada Hardi kemudian pada Rio.
Hardi menerimanya dengan wajah datar, dengan hanya melihat tatapannya saja sudah di pastikan jika Hardi tak menyukainya.
Mereka pun mulai membahas konsep design yang menurut Sun Group tak sesuai dengan keinginan mereka. Mereka ingin mengubah beberapa agar sesuai, Hardi dan Rio pun ikut memberikan ide-ide nya yang mungkin bisa meraih kesepakatan kembali.
2 jam berlalu, Meeting pun selesai namun masih belum ada kesepakatan yang berarti. Pihak Sun Group masih saja menolak apa yang di rekomendasikan oleh MK Company. Mereka ingin mengadakan meeting ke dua dengan konsep design yang baru, Hardi pun menyetujuinya. Satu bulan dari sekarang, mereka akan melakukan meeting kembali.
Hardi permisi ke toilet, setelah itu Malvin pun ikut pergi ketoilet. Mereka bertemu di sana atau bahkan ke toilet cuma buat alasan agar mereka bisa mengobrol secara pribadi berdua.
__ADS_1
"Kenapa kau tak suka dengan konsepku?" tanya Hardi sinis.
"Memang itu tidak sesuai dengan yang kami inginkan" jawab Malvin santai.
"Ada satu cara agar perusahaanku mengikat kesepakatan dengan perusahaan anda" tambah Malvin sambil tersenyum licik.
"Apa sebutkan saja?" ucap Hardi dingin.
"Ijinkan aku makan malam dengan Sarah atau pergi berdua dengannya, karena kami sudah lama tidak bertemu jadi aku sangat merindukannya." seringai Malvin.
"Dasar kau berangsek, dia istriku. Kau tak berhak meminta itu dariku, ********." Hardi langsung mencengkeram kerah kemeja Malvin, menariknya dan tangannya mengepal seperti hendak memukul Malvin namun Hardi menahannya, ia masih bisa mengendalikan emosinya.
"Santai.. Santai... Saya cuma bercanda, anda tak perlu emosi seperti itu, sepertinya anda sangat mencintai istri anda yah" Malvin tersenyum kecut, seolah mengejek Hardi.
Hardi melepaskan cengkramannya mendorong tubuh Malvin "Sekali-kali kau berkata yang tidak masuk akal seperti itu. Awas saja kau akan menerima akibatnya" lalu keluar toilet dengan penuh rasa emosi.
Sementara Malvin yang masih di dalam toilet menatap Hardi yang pergi dengan menyeringai licik dan merapikan dari di kerah kemejanya. "Lihat saja Hardi, apa yang akan aku lakukan kepada istrimu! Kau pasti akan menangis darah dan berlutut di hadapanku."
Mereka langsung masuk kedalam mobil, Rio di kursi kemudi menatap Hardi yang duduk di belakang dari kaca. Hardi terlihat sangat emosi, wajahnya menunjukan rasa amarah yang tersamat sangat.
"Antarkan saya pulang, saya tak ingin ke kantor" pinta Hardi menarik dasinya lepas seakan ia merasa pengap di lehernya.
"Baik pak" Rio memutar balik ke arah rumah Hardi tanpa bertanya apapun.
Setelah sampai Hardi meminta Rio mengurus pekerjaan di kantornya dan melaporkan nya padanya. Karena ingin menenangkan dirinya dan meredakan emosinya. Tak akan benar jika ia harus bekerja dengan emosi yang tak stabil seperti sekarang ini.
Hardi segera masuk kedalam rumahnya dan langsung menuju ke dalam kamarnya. Sarah yang sedang menonton televisi dengan duduk di atas tempat tidur, terkejut pandangannya langsung menatap Hardi. Ketika Hardi secara tiba-tiba menghempaskan dirinya duduk di Sofa samping tempat tidur.
"Mas, masih siang sudah pulang. Apa ada masalah?" tanya Sarah yang heran.
__ADS_1
"Siapa Malvin itu?" tegas Hardi tanpa menjawab pertanyaan Sarah sebelumnya.
"Maksud mas?" Sarah bingung.
"Siapa si Malvin, orang yang sok akrab denganmu waktu itu?" Hardi meninggikan suaranya dan menatap tajam Sarah.
Sarah tersentak dengan nada suara Hardi yang seakan emosi. "Itu teman waktu kuliah aku, mas"
"Apa kau pernah suka kepadanya?" tanya Hardi dingin dengan tatapan penuh selidik.
"Apa maksud dari pertanyaan itu?" Sarah balik bertanya.
"Jawab saja" bentak Hardi.
"Tidak, saya tidak pernah menyukainya, hanya dulu ia selalu mengerjar-ngejar saya. Saya menolakny secara halus dan saya hanya menganggap dia teman saja tidak kurang dan tidak lebih." Jawab Sarah tegas.
"Benarkah? kau tak bohong kan?" tanya Hardi untuk lebih meyakinkan.
"Aku berkata jujur mas, tak ada yang aku tutup-tutupi. Apalagi padamu mas." tegas Sarah.
"Baguslah" Hardi merasa lega lalu menghampiri Sarah lalu memeluk tubuh istrinya itu.
Hardi mulai merasa tenang karena dengan memeluk tubuh istrinya hatinya selalu terasa nyaman. Sarah sudah tidak asing lagi dengan pelukan mendadak suaminya setiap kali suaminya ada masalah ataupun sedang senang. Sarah tersenyum sambil tangannya memegang tangan Hardi yang melingkar di pinggangnya.
"Pantas saja sikapnya seperti itu, ternyata memang dari dulu dia menyukai istriku. Dasar bedebah gila, awas saja jika dia mendekati istriku, aku tak segan-segan akan menjatuhkannya sampai ketempat yang paling rendah. Jangan pernah main-main dengan Hardi Malik." batin Hardi geram sambil mempererat pelukannya pada istrinya.
Bersambung.....
**Selalu dukung Author dengan cara like dan Vote serta tulis komentar....
__ADS_1
terimakasih 😊**