Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Sarah terbangun dari tidurnya, ia menyadari bahwa semalam ia tidur di sofa, tapi ia heran karena ada selimut dan bantal di sana. Karena yang ia tahu ketika menunggu Hardi pulang, ia ketiduran dan tak sempat mengambil bantal ataupun memakai selimut.


Di tatapnya Hardi masih tertidur dengan bertelanjang dada tanpa menggunakan bantal ataupun selimut, hanya terlentang begitu saja. "Mungkin semalam mas Hardi pulang larut. Selimut dan bantal ini juga sepertinya mas Hardi yang meletakkannya" batin Sarah tersenyum.


Sebenarnya ia ingin sekali membangunkan suaminya tapi ia urungkan karena takut mengganggunya. Belakangan ini sikap Hardi yang kembali dingin membuat Sarah sedikit sungkan. Sarah melipat selimutnya dan mengambil bantalnya lalu di letakkan di atas ranjang. Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hardi mengerjapkan matanya ketika mendengar suara guyuran air di dalam kamar mandi. Ia menatap sofa ternyata Sarah sudah tak ada dan bantal serta selimutnya pun sudah diletakkan di ranjang. "Dia sudah bangun ternyata, duh kenapa kepalaku pusing sekali. Apa karena tidur larut?" gumam Hardi lalu kembali memejamkan matanya dan tidur kembali.


Sarah keluar dengan baju handuk dan handuk kecil yang dipegangnya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. "Mas Hardi masih tidur! Yasudah biarkan saja, toh hari ini weekend." gumam Sarah, ia duduk di meja rias dan menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.


Hardi membuka matanya karena mendengar suara hairdryer di sampingnya. Ia menguap lalu bangun dari tidurnya, ia masih duduk di tepi ranjang menatap istrinya yang asik mengeringkan rambutnya. Sarah yang melihat Hardi telah bangun di cermin riasnya lalu menoleh ke arah suaminya.


"Mas sudah bangun?" tanya Sarah dengan ramah dan penuh senyuman. Hardi hanya tersenyum lalu beranjak menghampiri istrinya lalu membungkuk memeluk istrinya dari belakang.


"Maafkan mas karena telah mendiamkanmu kemarin!" Hardi mencium pipi istrinya.


"Tak apa-apa mas" ucap Sarah memegang tangan Hardi yang merangkulnya.


"Mas juga tidak tahan jika tak berbicara denganmu. Mas egois, mas marah karena sesuatu yang belum mas ketahui kebenarannya" jelas Hardi. Sarah menoleh lalu menatap suaminya penuh tanya.


"Emang sesuatu seperti apa mas? apa menyangkut denganku?" tanya Sarah ingin tahu.


Hardi melepaskan pelukkannya lalu memutar kursi yang diduduki Sarah hingga menghadap kepadanya, Hardi berjongkok di depan istrinya. Memegang kedua tangan istrinya dan menengadah ke arah wajah istrinya yang cantik.


"Begini, waktu di pesta waktu itu mas pernah tanya siapa pria yang berbincang denganmu. Dan kau jawab dia temanmu. Lalu kemarin pas mas pulang cepat, mas melihatmu berbincang kembali di depan mini market dekat rumah dan terlihat sangat akrab. Di antara pria dan wanita tak akan seakrab itu jika tak ada maksud. Apa ada yang perlu mas ketahui?" jelas Hardi lalu bertanya pada Sarah agar tak ada salah paham.


"Ternyata itu yang membuat mas marah. Yasudah aku mau jujur pada mas. Namanya Martin, dia mantan pacarku dulu sebelum aku kenal dengan mas. Dia yang pernah menyakitiku, dia menghianatiku ketika aku sudah percaya kepadanya." Jelas Sarah.


"Dia menghianatimu! Tapi kenapa kau masih bersikap baik padanya!" tanya Hardi heran.


"Aku hanya bersikap biasa karena aku tak merasa dendam kepadanya. Aku hanya berpikir tak perlu ada permusuhan karena semuanya telah berlalu. Lagi pula sekarang aku sudah mendapatkan orang yang lebih baik di banding dia, yaitu kamu, mas!" ucap Sarah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Terimakasih sayang, tapi mas minta kau jangan terlalu akrab dengan dia ataupun pria lain. Mas tidak suka, kau milik mas. Cuma mas yang boleh melakukan apapun padamu." jelas Hardi memegang gemas dagu Sarah.

__ADS_1


"Mas cemburu!" ucap Sarah dengan senyum penuh selidik.


"Tidak" elak Hardi.


"Mas pasti cemburu" tambah Sarah.


"Iya, mas cemburu. Mas sangat cemburu karena mas tak mau kehilangan istri cantik mas seperti ini" Hardi beranjak lalu mencubit gemas kedua pipi istrinya. Sarah cemberut karena ulah suaminya yang selalu mencubit pipinya begitu saja.


________


Hardi, Sarah dan Cilla sedang menikmati makan siangnya di outlet makanan siap saji. Karena Cilla terus merengek ingin makan fried chicken dan french fries kesukaannya. Hardi menyuapi Sarah kentang goreng lalu Sarah pun menerimanya, terlihat Cilla cemberut.


"Kamu kenapa?" tanya Hardi yang sebenarnya sudah tahu.


"Masa bunda aja yang di suapin tapi Cilla gak!" Cilla terus menekuk wajahnya.


"Cilla kan punya tangan, ambil dan makan sendiri" ucap Hardi mengejek putrinya.


"Bunda juga punya tangan tapi ayah suapin" Cilla masih saja tak mengubah ekspresinya.


"Yasudah, Cilla biar bunda yang suapin. ini.." ucap Sarah lalu menyuapi kentang goreng pada Cilla.


"Huh.. udah gede masih disuapin" ejek Hardi dengan cengengesan.


"Biarin, bunda kan sayang Cilla. Wweeee" Cilla balik mengejek ayahnya. Terus aja Hardi dan Cilla tak hentinya saling ejek membuat Sarah tak bisa menghentikan tawanya.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. Yang tadinya mereka sedang bercanda tawa bersama tiba-tiba hening begitu saja.


"Hai Sarah! kebetulan nih bertemu lagi disini" sapa orang itu yang ternyata adalah Martin.


"Eh... Martin, kamu disini juga!" Sarah gelagapan karena merasa tak enak pada Hardi.


"Hai pak Hardi! kita bertemu lagi." Sapa Martin ramah.

__ADS_1


"Emang kita pernah bertemu!" ucap Hardi dingin.


"Kita kan pernah bertemu waktu di rumah sakit. Saya dokter yang menangani Cilla" jelas Martin dan akhirnya Hardi mengingatnya.


"Boleh saya ikut duduk di sini!" Martin langsung duduk tenpa menunggu persetujuan mereka. Hardi yang melihatnya semakin dongkol namun Martin terus saja mengembangkan senyum manisnya.


"Cilla sudah sembuh?" tanya Martin menatap Cilla.


"Sudah dokter" balasnya polos.


"Bagus deh, bekas lukanya juga sudah hilang yah" ucap Martin ramah dan Cilla hanya tersenyum.


Sarah tak bisa berkata apa-apa, dia menatap Hardi yang terlihat tidak suka akan keberadaan Martin.


"Oh iya, pak Hardi. Sepertinya anda bekerjasama dengan perusahaan papah saya yah!" Martin membuka pembicaraan.


"Begitukah! Emang nama perusahaannya apa?" tanya Hardi datar.


"HD Company, papah saya namanya pak Hendrawan" balas Martin dan memang HD Company itu adalah klien terbesar MK Company.


"Oh iya, saya ingat. Terimakasih telah bekerjasama dengab kami" ucap Hardi biasa saja.


Tiba-tiba ponsel Martin berdering dan dia pun menerimanya. "Iya, halo! oh begitu. Baik, saya akan segera kesana" jawab Martin.


"Yasudah, saya harus segera kembali kerumah sakit. Selamat menikmati waktu kalian" ucap Martin dengan senyuman ramahnya lalu pergi dari tempat Sarah dan yang lainnya duduk.


"Hus...hus... pergi sana. Ganggu kesenangan keluarga orang saja" batin Hardi terus menatap tajam Martin yang terus menjauh.


Setelah kepergian Martin, mereka yang tadinya canggung sekarang mulai lagi bercanda gurau seperti semula. Mereka sungguh terlihat seperti keluarga bahagia lainnya


"*Sepertinya agak aneh sih, sering sekali aku berpapasan dengan Martin. Apa kebetulan itu bisa terjadi berkali-kali?" gumam Sarah dalam hatinya.


Bersambung.....

__ADS_1


Semoga para pembaca menikmati ceritanya... 😊*


__ADS_2