
Flashback ***
Devan sedang bersantai sambil menonton televisi di apartemennya, tengah tayang siaran sepakbola kesukaannya. Lalu terdengar bunyi bell hingga Devan bangkit untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini. Devan membuka pintu dan disana ternyata Bella, Devan segera mempersilahkan Bella masuk ke apartemennya.
(Percakapan dalam bahasa Inggris)
" Sorry, mengganggu malam-malam, soalnya aku bosan di rumah makanya aku datang saja kemari untuk minum atau makan bareng, aku bawa wine dan buah-buahan."
" Kamu tahu sendiri kan kalau aku gak meminum alkohol, kalau buah-buahan aku terima. Tapi gak baik juga perempuan main ke rumah laki-laki pada malam hari."
" Hahahaha kamu lupa yah, ini Amerika. Negara liberal, semua orang bebas kemana saja atau melakukan apa saja."
" Iya iya, aku masih ingat tapi aku juga tak akan lupa budaya tempat kelahiranku, jadi walau aku tinggal di Amerika namun prinsipku masih memegang budaya Indonesia."
" It's ok, aku datang kesini cuma mau ada teman untuk minum, aku saja yang minum wine dan kamu minum ini saja." Bella memberikan beberapa kaleng cola.
Waktu berlalu, sekarang bukan pertandingan bola yang di tonton melainkan film romantis karena permintaan Bella. Devan hanya mengikuti sambil menikmati cola dan buah-buahan yang di bawa Bella sementara Bella sudah terlihat mabuk karena hampir setengah botol wine telah ia habiskan.
" Devan, kamu tahu kan aku sangat mencintaimu." Lengan Bella di lingkarkan pada tengkuk Devan hingga wajah mereka begitu dekat.
" Iya aku tahu." Devan sangat tidak nyaman dengan perlakuan Bella.
" Tapi kenapa semenjak kita dari Indonesia, kamu belum mengajakku untuk berkencan. Aku pikir dengan kamu membawaku ke negaramu, kamu akan langsung mengajakku berkencan, namun aku hanya berharap dan terus menunggu." Bella memegang wajah Devan lalu menggoyangkannya dengan keras, Devan mencoba menahan.
" Apa kamu ingin melakukan 'itu' denganku malam ini?" Dengan masih mabuk Bella mencoba membuka pakaiannya namun Devan segera menahannya.
" Aku tak akan melakukan itu selama aku belum menikah." tolak Devan lalu menjauhkan tubuh Bella yang terhuyung hingga tertidur di atas sofa."
" Kamu mabuk, tidurlah dulu di sini biar besok saat kamu sadar, kita bicarakan kembali hubungan kita." Devan mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Bella.
Ketika Devan hendak pergi ke kamarnya, tangan Bella memegang baju bagian belakang Devan. " Jangan tinggalkan aku, tidurlah disini." Pinta Bella dengan bergumam.
Akhirnya Devan mengurungkan niatnya untuk ke kamarnya, lalu dia duduk di karpet di samping Bella dan bersandar di sofa. Setelah itu tak ada lagi reaksi dari Bella karena telah terlelap. Devan menatap Bella lalu tersenyum, ' aku tak akan mengajakmu berkencan, aku akan mengajakmu ke arah yang lebih serius dari itu.' gumam Devan.
________
Keesokan harinya Bella terbangun dengan memegang kepalanya yang terasa pusing, Devan menghampirinya dengan membawa segelas air madu untuk meredakan pengar.
" Ini, minumlah. Air madu bisa membuatmu lebih baik dan gak pusing lagi." Devan menyerahkan gelas di tangannya.
" Terimakasih." Bella lalu meminum air madu tersebut.
" Oh iya, apa selama mabuk aku bicara macam-macam?" tanya Bella yang tak mengingat apapun.
" Gak, kamu hanya bergumam biasa saja, tak ada hal aneh-aneh." jawab Devan berbohong.
" Baguslah, biasanya jika aku mabuk. Aku suka berbicara jujur sesuai isi hati, untung saja...." Bella tak melanjutkan perkataannya.
" Untung apa?"
" Eh... itu, tak apa-apa."
" Yasudah, nanti malam aku ingin mengajakmu makan malam, kamu sekarang aku antar pulang dan tidur biar pengarmu hilang."
" Iya van, aku juga lebih nyaman di kamarku sendiri."
______
Malam pun tiba, Bella sudah berdandan dengan cantik, dengan mini dress yang pas di tubuhnya, dia duduk di ruang tamu rumahnya menunggu kedatangan Devan yang akan menjemputnya. Tak butuh waktu lama datang sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di depan rumah Bella, mendengar suara mobil Bella langsung keluar rumah. Devan keluar dari mobil untuk menyambut Bella dan Bella pun segera menghampirinya.
" Kamu tampan banget pakai kemeja ini."
" Kamu juga sangat cantik, dress nya sangat cocok dan bagus saat kamu pakai. Masuklah, hati-hati kepalamu." Devan membukakan pintu mobilnya lalu meletakkan tangannya agar Bella tak terantuk.
__ADS_1
Devan pun melajukan mobilnya menuju restoran di sebuah hotel bintang lima disana. Di dalam perjalanan, Bella berharap-harap cemas apa yang akan di katakan Devan nanti dan dia terlihat sangat gugup sampai tak sadar meremas jari-jarinya sendiri.
Hanya butuh waktu 15 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di restoran yang dituju, lalu mereka keluar dari mobil. Devan menggenggam sebelah tangan Bella selama berjalan menuju ke meja yang telah di reservasi sebelumnya. Devan menarik kursi dan mempersilahkan Bella untuk duduk, Devan pun duduk sehingga mereka berdua berhadapan. Dengan cahaya lampu yang indah dengan meja dihiasi lilin dan setangkai bunga merah menambahkan kesan romantis. Tak lama hidangan pun datang, hingga Bella pun terkesima dengan tampilan hidangan di depannya yang terlihat cantik. Bella memang terlahir dari keluarga sederhana namun berkecukupan, tak bisa di bilang kurang namun tak bisa di bilang kaya raya juga. Namun sangat jarang baginya datang ke restoran bintang lima yang sangat mewah dan hanya orang-orang tertentu yang bisa datang kesana. Devan dan Bella menikmati hidangannya sampai piring mereka terlihat kosong, sambil menunggu dessert Devan memulai pembicaraan.
" Bella! sebenarnya aku mengajakmu kesini, ada yang ingin aku bicarakan hal serius denganmu."
" Iya, aku tahu karena kamu memberitahuku waktu itu."
" Begini......... ehm...... bagaimana yah ngomongnya!..... " Devan terlihat gugup lalu dia mengeluarkan sebuah kotak kecil di saku jasnya.
" Ini! sebenarnya sejak pertama bertemu kamu, aku sama sekali belum memiliki rasa apapun padamu, sejak kamu terus mencoba mendekatiku, aku malah berpikir bahwa kamu adalah wanita aneh dan aku merasa risih, namun semakin lama dan kamu tak hentinya mendekatiku sampai kita menjadi dekat, ada rasa yang berbeda dalam hatiku. Aku merasakan kehangatan yang belum aku rasakan, aku merasakan ketulusan yang dahulu aku dambakan, ketika kamu khilaf mengajakku hal yang tak pantas, aku malah berpikir jika aku tak berhak menodai wanita yang aku sukai. Aku ingin menjaganya, melindunginya dan selalu berada di sisinya. Ini memang bukan cinta pada pandangan pertama, namun rasa cinta ini muncul karena telah terbiasa dan merasa nyaman. Maka dari itu, aku tak akan mengajakmu untuk berpacaran, aku tak akan mengajakmu menjalin hubungan yang tak pasti. Maka......... Maukah kamu berada di sisiku untuk selamanya? menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"
Bella terdiam, dia terlalu terkejut dengan ungkapan isi hati Devan, bukan untuk mengajaknya pacaran namun langsung mengajak untuk menikah. Sebenarnya Bella berharap bisa berpacaran dengan Devan tapi ini bagai mendapat durian runtuh bahwa Devan memintanya untuk menjadi istrinya.
Tanpa pikir panjang Bella langsung menjawab pertanyaan dari Devan.
" Iya, aku mau berada di sisimu, aku mau jadi istrimu dan menjadi ibu dari anak-anak kita. Aku sangat menginginkan hidup bersamamu selamanya di sisa hidupku." senyuman mengembang di bibir Bella yang terlihat sangat bahagia, Devan pun sangat bahagia karena perasaannya di terima oleh Bella.
Devan berdiri menghampiri Bella dan memasangkan kalung cantik yang berada dalam kotak kecil yang di bawanya pada leher Bella.
" Cantik." Bella mengecup pipi Devan secara tiba-tiba hingga membuatnya merona.
Dua bulan setelah pernyataan Cinta, akhirnya mereka menikah dengan pesta yang sangat mewah. Keluarga besar Devan datang untuk menghadiri pernikahannya termasuk Hardi, Sarah dan anak-anak mereka.
Flashback end ***
_________
Pagi harinya Hardi masih terbaring di tempat tidur dengan saputangan di keningnya, Sarah tidur di tepi tempat tidur dengan posisi duduk dengan kepala disanggah kedua lengannya. Hardi membuka matanya lalu ia melekatkan saputangan yang ada di keningnya ke meja kecil di sebelahnya. Hardi melihat Sarah yang tertidur lalu mengelus lembut rambut istrinya yang terurai indah.
" Eennggg.... Hah, mas sudah bangun?" Sarah terbangun dari tidurnya lalu meletakkan telapak tangannya di kening suaminya untuk memeriksa suhu Hardi apa masih demam atau tidak.
" Akhirnya mas sudah tak demam." Senyum terlihat di bibir merah Sarah.
" Jadi semalaman kamu tak tidur, Sayang."
" Terimakasih sayang sudah merawat mas, mungkin semakin tua jadi imunitas semakin menurun." Hardi meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.
" Mas itu belum tua tapi memang mas itu gila kerja hingga tak memperhatikan kesehatan mas sendiri. Jangan terlalu lelah dan makan teratur agar kondisi tubuh tidak drop."
" Iya istriku sayang! soal semalam, mas minta maaf karena berhenti di tengah jalan."
" Iya tak apa-apa mas, memang kondisi mas jadi drop kan, itu bukan kesalahan mas."
" Sekali lagi mas berterimakasih banget sama kamu, mas beruntung punya istri udah cantik, pengertian lagi."
" Itu sudah kewajiban sebagai seorang istri, mas."
" Yasudah, mas mau siap-siap berangkat ke kantor. Kamu tidur lagi saja, jangan berangkat kerja."
" Apa kondisi mas sudah baikan? apa mas gak istirahat dulu sehari saja?"
" Mas udah baikan sayang, soalnya ada meeting dengan klien penting jadi tak bisa di tunda. Mas janji, mas akan pulang cepat setelah semuanya selesai."
" Baiklah, mas harus hati-hati dan minum obat dulu sebelum berangkat, jangan lupa makan yah."
" Siap ratuku, yasudah mas mau mandi dan siap-siap." Hardi beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi sementara Sarah naik ke tempat tidur, membaringkan diri dan menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.
__________
Cilla sedang berada di cafe, duduk sendirian dengan meminum Coffee Latte, Cilla terlihat sedang banyak sekali hal yang di pikirkannya. Dia merasa sepi di sekolah tidak ada teman debat karena Reza sudah sebulan ini meninggalkan Indonesia, karena kebiasaan tanpa sadar membuatnya merindukan momen tersebut walau sebenarnya tak ada kenangan indah dengan Reza walau sedikit pun. Selama duduk di cafe sendirian, seseorang selalu memperhatikan Cilla tanpa Cilla sadari, dia terus memperhatikan Cilla dengan sesekali tersenyum manis. ' Cantiknya!' pikir orang tersebut dengan terus mencuri pandang ke arah Cilla. Tak lama orang itu beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati Cilla yang duduk termenung sendirian sambil memainkan minumannya dengan sedotan di tangannya.
" Hai! Sendirian saja, apa sedang menunggu teman? Maaf jika saya menganggu."
__ADS_1
" Oh, tidak. Aku hanya sendirian saja." balas Cilla singkat.
" Kalau boleh, Apa boleh saya ikut duduk disini kebetulan saya juga datang sendiri."
" Oh silahkan."
" Maaf, BTW nama saya Adrian, nama kamu siapa?"
" Cilla." Jawaban singkat dengan mimik wajah yang terlihat malas.
" Cilla! Nama yang imut sesuai dengan wajahnya."
Merasa risih akhirnya Cilla beranjak pergi, " Maaf, sudah sore, saya permisi."
" Oh iya, silahkan."
Cilla pun pergi begitu saja dan Adrian hanya menatapnya dengan senyuman. ' Cilla... Cilla... Cilla... sepertinya tipe cewek yang susah di dapatkan, aku jadi semakin penasaran dengannya, aku harap bisa bertemu kembali dengannya, semoga takdir mempertemukan kita lagi.' gumam Adrian.
Lalu ponsel Adrian berbunyi, ada panggilan telpon dengan nomor luar negeri.
Adrian : ' Halo bro! ada apa nih? Betah disana?'
B : ' Yah betah gak betah harus betah, gue kan gak bisa melawan orangtua kaya abang, lagi pula gue kan masih sekolah, abang enak udah bisa hidup sendiri karena udah kerja.'
Adrian : ' Yah itu derita loe.'
B : ' Dasar.. Oh iya bang, gue cuma di suruh mama buat nanya kabar loe, bang.'
Adrian : ' Bilangin ke mama, jangan khawatirkan gue, gue baik-baik saja disini. Bilang sama papa dan mama, jaga kesehatan disana.'
B : ' Ok bang, yaudah gue mau sekolah dulu, lain kali datang kesini kata mama sudah kangen.'
Adrian : ' OK, kalau mau kesana gue kabarin.'
B : ' Ok, sip lah.'
___________
Cilla sedang tiduran di atas tempat tidurnya, lagi-lagi ia merenung dan melamun dengan pandangan mengarah ke langit-langit kamarnya, ia mengingat kejadian-kejadian dulu.
Flashback****
" Ngapain loe? Gue minta yah." Reza mengambil snack di tangan Cilla.
" Apaan sih loe? itu kan makanan gue." gerutu Cilla dengan kesal dan hendak merebut snack di tangan Reza, namun Reza terus menghindar sambil tetap memakan snack milik Cilla.
" Enak banget kalau makanan orang? soalnta gratis, hahahaha." Reza selalu usil dengan Cilla sejak awal sekolah.
" Loe, bisa gak sih! Sehari saja gak ganggu hidup gue!"
" Gak bisa, habisnya gue seneng kalau lihat loe marah-marah kayak gini."
" Sialan, sini balikin." Cilla sekali lagi ingin merebut snack di tangan Reza, namun Reza tiba-tiba pergi begitu saja dengan setengah berlari.
" Makasih makanan, lain kali bawa yang lebih gede biar bisa makan berdua hehehehe." teriak Reza sambil terus berlari menjauhi Cilla.
" Dasar Br*ngs*k." gerutu Cilla.
Flashback and***
' Huh... apa sih gue malah mikirin bocah tengik itu? jijik banget gue.' gerutu Cilla.
Cilla pun menyalakan laptopnya, ia ingin menghilangkan pikirannya tentang Reza dengan menonton penampilan showcase boy group favoritnya sambil sesekali ikut bernyanyi dan menggerakkan tubuhnya sesuai irama musik yang ia dengarkan. Dengan cara itu Culla merasa sangat senang bisa menghilangkan segala beban pikirannya sejenak, Cilla terus menonton sampai ia terkantuk-kantuk, Cilla pun mematikan laptopnya untuk tidur karena malam sudah cukup larut.
__ADS_1
Bersambung....
Selalu dukung Author dengan cara memberi Hadiah, Vote, like dan komen... Terimakasih ☺️