
Sekarang Arka dan Arsa sudah bisa berjalan walau mereka masih tak begitu lancar, namun itu cukup membuat mereka senang karena telah bisa melakukan aktivitas lebih ketika sudah bisa berjalan. Begitupun Cilla, sekarang dia sudah memasuki kelas 3 SD, tubuhnya sudah bertambah tinggi dan badannya yang tadinya lumayan gemuk sekarang sedikit kurus karena pertumbuhan badannya namun walaupun begitu keimutan dan kecantikannya tak berubah sedikitpun.
Hari ini keluarga kecil Hardi akan pergi kesebuah villa milik keluarganya di puncak, memang sedang waktu libur sekolah sehingga mereka memutuskan liburan mencari udara segar dan menghabiskan waktu bersama keluarga selama sepekan.
Semuanya sudah siap, mereka pun masuk kedalam mobil, bukan hanya keluarga kecil Hardi yang pergi berlibur ternyata Orangtua Hardi pun akan menyusul mereka nanti, setelah urusan mereka beres.
__________
Sore menjelang magrib, mereka pun sampai di sebuah villa yang cukup mewah dengan taman yang di penuhi rumput beserta bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran di sepanjang jalan menuju ke arah villa. Cilla dan semuanya turun dari mobil, Cilla sangat antusias dengan tempat ini walau hari sudah mulai gelap namun cahaya lampu yang banyak tak menghalangi keindahan taman dan villa tersebut malahan dengan adanya lampu-lampu yang di tata dengan rapi membuatnya menambah keindahannya. Terdapat juga sebuah air mancur yang cukup besar dengan patung berada di tengahnya menambah keindahan dan kemewahan villa tersebut.
Cilla segera berlari ke arah villa di ikuti oleh Arka dan Arsa yang tak ingin di gendong orangtuanya dan ikut berlari walau masih dengan sedikit kesulitan karena memang jalan mereka belum begitu lancar. Dengan tawa riang mereka yang menunjukkan masing-masing 2 gigi bawah yang baru tumbuh membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Hardi dan Sarah terus saja mengikuti mereka sambil mewanti-wanti jika mereka nanti takut terjatuh.
Seorang penjaga villa beserta istrinya membuka pintu menyambut kedatangan dari majikannya dengan senyum dan sikap ramah mereka.
" Selamat sore tuan, nyonya, silahkan masuk. Semua kamar sudah kami bersihkan semoga tuan dan nyonya beserta yang lainnya merasa nyaman, jika ada perlu bisa panggil kami. Kami ada di belakang." ujar penjaga Villa.
" Iya, terimakasih pak." balas Hardi.
" Yasudah, saya permisi ke belakang, mari tuan nyonya." ucap penjaga Villa yang memang cukup berumur.
Hardi dan Sarah memilih kamar utama yang cukup besar, disana terdapat sebuah kasur ukuran besar dan terdapat pula 2 buah kursi dan meja yang menghadap ke arah jendela, di balik jendela terlihat pemandangan yang cukup indah dengan perkebunan teh yang terbentang luas serta gunung yang menjulang tinggi bak lukisan ciptaan tuhan. Hardi segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang sedangkan Sarah duduk di kursi depan jendela, tak lama Arka dan Arsa ikut menghampiri ke arah bundanya. Sarah menggendong keduanya sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan yang indah di depannya.
Sedangkan Cilla berada di kamar sebelah di temani oleh Lia, Cilla ingin sekali melihat kamarnya terlebih dahulu walau tadinya Hardi mengajaknya ke kamar mereka. Cilla bilang ia ingin tidur sendiri dan hanya di trmani Lia, Cilla ingin kamar yang luas tanpa banyak orang yang tinggal di kamar itu, Cilla bilang dia sudah cukup besar tanpa harus bergabung dengan kedua orangtuanya.
Setelah Cilla membereskan barang-barangnya yang di bantu oleh Lia, segera Cilla pergi ke kamar sebelah untuk bergabung dengan kedua orangtuanya di ikuti oleh Lia yang hanya mengantarkan Cilla depan pintu kamarnya saja.
" Bunda, ayah, Cilla laper." ujar Cilla sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
" Oh iya, ini sudah saatnya makan malam, Lia bisa lihat ke dapur apa makanan sudah siap?" pinta Hardi.
Lia segera ke arah dapur dan terlihat asisten di sana sedang memasak, terlihat sebentar lagi selesai. Lia menghampirinya dan membantu sampai selesai, membereskan semuanya di atas meja makan. Tak lama Lia kembali ke kamar majikannya mengetuk pintunya untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap.
__ADS_1
____________
Devan duduk dengan fokus dengan laptopnya, dia sedang mempelajari apa yang di dapatkan saat pengajaran tadi. Tiba-tiba seorang gadis menghampirinya, terlihat wajahnya sangat gugup mungkin ini baru pertama kalinya dia mendekati Devan yang selama ini dia hanya memperhatikan Devan dari jauh.
(Percakapan dalam bahasa asing, pakai bahasa Indonesia saja agar mengerti ðŸ¤)
" Ma... Maaf... boleh saya duduk disini?" tanya gadis itu gugup.
" Oh iya silahkan." ujar Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Gadis itu salah tingkah, ia ingin membuka pembicaraan dengan Devan namun ia masih ragu, ia mencoba untuk berkata tapi tak di lanjutkan melihat Devan yang sama sekali tak meliriknya walaupun hanya sebentar. Setelah cukup lama akhirnya gadis itu mencoba berbincang dengan Devan.
" Maaf, ka... kamu Devan kan? perkenalkan saya Bella." ucap Bella gugup.
" Oh iya, benar saya Devan. Salam kenal juga." ucap Devan dengan tersenyum tipis melirik Bella sekilas lalu kembali melihat laptopnya.
' Dingin sekali, ternyata benar kata orang, Devan itu pria yang susah untuk di dekati. Tapi aku tak akan menyerah, ini baru awal, aku yakin aku bisa menaklukkannya. Aku malah jadi semakin suka dengannya, biasanya jika pria dingin seperti ini akan setia pada satu wanita, tantangan buatku semakin susah semakin menarik.' dalam isi hati Bella.
Bella terus saja menatap Devan dengan tersenyum manis sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya sambil melamun menikmati ketampanan Devan.
" Sebenarnya ada perlu apa kamu denganku? dan aku merasa risih di tatap selama itu." ujar Devan hingga membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
" Oh... apa? maaf, buka maksudku mengganggumu, aku hanya terpesona ketampananmu... eh... itu... maksudku, aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh." balas Bella yang tergagap dan keceplosan.
" Namamu Bella kan! sekarang kita sudah berkenalan, apa masih ada yang lainnya?" tanya Devan.
" Itu... boleh aku minta nomor ponselmu?" ujar Bella.
' Memang beda banget gadis luar dan gadis Indonesia, mereka langsung to the point gak basa-basi.' pikir Devan.
Akhirnya Devan memberikan nomor ponselnya sebagai tanda keramahan lalu pergi begitu saja meninggalkan Bella yang terduduk sedang sambil memegang ponselnya yang terdapat nomor ponsel Devan disana, wajahnya sumringah sekali karena ia berhasil mendekati Devan.
__ADS_1
Sebenarnya Devan sedikit memperhatikan Bella yang ternyata cukup cantik dimatanya, tak sadar bibir Devan menyunggingkan senyum walau hanya di ujung bibirnya saja.
___________
Sekitar hampir tengah malam, orangtua Hardi baru sampai di Villa, terlihat Villa sudah sepi mungkin Hardi dan keluarga sudah tertidur. Bu Yessi dan Pak Herman langsung ke kamarnya setelah oengurus villa mempersilahkannya masuk dan akhirnya mereka pun beristirahat karena kelelahan.
Bbbbrrruuuuukkkkkkkk......
terdengar suara benda jatuh yang membuat bu Yessi dan pak Herman kembali membuka matanya, mereka segera beranjak dari tempat tidur menuju arah suara dan ternyata itu berasal dari kamar putranya.
" Hardi, Hardi... ada apa nak?" tanya pak Herman di balik pintu dan mengetuknya.
Hardi membuka pintu kamarnya sambil tertatih memegang pinggangnya yang terasa nyeri.
" Tak apa-apa mah, cuma ada kecelakaan sedikit." balas Hardi dengan tetap meringis kesakitan.
Bu Yessi dan pak Herman melirik kedalam kamar dan terlihat Sarah yang terkekeh menahan tawanya.
" Mamah dan papah baru sampai?" tanya Hardi.
" Iya, mamah dan papah baru saja mau istirahat, baru saja mau memejamkan mata malah mendengar benda jatuh. Memangnya kejadian apa sih?" tanya bu Yessi penasaran.
Bu Yessi dan pak Herman pun masuk kedalam kamar Hardi dan duduk di kursi.
" Begini mah, pah. Tadi pas kita lagi tidur tiba-tiba mas Hardi jatuh dari ranjang, aku oun ikut kaget dan terbangun lalu melihat mas Hardi yang sudah terduduk di lantai dengan memegang pinggangnya." ujat Sarah.
" Iya mah, soalnya Arsa dan Arka tidurnya tak mau diem, hingga Hardi terus bergeser sedikit demi sedikit, hingga Arka menendang Hardi cukup keras sampai Hardi gak sadar sudah di ujung ranjang dan akhirnya jatuh." jelas Hardi.
" Hehehehhe.... yasudah kamu ngalah saja sama anak, tidur aja di bawah kan ada kasur lantai juga, biarkan anak-anakmu nyaman di tempat tidur dan tak kesempitan." ucap pak Herman.
" Iya iya " balas Hardi terpaksa.
__ADS_1
Setelah itu orangtua Hardi pun keluar dari kamar Hardi untuk kembali istrirahat, sekarang Hardi dengan terpaksa menggelar kasur lantai untuk tidur, mengalah dari kedua jagoannya. Hardi memanggil-manggil dengan tanda dan menepuk-nepuk bantal di sampingnya meminta Sarah untuk tidur di sampingnya, Sarahpun menuruti suaminya dan berbaring di samping suaminya. Hardi segera memeluk istrinya dan mereka pun akhirnya terlelap.
Bersambung......