Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Rencana Sarah berhasil !


__ADS_3

Seperti biasanya, setiap pagi Hardi selalu mengadakan rapat dengan Rio dan beberapa orang guna membahas pekerjaan dengan klien atau yang lainnya.


"Bagaimana menurutmu Rio?... Rio... hey Rio!" Hardi memanggil nama Rio sampai beberapa kali baru Rio menoleh.


"Iya"


"Kau kenapa? selama meeting ini kau tak fokus. Ragamu disini tapi pikiranmu seperti entah dimana!" gerutu Hardi.


"Maaf pak, kedepannya saya tidak akan melakukan kesalahan lagi" sesal Rio.


Meeting pun selesai, orang-orang keluar ruangan Hardi kecuali Rio yang ditahan karena Hardi butuh penjelasan. Tak seperti biasanya Rio tak profesional seperti ini.


"Kau kenapa? sepertinya ada yang kau pikirkan!" tanya Hardi.


"Tak apa pak, saya cuma merasa kurang enak badan hari ini" kilah Rio.


"Begitu! Kau ke ruang kesehatan saja, minta obat agar tak sampai sakit" ujar Hardi.


"Iya pak, terimakasih" Rio pamit keluar dari ruangan Hardi.


Rio kembali ke ruangnannya, entah mengapa hatinya sedikit gelisah. Diraihnya ponsel yang ada di saku jasnya lalu ia melihat kontak nama Sita di sana. Ia sebenarnya ingin menghubungi Sita, namun ragu. Ia mencoba mengetik beberapa kata " Hay... apa kabar Sita? aku Rio, masih kenal kan ..." belum semoat di kirim lalu ia hapus kembali. Begitulah ia ulangi, setiap mengetik pesan pasti ujung-ujungnya ia hapus lagi.


Rio menhembuskan nafasnya keras, ia memaki dirinya sendiri yang tak sanggup memulainya terselebih dahulu. "Dasar leleki pecundang" gumam rio dalam hati.


Triiiinngggg... bunyi suara Chat di ponsel Rio. Seketika Rio meraih ponselnya, setelah melihat siapa yang mengirim pesan, ia terperangah. Disana terlihat nama Sita yang tertera. "Sita! kok ia tahu nomor ponselku, apa bu Sarah yang memberikannya? Ya tuhan... aku harus bagaimana!" gumam Rio.


Rio tak serta merta membuka pesan itu, ia malah bersikap salah tingkah. Bingung apa yang akan ia balas nanti. Sampai-sampai ponselnya terjatuh kebawah meja kerjanya.


Sementara itu Sita yang menunggu balasan tak juga dapat pesan balasan dari Rio. Wajahnya di tekuk dan hatinya pesimis karena sudah lama ia mengirim pesan tapi tak kunjung di balas. "Haahh... sepertinya dia tak tertarik padaku" keluh Sita dalam hatinya.


Sita melempar ponselnya di atas mejanya lalu beranjak dari duduknya untuk segera ke kelas karena waktunya ia mengajar.


Setelah cukup lama Rio berkutat dengan pikirannya lalu ia memberanikan diri membaca pesan Sita dan mencoba untuk membalasnya.


Sita : "Apa kabar? saya Sita temannya Sarah. Masih ingat kan."


Rio : "Iya, saya masih ingat. Perempuan cantik temannya bu sarah kan!" terkirim.

__ADS_1


Setelah membaca kembali isi pesan yang ia tulis, Rio terperangah. Ia benar-benar salah tingkah, ia hendak menghapusnya namun tak bisa, jika menghapus pesan nanti apa kata Sita. Lagi-lagi Rio berkutat dengan pikirannya.


"Kenapa aku menulis pesan seperti itu? Apa dia akan salah faham? tapi dia kan memang cantik." Rio menggerakkan tubuhnya meronta seperti anak kecil tanpa ia sadari Hardi telah berada di ruangannya.


"Kau kenapa, kayak cacing kepanasan?" suara Hardi membuatnya terkejut lalu seketika berdiri tegak. Membuat Hardi menahan tawanya.


"Maaf pak, ada apa?" tanya Rio masih dengan wajah tegang.


"Dari tadi aku menghubungimu tapi tak dapat jawaban, makanya aku datang ke ruanganmu. Tak ada kan seorang CEO yang datang langsung ke ruangan sekertarisnya" ucap Hardi tegas, namun hatinya terkekeh.


"Tidak pak, sekali lagi maafkan saya" sesal Rio.


"Yaudah, cepat bawakan saya berkas PT. Jayakarsa, sekarang juga ke ruangan saya" Hardi keluar dari ruangan Rio.


Rio pun segera mencari berkas yang Hardi butuhkan. Dia mengeluh dan malu berhadapan dengan Hardi, "Apa pak Hardi melihat semuanya? Hah... mau di taruh dimana mukaku" batin Rio.


________


Rio kembali ke ruangannya, diraih ponselnya berharap ada pesan balasan dari Sita. Namun tak ada apa-apa di ponselnya. "Apa mungkin Sita tak menyukaiku?" keluh Rio.


Rio segera melihat pesan dari siapa. Roy : " Brother, pinjemin gue duit dong. Gue butuh banget".


"Halah... punya kakak satu, doyannya mintain duit mulu. Gak mikir apa dia untuk kerja sendiri daripada luntang lantung gak jelas" keluh Rio pada kakaknya.


Rio malas membalasnya, dia menyenderkan tubuhnya kembali di sandaran kursinya.


Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi, ini panggilan suara. Rio segera menganggap panggilan tersebut tanpa melihat nama di layar ponselnya.


"Ada apa sih kak? jangan minta uang terus dong. Kerja sana!" keluh Rio pada orang di seberang telpon.


"Maaf apa saya salah menelpon yah!" ucap suara perempuan di seberang telpon. Rio terkejut lalu ia melihat nama panggilan di layar ponselnya yang ternyata Sita yang menelponnya.


"Eh... Ma..Maaf. Ta..tadi saya kira yang menelpon itu kakak saya. Sa...Saya minta maaf" ucap Rio yang gugup hingga bicara terbata-bata.


Terdengar suara Sita sedikit tertawa "Tidak apa-apa, maaf juga apa saya mengganggu pekerjaan Rio?"


"Tidak, tidak sama sekali" balas Rio.

__ADS_1


"Apa kita bisa bertemu akhir pekan ini?" tanya Sita.


Rio gelagapan tak langsung menjawab pertanyaan Sita. Ia malah salah tingkah, ia bahagia ingin berteriak namun tanpa suara.


"Halo.. Halo... Rio masih dengar aku kan" ucap Sita di seberang telpon.


"Eh... i..iya... bi.. Bisa. Bisa.. Nanti biar aku yang tentukan tempatnya yah" balas Rio.


"Ok kalau begitu, terimakasih. Saya tutup yah" Sita pun menutup sambungan telponnya.


Rio langsung jingkrak-jingkrakkan, ia bahagia akan kencan akhir minggu inu. Kencan? Eh belum pasti juga mereka akan pacaran? pikir Rio. "Yes... Yess... yes" walau begitu Rio tetap kesenangan.


Disisi lain, Sita mengelus dadanya dan mulai bernafas lega. Sebenarnya Sita membutuhkan keberanian besar untuk menghubungi Rio lebih dulu. Jantungnya bahkan berdebar-debar sangat kencang dari biasanya seolah akan meledak. Namun setelah ia bisa melakukannya, ia merasa senang. Semoga rasa sukanya tidak bertepuk sebelah tangan.


________


Sita menelpon Sarah, untuk berterimakasih karena telah memperkenalkannya pada Rio juga telah memberikan nomor ponsel Rio padanya.


Sita : "Sarah, aku sudah menghubunginya terlebih dahulu. Bikin degdegan banget jadinya"


Sarah : "Oh ya.. kamu berani juga! Bagus sih kau bertindak duluan. Soalnya yang aku tahu Rio itu lelaki pemalu"


Sita : "Iya benar banget. Syukur deh aku mengikuti saranmu. Akhirnya aku bisa pergi dengannya akhir minggu ini"


Sarah : "Benarkah! Wah... dia mau bertemu denganmu! itu bisa jadi pertanda lampu hijau. Semoga kedepannya bisa berlanjut"


Sita : " Iya Sarah, aku berharap rasa sukaku tak bertepuk sebelah tangan"


Sarah : "Iya, aku doakan semoga kalian berjodoh yah. Kalau gak, viar aku yang paksa Rio buat suka sama kamu"


Sita : "Amin.. tapi jangan paksa segala, kalau tak suka yah jangan di lanjutkan".


Sarah : "Iya sih hehehe... Yasudah, Cilla manggil aku. Semoga kencannya sukses."


Kemudian paggilan pun terputus, Sita tersenyum semoga harapannya untuk bersama Rio dapat terwujud. Semoga ia benar-benar berjodoh dengan Rio.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2