Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Perang Dingin


__ADS_3

Hari ini Hardi pulang lebih awal karena badannya terasa kurang enak. Ia ingin segera pulang untuk beristirahat di temani istri tercintanya. Di perjalanan yang hampir dekat rumahnya, ia melihat Sarah di depan mini market sedang berbincang dengan seorang pria yang Hardi ingat postur tubuh dan gaya rambutnya persis dengan pria yang berbincang di pesta malam itu. Hardi berhenti sejenak di sana walau jaraknya agak jauh dari tempat ngobrol Sarah. Ia melihat Sarah sesekali terlihat tertawa bersama pria itu. Apa yang mereka bicarakan? apakah mereka begitu dekat sampai bisa tertawa bebas seperti itu? pikir Hardi.


Setelah puas dengan apa yang di lihatnya, ia melajukan mobilnya dengan wajah yang di tekuk karena merasa kesal. Tak lama Hardi sampai ke rumahnya masih dengan keadaan kesal, ia langsung menuju ke kamarnya lalu melempar tas, jas dan sepatunya ke sembarang tempat.


"Sialan, kenapa hatiku panas seperti ini. Siapa pria itu? yang sok dekat dengan istriku" gumam Hardi terus memasang wajah kesal.


Ia membanting tubuhnya dengan keras ke atas ranjang dengan terus menggerutu tak jelas. Karena memang tidak enak badan tanpa sadar ia terlelap dengan kening yang masih mengkerut.


Tak berapa lama Sarah tiba di kamarnya, melihat tas, sepatu dan jas Hardi yang berserakan. Ia memungutinya lalu merapikannya pada tempatnya. "Mas Hardi jam segini sudah pulang!" batin Sarah.


Sarah menghampiri suaminya yang terlelap ia melihat kening suaminya yang mengkerut lalu ia usap pelan sampai kening Hardi tenang. Ia merasa Hardi sedikit demam, ia kembali ke bawah untuk membawa air untuk mengompres Hardi.


"Bi, bawakan obat demam dan air putih yah kekamar." Pinta Sarah pada Bi Sumi. Sarah mengompres kening Hardi yang mulai berkeringat. Ternyata panasnya belum turun juga.


Bi Sumi membawa segelas air dan obat yang di minta Sarah, "Nyonya, ini obat dan air putihnya"


"Letakkan di atas meja saja bi" Sarah masih sibuk mengompres dan mengecek suhu suaminya itu.


2 jam Sarah terus berada di samping Hardi yang sekarang panasnya sudah turun dan keringatnya sudah tak sebanyak sebelumnya. "Syukurlah, suhunya sudah normal" gumam Sarah senang.


Hardi membuka matanya di lihatnya sudah jam 7 malam, ia menatap Sarah yang tertidur di sampingnya. Hardi mengelus lembut rambut Sarah. Hardi melepas saputangan di keninggnya lalu beranjak berdiri menuju kamar mandi.


Sarah terbangun namun tak mendapati suaminya di sampingnya, ia mendengar suara air di kamar mandi. Mungkin mas Hardi sedang mandi? pikirnya.

__ADS_1


Sarah menyiapkan makan malam untuk mereka, sebenarnya hanya ikut menata makanan di meja saja karena semuanya telah di masak oleh asisten rumah tangganya. Cilla turun langsung duduk di kursi meja makan. Tak berapa lama Hardi pun tiba dan duduk di samping Cilla tak seperti biasanya. Terpaksa Sarah duduk di arah berlawanan namun tepat di hadapan Hardi.


"Mas sudah baikan?" tanya Sarah.


"Sudah" balas Hardi fokus menyantap makanannya.


"Sudah minum obatnya? tadi aku simpan di atas lemari kecil di kamar" ucap Sarah.


"Sudah, terimakasih" balas Hardi singkat.


"Mas Hardi kenapa sih? kok sikapnya dingin. Apa aku berbuat kesalahan?" batin Sarah penuh tanya.


"Aku sudah selesai" ucap Hardi lalu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Cilla dan Sarah menatap Hardi yang terus berjalan menuju kamarnya.


Cilla selesai makan lalu beranjak kekamarnya bersama Lia. Sarah tak menghabiskan makanannya lalu menyuruh bi sumi dan bi entin membereskannya. Ia segera beranjak menuju kamarnya untuk segera menemui suaminya.


Dikamar terlihat Hardi sudah tidur di atas ranjang membelakangi Sarah. Sarah tak berani menegur suaminya, dia mengganti pakaiannya lalu tidur di samping Hardi. Sebenarnya Hardi belum tidur, ia juga tak nyaman bersikap demikian pada Sarah. Namun hatinya merasa panas ketika mengingat kembali ke akraban Sarah dan pria misterius yang di akui Sarah sebagai temannya. Teman? apa laki-laki dan perempuan bisa berteman? itu sungguh tidak mungkin. Pikir Hardi.


Sarahpun memposisikan dirinya membelakangi Hardi tanpa ia sadari airmatanya keluar begitu saja di kedua matanya. Ia melapnya seketika sebelum terjatuh membasahi tempat tidur. Hardi mendengar isakan pelan dari belakang tubuhnya, ia menyadari bahwa istrinya sedang menangis. Hardi ingin sekali membalikkan tubuhnya untuk menenangkan istrinya namun ia mengurungkan niatnya dan kembali ke posisi semula. Dengan bersusah payah bergulat dengan perasaan masing-masing akhirnya mereka pun tidur terlelap.


_______


Pagi hari seperti biasanya Sarah menyiapkan pakaian untuk Hardi kerja, walau dari semalam tak ada sepatah katapun yang terucap dari mereka. Sampai Hardi berangkat bekerjapun tetap diam. Bi Lilis, bi Entin, bi Sumi dan Lia pun menyadari keanehan kedua majikannya.

__ADS_1


Setelah Cilla di antar Sarah ke sekolah, Sarah ingin menyibukkan dirinya agar tak memikirkan sikap Hardi yang sangat dingin kepadanya. Sarah pergi ke salon agar merilekskan pikirannya sekaligus tubuhnya.


Dikantor, Hardi pun tak bisa fokus akan pekerjaannya. Ia terus memikirkan Sarah, mungkin dengan sikap dinginnya Sarah merasa sakit hati. Hardi memegang ponselnya lalu ia hendak menghubungi nomor Sarah, tertera di layar ponselnya bertuliskan My Wife. Ia hendak menekannya namun ragu hingga akhirnya ia mengurungkan niat menghubungi istrinya.


"Pak, hari ini kita Meeting dengan investor. Tepatnya sejam lagi dari sekarang" ucapan Rio membuyarkan lamunan Hardi.


"Ok, kamu siapkan semua yang di perlukan saat meeting" pinta Hardi, Rio pun keluar dari ruangan atasannya.


_________


Siang menjelang sore Sarah baru pulang bersama Cilla, seperti biasa Cilla langsung pergi mandi dan berganti pakaian bersama Lia. Sarah ke kamarnya untuk mandi karena badannya sudah terasa sangat lengket. Badannya memang terasa lebih ringan setelah ia melakukan perawatan di salon hari ini. Ia mengguyur dirinya di bawah shower yang hangat membuat pikirannya pun ikut rileks.


Pukul 9 malam, Cilla sudah terlelap di kamarnya. Sementara Sarah terus memandangi jarum jam di dinding kamarnya yang terasa lambat. Ia menunggu kedatangan suaminya yang belum pulang juga. Jam demi jam berlalu hingga Sarah pun terlelap di atas sofa samping tempat tidurnya. Dengan berbantakan tangan kirinya meringkuk di atas sofa.


Hardi baru pulang hampir pukul 1 dini hari, ia bukannya sengaja untuk pulang larut tapi pekerjaannya yang mengharuskan ia pulang sangat larut. Setelah masuk kamar ia melihat Sarah yang tertidur di Sofa. Ia menatapnya sayu, ia merasa bersalah dengan sikap dinginnya terhadap Sarah seharian ini.


Hardi beranjak mengambil bantal dan selimut, ia menghampiri istrinya kembali. Ia mengangkat kepala Sarah perlahan lalu menyelipkan bantal di sana agar Sarah tak pegal. Lalu Hardi mengelimuti tubuh istrinya agar tak kedinginan. Hardi kembali ke tempat tidur membuka dasi beserta kemejanya serta membuka sepatu beserta kaus kakinya. Ia hanya mengenakan celana kerjanya dengan bagian atas bertelanjang dada. Ia tidak mandi karena memang sudah larut malam dan tubuhnya lelah. Ia memposisikan dirinya menghadap Sarah, ia menatap Sarah yang masih terlelap di atas sofa.


"*Maafkan aku sayang karena telah mendiamkanmu. Namun lelaki itu selalu mengganggu pikiranku. Besok, iya besok aku akan meminta penjelasan darimu" gumam Hardi dalam hatinya tanpa mengalihkan pandangannya pada istrinya.


**Bersambung.........


jangan lupa tinggalkan jejak... Terimakasih 😊***

__ADS_1


__ADS_2