
Ponsel Sarah berdering lalu Sarah meraih ponselnya tersebut, dilihatnya ada panggilan dari nomor tak dikenal. Dia mengacuhkannya, meletakan kembali ponselnya di atas tempat tidur. Sekali lagi ponselnya berdering, karena merasa terganggu Sarah pun akhirnya mengangkat panggilannya.
"Halo! Dengan siapa?"
"Halo Sarah! Aku Malvin. Apa kabar kamu?" suara Malvin di seberang telepon.
"Malvin? tahu dimana kau nomor telponku?" Sarah sedikit terkejut.
"Ah... Kamu tak perlu tahu. Oh iya perusahaan ku bekerjasama dengan perusahaan suamimu."
"Begitukah! bagus dong."
"Begini, ada berkas yang tadi aku lupa di serahkan kepada suamimu. Kata suamimu, kamu suruh mengambilnya. Soalnya suamimu tak bisa datang karena sedang meeting dengan Rio."
"Emang begitu penting? Terus aku harus mengambil kemana?"
"Penting sekali makanya aku di suruh menelponmu. Kamu datang saja ke rumahku, nanti aku kirim lokasinya. Yaudah kalau begitu selamat bertemu dirumah."
Malvin pun mengakhiri sambungan telponnya. Tak lama terdengar suara Chat dan Malvin mengirim alamat rumahnya. Sarah langsung bersiap-siap, ia langsung pergi ke lokasi yang tertera pada GMap menggunakan taxi karena pak Tono sedang service mobil.
Butuh waktu cukup lama hingga Sarah sampai ke tempat yang di tuju. Terlihat rumah mewah berlantai 2 dengan pagar yang tinggi menjulang. Sarah memencet tombol bell di sana lalu tak lama pintu gerbangpun terbuka dengan sendirinya.
"Wah... Canggih sekali" Sarah terkagum.
Lalu ia berjalan menuju ke arah pintu, sebelum Sarah mengetuk, Malvin sudah membukanya terlebih dahulu.
"Sarah, ayo masuk" Ajak Malvin, Sarah pun tersenyum garing karena tadi ia terkejut.
Sarah mengikuti Malvin masuk ke dalam rumah, lalu Malvin mempersilahkan Sarah untuk duduk di Sofa. Sarah melihat-lihat sekeliling rumah, ia melihat tak ada seorangpun yang terlihat selain mereka berdua.
__ADS_1
"Kau mau minum apa?" tanya Malvin.
"Apa aja" balasnya, Malvin pun beranjak ke dapur kecil tak jauh dari tempat duduk Sarah.
"Kau tinggal sendiri?" Sarah penasaran.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Malvin.
"Tidak apa-apa, terus kau tak memiliki Asisten rumah tangga!" Sarah masih terus bertanya.
"Ada, tapi cuma datang beberapa kali dalam seminggu hanya untuk membersihkan rumah, kalau untuk masak dan lainnya, aku bisa sendiri" balas Malvin santai sambil membawa dua gelas minuman di tangannya.
Malvin pun meletakan kedua gelas itu di meja, yang satu dekat Sarah dan Satu di dekatnya. Sambil ia mendudukan dirinya di Sofa.
"Minumlah!" ujar Malvin menyeringai ke arah Sarah.
"Iya, terimakasih. Mana berkas yang kamu maksud, bisa aku terima sekarang juga" Sarah merasa tak nyaman di rumah hanya berdua dengan lelaki yang bukan suaminya.
Terlihat Sarah tengah memegang kepalanya dan terlihat tidak tenang.
"Kamu kenapa Sarah?" Malvin menyeringai pura-pura khawatir.
"Tak tahu ini, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing begini." Balas Sarah yang terus memegang kepalanya, tak lama tubuh Sarah pun ambruk di sofa.
Melihat itu, Malvin tersenyum senang. Wajahnya menunjukan kepuasan yang teramat karena rencananya setengah berhasil.
Malvin berjongkok di depan wajah Sarah lalu berguman "Sarah, wajahmu memang sangat cantik. Dari dulu aku sudah sangat terobsesi denganmu. Mengapa dulu kau menolak cintaku? sekarang malam menikahi pria ******** itu. Andai kau tak menolakku, kejadiaan ini takkan terjadi" Malvin mengelus pipi Sarah dengan ujung jarinya sambil menyeringai menyeramkan.
________
__ADS_1
Sarah mulai membuka perlahan matanya, pandangannya masih terlihat buram. Namun ia merasa tangan dan kakinya tak bisa bergerak, lalu ia mulai sadar ternyata tangan dan kakinya di ikat oleh tambang kecil dan mulutnya di sumpal oleh lakban hitam.
"mmmmm....mmmmm...mmmmm" Sarah mencoba berteriak namun hanya gumanan tak jelas yang terdengar, ia meronta mencoba melepaskan ikatan yang mengikat tangan da kakinya. ia menatap sekeliling mengedarkan pandangannya, ternyata ia di sekap di sebuah kamar yang tanpa jendela. Hanya kaca kecil di dinding bagian atasnya serta pentilasi terbuat dari kayu.
"Ini dimana? apa yang terjadi? siapa yang melakukan ini? Malvin? apakah Malvin?" batin Sarah penuh pertanyaan.
Dia kembali memberontak mencoba melepaskan ikatannya namun lagi-lagi usahanya hanya sia-sia. Wajahnya sudah penuh dengan peluh dan matanya mulai berkaca-kaca. Dia sekali lagi mencoba berteriak sekuat tenaga namun hanya keluar gumaman tak jelas setiap kali ia berteriak.
Tiba-tiba pintu terbuka, Sarah menatap tajam ke arah pintu itu. Langkah kaki mulai terdengar perlahan orang itu masuk, mata Sarah terbelalak melihat siapa yang di depannya. Ternyata dugaannya benar, Malvin perlahan menghampirinya dengan seringai yang sangat menyeramkan.
"Hai cantik, sudah sadar yah! ih kasihan tak bisa ngapa-ngapain. Jangan memasang wajah seperti itu, aku sangat benci melihatnya. Kau ingat ketika kuliah aku menambakmu? aku itu tulus mencintaimu tapi apa yang aku terima. Kau... kau malah mencampakkanku dan menolakku mentah-mentah di depan orang-orang. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu. Sakit, malu dan marah. Perempuan sepertimu menolakku yang saat itu aku lelaki paling populer di kampus. Semua wanita nempel padaku tanpa aku suruh. Tapi aku tidak mau mereka, tidak mau perempuan gampangan yang nempel tanpa di rayu. Kau... kau yang aku inginkan dari dulu hingga saat ini. Dan kemarin aku lihat kau berjalan dengan seorang pria yang akhirnya aku tahu dia itu suamimu. Hatiku jadi bergejolak kembali apalagi lihat suamimu yang angkuh seperti itu. Aku semakin tak rela jika kau hidup bersamanya bukan denganku" ocehan Malvin membuat Sarah jengah.
Malvin menarik lakban di bibir Sarah, tiba-tiba Sarah melidahi wajah Malvin.
"Cuih.. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bersamamu, aku bersyukur waktu itu aku tak menerimammu. Aku.... " plakkk suara tamparan yang cukup keras melayang ke pipi Sarah.
"Apa kau bilang? Aku juga tak akan seperti ini jika dulu kau tak mengabaikanku, dasar cewek sialan" Malvin menatapnya dengan penuh amarah.
"Lepaskan aku ********, brengsek. Lepas.... mmm... mmm... mmm" Sarah berteriak meronta meminta Malvin untuk melepaskannya namun teriakannya terhenti tatkala Malvin memasangkan kembali lakban di bibir Sarah, sehingga hanya gumaman yang terdengar dari mulut Sarah.
Malvin menjambak rambut Sarah hingga kepala Sarah sampai mendongak keatas, Malvin mendekatkan wajahnya ke pipi Sarah hingga hidung dan bibirnya bersentuhan dengan kulit wajah Sarah. Malvin terus menyeringai sambil seolah mengendus setiap inci wajah Sarah yang menempel dengan wajahnya, terus menyusuri sampai ke bagian samping leher Sarah. Terasa hembusan nafas yang hangat di leher Sarah yang masih mendongak karena rambutnya masih di jambak Malvin dan akhirnya Malvin menjauhkan wajahnya dari leher Sarah lalu melepas jambakan tangannya di rambut Sarah.
"Terus saja kau berteriak, tak akan pernah ada yang bisa mendengarnya. Ini kamar khusus yang aku rancang kedap suara" Seringai Malvin membuat Sarah bergidik ngeri lalu berjalan keluar dari kamar itu.
Bersambung......
Bagaimana nasib Sarah? nantikan up Author berikutnya 😁
Selalu dukung Author dengan Like, vote dan komen
__ADS_1
Terimakasih 😊