
"Ayah... Bunda" Cilla berlari kepelukan ayahnya lalu Hardi menggendongnya. Cilla sangat senang karena ia bertemu lagi dengan orangtuanya.
"Ayah kenapa gak telpon Cilla?" Cilla menatap ayahnya dengan tampang kesal.
"Ponsel ayah rusak, sayang. Yang penting sekarang ayah kan sudah pulang." Hardi mencubit gemas hidung putrinya.
"Bunda, Cilla malam mau tidur sama bunda tapi bunda gak ada" Cilla cemberut.
"Maaf sayang, bunda ada urusan sama nenek jadi bunda menginap di sana" jelas Sarah.
Hardi menurunkan Cilla dari pangkuannya, Cilla kembali bermain dengan Lia. Sementara Hardi dan Sarah berlalu ke kamarnya.
Hardi lalu merebahkan tubuhnya, lalu mengajak Sarah untuk berbaring juga. Namun Sarah menolaknya, ia malah pergi ke dalam kamar mandi. Sebelum Sarah sempat menutup pintu kamar mandi, Hardi menahannya.
"Kenapa mas?" Sarah memandang heran ke arah Hardi.
"Aku mau ikut masuk, boleh yah!" seringai Hardi tanpa perlu jawaban dari Sarah.
"Saya ingin buang air kecil mas, masa mau dilihatin kan malu." cegah Sarah.
"Tak usah malu segala, lagian mas sudah lihat semuanya bahkan sudah merasakan semuanya, jadi mas boleh yah ikut masuk!" goda Hardi yang terus menahan pintu kamar mandinya.
"Tidak mas, saya malu. Sana keluar!" Sarah mendorong tubuh suaminya dan langsung menutup pintu kamar mandinya.
Hardi menggelengkan kepalanya tersenyum senang melihat ekspresi malu-malu istrinya. Itu membuatnya benar-benar sangat gemas akan istrinya. Hardi kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap lurus ke atas dan tersenyum seperti ada rencana yang ingin ia realisasikan.
Sementara Sarah bersandar di pintu kamar mandi dan memegang dadanya yang berdegup sangat kencang. Ia selalu tak bisa menebak tingkah suaminya yang kadang-kadang bertindak semaunya.
___________
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib, semuanya sedang berada di meja makan sedang menyantap makan malam mereka. Memang mereka makan malam sedikit terlambat 1 jam, hingga terlihat Cilla sudah menguap di tengah-tengah menyantap makan malamnya.
Disisi lain Hardi terus menatap genit ke arah istrinya seakan mengisyaratkan sesuatu, membuat Sarah menjadi salah tingkah karena di hadapan mereka ada Lia yang sedang menyuapi Cilla. Sarah membulatkan matanya agar suaminya tak tersenyum genit seperti itu kearahnya di depan orang lain. Namun Hardi cuek saja dengan apa yang ia lakukan.
"Bunda.. Cilla bobo sama bunda yah" rengek Cilla.
"Gak boleh!" Hardi setengah berteriak.
Cilla yang mendengarnya langsung cemberut sebal dan mendelik ke arah ayahnya.
"Cilla kan bilangnya sama bunda bukan sama ayah" sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Tapi itu kan kamar ayah juga" Hardi terus mengerjai Cilla.
"Boleh yah bunda" Rengek Cilla tak menghiraukan ayahnya.
Sarah tersenyum, belum sempat Sarah menjawabnya Hardi sudah memotongnya terlebih dahulu, "Ayah bilang gak boleh yah gak boleh".
Cilla menatap ayahnya tajam, matanya mulai berkaca-kaca hendak menangis. Namun Sarah segera menenangkan putrinya dengan berkata, " Sudahlah mas, jangan mengerjai Cilla terus, kasihan dia sampai akan menangis seperti itu. Cilla boleh tidur sama bunda tapi Cilla bobonya di kamar Cilla yah biar bunda yang temankan".
"Tapi bunda jangan tinggalin Cilla yah" pinta Cilla.
"Iya Sayang" balas Sarah menatap Hardi dengan penuh arti.
Jawaban dari Sarah membuat hati Hardi senang, Hardi tahu maksud dari perkataan istrinya jika Sarah bisa kembali ke kamarnya setelah Cilla terlelap.
Makan malam pun selesai, Cilla menuju kamarnya bersama Sarah sedangkan Hardi menuju kamarnya yang sebelumnya telah memberi isyarat kepada istrinya untuk segera datang kekamarnya setelah Cilla tertidur. Sarah pun mengerti, ia tersenyum penuh arti kepada suaminya.
Sebelum itu Sarah berbisik pada Lia, meminta Lia menemani Cilla setelah Cilla tidur. Karena ia harus kembali kekamarnya. Lia pun mengangguk.
Hardi bersiap dengan piyamanya yang sebelumnya telah menyemprotkan parfum di tubuhnya, ia ke kamar mandi untuk sekedar menggosok giginya dan berkumur dengan obat kumur. Dibuangnya nafas ke telapak tangannya untuk mengecek apa nafasnya sudah wangi. Hardi menyemprotkan pengharum ruangan ke seluruh sudut kamarnya dan ruangan pun begitu wangi dan segar.
Hardi menyiapkan sebuah lingeri yang ia beli waktu dinas ke luar negeri, ia ingin istrinya segera memakainya. Dengan tubuh Sarah yang putih, langsing dan tinggi pasti sangat cocok dengan lingeri berwarna merah maroon itu.
"Kau sudah kembali, Apa Cilla sudah tidur?" tanya Hardi yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Udah mas" balas Sarah yang menghirup udara kamar yang sangat wangi. Pandangannya mengarah ke arah lingeri yang terletak di atas ranjang.
"Itu apa mas?" tanya Sarah terkejut.
"Kau pakailah sayang. Aku ingin melihatmu menggunakannya" balas Hardi dengan seringainya.
"Itu baju atau jaring sih mas. Terlihat sangat transparan" Sarah bergidik tak mau.
"Pakailah, demi suamimu. Tolong jangan membantah" perintah Hardi dengan tegas.
Mau tidak mau Sarah mengganti pakaiannya dengan lingeri tersebut. Tangan Sarah melingkar di depan dadanya mencoba menutupi sesuatu yang sangat terlihat karena memang lingeri itu hanya sebuah kain yang sangat transparan seperti tak menggunakan apa-apa.
"Kau sangat cantik, melihatmu memakai ini membuatku lebih bergairah, jangan coba menutupinya" bisik Hardi seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Tapi saya malu mas, ini sama saja seperti aku tak memakai apa-apa" Sarah masih mencoba menutupi tubuhnya.
"Udah tak perlu protes terus, lagian disini tak ada siapapun. Hanya aku yang melihatmu, suamimu yang sudah halal melihat seluruh tubuhmu" balas Hardi yang mulai menggoda istrinya.
__ADS_1
"Tapi mas....."
Tak menghiraukan perkataan Sarah, Hardi menurunkan tangan Sarah yang dari tadi menghalangi dadanya dan mulai melancarkan aksinya kepada Sarah. Ia mulai menciumi batang leher istrinya membuat Sarah merasa geli menjalar di tubuhnya.
Ciumannya terus menyusuri di lehernya hingga membuat gairah Sarah memuncak. Semua bagian tubuh istrinya tak luput dari setiap jamahan tangan Hardi. Mereka pun melakukan hubungan suami istri kembali, cukup lama sampai peluh bercucuran di tubuh mereka berdua.
"Terimakasih sayang, untuk malam ini. Kau sudah bisa mengimbangiku dan terimakasih sudah mau menggunakan lingerie ini" Hardi mengecup kening Sarah yang sebelumnya menyeka keringat yang ada di dahi istrinya. Hardi menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang masih polos.
Sarah hanya tersenyum ke arah Hardi sebagai tanda jawaban, ia merasa senang jika suaminya juga senang. Ia tak mampu menggerakan tubuhnya bukan karena tidak bisa tapi memang malas menggerakan tubuhnya karena sudah terlalu lelah. Malam panas pun berlalu dengan mimpi yang sangat indah.
_____
Sarah membangunkan Hardi karena memang sudah jam 9 malam. Ia ingin mengatakan sesuatu kepada suaminya tersebut.
"Mas, bangun mas" Sarah menggoyangkan tubuh hardi namun tak bergeming.
"Mas, bangun dong. Udah siang nih, aku mau mendiskusikan sesuatu padamu. Bangun mas" ucap Sarah semakin menggoyangkan tubuh Hardi hingga berhasil membangunkan suaminya tersebut.
"Ada apa sih sayang? tak seperti biasanya kau membangunkanku seperti itu" ucap Hardi sambil mengerjapkan matanya dan menguap.
"Begini mas, semalaman aku sudah berpikir dan menimbang-nimbang. Aku akan resign dari TK mas, aku akan fokus ke rumahtangga kita dan Cilla." ucap Sarah mengejutkan Hardi.
"Benarkah? Syukurlah kau melakukan itu, sudah waktunya kau lebih fokus dengan keluarga kita. Masalah pekerjaan biar mas yang bekerja, mas lebih dari mampu untuk membiayaimu dan anak kita" Hardi terlihat sangat bahagia dengan keputusan yang di ambil Sarah. Dulu Hardi pernah menyarankan itu namun Sarah tolak, namun sekarang Sarah melakukannya.
Hardi memeluk Sarah dan mengerucutkan bibirnya hendak mencium Sarah. Namun Sarah menahan dengan telapak tangannya ketika Hardi mendekat.
"Gak mau ah, bau. Mandi dulu sana" Sarah mencoba terus menghindar.
"Dih, segitunya sama suami sendiri" keluh Hardi melepaskan pelukannya.
"Ayo mandi mas, cepetan udah siang" Sarah menarik tangan Hardi agar bangun dari tempat tidur lalu mendorong tubuh Hardi yang malas-malasan kedalam kamar mandi.
"Udah, sekarang mandi" ucap Sarah setelah berhasil mendorong suaminya masuk ke kamar mandi.
"Mandiin..." manja Hardi seperti anak kecil.
"Apaan sih mas! sana mandi sendiri" Sarah kembali mendorong tubuh Hardi dan langsung menutup pintu kamar mandi. Mau tak mau akhirnya Hardi pun mandi sendiri seperti biasanya.
Bersambung........ðŸ¤
Terus dukung Author yah, denga Like, vote dan komentarnya... terimakasih 😊
__ADS_1