
Sebulan sudah Cilla bersekolah, Cilla anak yang cerdas dan mudah bergaul. Hari ini adalah hari bermain sambil belajar. Berbagai alat peraga berbentuk mainan yang telah di warnai macam-macam warna, di tulis huruf dan angka untuk menunjang kreatifitas anak-anak.
Cilla pun mulai menyusun balok-balok angka secara berurutan, bersama empat orang temannya. Memang kelompok anak di bagi menjadi 2 kelompok.
Kelompok pertama di bimbing oleh Sita dan kelompok ke 2 di bimbing oleh Sarah.
Anak-anak sangat senang dan antusias dengan alat peraga yang tersedia. Cilla juga tengah asik menyusunnya, tiba-tiba teman yang di depannya melempar balok itu ke arah Cilla tepat terkena dahinya. Cilla pun menangis, Sarah segera menghampirinya, terlihat dahinya terluka akibat terkena balok mainan yang terbuat dari kayu tersebut.
Sarah panik, lalu ia menggendong Cilla menuju UKS. Cilla langsung di obati, di beri salep untuk menghilangkan memar yang merah sedikit kebiruan. Cilla masih saja menangis, Sarah lalu menggendongnya kembali untuk menenangkan Cilla.
Pihak sekolah menelpon Hardi bahwa anaknya mengalami kecelakaan, tanpa mendengarkan penjelasan karena terlalu panik, ia buru-buru pergi menuju sekolah Cilla.
Tak berapa lama Hardi pun tiba, dia segera masuk kedalam sekolah dan melihat Cilla yang tengah di gendong oleh Sarah.
__ADS_1
"Bagaimana ini, anak saya kenapa? Siapa pengajar yang bertanggung jawab atas anak saya" teriak Hardi karena emosi, menggambil Cilla dari gendongan Sarah.
"Maafkan saya pak" Sarah menyesal ini terjadi.
"Jadi kamu... Kerjamu bagaimana sampai kecolongan gitu, kalo kamu kerjanya becus, anak saya gak akan kayak gini" ucap Hardi masih emosi.
"Kamu gak apa-apa sayang" tanya Hardi lembut kepada putrinya sambil melihat luka di dahi putrinya.
"Maaf pak, tapi itu terjadi begitu saja, namanya juga anak-anak, tak bisa di prediksi. Saya juga sudah memberinya obat untuk menghilangkan memarnya" Sarah masih meminta maaf walaupun ia dimaki-maki.
Para pengajar yang menyaksikan kejadian itu menghampiri Sarah dan mencoba menenangkannya, Sarah yang menahan amarahnya dalam hatinya hanya bersikap tenang di hadapan rekan-rekannya walaupun matanya terlihat memerah berkaca-kaca.
"Memuakkan banget tuh cowok, benci banget melihatnya. Dasar cowok songong, cowok tak tahu sopan santun. Aku harap gak ketemu dia lagi... Sial" geram Sarah dalam hatinya.
__ADS_1
Hardi membawa putrinya masuk ke rumahnya dengan tetap menggendongnya.
"Ayah jangan marah-marah, Ayah juga jangan marahin bu Sarah. Bu sarah baik sama Cilla" ucap Cilla polos.
"Gak sayang, ayah udah gak marah. Lihat kan ayah sudah tersenyum" Hardi menyunggingkan senyum di depan Cilla.
"Bu Sarah baik, tadi Cilla diobatin. Temen Cilla yang lempar mainan" Jelas Cilla dengan suara Khasnya.
"Iya sayang" Hardi menurunkan Cilla di Sofa depan TV.
Tak lama Lia pun datang dan melihat luka di dahi Cilla, lalu Hardi menjelaskan yang terjadi. Lia membawa Cilla ke kamar untuk berganti pakaian Cilla.
"Cilla, ayah berangkat ke kantor lagi yah. Kerjaan ayah banyak, Cilla jangan nakal dan makan yang banyak. Nanti ayah pulang cepat, ayah janji" Hardi memeluk anaknya.
__ADS_1
"Iya ayah" balas Cilla.
Cilla melihat ayahnya pergi dengan melambaikan tangannya dan Hardipun membalas melambaikan tangannya dengan tersenyum manis ke arah putrinya.