
Malam hari yang telah sunyi karena memang sudah larut malam. Semua penghuni rumah sudah tertidur lelap. Yang terdengar hanya dentingan jam dinding dan suara gemercik air di kamar mandi. Namun di kamar Sarah, masih saja asik menonton televisi yang menayangkan acara Drama korea kesukaannya. Terlihat Hardi baru saja keluar dari kamar mandi namun mendengar Sarah berteriak.
"Kkyyyaaaakkkkk......." tiba-tiba Sarah berteriak kencang melihat ke arah suaminya.
"Kau kenapa? diam berisik, nanti orang-orang rumah pada mendengar teriakan kau yang begitu kencang" bisik Hardi panik membekap mulut Sarah dengan telapak tangannya.
Setelah melihat Sarah sudah tenang baru Hardi melepaskan bekapannya secara perlahan, khawatir Sarah akan berteriak kembali.
"Kau kenapa tiba-tiba teriak begitu?" tanya Hardi bingung.
"I...itu... ke...kenapa pak Hardi tak memakai baju? Biasanya kalau habis mandi sudah menggunakan pakaian. Ini malah seperti itu." Ucap Sarah gugup sambil mencoba menutup matanya namun sesekali mengintip di celah jarinya, karena Hardi keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang di ikatkan di pinggangnya. Memperlihatkan dada bidang dan lengan berototnya serta perut yang sixpack.
"Maksudmu ini! Ya ampun Sarah, saya kira ada apa. Kita kan sudah suami istri, tak masalah kan melihat tubuh masing-masing, apa mau saya buka handuknya." Canda Hardi seketika Sarah kembali menutup kedua matanya dengan telapak tangannya, Hal itu membuat Hardi tertawa dengan tingkah istrinya.
"Tapi tolong di tutupi saja pak seperti biasanya, aku belum terbiasa melihatnya." pinta Sarah masih menutup matanya dengan telapak tangannya.
"Iya... iya sebentar. Dasar kau ini." Hardi hendak menuju ke lemari namun ada yang mengetuk pintu kamar mereka dengan memburu.
Membuat Hardi berbalik ke arah pintu lalu membukanya, ternyata di depan pintu kamar Hardi telah banyak orang rumah yang berkumpul, semua asisten rumah tangga dan Devan yang terlihat khawatir. Namun wajah khawatir mereka berubah menjadi merona ketika melihat Hardi hanya mengenakan handuk di pinggangnya serta Sarah yang terlihat menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke leher. Membuat pikiran yang melihatnya mengarah ke sesuatu yang sedang mereka lakukan berdua.
__ADS_1
"Ah... Maaf mas, tadi Aku mendengar teriakkan mbak Sarah yah Aku kira terjadi sesuatu yang gawat. Tapi aku salah kira, yaudah mas lanjutkan kegiatannta. Maaf kita udah ganggu. Lain kali, jangan teriak-teriak juga yah mbak biar orang rumah gak tahu." ucap Devan cengengesan malah menggoda Hardi dan Sarah.
Namun yang lainnya malah terlihat canggung dan meminta maaf karena telah mengganggu. Akhirnya mereka pun pergi dari hadapan Hardi.
Hardi merasa bingung dengan tatapan aneh orang penghuni rumah. Serta perkataan Devan yang sedikit mengganggu pikirannya. Apa jangan-jangan mereka pikir dia sedang melakukan sesuatu dengan Sarah? pikir Hardi yang menyadari jika dirinya tak menggunakan pakaian dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya, Hardi segera menutup pintu kamarnya dan mengenakan pakaiannya.
"Ada apa pak? sepertinya tadi didepan kamar rame sekali? emang kenapa?" tanya Sarah yang asik menonton televisi tanpa memperhatikan kejadian tadi.
"Itu semua gara-gara kau berteriak gak jelas, mereka kira terjadi sesuatu. Makanya mereka mengeceknya ke kamar kita dan saya lupa tak berpakaian jadinya mereka menyangka jika kita sedang melakukan sesuatu, Devan juga melihatmu memakai selimut sampai leher jadi pikirannya tambah ke arah sana." jelas Hardi yang masih merona malu.
"Ma...maaf pak, saya reflek berteriak. Habisnya pak Hardi malah keluar kayak gitu. Soal pakai selimut memang malam ini terasa dingin jadi saya pakai sampai menutupi seluruh tubuh begini." Sarah cengengesan sekaligus merasa malu sendiri.
Hardi ikut duduk di tempat tidur di samping Sarah yang masih asik menonton televisi.
"Terus saya harus bagaimana pak? apa saya harus jungkir balik atau salto begitu." ucap Sarah mulai berani bermain kata.
Hardi malah mencoba mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sarah untuk menggoda istrinya, tangannya mulai bergerak seolah ingin menyentuh istrinya. Sarah mencoba menghindar menjauhkan tubuhnya ketika Hardi yang semakin mendekat. Lalu mencoba mendorong tubuh Hardi yang semakin mendekat dengan kedua tangannya.
"Pak Hardi mau ngapain sih? kan sudah berjanji untuk perlahan dan bertahap. Tolong jangan seperti ini, saya masih khawatir. Kalau pak Hardi masih terus mendekat, saya akan berteriak biar semua orang dengar lagi. Saya hitung sampai 3, jika masih mendekat saya akan berteriak. 1...... 2..... ti.... ti...." ancam Sarah sambil tetap mendorong tubuh suaminya.
__ADS_1
Sebelum Sarah menghitung sampai 3, Hardi menjauh dari tubuh Sarah lalu berbaring membelakangi Sarah.
Sarah menghela nafasnya dan membuangnya kencang lalu mengelus dadanya, "Selamat.. selamat... selamat" batin Sarah merasa lega tak terjadi apa-apa. Lalu ia membaringkan dirinya untuk segera tidur.
Sementara Hardi sudah tak bergeming sama sekali, Sarah pun mengira mungkin Hardi memang sudah terlelap. Masa tidur segampang itu? atau bisa jadi karena ia merasa kecapekan, pikir Sarah. Namun nyatanya Hardi mengerutkan keningnya dengan wajahnya yang cemberut merasa kesal karena malah di dorong menjauh oleh istrinya sendiri ketika keinginannya telah memuncak.
"Dasar Sarah di deketin saja sudah gemetaran seperti itu, aku kan suaminya. Aku juga butuh pelampiasan, 5 bulan masih saja belum ada kemajuan, masa suami istri hanya berpegangan tangan saja. Lagi-lagi hasrat inu harus di tahan.... Sabar... Hardi... Sabar" gerutu Hardi dalam hatinya.
Dengan masih jengkel Hardi mencoba memejamkan matanya untuk tidur, sementara Sarah kembali asik menonton drama korea tanpa melirik pada suaminya lagi dan dengan terpaksa akhirnya Hardi bisa terlelap setelah cukup lama mencoba. Namun tanpa Hardi ketahui, Sarah selalu mencuri pandang ke arahnya di sela-sela ia menonton drama.
Setelah drama koreanya selesai, Sarah menatap suaminya yang tengah tertidur. Ia terus memandangnya lekat-lekat.
"Maafkan aku pak, karena belum bisa memberikan kewajibanku dan hakmu selama ini. Namun aku akan berusaha secepatnya untuk bisa membahagiakanmu dengan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri."
Sarah memberanikan dirinya untuk mengecup kening suaminya sekilas. Dia tersenyum ketika menyadari jika wajah suaminya itu benar-benar tampan di matanya bahkan kata orang lainpun Hardi itu tampan.
Wajah polos Hardi yang terlelap berbanding terbalik dengan wajah tegasnya yang di tampakannya sehari-hari. Membuat jantung Sarah terasa berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Ada apa denganku? Kenapa jantungku seperti ini? terasa sekali debarannya yang bahkan seolah aku bisa mendengar suara degupannya. Perasaan ini pernah aku rasakan saat aku mulai menyukai dan berpacaran dengan Martin. Apa aku sudah mulai menyukai pak Hardi?" batin Sarah yang begitu semerawut memikirkan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Bersambung......
Nantikan up Author selanjutnya 😊