Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Hardi Sakit !


__ADS_3

Hardi sudah siap menunggu Sarah yang sedang mandi. Ia tersenyum senang memikirkan apa yang akan mereka lakukan nanti, ia sangat salah tingkah dan gelisah di buat menunggu seperti ini.


'Sarah lama banget sih mandinya, bukannya mandi dari sore. Malah baru mandi sekarang, bikin orang tak sabar saja' gerutu Hardi dalam batinnya menunggu Sarah yang tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Setelah 30 menit menunggu akhirnya Sarah keluar juga dengan menggunakan baju handuk dan handuk kecil melingkar di kepalanya membungkus rambutnya yang basah. Hardi melihatnya tersenyum lebar karena hal yang ditunggunya akan tiba. Ia segera berjalan cepat menghampiri Sarah yang masih berjalan pelan dan seperti ada yang ingin ia bicarakan pada suaminya. Namun Hardi yang sudah keburu nafsu langsung merangkul pinggang Sarah dan langsung menarik dekat kepada tubuhnya, tanpa aba-aba ia langsung mencium istrinya sampai Sarah tak bisa berkata apa-apa, matanya hanya terbelalak dengan serangan tiba-tiba dari suaminya itu.


Hardi terus saja mencium bibir istrinya dan sekarang memepetkan tubuh Sarah hingga bersandar di dinding kamarnya. Sarah berusaha melepaskan dirinya namun tetap saja tidak bisa karena kekuatan Hardi lebih daripadanya. Tangan Hardi sudah bersiap menjelajah ke tubuh Sarah, ia menyusupkan tangannya kebalik celah yang ada di dada Sarah. Hardi mulai meremasnya sedikit kencang hingga Sarah memekik dan meringis menahan perih.


Menyadari reaksi Sarah, akhirnya Hardi menghentikan kegiatannya dan melepaskan ciumannya. "Kau kenapa?" tanya Hardi.


Sarah menghela nafasnya yang sekarang sudah bisa bernafas bebas setelah tadi ia kesulitan bernafas karena ulah suaminya. "Sakit mas, jangan sentuh di situ dan jangan lakukan itu malam ini" ucap Sarah sambil sedikit merasakan nyeri di dadanya.


"Emang kenapa sayang? biasanya juga aku melakukan seperti itu. Terus kenapa jangan malam ini?" Hardi balik bertanya karena heran.


"Aku haid mas" balas Sarah singkat.


"Kenapa kau tak bilang dari tadi?" keluh Hardi sambil menghembuskan nafas kuat tanda kekecewaan.


"Bukannya aku tak bilang, tapi kan mas sendiri yang langsung menyerangku waktu aku keluar dari kamar mandi sampai aku tak sempat bisa berkata apa-apa" balas Sarah.


"Duh bagaimana ini, si junior sudah on tapi tak bisa tertuntaskan." lagi-lagi Hardi mengeluh dan menunduk lesu lalu menjauhkan tubuhnya dari Sarah.


Hardi berjalan lunglai menuju ke pintu kamar lalu membukanya dan hendak keluar dari kamar. Sarah yang melihatnya berseru dan bertanya pada suaminya, "Mas mau kemana?"


"Aku mau berenang untuk mendinginkan kembali tubuh dan pikiranku agar 'ia' tertidur" Hardi terus melanjutkan langkah lunglainya menuju kolam renang.


Sarah yang mendengarnya merasa kasihan juga, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika tamu bulanan sudah datang yah mau tidak mau ia harus menolak kemauan suaminya.


Hardi membuka bajunya, ia hanya menggunakan boxer untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Malam memang terasa dingin namun bagi Hardi tubuhnya terasa panas karena hasrat yang tidak bisa ia salurkan. Hardi loncat kedalam kolam renang, ia menenggelamkan dirinya beberapa saat dan menahan nafasnya.


Lalu ia muncul lagi dari dalam air dan mulai berenang bolak-balik beberapa kali hingga ia mulai merasa kedinginan. Setelah dingin mulai menusuk kulit, Hardi keluar dari kolam renang. Ia mengambil handuk mengeringkan semua badannya setelah itu ia segera masuk dengan tubuh menggigil menuju ke kamarnya.


Hardi masuk kamat masih dengan tubuh gemetaran, Sarah yang masih belum tidur langsung bangkit menghampiri Hardi yang menggigil kedinginan.

__ADS_1


"Kau kenapa mas? kau kedinginan?" tanya Sarah khawatir.


"Ia sayang, beri mas selimut" balas Hardi.


Sarah menyuruh Hardi untuk berpakaian terlebih dahulu agar tak terlalu kedinginan lalu ia menyelimuti tubuh suaminya itu yang masih duduk di sofa samping tempat tidur. Hardi terus saja bersin-bersin sampai hidungnya memerah membuat Sarah tambah khawatir. Sarah mengambil minyak kayu putih dan membalurkan nya ke tubuh Hardi agar menambah hangat tubuh suaminya itu. Lalu Sarah beranjak keluar dan membuatkan teh madu hangat untuk Hardi.


Sarah memberikan teh madu ke Hardi dan Hardi langsung meneguk teh madu hangat sedikit demi sedikit.


"Mas ini, kenapa sih harus berenang malam-malam begini? kan sekarang jadi flu dan kedinginan" ujar Sarah yang terus menyelimuti tubuh suaminya.


"Ini semua juga kan karena kau juga sayang" balas Hardi sudah mulai merasa hangat.


"Iya maafkan aku, mas. Lagian mas juga jangan main serang saja, aku yang tadinya mau bilang jadi tak bisa" balas Sarah.


"Dari pada berenang, kenapa mas tak menuntaskannya sendiri di kamar mandi?" lanjut Sarah.


"Pantang bagi Hardi Malik melakukan itu" balas Hardi tegas.


"Beneran? emang beneran gak pernah?" tanya Sarah menggoda.


"Benar apa benar?" Sarah terus menggodanya.


"Be...neran.... udah ah aku mau tidur, ngantuk" ucap Hardi dengan nada sedikit gugup lalu beranjak ke tempat tidur dan membatingkan tubuhnya.


Tiba-tiba tawa Sarah pecah, ia tahu jawaban yang sebenarnya dari nada gugup Hardi. Ia yakin tak akan ada pria dewasa yang tidak melakukan itu sendiri untuk menghilangkan hasratnya.


________


Pagi hari Hardi masih berbaring di tempat tidur, ia merasa tidak enak badan dan malas untuk bangun. Sarah yang sudah rapi karena akan mengantar Cilla sekolah lalu menghampiri Hardi yang masih berselimut di atas tempat tidur.


"Mas tidak kerja?" tanya Sarah lalu duduk di samping Hardi.


"Tidak sayang, sepertinya mas tidak enak badan" balas Hardi. Lalu Sarah menyentuh kening suaminya tersebut dan ternyata memang sedikit demam.

__ADS_1


"Mas demam, biat aku ambilkan obat dan aku akan menyuruh pak Tono untuk mengantar Cilla ke sekolah" ucap Sarah.


"Tak apa, mas bisa sendiri. Kau antar Cilla saja" balas Hardi.


"Tidak mas, aku akan menjaga kamu saja" balas Sarah.


Sarah pun menghampiri Cilla di ruang makan dan mengatakan jika ayahnya sakit jadi Sarah tak bisa mengantar Cilla. Cilla pun memaklumi jika bundanya harus menjaga ayahnya yang sakit. Cilla juga berkata ia bisa berangkat sekolah dengan mbak Lia saja. Sarah pun memuji Cilla bahwa Cilla sudah bisa mandiri dan sudah terlihat sudah besar.


Sarah kembali ke kamar sambil membawa bubur dan susu hangat untuk Hardi.


"Mas, ini makan buburnya agar cepat sembuh" ucap Sarah sambil menyerahkan mangkuk ke arah Hardi.


"Suapin" ucap Hardi manja.


"Ih udah dewasa dan punya anak tetep aja manja kayak anak kecil, kalah sama Cilla." Ledek Sarah.


"Biarin, suapin... aaaaa" ucap Hardi semakin manja dan membuka mulutnya lebar.


Sarah hanya tersenyum dengan tingkah suaminya lalu ia pun mulai menyuapi Hardi sebagaimana ia menyuapi Cilla dulu. Hardi yang menerimanya sangat senang, kapan lagi ia bisa bermanja-manja minta di suapi jika dia tak sakit seperti ini. Boleh kan sekali-kali ia bersikap manja pada istrinnya karena selama ini memang ia yang selalu memanjakan istri dan anaknya.


"Ngomong-ngomong kau sudah melepas KB?" tanya Hardi.


"Sudah sebulan yang lalu mas" balas Sarah.


"Sepertinya kau sudah siap sekali punya anak" ucap Hardi.


"Iya pasti mas, aku sayang sekali pada Cilla tapi aku juga ingin memiliki anak dari rahimku sendiri" ucap Sarah sambil mengelus pelan perutnya.


"Suatu saat pasti akan Hadir buah hati kita di dalam perutmu ini" balas Hardi sambil memegang perut Istrinya.


"Semoga secepatnya yah sayang" ucap Sarah.


"Iya sayang" balas Hardi lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Bersambung.....


Selalu dukung Author yah dengan Vote, like dan komen... terimakasih


__ADS_2