Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Keharmonisan


__ADS_3

Dengan mata masih terpejam, Sita mencium aroma teh yang menyegarkan, membuatnya membuka matanya hingga dia pun terbangun. Terlihat Rio sedang duduk membawa nampan yang diatasnya terdapat roti panggang dan teh melati untuk sarapan, dengan senyuman manisnya membuat Sita semakin tak percaya jika Rio telah menjadi suaminya.


' Lelaki gagah dan tampan duduk membawa sarapan, aku masih tak percaya orang yang tengah duduk di sampingku ini adalah suamiku.' batin Sita dengan membalas senyum manis suaminya.


Sita mencoba bangun untuk duduk di tepi ranjang, namun tiba-tiba dia meringis akan merasakan sesuatu yang perih di bagian tubuhnya.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Rio khawatir.


" Tidak apa-apa mas, cuma perih sedikit." balas Sita yang akhirnya sudah bisa duduk di tepi tempat tidur.


" Benar-benar perih sayang? aku minta maaf yah." ujar Rio tak tega pada istrinya.


" Apaan sih mas ini sampai minta maaf segala! aku benar-benar tidak apa-apa mas, ini kan wajat bagi wanita yang baru pertama kali." ujar Sita tersenyum manis menandakan bahwa dia tidak apa-apa.


" Aku khawatir aja sayang, takutnya kenapa-kenapa." balas Rio dan Sita lagi-lagi dibuatnya tersenyum dengan tingkah Rio yang seperti pria lugu.


Sita segera meraih teh dan meminumnya, betapa menyegarkan harumnya membuatnya terasa nyaman. Lalu ia pun mengambil rotinya dan langsung melahapnya perlahan sampai sisa setengahnya. Sita hendak ke kamar mandi sehingga ia ingin turun dari ranjangnya, baru saja ia ingin melangkahkan kakinya lagi-lagi rasa perih itu terasa sehingga ia menghentikan langkahnya. Rio yang melihat wajah istrinya yang meringis lalu berinisiatif untuk membantu memapah Sita hingga sampai ke kamar mandi, lagi-lagi Rio meminta maaf pada Sita dengan penuh


penyesalan. Rio menutup pintu kamar mandi setelah memapah Sita sampai ke kloset disana, Rio benar-benar terlihat khawatir apakah dia melakukan kesalahan sampai-sampai menyakiti istrinya seperti itu? pikirnya. Sita yang duduk di kloset tertawa geli namun tak bersuara, apakah dia menikahi pria sepolos itu sampai tak tahu jika pertama melakukan itu pasti sedikit menyakitkan namun kedepannya akan biasa saja! pikirnya.


___________


Kesibukan Hardi di kantor juga sudah sedikit berkurang sehingga ia bisa sedikit banyak m luangkan waktu untuk keluarganya. Arka dan Arsa sekarang sudah semakin banyak memperlihatkan perkembangan sistem motorik yang baik, itu pun selalu Hardi dan Sarah diskusikan dengan dokter anak akan gizi dan makanan yang baik yang akan menunjang pertumbuhan mereka.


Siang ini Arka dan Arsa sudah tidur siang sementara Cilla belum pulang karena sepulang sekolah Cilla langsung saja ke tempat les bahasa inggris jadi Sarah bisa bersantai sejenak duduk di kursi dekat jendela di kamarnya sambil menatap keluar melihat taman dengan menikmati segelas jus dan cemilan ringan.


Tiba-tiba Sarah di kejutkan dengan suara pintu yang terbuka hingga dia melihat ke arah pintu yang terbuka yang ternyata Hardi masuk dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


" Mas, baru jam 1 siang sudah pulang?" tanya Sarah.


" Iya sayang, kebetulan pekerjaan mas tak begitu banyak hari ini hingga mas pulang cepat untuk bertemu kalian." balas Hardi, wajah hardi yang tadinya mengembangkan senyumannya lalu berubah murung ketika melihat kedua putranya sedang tidur.


" Yaahhhh... mereka kok malah tidur tadinya kan mas ingin bermain dengan mereka." ucap Hardi kecewa.


" Yeh memang ini waktunya tidur siang mereka kok mas, nanti juga dia bangun." ujar Sarah.


" Yah... mas jadi mau ngapain dong sambil menunggu mereka bangun?" keluh Hardi tapi seketika itu juga wajahnya kembali tersenyum seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.


" Sayang, coba mendekat kesini, kenapa suami datang tak disambut sih!" Pinta Hardi sambil melambaikan tangannya untuk Sarah mendekat.


Sarah beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati suaminya, belum juga dekat Hardi segera meraih tangan Sarah menariknya lalu memeluknya dengan erat. Sarah sedikit tersentak karena perlakuan Hardi yang secara tiba-tiba tanpa aba-aba namun kemudian dia tersenyum dan membalas pelukkan suaminya. Lalu Hardi melepaskan pelukannya dengan tangan masih melingkar di pinggang istrinya lalu menatapnya lekat wajah istrinya tiba-tiba mengecup bibir istrinya, lagi-lagi Sarah terkejut. Hardi hanya tersenyum menatap kembali wajah Sarah, mereka saling berpandangan sejenak lalu tanpa aba-aba wajah mereka saling mendekat, memiringkan sedikit ke arah berlawanan dan bibir mereka pun bertemu bergerak walau tanpa irama mengikuti getaran kerinduan dalam hati mereka berdua. Memang cukup sulit bagi mereka menikmati waktu berdua karena sibuknya pekerjaan Hardi dan kesibukan Sarah dalam merawak buah hati mereka. Cukup lama mereka berciuman melepas rindu hingga pelukan mereka semakin erat namun mereka masih berdiri di tempat mereka berada semula tiba-tiba suara tangisan menghentikan keduanya. Hardi dan Sarah serentak menjauh melepaskan pelukannya, mereka terlihat tersenyum canggung lalu tersenyum renyah dan keduanya melap bibir mereka yang basah dengan telapak tangan mereka masing-masing.


Sarah segera menghampiri ranjangnya dan segera menggendong Arka yang menangis kareba terbangun dari tidurnya, Sarah mencoba menenangkan Arka lalu Sarah duduk di tepi ranjang dan menyusui Arka hingga tangisannya pun reda. Sementara Arsa masih saja terlelap tidur tanpa merasa terganggu dengan suara tangisan dari sodaranya. Sarah kemudian melihat Hardi yang sekarang duduk di sofa dekat ranjangnya, Hardi mengedipkan matanya dan tersenyum nakal ke arah Sarah membuat Sarah tersipu mali dan membalas senyuman Hardi walau sambil memalingkan wajahnya.


_______


Hardi telah berganti pakaian dengan pakaian santainya, Cilla berlari menerobos kamar orangtuanya sampai pintu pun terbuka dengan keras. Ddduuuurrrkkkk


" Aku pulang...." teriak Cilla.


" Sssttttttttt..... jangan berisik Cilla, lihat adikadikmu lagi pada tidur." ujar Hardi dengan telunjuk di letakkan di bibirnya.


" Ayah! kok ayah sudah pulang, ini kan masih siang." ucap Cilla heran karena biasanya ayahnya pulang malam.


" Biarin, ayah kan ingin bersama anak-anak ayah." ucap Hardi lalu menggendong Cilla.

__ADS_1


" Wah sekarang putri ayah sudah besar yah, ayah sudah gak kuat lagi gendongnya sampai punggung ayah sakit begini." ucap Hardi sambil pura-pura membungkuk dan meringis.


" Yeh ayah yasudah turunin Cilla, Cilla gak mau buat ayah sakit. Cilla tahu kok ayah udah tua hihihi." ejek Cilla.


" Apa kamu bilang? Lihat ini ayah masih segar dan sehat, jangan meledek yah. Mau ayah angkat setinggi apa, seperti ini! seperti ini." ucap Hardi sambil mengangkat-angkat tubuh Cilla hingga membuat Cilla tertawa.


" Hehehehehhe iya iya, ayah masih kuat dan ganteng, udah ayah turunin Cilla, ayah turunin Cilla sekarang." pinta Cilla ketika Hardi terus saja mengangkat-angkat tubuh kecil Cilla.


" Kamu ini makan apa sih, ringan banget? makan yang banyak biar ndutan." ucap Hardi sambil menurunkan tubuh Cilla.


" Iya mas, belakang ini Cilla susah sekali makanannya. Dia pilah pilih makanan terus, malah suaknya jajan ciki, permen dan eskrim terus." jawab Sarah.


" Cilla, jangan kayak gitu. Cilla harus banyak makan makanan yang bergizi seperti sayuran dan buah-buahan, jangan sering makan-makanan ringan yah, itu kan pakai bahan pengawet, gak baik untuk tubuh." ujar Hardi.


" Tapi enak ayah." balas Cilla.


" Udah turuti kata-kata ayah, biar Cilla kuat seperti ayah." tambah Sarah.


" Iya bunda." balas Cilla.


Sarah menyuruh Cilla untuk berganti pakaian dengan pakaian santainya karena dari tadi Cilla masih saja memakai pakaian seragam sekolahnya. Cilla pun keluar kamar orangtuanya lalu berlari dan berteriak memanggil nama Lia untuk membantunya berganti pakaian.


Bersambung.....


Apa pembaca suka dengan cerita author?


Jangan lupa tinggalkan jejak.... terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2