Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Season 2 : Rela!


__ADS_3

" Reza!!!"


" Cilla!!!"


Keduanya berteriak secara bersamaan dan Adrian hanya bisa diam memandang keduanya dan ia ikut bingung dengan situasinya.


" Kalian saling kenal?" tanya Adrian penuh tanya.


" Eh itu... iya, kami satu sekolah SMA dan sekarang satu kampus walau tak satu jurusan." balas Reza yang kemudian duduk di samping Adrian.


" Memangnya Adrian kenal Reza?" tanya Cilla.


" Reza itu adik aku yang sering aku ceritakan padamu." Balas Adrian.


" Reza, ini pacar abang yang sering abang ceritakan sama loe, tapi mungkin tak perlu abang kenalkan lebih jauh mungkin loe juga udah tahu, kan sudah kenal lama juga." Tambah Adrian.


Cilla dan Reza terlihat sangat canggung, sesekali mereka mencuri pandang namun hanya sekilas dan berusaha untuk bersikap tenang di hadapan Adrian. Terutama Adrian terus saja bersikap manis kepada Cilla membuat Reza merasa tidak nyaman.


" Loe sekalian mau makan bareng? Ntar gue pesankan."


" Gak perlu bang, gue udah makan tadi. Baru selesai makan terus gue lihat loe, jadi gue nyamperin. Yasudah.... gue juga ada urusan sama temen gue... itu... gue permisi... selamat bersenang-senang...." Reza beranjak dari duduknya pergi meninggalkan Adrian dan Cilla, Reza yang tadinya tersenyum manis di hadapan Adrian tiba-tiba berubah ekspresi ketika sudah pergi dari hadapan kakaknya itu.


' Ternyata Cilla pacar abang gue, padahal gue berharap masih punya kesempatan untuk mendapatkan Cilla. Kalau sudah seperti ini, pupus sudah harapan gue, tapi gue harus dukung hubungan abang gue. Gue sayang sama Cilla tapi gue lebih sayang sama hubungan keluarga gue. Semoga bang Adrian bisa lebih membahagiakan Cilla, mulai hari ini gue menyerah untuk Cilla.' ucap Reza dalam batinnya, tak terasa matanya terlihat berkaca-kaca.


Sementara itu Cilla pun hanya diam saja dan memakan makanannya sedikit demi sedikit seperti tidak nafsu makan, pikirannya seperti entah kemana dan itu membuat Adrian yang dari tadi memperhatikannya merasa tak nyaman.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Adrian yang membuyarkan lamunan Cilla.


" Oh... gak... gak apa-apa."


" Kalau tak apa-apa, makanlah yang benar, jangan hanya di aduk-aduk aja nanti tak enak makanannya."


" Oh... iya, aku akan... makan." Seketika Cilla menyadari jika makanan di piringnya sudah terlihat tak karuan, lalu Cilla memakannya sedikit demi sedikit dengan malas. Adrian memperhatikan kekasihnya itu dengan penuh tanda tanya.


" Apa kita nonton dulu? Kebetulan ada film yang baru tayang hari ini. Bagaimana?"


" Sepertinya tak bisa malam ini, aku sedikit pusing tak enak badan." Cilla memegangi kepalanya yang sebenarnya tidak pusing sama sekali namun dia merasa tak semangat untuk hari ini, daripada menghabiskan waktu bersama Adrian namun pikirannya tak disana nanti akan membuat Adrian tidak nyaman.


" Yasudah, kalau begitu biar aku antar kamu pulang." Adrian terlihat sangat kecewa karena ajakannya di tolak oleh Cilla.


__________


Sesampainya di rumah, Cilla menghempaskan dirinya di atas tempat tidur, pikiran dan hatinya sedang semerawut. Cilla tak menyangka bahwa Reza adalah adiknya Adrian, padahal mereka sangat jauh berbeda. Reza yang pecicilan sangat jauh dengan Adrian yang kalem dan penyabar. Cilla memang sudah sangat menyukai Adrian namun hatinya bergetar ketika bertemu kembali dengan Reza. ' Kenapa aku ini? Reza kan hanya anak pengganggu yang suka menjahiliku, tak ada rasa sedikitpun padanya. Namun ketika tahu dia adiknya Adrian, kenapa aku merasa goyah? Memang sih dulu aku merasa kesepian ketika Reza pergi namun itu hanya sekedar kebiasaan bukan menyangkut perasaan, hah.... aku juga tak tahu pasti, apa yang aku rasakan saat ini. Aku sangat yakin bahwa aku menyukai Adrian dengan tulus dan aku tak memiliki perasaan apapun pada Reza. Cilla, yakinlah pada perasaanmu.' gumam Cilla.


" Ah... daripada kalut, mending mandi terus tidur. Semoga besok bisa baik kembali." ungkapnya pada diri sendiri, lalu Cilla pun beranjak ke kamar mandi.


Di rumah, Adrian pun menghempaskan dirinya di sofa dengan menghela nafas panjang, karena hari ini Cilla terlihat beda dari biasanya dan Cilla tak pernah menolak ajakannya sekalipun tapi sekarang tidak begitu. Reza pun menghampirinya dan mencoba bersikap biasa aja pada kakaknya.


" Kenapa bang? Habis kencan kok malah kusut gitu!" tanya Reza yang ikut duduk di samping Adrian.


" Iya sih tapi gue gak tahu hari ini kok Cilla gak mau gue ajak nonton untuk menghabiskan waktu lebih lama gitu, tak seperti biasanya."


" Mungkin dia capek kali bang!"


" Iya bisa jadi sih, cuma sikapnya gak seperti biasanya. Padahal pas awal ketemu, dia kelihatan senang banget karena sudah gak di kawal bodyguard lagi tapi sikapnya berubah setelah makan malam tadi." ujar Adrian sambil kembali menghela nafas panjang.


" Positif thinking aja bang, mungkin lagi dapet. Kan cewek kalau lagi dapet, moodnya berubah-ubah."


" Iya bener Za, mungkin aja dia lagi datang bulan yah."


Reza hanya tersenyum hambar, dalam hatinya mungkin karena kedatangannya saat itu Cilla jadi berubah, Reza juga berpikir apa mungkin Cilla memiliki perasaan kepadanya. Tadinya Reza ingin memberitahu Adrian bahwa dia memiliki perasaan kepada Culla namun Reza gak mungkin memberitahu Adrian kalau dulu dia menyukai Cilla, bahkan sampai sekarang perasaannya masih sama. Reza tak ingin membuat Adrian berpikiran yang aneh-aneh dan malah bisa mengganggu hubungan mereka.


_____________


Hardi sedang berkutat dengan pekerjaannya, beberapa berkas menumpuk di atas meja kerjanya. Lalu terdengar suara ketukan pintu dan Rio pun masuk dengan sebuah berkas dokumen di tangannya.


" Maaf pak, ini dokumen yang bapak minta."


" Iya, simpan saja di atas meja. Oh iya, bagaimana dengan aktivitas Cilla hari ini." Hardi menyenderkan punggungnya lalu menatap ke arah Rio dengan jari tangan sebelah kiri memainkan penanya.


" Nona Cilla hari ini, sepulang kuliah dia ke rumah Amel, sahabatnya saat SMA. Disana nona Cilla sampai malam lalu ia bertemu dengan Adrian namun hanya satu jam hanya untuk makan malam, setelah itu nona Cilla langsung pulang ke rumah."


" Ok, kerja bagus hari ini. Kamu boleh pulang sekarang."


" Terimakasih pak." Rio pun meninggalkan ruangan Hardi.

__ADS_1


' Belakangan ini mereka jarang sekali bertemu mungkin karena pekerjaan yang aku berikan kepada Adrian, namun dari pantauan sekarang Adrian tak berbuat macam-macam pada Cilla, apa benar dia lelaki yang baik? Ah... lihat kedepannya nanti, jangan cepat mengambil kesimpulan." batin Hardi.


_________


Hardi membuka pintu kamarnya secara perlahan agar tak mengganggu tidur Sarah namun ketika Hardi masuk ternyata Sarah masih duduk di atas tempat tidur dengan buku di tangannya.


" Kamu belum tidur?" tanya Hardi.


" Eh... Mas baru pulang! Kenapa selarut ini?" Sarah membuka kacamata bacanya lalu menoleh ke arah Hardi.


" Iya sayang, soalnya banyak pekerjaan." Hardi memijat tengkuknya yang terasa pegal. Sarah menghampiri Hardi dan membantu membuka jas yang di pakai suaminya.


" Yasudah, mas buka juga kemejanya biar aku yang taruh ke keranjang cuci, Mas mandi air hangat dulu lalu tidur. Sekalian aku buatkan mas teh hangat."


" Terimakasih sayang, mas mandi dulu." Hardi pun beranjak ke kamar mandi, Sarah meletakan pakaian Hardi di keranjang cuci lalu keluar untuk membuatkan Hardi teh hangat.


Ketika sedang membuat teh hangat salah satu Asisten rumah tangganya ke dapur untuk mengambil minum dan melihat Sarah berada di sana.


" Eh nyonya, biar saya yang buatkan."


" Tak apa bi, saya saja yang buat. Bibi kenapa bangun tengah malam begini?"


" Bibi hanya ingin mengambil air minum, nyonya."


" Yasudah, saya sudah selesai. Saya kembali ke kamar dulu."


" Iya nyonya." sambil menundukan kepalanya.


Sarah kembali masuk ke kamarnya dan melihat Hardi sudah berbaring di tempat tidur, lalu menghampirinya. Terlihat Hardi sudah terlelap, Sarah mengelus kepala Hardi dan sedikit membangunkannya.


" Mas, ini aku sudah buatkan teh nya." Ucap Sarah pelan namun tak ada respon dari suaminya.


" Oh, sepertinya mas Hardi sudah tidur. Selamat tidur sayang." Sarah mengecup kening suaminya lalu meletakkan secangkir teh di atas meja kecil di samping tempat tidur dan dia pun naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring di samping suaminya.


__________


Jam mata kuliah sedang berjalan, Cilla sangat serius memperhatikan dosen yang sedang menerangkan materinya, sesekali ia mencatat apa yang di anggapnya penting. Meskipun di sekitarnya masih saja banyak mahasiswa yang tak fokus akan menyimak materinya tapi lain halnya dengan Cilla.


Jam mata kuliah pun selesai, Cilla membereskan alat tulisnya lalu keluar ruang kelas. Di luar kedua sahabatnya telah menunggu, Cilla terus berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Lalu Cilla bertabrakan dengan seseorang yang ternyata itu adalah Reza.


" Ok, gak apa-apa." Reza tersenyum canggung.


" Oh... Yasudah... Aku.. kesana dulu." ucap Cilla salah tingkah dan ia pun beranjak pergi namun baru saja berbalik Reza memanggilnya.


" Cilla, bisa bicara sebentar?"


" Apa? tapi... teman-teman aku sudah nunggu."


" Sebeeentaaar saja." pinta Reza seakan memohon.


Cilla pun memberi kode pada teman-temannya dan teman-temannya pun mengangguk dan menunjuk ke arah kursi taman kampus, tanda mereka bisa menunggu di sana.


" Ok, mau bicara di mana?"


" Di ruang kelas saja, mumpung tak ada kelas."


Cilla dan Reza pun masuk keruang kelas kosong dan duduk di kursi paling atas.


" Ok, apa yang ingin kamu bicarakan?"


" Aku suka kamu." ucap Reza to the point.


" Apa katamu? Kamu tahu kan kalau aku ini pacar kakakmu, aku......." dengan nada tinggi Cilla sangat terkejut mendengan pernyataan Cinta dari Reza.


" Dengar dulu, aku bukan nembak kamu. Tapi... aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku padamu yang selama ini aku pendam. Sebenarnya saat SMA aku selalu mengganggumu dan menjahilimu itu bukan karena aku benci sama kamu tapi itu caraku untuk dekat dengan kamu. Maaf kalau selama di SMA aku menjengkelkan dan selalu membuatmu marah. Dan ini.... bukan aku ingin meminta kamu juga menyukaiku tapi aku hanya ingin kamu tahu tentang perasaanku."


" Iya, terimakasih. Tapi aku harap kamu bisa menghilangkan perasaanmu terhadapku, karena sekarang aku adalah pacar kakakmu. Aku serius menjalaninya, untuk kedepannya aku harap masih bisa bersama Adrian." ucap Cilla merasa tidak enak. (' Kenapa kamu mengungkapkan perasaanmu di waktu dan keadaan yang sudah terlambat.' batin Cilla)


" Iya aku tahu... Aku hanya mengungkapkannya saja agar hatiku juga jadi lega... Aku juga akan mendukung hubunganmu dengan abang aku."


" Sekali lagi terimakasih." ucap Cilla lirih.


" Yasudah, hanya itu yang ingin aku bicarakan, terimakasih dengan waktunya. Aku permisi." Reza pun pergi meninggalkan Cilla yang masih diam karena Cilla terlihat masih tak percaya jika selama ini Reza menyukainya bukan membencinya.


Tiba-tiba air mata Cilla keluar begitu saja tanpa ia inginkan. ' Kenapa ini? Kenapa aku menangis? ini kan bukan apa-apa, ini hanya pernyataan Reza saja. Cilla please... kamu tak punya rasa untuk Reza, kamu itu cinta sama Adrian, hanya Adrian.' gumam Cilla sambil mengusap air mata di pipinya.

__ADS_1


Disisi lain, Reza yang terlihat tegar di sisi Cilla pun terlihat lemah setelah meninggalkan Cilla. Hatinya tak sejalan dengan pikirannya, ia merasa sakit dan tak ingin perasaannya berlalu begitu saja. Namun ia sadar jika Cilla sudah sangat jauh dari genggamannya, Cilla sudah milik Adrian. Reza tak ingin hanya karena keegoisannya hubungan persaudaraan mereka hancur, biarlah ia yang mengalah, biarlah ia yang membuang perasaannya, biarlah ia yang menanggung rasa sakitnya. Pertalian darah tal bisa terputus begitu saja, rasa sayang akan kakaknya lebih besar dari pada rasa sayangnya pada orang yang ia sukai.


Cilla keluar dari ruang kelas untuk bertemu dengan teman-temannya yang telah cukup lama menunggunya. Cilla menghampiri kedua sahabatnya dengan senyuman manisnya walau terkesan memaksakan.


" Cilla, Reza bilang apa? Aku lihat Reza keluar begitu saja dengan langkah cepat." Tanya Citra.


" Gak ada apa-apa, cuma ada omongan yang aku juga tak mengerti.... Yasudah.... tak penting juga."


Sebenarnya Dona dan Citra memperhatikan Cilla yang terlihat sembab di matanya yang terlihat ditutupi riasan oleh Cilla namun mata tak bisa berbohong. Mereka tak menanyakan. lebih lanjut perihal apa yang Cilla dan Reza bicarakan, mereka hanya bisa mensupport agar Cilla kembali semula.


" Yasudah, kita ke cafe dekat sini, sekalian cuci mata, siapa tahu ada cowok-cowok ganteng yang lagi nongkrong juga." ajak Dona bersemangat ( Mencoba mengalihkan suasana).


" Aku sih bakalan jaga mata yah, kan udah punya Adrian." Balas Cilla.


" Ok siap nyonya, berikan kesempatan untuk kami si jomblo dari lahir hiks hiks hiks." Ucap Dona pura-pura nangis.


" Hayo ah, capsus mumpung masih sore." ajak Citra lalu merangkulkan tangannya di pundak Dona dan Cilla. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan kampus mereka.


Mereka bertiga duduk di cafe dan memesan minuman masing-masing, mata Citra dan Dona terus saja melihat-lihat sekeliling. Mereka berdua berharap ada pria tampan di sekitarnya. Lalu pandangan mereka terhenti pada pria-pria yang duduk di ujung cafe, terlihat 3 pria seusia mereka yang tampang mereka lebih dari kata lumayan. Ketiga pria itu saling berbincang satu sama lain dan tak sengaja mata mereka bertemu pandang, ketiga pria itu tersenyum lalu beranjak dari duduknya menuju tempat Dona, Citra dan Cilla duduk.


" Eh... eh... lihat tuh mereka nyamperin kita." ucap Dona kesenangan.


" Iya beneran loh, mereka kesini." ucap Citra jadi salah tingkah.


" Apaan sih? Kalian sih dari tadi genit tengok sana sini." ketus Cilla.


" Yah gak apa-apa kali, tok mereka cakep-cakep hehehe." balas Dona.


Ketiga pria itu pun sudah berada di depan meja mereka.


" Halo... boleh gabung." tanya salah seorang pria berbaju biru.


" Ah... boleh ... duduk aja..." balas Dona terbata-bata dengan senyuman terus mengembang di bibirnya.


Ketiga pria itu pun duduk dan sekarang mereka bertiga saling berhadapan.


" Oh iya, perkanalkan nama aku Arman." ucap Pria berkaos merah sambil mengulurkan tangannya.


" Nama aku Damar." ucap pria berkemeja biru dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


" Aku Mario, senang berkenalan dengan kalian." ucap pria berjaket denim.


" Oh iya, aku Dona, ini Citra dan ini Cilla." ujar Dona memperkenalkan kedua sahabatnya.


" Kami gak ganggu kan?" tanya Arman.


" Oh gak lah, aku senang malah rame kan." balas Citra.


" Iya, tak masalah. Bagus kan punya kenalan baru." tambah Dona yang mulai salah tingkah.


" Oh iya, kalian kuliah?" tanya Mario namun pandangannya terarah pada Cilla namun Cilla hanya diam saja.


" Iya... kami baru saja pulang kuliah, terus mampir kesini untuk cuci mata." balas Citra dengan senyuman khasnya.


" Kalian juga baru pulang kuliah?" tanya Dona penasaran.


" Ah gak, kami udah pada kerja kok. Sekarang lagi cari inspirasi saja makanya keluar kantor." balas Damar.


" Masa sih? Kalian kerja dengan pakaian santai begitu?" heran Dona.


" Beneran, kami ini bekerja di bidang mengembangkan aplikasi games, bisa di bilang kami ini pengembang atau pembuat games-games online gitu." jelas Damar.


" Iya... dan ini CEO kami." ujar Arman menepuk pundak Mario.


" Wah.... hebat yah, enak pastinya bekerja di tempat yang tak mesti harus berpakaian rapi atau bersikap kaku begitu." ujar Citra.


" Iya, di perusahaan kami itu lebih menekankan kepada kreativitas bukan aturan yang mengikat, yang penting hasil yang di capai sesuai yang di inginkan." balas Mario.


" Wah... kalau CEO beda yah ngomongnya, berat." ucap Dona dan semua orang pun tertawa namun Cilla hanya tersenyum tipis saja sambil menyeruput minumannya. Mario yang terus memperhatikan Cilla pun tersenyum manis dan tak melepas pandangannya kepada Cilla.


Bersambung....


Terimakasih pada pembaca setia.


Selalu dukung Author dengan cara memberi Hadiah, Vote, like dan Komen yah ☺️

__ADS_1


__ADS_2