
Devan yang dulu hanya ingin mengenyam pendidikan di LA dan akan kembali ke Indonesia, sekarang memutuskan untuk tinggal di sana, selain mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ternama di sana, Devan sekarang sudah menjadi seorang suami dan bahkan menjadi seorang ayah dari seorang putra yang dia beri nama Leo. Leo sekarang sudah berusia 2 tahun, memang Devan menikah baru 3 tahun ini dengan kekasihnya yang bukan lain adalah Bella. Perpaduan dari wajah Devan yang tampan dan Bella seorang gadis Amerika membuat Leo begitu tampan dan menggemaskan.
Devan memberikan kebebasan kepada Bella sehingga Bella kini bekerja sebagai seorang dosen di sebuah kampus di sana dengan mengajar tentang sastra Inggris. Sehingga Leo selalu di titipkan di rumah orangtua Bella, Devan dan Bella tak mengijinkan Leo di rawat oleh orang lain sehingga dia tak membayar baby sitter untuk merawat putra kesayangan mereka. Devan takut dengan banyaknya kejadian baby sitter yang membahayakan anak yang di asuhnya. Lagipula Bella tak selalu mengajar setiap hari, hanya beberapa hari dalam seminggu dia mengajar itu pun tak seharian.
Kebetulan hari ini orangtua Devan sedang berkunjung ke Amerika, mereka sudah merindukan Leo. Pak Herman dan bu Yesi bertemu dengan Leo saat masih bayi, memang jarak Indonesia ke Amerika itu bukan jarak yang dekat sehingga tak bisa sering-sering berkunjung. Bu Yesi dan pak Herman asik bercanda gurau dengan Leo sedangkan Bella dan Devan masih berada di tempat kerja.
" Leo, Come here!" Leo berlari ke arah oma nya.
" Grandma has made you a sandwich, let's eat it." Leo pun memakannya, dia sangat lahap sekali.
" Good?" Leo pun hanya menjawab dengan anggukan karena mulutnya penuh dengan sandwich yang ia lahap.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, Leo pun sudah tertidur. Bella mengabari mertuanya jika hari ini ia akan pulang terlambat karena ada rapat dengan pihak universitas dimana ia mengajar.
Devan pulang karena shift kerjanya telah selesai, dia bertugas pada malam hari hingga jam 11 dia sudah bisa pulang. Devan menghampiri kedua orangtuanya dan menanyakan di mana Leo berada.
" Siang ma, pa, Leo dimana? Soalnya rumah sepi nih."
" Leo baru saja tidur."
" Oh... Syukurlah, biasanya dia susah untuk tidur siang. Mama dan papa sudah makan?"
" Belum, baru jam segini kan belum waktunya makan siang."
" Yasudah, sambil menunggu waktu makan siang nanti biar Devan pesankan makanan."
" Padahal kalau ada bahan masakan, mama bisa masak disini."
" Yah sebenernya Devan juga sudah sangat kangen masakan mama, tapi untuk hari ini mama istirahat saja dan mencoba makanan sini dulu nanti biar Devan suruh Bella belanja seusai kerja."
_________
(Percakapan dalam bahasa Inggris)
Malam sudah cukup larut namun sepasang suami istri ini masih berbincang, memang esok hari Devan dapat libur setelah 2 minggu ini sibuk di rumah sakit dan Bella besok tak ada jadwal mengajar.
" Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Devan sambil mengelus lembut rambut istrinya.
" Yah begitulah Beb, sekarang sudah cukup menguras pikiran karena memang sudah akan di adakan ujian akhir semester jadi aku harus menyiapkan soal-soal untuk bahan ujian nanti."
" Kamu pasti cape?" tangan Devan merangkul pundak Bella agar kepada Bella dapat bersandar di bahunya.
" Yah begitulah, tapi ini kan sudah resiko pekerjaan malahan sepertinya mas yang lebih capek."
" Biar aku pijitin, tuh kan pundak dan tengkukmu terlihat tegang begini, biar aku bantu agar jadi santai."
" Mas sangat pintar memijat, itu salah satu keahlian yang aku suka........"
"........... Apa yang mas lakukan? kebiasaan kalau ada kesempatan pasti begini." Bella merasakan hembusan nafas dan kecupan di menyusuri leher dan pundaknya.
" Sudah lama... Malam ini aku menginginkanmu."
Bella hanya pasrah dengan apa yang akan di lakukan suaminya malam ini, memang sudah sangat jarang bisa menikmati kebersamaan seperti ini karena kesibukan masing-masing.
_________
" Bunda... Ayah... kami berangkat dulu yah..." Cilla sedikit berteriak karena Hardi dan Sarah masih di dalam kamar.
" Iya sayang ... Kalian hati-hati, sekolah yang pinter." balas Sarah.
Hardi sedang berpakaian untuk kerja begitupun Sarah, memang 2 tahun belakangan ini Sarah juga ikut bekerja di perusahaan Hardi menjabat menjadi Manager perencanaan. Hardi memberikan jabatan tersebut bukan karena Sarah adalah istrinya melainkan karena kemampuannya. Hardi dapat menilai kemampuan istrinya karena jika Hardi membawa pekerjaan ke rumah, Sarah selalu membantunya dan kinerjanya benar-benar bagus.
Flashback***
" Apakah begini mas? Aku sudah susun sesuai yang mas suruh dan ada sedikit yang aku tambahkan agar lebih menarik minat klien." Sarah memperlihatkan hasil kerjanya.
Hardi pun memeriksanya dengan teliti, " Wah... Ini bagus banget sayang, kalau di pikir-pikir bagaimana kalau kamu masuk perusahaan, sayang kan jika bakat kamu di simpan begitu saja."
" Memang boleh mas?"
__ADS_1
" Ya.... boleh lah sayang, lagi pula anak-anak sudah cukup besar sudah bisa di tinggal. Oh iya, padahal kamu bagus dalam mengerjakan dokumen tapi kenapa kamu memilih menjadi guru TK yang gajinya tidak seberapa?."
" Dulu sih memang ada niatan untuk bekerja di sebuah perusahaan bahkan aku sudah melamar pekerjaan dan sempat interview, tapi di tengah-tengah saat melihat anak-anak TK yang baru pulang sekolah, aku merasa gemas dan ingin bersama anak-anak. Mungkin karena aku suka anak kecil jadi aku melamar pekerjaan di TK itu dan langsung di terima, saat itu aku tak memikirkan seberapa besar gaji yang aku dapat yang terpenting aku bisa bermain dan belajar dengan anak-anak."
" Oh gitu... makanya kamu mau aku nikahin yah hehehe"
" Yah... aku mau nikah sama mas kan karena terpaksa, kalau tidak karena insiden itu aku juga belum tentu mau sama mas."
" Iya... mas minta maaf, mungkin memang itu jalannya untuk kita bersama...."
" Mas ingat gak? Sebegitu dinginnya mas padaku sampai aku ingin sekali meremas wajah mas dan melemparkannya ke api biar hangus."
" Duh.... sekejam itu sayang, tapi sekarang kamu sayang kan... hehehe."
" Yah... begitu deh, mas juga kan malah jadi bucin ke aku."
" Pastilah, di umur segini aja kamu masih cantik dan sexi seperti yang masih 20'an." Hardi mengecup pipi istrinya.
" Udah ah ngobrolnya, kita berangkat nanti kesiangan."
" Kita kan yang punya perusahaan, bebas datang kapan saja. Atau.... kita tak usah masuk kerja, kita lanjutin cerita-cerita mengenang masa lalu." Hardi malah memeluk Sarah dari belakang.
" Mas ini, kita harus memberi contoh yang baik untuk bawahan agar mereka juga semakin rajin, kalau masalah ini nanti kita lanjutkan malam saja."
" Ok... nanti malam kita lanjutkan berbincangnya dan harus berlanjut ke yang......" Hardi memberi tanda dengan genitnya.
" Yasudah ah... ayo berangkat..." Sarah melengos memerah, Hardi terus saja berceloteh manja namun Sarah pura-pura mengabaikannya. Hardi berubah tegas kembali ketika sudah berada di depan supir pribadi kami.
__________
Cilla duduk di kantin bersama teman-temannya, bercanda gurau layaknya anak sekolah. Tiba-tiba datang sekelompok anak laki-laki berisi 4 orang yang datang menghampiri dimana Cilla duduk dan seorang anak menghampiri Cilla lalu mengambil minuman yang di pegangnya.
" Iiihhh.... Reza, kembaliin minuman gue."
" Kalau bisa ambil sendiri?" Reza mengangkat minuman di tangannya sampai Cilla sulit meraihnya.
" Halah.... cuma karena minuman segini aja udah ngambek... Pelit loe, padahal ortangtua loe kan kaya, masa segini aja rugi."
" Diem loe Reza, bukan karena pelit. Loe aja yang sering iseng sama Cilla jadi Cilla udah gedek sama Loe." Amel membela Cilla.
" Gue yang isengin Cilla kenapa loe yang sewot."
" Udah mel, anak kayak dia jangan di ladenin nanti malah semakin senang dia." ujar Cilla mengacuhkan Reza.
Setelah merasa di acuhkan, Reza pun pergi begitu saja dengan meminum minuman kemasan yang tadi di rebutnya dari Cilla.
Dona : " Padahal si Reza itu udah tajir, ganteng pula tapi gue ilfil sama kelakuannya yang pecicilan dan arogan kayak gitu."
Amel : " Tapi yang gue gak habis pikir, si Reza itu senang banget isengin si Cilla, atau jangan-jangan si Reza suka sama loe, Cill."
Cilla : " Ogah gue suka sama anak kayak gitu yang ada gue benci banget sama dia... Eneg gue lihatnya juga..."
Citra : " Awas loh Cill, jangan benci banget sama cowok nanti bisa-bisa jodoh loh."
Cilla : " N*jis gue jodoh sama dia, yang ada gue pengen muntah."
Bel pun berbunyi, Cilla dan teman-temannya segera beranjak dari duduknya untuk masuk ke dalam kelas. Ternyata Cilla dan Reza juga satu kelas, tatapan kebencian selalu terarah pada Reza sedangkan Reza hanya cengengesan setiap kali melihat tatapan tajam dari Cilla.
_________
Waktu pulang sekolah pun tiba, Cilla seperti biasa telah di jemput oleh supir, Cilla tidak pernah pulang terlambat setiap harinya, Cilla termasuk anak yang menurut pada orangtuanya.
Mobil pun melaju meninggalkan sekolah, Reza yang melihat itu hanya menatapnya dari jauh.
" Hey Bro..." suara temannya menyadarkan lamunan Reza.
" Loe kenapa bengong, ntar ke sambet loh."
" Halah... gue gak bengong kali, gue nunggu kalian, lama amat sih kalian."
__ADS_1
" Sory... sory... biasa pelajaran biologi selalu ngabisin waktu, tahu sendiri kan guru biologi killer banget."
" Udah.. ayo cabut, katanya mau nge-game bareng, mumpung gue punya uang lebih dari bokap."
" Ini nih, Reza temen kita, anak sultan mah bebas ngabisin duit, gak kayak kita rakyat jelata yang hanya minta di traktir doank hehehehe."
Mereka pun masuk ke dalam mobilnya Reza, untuk mabar bareng di tempat game online.
_________
Bu Yesi dan pak Herman sudah bersiap-siap merapikan barangnya untuk segera pulang ke Indonesia. Ketika semuanya telah selesai, Devan mengajak orangtuanya untuk makan di sebuah restoran langganannya. Tak ada hal aneh, mereka bercanda tawa bersama saling berbincang hal-hal yang menyenangkan terutama dengan adanya Leo menambah keceriaan tersendiri.
Namun di tengah-tengah kebahagiaan tersebut tiba-tiba pak Herman memegang dadanya yang terasa sakit lalu oleng dari tempat duduknya sampai terjatuh dan pingsan di tempat. Semuanya panik, Devan menyuruh Bella menelpon 911 dan Devan memeriksa papa nya untuk mengetahui kondisinya. Devan berusaha membuat papanya sadar namun usahanya hanya sia-sia. Tak berapa lama ambulance pun datang, segera pak Herman di bawa kedalam ambulance untuk menuju ke rumah sakit. Devan menemani papanya sementara mamanya di mobil terpisah bersama Bella dan Leo.
Tibalah di rumah sakit tempat Devan tugas, Devan ingin menangani papanya dengan tangannya sendiri. Devan memang di kenal dengan kemampuannya menyembuhkan pasien-pasiennya, salah satu dokter yang baik dalam menangani operasi jantung. Butuh waktu beberapa jam sampai operasinya selesai, bu Yesi langsung menghampiri putranya.
" Bagaimana keadaan papa, Devan?"
" Aku sudah melakukan yang terbaik, syukurlah untuk saat ini papa sudah bisa melewati masa kritisnya. Nanti papa langsung di pindahkan ke ruang rawat inapnya."
" Syukurlah, mama sudah sangat panik dan khawatir."
" Semoga papa sehat kembali yah ma, kita berdoa saja."
" Mama akan kabari kakakmu dulu." Bu Yesi mengambil ponsel di tasnya dengan tangan yang gemetar.
Melihat itu, Devan lalu memegang tangan mamanya, " Biar aku saja mah yang menelpon mas Hardi, mama segera ke ruangan papa dan istirahat."
Bu Yesi beserta Bella dan Leo pergi ke ruangan dimana nanti suaminya di rawat sedangkan Devan mencoba menelpon kakaknya.
Hardi : ' Halo, van... tengah malam gini ada apa telpon?'
Devan baru ingat kalau di indonesia sekarang sudah tengah malam.
Devan : ' Begini mas, tadinya kan mama dan papa akan pulang hari ini tapi ada kejadian tak terduga..... papa... papa kena serangan jantung.'
Hardi : ' Apa..... kenapa sampai begitu? Bagaimana keadaan papa?'
Sarah yang di sebelah Hardi pun jadi terbangun.
" Ada apa mas?" tanya Sarah
" Papa kena serangan jantung, ini mas sedang telponan dengan Devan."
Lanjut ke Devan.
Devan : ' Sekarang sih papa sudah mulai stabil, aku melakukan operasi darurat, aku tidak bisa berbuat banyak namun semoga papa bisa cepat sadar agar aku bisa melihat kondisinya lebih lanjut.'
Hardi : ' Ok... besok aku akan ke Amerika, untuk melihat kondisi papa.'
Devan : ' Terus kerjaan mas disana bagaimana? Biar aku saja yang menjaga papa.'
Hardi : ' Kamu kira aku bisa tenang-tenang saja di sini hanya menunggu kabar dari kamu! Tenang saja masih ada Rio dan juga Sarah yang bisa menghandle semuanya.'
Devan : ' Mbak Sarah memang kerja mas?'
Hardi : ' Iya sudah 2 tahun ini mas ijinkan Sarah bekerja di perusahaan.'
Devan : ' Yasudah mas, kalau begitu aku tunggu. Aku mau periksa papa lagi karena sekarang sudah di pindahkan ke ruang inap, sampai ketemu.'
Sarah masih menanti penjelasan dari Hardi dan Hardi menceritakan semuanya kepada Sarah, Hardi juga meminta ijin untuk ke Amerika menjenguk papanya dan menitipkan perusahaan pada Sarah dan Rio. Sarah tidak masalah dengan itu, Sarah juga mengharapkan ayah mertuanya untuk segera sembuh. Sarah meyakinkan jika anak-anak dan perusahaan akan baik-baik saja selama Hardi pergi nanti. Hardi sangat bersyukur telah memiliki istri yang sangat sempurna dimatanya sehingga rasa cintanya malah semakin bertambah kepada istrinya.
Bersambung....
Apa seru ceritanya atau masih banyak kekurangan?
Terus dukung Author dengan Vote, like dan tulis saran di kolom komentar untuk membangun semangat Author.
Terimakasih ☺️
__ADS_1