
Seminggu berlalu, Sarah dan Hardi beraktivitas seperti biasanya, Cilla pun sama tambah menjadi anak yang periang. Hardi berada di kantor ketika sebuah panggilan telpon mengalihkan fokus kerjanya. Tertera nama Devan di ponselnya, segera Hardi menutup dokumennya dan mengangkat ponselnya.
Devan : Halo mas! Hari ini mas Hardi dan mbak Sarah harus segera ke rumah sakit, pak Wahyu dalam keadaan kritis dan sekarang sedang di tangani oleh dokter spesialis penyakit dalam.
Hardi : Apa! Iya ok, mas akan segera kesana setelah menjemput Sarah.
Devan : Ok mas
Telpon pun terputus, Hardi segera merapikan berkas yang berserakan di atas meja lalu menelpon Rio untuk mengurus semua pekerjaan hari ini dan menyiapkan mobil untuknya.
________
Hardi dan Sarah berjalan cepat ke ruang inap pak Wahyu, tampak wajah panik dari keduanya terutama Sarah yang matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca. Walaupun pak Wahyu sudah meninggalkannya saat ia kecil tapi pak Wahyu tetaplah ayah kandungnya, rasa khawatir terpancar jelas di wajahnya berharap papahnya tidak apa-apa. Mereka hanya bisa menunggu di luar ruang kamarnya karena pak Wahyu sedang di tangani oleh dokter termasuk Devan.
Sarah tak bisa duduk tenang, rasa gelisahnya slterus memuncak, tak lama bu Rahma pun datang dengan penuh kekhawatiran. Bu Rahma menghampiri Sarah lalu memeluk putrinya itu, memang dalam hati bu Rahma pun tidak tenang namun ia mencoba menenangkan putrinya yang sedang hamil besar. Mereka bertiga hanya bisa menunggu sampai dokter keluar dari ruang kamar pak Wahyu.
30 menit sudah mereka menunggu akhirnya Devan.
" Devan! bagaimana keadaan papahku?" tanya Sarah yang beranjak dari duduknya menghampiri Devan, Hardi dan bu Rahma pun ikut menghampirinya.
" Semuanya akan di jelaskan oleh dokter Aryo, tunggu beliau keluar dulu." ucap Devan.
Tak lama dokter Aryo pun keluar dengan 2 orang perawat.
" Bagaimana dok, keadaan ayah mertua saya?'" tanya Hardi.
" Syukurlah, untuk saat ini pak Wahyu bisa melewati masa kritisnya. Beliau sepertinya masih bersemangat untuk tetap bertahan hidup, namun dengan melihat kondisinya dan penyakit tuberkulosis nya yang sudah akut, saya tidak bisa memastikan seberapa mampu beliau bertahan. Butuh dukungan moral dari pihak keluarga untuk memberikan semangat serta doa untuk kesembuhan pak Wahyu." jelas dokter Aryo lalu permisi meninggalkan tempatnya.
Semua orang yang mendengar penjelasan dokter Aryo sangat khawatir terutama bu Rahma dan Sarah yang tampak sangat sedih. Sarah dan bu Rahma pun masuk kedalam ruang kamsr pak Wahyu karena hanya boleh 2 orang yang masuk agar tak mengganggu pasien.
__ADS_1
Tangisan Sarah langsung pecah ketika melihat pak Wahyu semakin tak berdaya hanya berbaring begitu saja dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya. Sarah langsung menghampirinya memegang tangannya yang bagaikan kulit dan tulang saja.
" Papah, kenapa papah jadi seperti ini? Semenjak dulu papah meninggalkan kami, aku harap papah menjalani hidup yang lebih bahagia di bandingkan saat bersama kami. Tapi kenapa malah hidup seperti ini? Malah hidup lebih menderita dibanding saat bersama kami. Pah, papah harus sembuh, papah harus kuat melawan penyakit papah, aku janji aku akan memaafkan papah dan aku akan merawat papah. Jadi aku harap papah kembali sehat agar bisa bertemu dengan cucu-cucu papah nanti." ujar Sarah dengan air mata yang terus mengalir di kedua mata cantiknya.
" Mas, aku sudah melupakan kejadian dulu, aku sudah tak memperdulikan masalalu. Aku harap kau tetap bertahan, aku sudah memaafkanmu, jadi sembuhlah." ucap bu Rahma yang juga terlihat meneteskan air mata.
Tak ada respon gerakan dari pak Wahyu namun terlihat buliran air mata di sudut matanya, yang mana pak Wahyu dapat mendengarkan apa yang Sarah dan bu Rahma katakan.
Sementara Hardi dan Devan menunggu di luar sambil berbincang-bincang.
" Van, seberapa mampu pak Wahyu bertahan dengan kondisinya saat ini?" tanya Hardi.
" Kalau tak ada perkembangan dan beliau tidak sadarkan diri, aku tak bisa menjamin mas. Dari pengalaman terdahulu mungkin pak Wahyu hanya bisa bertahan beberapa minggu atau hanya beberapa hari saja, penyakitnya sudah lama ia derita tanpa pengobatan, mungkin itulah yang menyebabkan penyakitnya semakin parah dan terlambat di tangani." jelas Devan.
" Sarah pasti sangat sedih, sudah sangat lama ia tak bertemu dengan paoahnya dan sekarang bertemu dalam kondisi seperti ini." ucap Hardi.
Hardi terus mengelus punggung istrinya yang mungkin dapat menenangkannya, tiba-tiba tubuh Sarah melemas dan tak sadarkan diri dalam pelukan Hardi. Seketika Hardi dan yang lainnya sangat panik, segera Hardi mengangkat tubuh Sarah ke ruang kamar sebelah kamar pak Wahyu dengan anjuran Devan, Devan segera memeriksa keadaan Sarah yang terbaring tak sadarkan diri.
" Van, kenapa dengan sarah? kenapa dia pingsan?" tanya Hardi panik.
" Mbak Sarah tak apa-apa mas, mungkin karena dia terlalu syok sampai membuatnya seperti ini, ditambah dalam kondisi hamil besar seperti ini membuat daya tahan tubuhnya lemah. Cukup biarkan mbak Sarah banyak istirahat dan pastikan agar mbak Sarah tidak terlalu stres. Nanti jika sudah sadar, langsung bawa pulang saja mas, biar aku yang nanti memberitahu perkembangan keadaan pak Wahyu." jelas Devan.
" Terimakasih Van, aku pasti akan menjaga Sarah." ucap Hardi.
Devan pamit kepada Hardi dan bu Rahma karena dia harus kembali ke jadwal prakteknya yang sempat ia tunda. Bu Rahma duduk di sofa sementara Hardi duduk di kursi di samping ranjang dimana Sarah berbaring, Hardi menggenggam tangan Sarah yang terasa dingin dan sesekali ia meletakkannya ke pipinya.
Beberapa jam berlalu sampai Hardi tertidur di samping Sarah dengan tangan yang masih menggenggam tangan Sarah, lalu Hardi merasakan tangan Sarah yang bergerak segera hardi membuka matanya. Hardi menatap Sarah dan Sarah mulai membuka matanya pertanda ia sudah sadar, Hardi memanggil bu Rahma bahwa Sarah sudah sadarkan diri. Bu Rahma segera menghampiri Sarah dan merasa senang jika Sarah baik-baik saja.
" Aku kenapa mas, mah?" tanya Sarah sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
__ADS_1
" Kau tadi pingsan, sayang. Untung saja tidak apa-apa, hanya butuh banyak istirahat dan jangan terlalu stres." ujar Hardi.
" Bagaimana keadaan papah?" tanya Sarah.
" Papahmu masih dalam kondisi yang sama, belum ada perkembangan, semoga saja cepat sadar." jawab bu Rahma.
" Yasudah kita pulang sekarang, kata Devan jika kau sudah sadar boleh pulang." ucap Hardi.
" Tapi mas, papah gimana?" tanya Sarah.
" Tak perlu khawatir, Devan akan selalu mengabari kita tentang kondisi papahmu, jadi kita pulang yah." ajak Hardi.
Sarah, bu Rahma dan Hardi pun pulang kerumah, Hardi meminta bu Rahma untuk menginap saja di rumahnya sekalian temani Sarah yang masih terlihat sedih.
__________
Jam makan malam tiba, Devan sedang berada di sebuah restoran dengan seorang wanita, Devan terlihat asik berbincang dengan wanita berambut panjang berwarna coklat dengan kulit putih dan tubuh ramping di tunjang dengan pakaian yang mewah dan elegan menandakan dia berasal dari keluarga yang berada.
" Kau suka makanannya?" tanya Devan, wanita itu pun mengangguk dan tersenyum kearah Devan.
Mereka terlihat sangat akrab satu sama lain seperti sudah kenal lama dan sangat dekat, sesekali Devan bercanda namun sesekali terlihat romantis sampai Devan melap sisa saus yang tak sengaja tertinggal sedikit di sudut bibir wanita tersebut, kecanggungan terasa sehingga mereka tersenyum malu-malu.
Siapakah wanita yang bersama Devan?
Akankah pak Wahyu sehat kembali?
Penasaran? Selalu nantikan up Author selanjutnya....
Bersambung.......
__ADS_1