Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Keras Hati


__ADS_3

Ketika sampai rumah, Hardi sedikit berlari dan sedikit berteriak memanggil anak dan istrinya. Sarah keluar dari kamar dengan sangat senang ketika mendengar suara suaminya yang ia rindukan, tanpa pikir panjang Sarah setengah berlari lalu meloncat kedalam pelukan suaminya dengan erat, Hardi dan Sarah sangat bahagia dapat bertemu kembali setelah sekian lama di batasi oleh kesibukan Hardi.


" Cilla mana sayang? kok gak kelihatan!" tanya Hardi masih memeluk istrinya.


" Cilla sudah tidur mas, sepertinya dia kecapekan karena seharian main terus sama Lia." jawab Sarah.


" Bagus dong, kita bisa menikmati waktu berdua." ucap Hardi mengecup kening istrinya.


" Kita bertiga mas." ucap Sarah melepas pelukannya lalu mengelus perutnya yang sudah membesar.


" Oh iya, mas lupa. Sudah ada si kembar yah, apa kabar bayi-bayi ayah, kalian sehat kan di dalam sana? maaf yah, ayah belakangan ini kurang perhatian, tapi ayah janji kedepannya ayah akan selalu memperhatikan kalian apalagi jika kalian lahir nanti." ujar Hardi mengelus perut Sarah seolah sedang berbincang dengan bayi dalam kandungan Sarah.


Hardi lalu meletakkan telinganya di perut sarah, terasa ada tendangan lembut yang mengenai pipinya.


" Sayang, lihat anak kita merespon, pasti mereka laki-laki soalnya tendangannya cukup kuat." Ujar Hardi yang takjub dengan gerakan bayinya.


" Iya mas, mungkin saja." ucap Sarah.


" Besok kita ke dokter yah sayang, biar kita tak menebak-nebak jenis kelamin mereka, setelah tahu nanti kita beli perlengkapan bayi sesuai dengan jenis kelaminnya." ujar Hardi semangat dan di jawab dengan anggukan oleh Sarah.


________


Sementara itu, walau hatinya masih sulit untuk memaafkan mantan suaminya. Bu Rahma tetap datang ke rumah sakit yang mana pak Wahyu di rawat, Bu Rahma hanya merasa kasihan sebagai tanda kemanusiaan saja. Bu Rahma masuk ke ruangan dimana pak Wahyu berada, pak Wahyu sedang berbaring namun tidak tidur, badannya kurus dan rambutnya sudah seluruhnya memutih, tubuhnya seakan sudah tak berdaya.


" Bagaimana kabarmu?" pertanyaan bu Rahma membuyarkan lamunan pak Wahyu.


" Rahma, dari mana kau tahu aku di rawat disini?" ujar pak Wahyu terkejut.


" Saya tahu dari teman, sudah berapa lama kau sakit?" tanya bu Rahma sambil meletakkan parsel buah di meja kecil samping tempat tidur.


" Sudah 6 bulan yang lalu dan seluruh pengobatan di tanggung oleh dinas sosial dan sumbangan-sumbangan dari yang ikhlas." balas pak Wahyu.


Bu Rahma merasa sangat kasihan, dia mengira setelah pak Wahyu meninggalkan anak istrinya akan hidup bahagia namun melihat kondisinya sekarang sangat membuatnya prihatin. Bu Rahma mengambil tasnya, ia mengeluarkan amplop coklat yang berisikan uang dan memberikannya pada pak Wahyu.


" Ini apa?" tanya pak Wahyu.

__ADS_1


" Itu uang, kau harus punya pegangan jangan hanya mengandalkan belas kasih dari orang lain." ucap bu Rahma.


" Tapi ini terlalu banyak." ucap Pak Wahyu setelah mengetahui jumlah uangnya.


" Tak masalah, aku memberikannya dengan ikhlas. Gunakan untuk mengobati penyakitmu semoga kau segera sembuh." ucap bu Rahma.


Pak Wahyu langsung menagis dengan apa yang terjadi, ia mengingat kelakuannya dulu yang sangat jahat kepada istri dan anaknya, ia menyadari mungkin ini adalah karma yang tuhan berikan akan perbuatannya terdahulu.


" Terimakasih Rahma, maafkan aku yang sangat kejam kepadamu dan Sarah. Aku sangat menyesali perbuatanku terdahulu." pak Wahyu terus menangis sesenggukan.


" Sudahlah, masa lalu tak akan bisa terulang, bagus kau telah menyesalinya, sekarang kau fokus saja dalam pengobatan ini jangan memikirkan masa lalu. Yasudah, aku permisi masih banyak pekerjaan di rumah makan." ujar bu Rahma lalu pergi keluar dari ruangan pak Wahyu.


Pak Wahyu terus saja menangis, ia memang benar-benar sangat menyesali perbuatannya. Ia juga merasa sangat berterima kasih, walau dulu ia meninggalkan bu Rahma tapi bu Rahma masih punya perikemanusiaan memberikannya bantuan. Dalam lubuk hati yang paling dalam, pak Wahyu sangan ingin bertemu dengan Sarah, anak semata wayangnya.


________


Bu Rahma sangat ingin mengajak Sarah untuk bertemu dengan papahnya namun ia tahu jika Sarah berhati keras, ia tak akan semudah itu bertemu dengan papahnya yang meninggalkannya begitu saja saat ia masih kecil. Rasa sakit di hati Sarah masih saja membekas walau sudah belasan tahun berlalu. Satu-satunya cara yaitu memberitahu Hardi akan ayah mertuanya, mungkin saja Hardi dapat membujuk Sarah untuk menemui papahnya tersebut.


Akhirnya bu Rahma menelpon Hardi dan menjelaskan semuanya, Hardi sedikit terkejut karena selama ini memang Sarah tak pernah sekalipun membicarakan papahnya dan memang bu Rahma juga tak tahu keberadaan mantan suaminya semenjak pak Wahyu pergi meninggalkannya. Sehingga kabar tersebut cukup mengejutkan Hardi, namun Hardi memang adalah pria yang baik, dia akan berusaha meyakinkan Sarah untuk menemui papahnya dan Hardi pun menanyakan keberadaan ayah mertuanya tersebut kapada ibu mertuanya. Telponpun terputus, semuanya telah bu Rahma jelaskan, Hardi jadi merasa simpati dan akan mencoba membujuk istrinya itu. Namun sebelum itu, ia juga ingin menemui pak Wahyu secara pribadi memperkenalkan dirinya sebagai suami Sarah dan ingin sedikit membantu biaya pengobatan ayah mertuanya itu.


" Permisi pak!" sapa Hardi dengan sopan.


" Iya, anda siapa yah." ucap Pak Wahyu membuka alat bantu pernafasannya, berbicara dengan nafas tersengal.


" Perkenalkan pak, nama saya Hardi Malik, saya adalah suami dari putri bapak, Sarah." balas Hardi.


" Hardi! iya saya mendengar namamu dari mamahnya Sarah, ternyata kau masih muda dan tampan. Saya Wahyu, ayahnya Sarah." ujar pak Wahyu menyambut hangat Hardi.


" Bagaimana keadaan bapak! Maaf saya baru menjenguk anda karena memang saya baru mengetahui anda kemarin dari mamah mertua saya." ucap Hardi.


" Saya sudah agak baikan, terimakasih sudah mau menjenguk saya." ucap Pak Wahyu dengan sesekali memasang alat pernafasannya.


" Saya kesini juga ingin mencoba mengajak Sarah untuk datang, mungkin nanti saya bisa membujuk putri bapak untuk menjenguk bapak." ujar Hardi.


" Terimakasih nak, bapak sangat berterimakasih jika memang Sarah bisa datang kesini. Namun saya tahu sikap keras kepala Sarah, dia akan sulit untuk memaafkan saya." ucap pak Wahyu pesimis.

__ADS_1


" Bapak jangan pesimis terlebih dahulu, mungkin suatu saat hati Sarah akan luluh. Nanti saya akan terus membujuknya untuk menjenguk bapak." ucap Hardi meyakinkan sambil menggenggam tangan ayah mertuanya dan pak Wahyu hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman di bibirnya.


" Bapak juga tak perlu khawatir, saya akan membiayai pengobatan bapak sampai bapak sembuh jadi bapak harus berjuang untuk sembuh jangan sampai menyerah." ucap Hardi memberi semangat.


" Iya terimakasih nak Hardi." ucap pak Wahyu senang.


Cukup lama Hardi berbincang dengan ayah mertuanya hingga Hardi pun permisi pamit kepada ayah mertuanya tersebut.


' Aku harus mencoba membujuk Sarah, aku yakin Sarah akan memaafkan ayahnya.' gumam Hardi dalam hatinya.


________


Malamnya Hardi menghampiri Sarah yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menonton televisi karena ada drama kesukaannya.


" Sayang, asik sekali nontonnya. Ada yang ingin mas bicarakan padamu, bisa?" tanya Hardi.


" Bisa mas, bicara saja." ucap Sarah tersenyum.


" Begini, kita nikah sudah lebih dari 2 tahun tapi kau tak pernah menceritakan tentang papahmu." ucap Hardi ragu.


Sarah langsung diam yang tadinya tersenyum mendengarkan perkataan Hardi, mimik wajahnya langsung berubah murung seperti tak tertarik bahkan tak suka dengan hal yang Hardi bicarakan.


" Kenaoa mas, menanyakan itu sekarang." ucap Sarah datar.


" Tidak apa-apa, mas hanya bertanya saja." Hardi tak melanjutkan pembicaraannya karena melihat respon Sarah yang seperti itu. Hardi akan mencoba membicarakan saat waktunya sudah tepat, ia yakin pasti dapat membuju istrinya itu.


" Yasudah mas, aku ngantuk mau tidur. Mas juga harus segera tidur karena besok kan kerja." ucap Sarah lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Hardi dan menarik selimut hingga ke dadanya.


" Goodnight sayang." Hardi mengecup pipi Sarah dari belakang, Sarah tidak langsung tertidur, pikirannya bimbang antara rasa sakit hati karena masa lalu dan kenyataan bahwa ia masih memiliki ayah.


Akankah Sarah masih menutup hatinya untuk papahnya?


Selalu nantikan up Author selanjutnya 😊


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2