Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Lelaki Normal


__ADS_3

Malam itu seperti biasanya Hardi pulang telat, dia baru sampai rumah jam 11 malam. Hardi ke kamar Cilla dahulu, ia melihat Cilla terlelap di temani oleh Lia. Berarti malam ini Sarah tidur di kamar mereka, pikir Hardi.


Hardi membuka pintu kamarnya dan memang Sarah sudah terlelap di atas tempat tidur dengan tidur terlentang. Hardi meletakan tasnya dan membuka jas serta dasinya, ia beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Setelahnya ia berganti pakaian dengan piyama tidurnya. Sebelum Hardi menuju Sofa ia memandang lekat wajah Sarah yang terlelap. Tanpa ia sadari, ia mendekatinya dan duduk di tepi ranjang di samping Sarah.


Hardi terus memandanginya, tangannya menyibakan rambut yang menutupi sedikit wajah istrinya, lagi-lagi ia memandang lekat wajah istrinya. Ia memandangi satu persatu area wajahnya, mulai dari dahi, hidung, mata hingga ke bibirnya.


"Cantik" gumam Hardi, tiba-tiba ia merasakan ada sebuah keinginan yang membuatnya berdebar, ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Ia mengecup dahi istrinya sekilas. Sarah tak bergerak sedikitpun masih terlelap. Lalu ia memberanikan dirinya mengecup bibir istrinya sekilas, Sarah masih saja tidak bereaksi. Sekali lagi Hardi mencoba mendekatkan bibirnya kembali dan mencium bibir Sarah, secara perlahan mulai menggerakan bibirnya di bibir Sarah yang tertutup, cukup lama Hardi melakukan itu sampai Sarah menggeliat dalam tidurnya. Itu membuat Hardi tersentak kaget dan menghentikan ciumannya. Dilihatnya Sarah kembali terdiam dan masih terlelap, mungkin saja Sarah hanya bergerak refleks saat ia tidur saja.


Takut Sarah terbangun, Hardi segera beranjak menuju Sofa lalu ia membaringkan dirinya di sana seperti biasanya dan menyelimuti dirinya sampai kepalanya.


"Ada apa denganku malam ini? Mengapa keinginan itu muncul kembali? Keinginan yang dulu pernah aku rasakan ketika menikahi Wulan. Memang aku berhak meminta hakku pada Sarah namun itu pasti tidak mungkin. Sarah belum sembuh total dari traumanya, kalau aku memaksanya malah akan memperparah traumanya. Hardi, tahan dan cobalah tidur." batin Hardi menenangkan dirinya sendiri sambil menendang-nendang selimut yang di pakainya.


*Pagi hari


Sarah sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Ia sepertinya sedang melamun sambil memegang bibirnya dengan tatapan kosong.


"Semalam rasanya ada seseorang yang menciumku. Rasanya hangat di bibirku, tapi aku tidak tahu itu nyata ataukah hanya mimpi. Jika mimpi tapi rasa hangatnya sungguh terasa seperti nyata tapi jika nyata terus siapa yang menciumku? Apa pak Hardi? Ah.. tak mungkin dia, mungkin aku cuma mimpi, iya cuma mimpi" ucap Sarah lalu memukul-mukul pelan kepalanya dengan kedua telapak tangannya.


Hardi melihat tingkah Sarah yang menurutnya aneh ketika ia keluar dari kamar mandi.


"Kau kenapa?" tanya Hardi masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil di tangannya.


"Tak apa-apa" balas Sarah spontan karena sedikit kaget dengan suara suaminya.


"Aneh" gumam Hardi lalu menuju ke lemari untuk mengganti pakaian, Sarah yang mendengarnya hanya cemberut lalu keluar dari kamarnya.


Selama ini Sarah memang rutin menjalani terapi psikologi dari seorang psikiater terbaik yang dipilihkan oleh suaminya dan sekarang rasa traumanya sudah sedikit berkurang walau belum sembuh total, mungkin dengan berjalannya waktu traumanya akan hilang total.


_________

__ADS_1


Di Kantor Hardi sedang memulai rapatnya di ruangannya bersama Rio dan Aini. Mereka membahas produk kecantikan yang akan di produksi masal dan diedarkan ke pasaran, kandungan yang terdapat didalamnya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Mereka memutuskan untuk memasarkannya secara online, jika penjualannya tinggi, mereka baru akan menjual melalui outlet-outlet yang nanti mereka siapkan.


Tanpa Hardi sadari, Aini selalu mencuri pandang terhadapnya dan kadang tersenyum tipis. Sementara Hardi hanya sibuk menjelaskan pembahasan tentang proyek tersebut tanpa memperhatikan hal lain. Sementara Rio yang terus memperhatikan Aini, menyadari tatapan Aini pada Hardi dan membuatnya merasa risih, karena Rio sebenarnya sudah menyukai Aini saat pertama kali mereka bertemu.


"Bagaimana, apa produk ini bisa di produksi secepatnya?" tanya Aini setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Hardi.


"Setelah semuanya beres dan sesuai dengan yang kira sencanakan, pastinya akan segera di produksi" jawab Hardi.


"Kita juga harus mencari lebih banyak investor yang ingin bergabung dengan bisnis baru kita ini, saya akan coba menghubungi beberapa klien mungkin mereka berminat menanamkan investasinya pada kita" jelas Rio menambahkan.


"Baik, saya juga akan menghubungi kenalan saya semoga ada yang mau bergabung. Jika tidak ada pembahasan lagi, kalau begitu saya pamit dulu, terimakasih" ucap Aini lalu beranjak dari duduknya menyalami mereka berdua lalu keluar ruangan Hardi.


Rio memberanikan diri berbicara pada Hardi tentang apa yang ia perhatikan tadi soal Aini yang memperhatikan Hardi.


"Pak, saya melihat bu Aini sepertinya tertarik kepada bapak, soalnya tadi selama meeting sesekali ia mencuri pandang ke arah pak Hardi." ucap Rio.


"Jangan ngaco kau, mungkin saja kau cuma salah lihat saja." ucap Hardi santai.


________


"Aku pulang" ucap Hardi tak seperti biasanya.


"Eh pak Hardi sudah pulang?" Sarah menghampiri Hardi dan mengambil tasnya.


Mereka berdua pun berjalan menuju ke kamarnya.


"Cilla mana?" tanya Hardi.


"Dia sudah tidur, sekarang kan sudah jam 9 malam" balas Sarah.

__ADS_1


Selama menaiki tanggang, tangan merrka begitu dekat karena berjalan berdampingan. Hardi melirik tangannya dan menggerakan tangannya seolah ia akan menggenggam tangan itu namun ragu. Akhirnya sampai di depan kamar pun Hardi tidak jadi menggenggam tangan istrinya.


"Kenapa pak? kok bengong!" Hardi hanya diam tak membuka pintu kamarnya.


"Eh... tidak" Hardi langsung tersadar lalu membuka pintu kamarnya.


"Oh iya tadi aku lupa, apa pak Hardi mau di buatkan kopi?" tanya Sarah menawarkan.


"Boleh, buat kopi hitam dan jangan terlalu manis" balas Hardi.


Sarah kembali keluar dari kamar untuk membuatkan kopi untuk suaminya.


Hardi menghempaskan dirinya di atas sofa. Lalu menghela nafasnya kencang.


"Huh... kenapa untuk menggenggam tangannya saja aku tak berani. Aku sangat takut ia bereaksi seperti waktu itu. Tapi sudah 3 bulan lebih Sarah mendapatkan terapi psikologis nya, apa dia sudah benar-benar sembuh. Oh iya, aku lupa. Kenapa aku tak menghubungi Psikiater nya! Bodoh banget aku. Aku coba hubungi psikiater dulu mumoung Sarah belum kembali" Gumam Hardi lalu meraih ponsel di sakunya.


"Halo! pak Hardi, bisa saya bantu!" ucap psikiater.


"Maaf dok, saya mau tanya keadaan istri saya!" tanya Hardi.


"Oh Bu Sarah, Iya bu Sarah itu dalam kondisi stabil dari tanda-tanda yang ia tunjukan terlihat normal. Sepertinya bu Sarah sudah bisa melupakan traumanya. Saya yakin jika bu Sarah sudah membaik daripada sebelumnya" Jelas Psikiater.


"Yasudah kalau gitu terimakasih dok" Hardi menutup ponselnya tanpa tahu Sarah sudah di depannya.


"Pak Hardi berbicara dengan siapa?" pertanyaan Sarah mengagetkan Hardi.


"Oh... itu... Klien perusahaan" Hardi agak gugup.


"Iya, Ini kopinya pak. Aku mau tidur duluan yah" Sarah pergi ke tempat tidur dan membaringkan dirinya.

__ADS_1


Hardi pun hanya menatap istrinya dari jauh sambil menyeruput kopi buatan Sarah yang di rasanya sangat nikmat.


***Jangan lupa like dan vote jika menyukainya dan tulis juga komentar baik saran ataupun kritik . Terimakasih... nantikan up selanjutnya 😁


__ADS_2