Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Hilang 2


__ADS_3

Hardi terlihat memandangi jam dinding di rumahnya, sebelumnya ia pulang ke rumah pukul 21.00 Wib dan sekarang sudah menunjukkan pukul 23.00 Wib.


Ia mondar mandir kesana kemari dengan wajah cemas dan bingung. Hardi memanggil kembali ketiga asisten rumah tangganya.


"Sebenarnya Sarah pergi kemana? apa ada yang tahu dia pergi kemana?" tanya Hardi.


"Tadi nyonya hanya pamit pada kami dan menyuruh untuk menjaga non Cilla. Tapi selebihnya saya tidak tahu tuan." balas Bi Entin dan yang lainnya mengangguk.


"Tapi sebelum pergi saya mendengar nyonya menerima telepon dari seseorang, tapi saya tidak tahu siapa yang menelepon. Setelah itu nyonya buru-buru pergi" tambah bi Lilis membuat Hardi tambah panik.


Hardi mempersilahkan ketiga asisten rumah tangganya itu pergi ke tempat mereka. Hardi masih saja tak bisa mengetahui kemana istrinya pergi. Dia selalu mencoba menghubungi nomor istrinya namun tak pernah di angkat.


Dia terduduk di sofa depan televisi, dia begitu khawatir dan cemas akan keberadaan dan keadaan istrinya saat ini.


_______


Di tempat lain, Malvin mendekati Sarah yang melotot ke arahnya. Dia mengangkat keras dagu Sarah hingga Sarah mendongak. Raut wajahnya terlihat ketakutan keringat dan airmata menghiasi wajahnya yang masih cantik itu.


"Wajahmu masih sama, Cantik. Tapi sayang, sekarang kamu sudah bekas orang lain." Malvin menatap penuh amarah, dia mendekatkan wajahnya seolah ingin mencium Sarah


Dduuukkk.... Aaawww.... Sarah membenturkan dahinya ke hidung Malvin dengan sangat keras sehingga Malvin berteriak kesakitan dan melonjak memegangi hidungnya yang terlihat mengeluarkan darah.


"Dasar cewek sialan" ... Plaaakkkk... Malvin lagi-lagi menampar pipi Sarah dengan sangat kencang membuat Sarah tersungkur ke samping. Pipinya memerah bekas tamparan itu dan Sarah pun menangis karena merasa sakit di pipi dan hatinya.


Terdengar suara dering ponsel milik Sarah yang ada di dalam tasnya. Malvin meraih tas itu lalu ia mengambil ponsel milik Sarah. Dilihatnya tertera nama di ponsel adalah mas Hardi. Malvin menunjukan layar ponsel itu ke arah Sarah, Sarah yang melihatnya terus memberontak seakan ia ingin mengambil ponsel yang di genggam Malvin. Namun usahanya hanya sia-sia karena ikatan yang begitu kuat di kaki dan tangannya.


Malvin hanya menyeringai puas melihat reaksi Sarah, lalu Malvin mengangkat panggilan Hardi lalu ia menyalakan loud speaker ponsel itu agar Sarah bisa mendengar suara suaminya.


"Halo! Halo! Sarah! Sayang! kamu dimana?" terdengar suara Hardi yang terus memanggil. Sarah yang mendengarnya berusaha teriak namun sekali lagi hanya gumaman tak jelas yang terdengar.


Hardi mendengar gumaman Sarah tersebut. "Halo! Sayang! Sarah! Kau disana kan sayang! Sarah, jawab mas." Hardi semakin merasa cemas terdengar dari nada suaranya.

__ADS_1


"Hahahahahaha Halo! Kau mencari istrimu? tenang saja.... Istrimu aman berada di tanganku. Kau tak perlu khawatir, dia sehat namun tak bisa bergerak maupun berbicara. hahahaha... Aku mengikat tangan beserta kakinya dan membekap mulutnya. hahahah... Lecet-lecet sedikit wajar lah, toh dia terus melawan dan gak mau nyerah hahahaha... Aku sentuh dia sedikit saja, kau tak akan keberatan kan hahahaha....." Terdengar suara pria yang tak di kenal membuat Hardi tambah khawatir dan marah, apalagi dengan perkataan yang dilontarkan lelaki itu membuatnya tambah emosi.


"Hei brengsek, kembalikan ponsel istriku. Mana istriku? Aku mau bicara padanya. Kau jangan pernah menyentuhnya apalagi menyakitinya, kalau tidak......" perkataan Hardi terhenti karena pria itu memotong perkataannya.


"Kalau tidak apa?" Pllaaakkkk terdengar suara tamparan yang cukup keras serta suara tangisan yang terisak membuat Hardi semakin panik, ia bisa mengira jika lelaki itu telah menampar istrinya.


"Tolong ... Tolong ... Jangan menyakiti istriku, aku mohon. Kau mau apa? uang? ingin berapa? Aku pasti mengabulkannya?" Hardi semakin cemas dan panik.


"Hahahahahah Uang? aku tak butuh uangmu, aku hanya ingin melihatmu menderita. Lihat istrimu menangis, wajah cantiknya juga sekarang di hiasi lebam. Aku semakin suka melihatnya hahahaha" balas Pria itu menjelaskan seolah ia telah menyiksa Sarah.


"Sialan! ********! Mana istriku brengsek. Kau apakan istriku? brengsek, akan ku bunuh kau." emosi Hardi tak terbendung hingga airmatanya pun keluar.


Tiba-tiba sambungan telponpun terputus, itu membuat Hardi semakin emosi. Ia mencoba kembali menghubungi nomor Sarah namun setelah beberapa kali mencoba selalu gagal.


" Halllo Halllooo !!!! Sial sial sial !!!!" teriak Hardi sehingga semua seisi rumah keluar kecuali Cilla.


"Ada apa tuan?" tanya bi Lilis.


"Sarah, Sarah bi. Ia di culik" Hardi menjawab dengan sangat prustasi, ia menjatuhkan dirinya terduduk di sofa. Ia memegang kepalanya lalu menunduk sambil menangis.


Hardi menelpon orang tuanya.


"Yah Hardi, ada apa tengah malam nelpon mamah?" suara bu Yesi menyahut.


Hardi hanya menangis, "Kamu kenapa hardi?" terdengar suara bu Yesi khawatir.


"Sarah... Sarah mah, Sarah di culik. Hardi bingung harus mencarinya dimana?" Hardi menjawab dengan terisak.


"Apa? kau tak berbohong kan. Ok, mamah dan papah akan segera ke rumahmu, kamu jangan terlalu panik, kamu harus tenang agar bisa berpikir jernih" bu Yesi pun menutup telponnya.


Hardi teringat untuk menghubungi Rio mungkin Rio bisa sedikit membantunya.

__ADS_1


"Rio, kau bisa melacak keberadaan ponsel Sarah! Tolong segera hubungi saya jika kau sudah tahu letak keberadaan terakhir ponsel istri saya. Yang aktif sekitar 1 jam yang lalu. Tolong cepat." perintah Hardi.


"Baik pak, saya akan mengabari anda secepatnya".


Hardi terlihat sangat prustasi, semalaman ia memikirkan nasib istrinya yang entah dimana. Hardi tak menutup matanya sekejap pun, ia hanya terus menatap layar ponselnya menunggu kabar dari Rio tentang keberadaan istrinya.


Satu jam berlalu, Orangtua Hardi datang dan langsung menghampiri Hardi.


"Sebenarnya ada apa ini nak?" tanya pak Herman.


"Aku juga tak begitu tahu, tapi kata bi entin sebelum Sarah pergi, ia menerima telpon dari seseorang. Aku yakin Sarah tak mungkin gegabah, pergi begitu saja pada orang yang tak di kenalnya. Atau mungkin Sarah mengenal orang yang menculiknya?" ucap Hardi, tak menutup kemungkinan jika pikirannya itu benar.


"Apa kau sudah bisa menebak siapa orang yang Sarah kenal yang tega melakukan hal keji seperti itu?" tanya pak Herman.


"Entahlah, aku juga tak tahu. Sekarang aku tak bisa berfikir jernih. Sekarang aku hanya memikirkan Sarah, dimana dia dan bagaimana keadaannya!" keluh Hardi dalam gusarnya.


"Apa yang si penculik bilang ketika ia menutup telponnya?" tanya Devan.


"Dia hanya ingin melihatku menderita. Dengan menculik dan menyiksa Sarah, dia berhasil membuatku sangat menderita" balas Hardi.


Bu Yesi menyuruh bi Sumi membuat air teh hangat untuk mereka terutama untuk Hardi agar ia sedikit tenang.


"Hardi, minum dulu nak. Tenangkan pikiranmu, kita harus berusaha agar Sarah di temukan. Tapi kau jangan terlarut dalam kesedihan. Kau harus punya tenaga agar bisa menyelamatkan Sarah." ucap bu Yesi menyodorkan secangkir teh manis hangat pada putranya.


Hardi mengambilnya lalu meminumnya hanya sedikit, lalu ia kembali terdiam dan termenung membuat orang-orang di sana juga tak bisa berbuat apa-apa.


Berasambung........


Akankah Hardi menemukan Sarah?


nantikan up Author berikutnya 😁

__ADS_1


Semakin seru kan, kalau begitu jangan lupa Like, vote dan komennya yah.


Terimakasih 😊


__ADS_2