Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Ambil hati


__ADS_3

Makan siang pun telah selesai, anak-anak terus saja berlarian di dalam ruangan Hardi yang memang cukup luas. Namun berbeda dengan orangtua mereka yang sedang sibuk membereskan perlengkapan makan dan sisa makanan yang ada di atas meja. Hardi menghubungi bagian OB untuk membereskan serta mencuci perlengkapan makan tersebut agar di bawa pulang dengan keadaan bersih. Sebenarnya dari tadi Hardi memperhatikan Sarah yang memang sedikit murung walau Sarah tersenyum namun Hardi tahu jika senyuman itu serasa di paksakan.


" Jujur mas perhatikan dari tadi, wajahmu terlihat murung sayang. Coba cerita sama mas, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan." ujar Hardi menggenggam tangan istrinya lembut.


Bukan jawaban yang di ucapkan Sarah namun tiba-tiba airmatanya menetes begitu saja di pipinya.


" Tuh kan, pasti ada hal yang kamu sembunyikan dari mas, coba cerita sama mas jangan di pendam seperti itu, mas gak mau kamu menanggungnya sendiri." pinta Hardi agar istrinya bercerita padanya.


Sarah mengusap air mata di pipinya lalu ia mencoba menenangkan hatinya untuk memulai bercerita pada suaminya.


" Mas, apa mas masih mencintaiku?" tanya Sarah.


" Apa? Tentu saja sayang, mas masih sangat mencintaimu." ujar Hardi pasti.


" Walau keadaanku seperti ini?" ucap Sarah.


" Sampai detik ini pun mas masih sangat mencintaimu, kenapa kamu bertanya seperti itu?" Hardi penasaran karena tak biasanya Sarah bertanya hal itu.


" Tidak apa-apa mas, apa mas tak malu punya istri yang jalannya pincang?" ucap Sarah menundukkan kepalanya.


" Siapa yang bilang? Mas itu sangat mencintaimu dalam keadaan apapun, mas gak peduli keadaan kamu. Baik dulu ataupun sekarang perasaan mas tidak akan berubah." balas Hardi meyakinkan.


" Tapi mas kan tampan dan kaya pula, pasti banyak wanita normal yang suka dan mau jadi istri mas. Sedangkan aku sudah cacat seperti ini........" perkataan Sarah terpotong dengan ucapan Hardi.


" Huhsss... Jangan seperti itu sayang, kata dokter kakimu kan bisa normal lagi seperti semula walaupun memang butuh waktu dan proses, jadi kamu jangan pesimis atau berpikiran negatif. Tapi jika memang kamu selamanya seperti itu, mas tidak akan berpaling, mas akan tetap mencintaimu karena cinta mas sudah melekat padamu tak akan pernah berubah sampai kapanpun bahkan sampai maut memisahkan. Dan jika memang sikapmu sekarang ini karena mendengar selentingan dari orang-orang, mas harap kamu jangan mendengar atau memperdulikannya, anggap saja itu angin lalu. Sekali lagi, mas mencintaimu hari ini, esok dan seterusnya." Ujar Hardi sangat yakin dan langsung memeluk istrinya, Sarah pun senang mendengarnya.


" Bunda dan ayah kok berpelukan? Bunda kenapa nangis, Cilla juga ingin peluk bunda." ujar Cilla ketika melihat kedua orangtuanya.


Hardi dan Sarah memeluk Cilla lalu si kembar juga ikut memeluk kedua orangtuanya dan kakaknya, mereka pun berpelukan cukup lama.

__ADS_1


" Kalau seperti ini ayah jadi ingin ikut pulang." ujar Hardi.


" Aku lihat pekerjaan mas masih menumpuk, mana bisa mas pulang begitu saja." ucap Sarah yang melihat banyaknya berkas yang menumpuk di atas meja kerja suaminya.


" Iya sih tapi mas ingin bersama kalian terus." keluh Hardi yang tak rela di tinggalkan.


" Yasudah, kalau boleh aku bantuin mas saja bagaimana? lagian anak-anak juga asik bermain dengan mainan mereka." ujar Sarah menyarankan jalan keluar.


" Wah mas senang banget kalau kamu mau membantu, tapi apa kamu mengerti isi pekerjaan mas?" ujar Hardi.


" Mas jangan meremehkan aku yah, lihat saja nanti." ucap Sarah percaya diri, Sarah pun membantu membaca beberapa berkas yang di rasa Hardi bisa di mengerti oleh Sarah dan Sarahpun mengerjakannya dengan serius walau sesekali Sarah melihat anaknya yang sedang bermain.


Tak terasa sore pun tiba, Sarah dan Hardi akhirnya bisa meregangkan tubuh dan tangannya setelah sibuk dengan berkas-berkas yang tadi menumpuk di atas meja sekarang sudah rapi. Sarah baru menyadari jika tak terdengar suara gaduh anak-anak lalu Sarah melihat ke arah dimana anak-anak bermain dan ternyata mereka bertiga telah tertidur dengan nyenyak nya. Mereka tidak rewel atau meminta susu seperti biasanya mungkin karena kecapean hingga mereka tertidur begitu saja tanpa menggangu kedua orangtuanya.


" Sayang, apa kita harus memindahkan mereka ke atas tempat tidur ruang istirahat!" tanya Hardi.


" Tak perlu mas, nanti mereka terbangun, lagipula karpetnya kan sudah tebal. Kita kasih bantal dan selimut saja, biarkan mereka tidur dulu dan kita istirahat sebelum pulang." ujar Sarah.


" Mas, bisa pesan makanan, aku laper banget." ucap Sarah.


" Baik ratuku." ujar Hardi.


" ah lebay banget kamu mas jadi risih aku." ucap Sarah geli mendengar kata-kata Hardi.


" Yey segitu saja di bilang lebay apalagi kalau mas keluarkan jurus rayuan maut pasti klepek-klepek." canda Hardi.


Setelah memesan makanan, mereka pun menyantapnya dengan lahap karena memang pikiran dan tenaga mereka terkuras karena pekerjaan.


Langit sudah mulai gelap terlihat jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, Cilla sudah terbangun dan sekarang sedang meminum susunya sementara Arka dan Arsa masih saja terlelap. Cilla baru menyadari jika sekarang dirinya sudah berada di rumah, ternyata Hardi dan Sarah membawa pulang mereka setelah Hardi dan Sarah selesai makan sore tadi.

__ADS_1


" Bunda, ini sudah pagi?" tanya Cilla bingung.


" Ini masih malam sayang, beginilah kalau tidur sore jadi linglung kan" balas Sarah.


" Iya, Cilla kira udah pagi, pantes di luar masih gelap hehehee." ucap Cilla lalu menghabiskan segelas susu coklat yang di pegangnya.


" Cilla mau mandi? pakai air hangat." ujar Sarah.


" Iya bunda, Cilla mau mandi soalnya gerah." balas Cilla.


" Lia.... Lia... siapkan air hangat, Cilla mau mandi." ujar Sarah memanggil Lia.


" Baik nyonya." balas Lia.


Setelah itu tak lama Lia kembali dan mengajak Cilla untuk segera mandi.


_______


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Arka dan Arsa tidur pulas walau tadi sempat bangun karena ingin susu namun sekarang mereka sudah kembali tidur.


Hardi dan Sarah duduk bersandar di ujung tempat tidur sambil menyaksikan drama korea kesukaan Sarah. Sarah sangat fokus dengan apa yang di tonton nya sementara Hardi yang tak tahu alur ceritanya dan tak begitu tertarik juga hanya menemani istrinya saja.


Sarah menonton drama yang bergenre romance comedy, terkadang Sarah tertawa dan terkadang dia terhanyut dalam isi ceritanya. Sarah menyandarkan kepalanya kepada pundak suaminya, sementara Hardi merangkul pundak istrinya untuk semakin dekat dengannya.


Terlihat adegan romantis di layar televisi dimana sang pemeran wanita saling berpandangan dengan sang pemeran pria, mereka duduk di sofa dengan cahaya lampu yang temaram. Dengan gelas wine di tangan mereka berdua lalu tiba-tiba wajah mereka pun mendekat dan terjadilah adegan yang sangat romantis yang termasuk adegan inti dari drama korea itu sendiri. Sang pemeran pria dan wanita pun berciuman dengan intens lalu berhenti sejenak untuk meletakkan gelas yang mereka pegang lalu melanjutkan kembali kegiatan mereka yang tadi tertunda.


Melihat adegan itu wajah Hardi memerah karena memang ini pertama kalinya dia menyaksikan adegan ciuman di sana, yang dia tahu di sinetron tak ada adegan seperti itu. Sementara Sarah yang berada di dekapan Hardi pun tak kalah memerah, malahan jantungnya berdegup begitu kencang. Bagi Sarah adegan itu hanya hal biasa jika dia hanya menontonnya sendirian namun sekarang ada suaminya di dekatnya jadi rasanya berbeda, jantungnya seakan ingin meledak dan tubuhnya terasa panas seakan darahnya mendidih.


Hardi yang mengetahui Sarah mulai salah tingkah dan dia pun sudah mulai tak tahan akhirnya melakukan apa yang di lihatnya di layar televisi. Hardi mulai mengangkat wajah istrinya dan merekapun akhirnya berciuman cukup intens, sebagai suami istri mereka m lanjutkan ke hal yang lebih intim lagi. Tak peduli dengan layar televisi yang telah berganti scene ke adegan comedy, mereka malah semakin panas dan malam pun berlalu dengan penuh gairah.

__ADS_1


Bersambung.....


Selalu dukung Author yah... terimakasih 😊


__ADS_2