
Bu Rahma, pak Herman dan bu Yesi telah menunggu kedatangan Sarah dan yang lainnya, tak berapa lama mobil pun berhenti di depan rumah. Mereka keluar menghampiri mobil itu, dimana Sarah dan yang lainnya turun.
Sarah di bantu oleh Hardi turun dari mobilnya, bu Rahma tersenyum haru melihat putri tunggalnya telah kembali ke rumah. Bu Rahma segera memeluk putrinya seraya menangis bahagia.
"Sarah, akhirnya kamu pulang juga nak" haru bu Rahma.
"Mamah jangan nangis, sekarang Sarah sudah sehat" Sarah mengusap air mata mamahnya.
"Iya sayang, mamah bukan sedih tapi mamah bahagia karena kamu sudah pulang kerumah" Haru bu Rahma.
Lalu kedua mertuanya pun memeluk salah bergantian.
"Selamat datang kembali Sarah" ucap Pak Herman.
"Mamah senang kau kembali, semoga tak akan ada kejadian seperti ini lagi kedepannya" harap bu Yesi seraya memeluk menantunya.
Sarah di bantu Hardi menuju ke kamar karena Sarah masih butuh banyak istirahat. Hardi menyusun bantal di kepala ranjang sebagai sandaran Sarah di sana. Sarah pun bersandar di bantu oleh Hardi dan Hardi menyelimuti Sarah sampai ke pinggang.
"Mas, kenapa menatapku seperti itu?" Hardi duduk di samping istrinya dan menatapnya lekat.
Hardi tersenyum tak mengalihkan pandangannya pada Sarah, "Kau sangat cantik, walau lebammu masih terlihat tapi kau masih tetap cantik"
Sarah tertunduk malu mendengar perkataan suaminya "Mas sekarang sudah bisa menggombal ternyata".
"Ini bukan gombalan sayang, tapi ini ungkapan perasaan yang sesuai dengan kenyataan" Hardi menarik dagu Sarah agar istrinya itu tak menunduk.
"Tadi aku tak melihat Cilla, apa Cilla baik-baik saja?" Sarah rindu akan putrinya.
"Cilla masih di sekolah, sayang. Nanti kalau dia pulang pasti langsung menemuimu" balas Hardi.
"Mas maaf, bisakah ambilkan air untukku?" Sarah ragu karena baru pertama kali menyuruh suaminya.
"Tentu saja sayang, buatmu apapun aku lakukan" Hardi mengacak rambut atas Sarah gemas.
Sarah tersenyum menatap Hardi yang keluar kamarnya, "Mas Hardi sudah sangat berubah. Sikap dingin dan angkuhnya sudah berkurang. Aku jadi sangat bahagia dengan sikapnya yang lebih perhatian seperti sekarang." batin Sarah.
Tak berselang lama, Hardi pun kembali ke kamar dan di belakang Hardi ada Cilla yang berlari melewatinya ke arah Sarah.
"Bunda... Cilla kangen" Cilla meloncat ke tempat tidur seraya memeluk Sarah erat.
"Sayang, jangan seperti itu sama bunda. Ingat yah bunda masih sakit" Hardi memperingatkan putrinya.
__ADS_1
"Tak apa mas, aku sudah baikan kok." Sarah mengecup gemas pipi Cilla.
"Bunda kenapa lama banget di rumah sakit, sampai ayah nangis-nangis" jujur Cilla.
Sarah membulatkan matanya menatap suaminya dan tersenyum. Hardi yang di tatap seperti itu jadi salah tingkah karena putrinya berkata terlalu jujur pada istrinya.
"Yaudah sayang, kamu mandi dan ganti baju dulu, udah bau asem begini" Hardi mengangkat tubuh Cilla dari ranjang dan mengantarkan ke depan pintu kamar yang di sana ada Lia menunggu.
"Oh... ternyata mas bisa nangis juga yah" ledek Sarah.
"Ah... tak begitu sayang, Cilla hanya membesar-besarkan" Hardi mengelak.
"Tak apa sih nangis juga, aku malah senang" Sarah tersenyum.
"Kok senang?" Hardi
"Senang karena mas benar-benar mencemaskanku" ucap Sarah.
Hardi memeluk Sarah dengan erat lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
"Semoga kejadian itu tidak akan pernah terjadi lagi yah sayang. Aku bisa gila bila kehilanganmu" Gumam Hardi yang terdengar oleh Sarah.
"Kau bilang apa tadi? Coba ulangi?" Hardi masih saja menggelitik perut Sarah.
"Udah... mas, ampun... iya iya maaaf, aku kan cuma bercanda" Sarah tertawa lepas dengan ulah suaminya.
Sarah belum bisa membalas kelakuan suaminya karena masih terasa lemas. Ia hanya bisa tertawa saat suaminya terus menggoda.
________
Malam pun tiba, Cilla masuk kedalam kamar orangtuanya. Ia ingin tidur di samping bundanya karena memang ia sangat merindukan Sarah yang beberapa hari ini tidak bertemu. Cilla loncat ke atas ranjang lalu memposisikan dirinya tidur di tengah ranjang di samping bundanya yang sedang berbaring namun disana terhalang oleh Hardi.
Hardi dan Sarah tidak memberitahu kebenarannya pada Cilla, yang Cilla tahu bahwa Sarah sakit dan di rawat di rumah sakit beberapa hari ini bukan karena penculikan. Lagi pula Cilla tak akan faham juga jika ia mengetahui yang sebenarnya.
"Ayah... Ayah pergi sana, jangan dekat-dekat bunda" Cilla menarik Hardi karena tidur di tengah memeluk Sarah.
"Gak mau! Ini kan bundanya ayah. Ayah mau bobo meluk bunda" Hardi tak bergeming walau Cilla terus menarik tangannya.
"Gak, itu bundanya Cilla. Cilla mau bobo meluk bunda. Awas ayah" Cilla tak pantang menyerah.
"Udah dong mas, jangan ngerjain Cilla terus. Kasihan kan dia" Sarah gemas dengan tingkah suami dan putrinya itu.
__ADS_1
"Gak mau, mas juga kangen kamu sayang" tolak Hardi.
Lagi-lagi Cilla berusaha menjauhkan tubuh Hardi dari tubuh Sarah. Lama-lama Cilla pun merasa lelah lalu diam dengan wajah yang di tekuk.
Karena merasa sudah puas mengerjai putrinya akhirnya Hardi melepaskan pelukannya dan bergeser ke samping ranjang dan Cilla dengan cepat tidur di tengah di antara orangtuanya.
Cilla memeluk erat Sarah seperti tak mau lepas, lagi-lagi Hardi mengerjai Cilla menariknya kepelukannya.
"Cilla gak mau di peluk ayah, Cilla mau meluk bunda. Ayah lepasin" Cilla berontak mencoba melepaskan dirinya.
"Gak mau, sekarang ayah ingin meluk Cilla" Hardi tak mau melepaskan tubuh Cilla.
"Ayah, lepasin Cilla" berontak Cilla akhirnya Hardi melepaskannya dan tersenyum puas telah mengerjai putrinya.
Sarah hanya bisa tersenyum dengan tingkah suaminya yang tak habis-habisnya bertingkah kekanak-kanakan seperti itu. Setelah merasa cukup lelah dan malam semakin larut, akhirnya Cilla tidur terlelap.
Sarah beranjak dari tempat tidur dan hendak berjalan namun ia terhenti karena mendapat pertanyaan dari Hardi.
"Sayang, mau kemana?" tanya Hardi.
"Mau ke kamar mandi, mas belum tidur? balas Sarah lalu kekbali melontarkan pertanyaan pada Hardi.
"Mas belum bisa tidur, lagi pula baru jam 9.30 malam. Mas belum ngantuk" balas Hardi.
Sarah melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi dan tak berapa lama sudah kembali keluar. Terlihat Hardi sedang duduk di sofa samping tempat tidur, dia menatap Sarah dan menyuruh Sarah untuk duduk di sampingnya.
Sarahpun duduk di samping Hardi dengan sekejap Hardi memeluk tubuh istrinya. "Kau sudah baik-baik saja kan sayang? maaf yah mas tidak bisa melindungimu." Hardi mempererat pelukannya.
"Jangan minta maaf mas, itu bukan kesalahanmu. Mungkin aku saja yang kurang berhati-hati, jadi seperti ini. Aku tak menyangka jika Malvin bisa bertindak seperti itu. Mas sekarang tak perlu khawatir, aku sekarang kan sudah berada di sampingmu kembali dan dalam keadaan baik-baik saja" Sarah membalas pelukkan suaminya.
Hardi mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, Sarah tersenyum bahagia dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya.
**Bersambung....
Baca juga Karya Author
-Terpikat pesona janda kembang
-Kimita
terimakasih 😊**
__ADS_1