Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Kepulangan Devan


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 8 pagi, Devan terlihat sudah rapi dengan pakaiannya dan koper di tangannya. Ia menuju ke lantai 2 untuk ke kamar kakaknya, lalu ia mengetuk pintu kamar kakaknya.


ttoookkk ttookkk ttookk


Sarahpun membuka pintu kamarnya ternyata Devan yang tadi mengetuk.


"Devan, ada apa?" tanya Sarah.


"Mas Hardi nya mana mbak? aku mau pamit pulang ke rumah mamah" saut Devan.


"Mbak juga tak tahu, tadi bangun pak Hardi sudah tidak ada, mungkin sudah ke kantor. Kau mau pulang?" balas Sarah.


"Iya mbak, soalnya mamah dan papah kan tak tahu kalau aku sudah berada di Indonesia. Yasudah mbak gak apa-apa, kalau begitu aku pamit yah. Sampaikan jika mas Hardi nanya." Pesan Devan lalu ia pun pergi.


"kira-kira pak Hardi semalaman kemana yah? pagi-pagi sudah tak ada di kamar atau memang tak kembali ke kamar semalaman." gumam Sarah bertanya dalam hatinya.


Devan juga berpamitan pada semua asisten rumah tangga terutama bi Lilis yang sudah ia kenal dari kecil. Karena Bi Lilis memang sudah bekerja di rumahnya begitu lama sehingga Devan sudah menganggapnya seperti keluarga. Devan pun akhirnya pergi dari rumah kakaknya di antar oleh pak Tono menuju ke rumah orangtuanya.


_______


Kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah orangtuanya. Devan mengucapkan terimakasih kepada pak Tono sebelum pak Tono pergi.


Terlihat bi Yuyun sedang menyapu di teras rumahnya, bi Yuyun lalu mengalihkan pandangannya melihat seseorang berjalan menghampirinya.


"Den Devan, ini den Devan kan!!!" bi Yuyun mengenali Devan yang memang sudah 6 tahun ini kuliah kedokteran di Inggris.


"Iya bi, bibi sehat" Devan tersenyum pada bi Yuyun.


"Bibi sehat den, sini bibi bawakan kopernya" bi Yuyun hendak meraih koper di tangan devan.

__ADS_1


"Tak usah bi, biar Devan saja yang bawa. Soalnya ini berat, bi Yuyun lanjutkan saja napunya" Devan menolak karena bi Yuyun sudah tua dan memang kopernya sangat berat.


"Mamah dan papah ada dirumah kan bi! Aku mau ngasih kejutan sama mereka." ucap Devan memasuki rumah di ikuti bi Yuyun.


"Ada den, mereka sedang ada di kamarnya." bi Yuyun hendak menuju kamar orangtuanya Devan namun Devan lagi-lagi melarangnya. Karena Devan ingin langsung ke kamarnya dulu setelahnya baru menemui orangtuanya.


"Bi Yuyun bawakan saja saya kopi susu dan potongin juga buah apel ke kamar yah" pinta Devan. Bi Yuyunpun beranjak ke dapur, tak lama ia pun kembali ke kamar Devan dan meletakan secangkir kopi susu dan buah apel yang sudah di potong-potong.


Devan membuka kopernya, mencoba membereskan pakaiannya kedalam lemarinya. 30 menit sudah Devan melakukannya, akhirnya selesai juga. Dia pun beranjak dari kamarnya menuju ke kamar orangtuanya.


ttoookkk ttookkk took ... Devan mengetuk pintu kamar orangtuanya. Bu Yesi berjalan membuka pintu kamarnya lalu ia tersentak akan kedatangan putranya.


"Devan... Kamu pulang, kenapa gak ngasih kabar? kapan kamu pulang?" bu Yesi terkejut melihat anak keduanya. Devan langsung memeluk tubuh mamahnya sambil tersenyum senang.


"Devan kangen banget sama mamah" Devan memeluk mamahnya dengan manja tanpa menjawab pertanyaan mamahnya.


"Ampun pah.. Ampun... sakit... aaww..." Devan mencoba melindungi dirinya di belakang tubuh mamahnya, yah memang tak tertutupi larena memang tubuh Devan itu sangat tinggi di banding mamahnya.


"Udah dong pah, Devan juga baru sampai. Mungkin dia capek" pinta bu Yesi melihat pak Herman terus mengerjai Devan.


"Devan gak capek kok mah, sebenarnya Devan sudah sampai di Indonesia 3 hari yang lalu, cuma Devan tinggal dulu di rumah kakak, Devan sengaja gak memberitahu mamah untuk memberikan kejutan dan mas Hardi juga malah lupa jadi Devan kan sukses membuat mamah dan papah terkejut." ucap Devan cengengesan membuat pak Herman tambah gemas.


"Tuh kan mah, punya anak 2 kelakuan sama saja. Sama-sama bikin gemas orangtua" pak Herman hendak mengerjai anaknya kembali namun bu Yesi melerai mereka.


Mereka bertiga pun saling tertawa, lalu pak Herman memeluk tubuh bidang dan tinggi putranya. Mereka pun duduk di Sofa yang ada di kamar orangtua Devan. Memang kamarnya sangat luas sehingga bisa menyimpan banyak barang.


"Bagaimana kuliahmu sudah selesai?" tanya Pak Herman mulai serius.


"Sudah pah, aku juga sudah dapat lisensi jadi bisa pangsung bekerja di rumah sakit" ujar Devan.

__ADS_1


"Kamu sudah menentukan akan bertugas di rumah sakit mana?" tanya pak Herman.


"Sudah ada 3 rumah sakit yang memberikan surat panggilan sih pah, tapi aku bingung mau pilih yang mana. Dari ke tiga rumah sakit ini menurut papah yang mana yang paling cocok untuk Devan! Devan ingin tahu pendapat papah" dia menyodorkan 3 surat panggilan dari 3 rumah sakit yang berbeda.


"Ini rumah sakit yang sahabat papah kelola, sudah cukup lama rumah sakit ini berdiri. Kenapa kamu tak mencoba bertugas di sini saja! ini rumah sakit besar dan fasilitas nya cukup lengkap" ujar pak Herman menunjuk satu amplop yang berlogo Rumah sakit xxx itu.


"Yasudah kalau begitu Devan pilih yang papah rekomendasikan saja, semoga Devan bisa betah bekerja di sana." akhirnya Devan sudah memutuskan pilihannya sesuai yang papahnya pilihkan.


_________


Hardi terbangun dari tidurnya, lalu melirik jam dindingnta dan waktu menunjukan pukul 11 wib. Hardi beranjak keluar dari kamar tamu lalu menuju keatas, kebkamarnya sendiri. Hardi berpapasan dengan Sarah dan Cilla yang baru keluar dari kamar Cilla.


"Pak Hardi! kemana saja?" Sarah terkejut melihat Hardi yang terlihat baru bangun tidur dengan wajah sembab dan rambut berantakan.


"Saya tidur di kamar tamu, soalnya harus menenangkan diri." balas Hardi datar.


"Jadi semalaman pak Hardi tidur di kamar tamu? mau saya bikinkan kopi?" Sarah menawarkan diri.


"Tak perlu, saya mau mandi terus kekantor" jawab Hardi dingin lalu meninggalkan Sarah yang masih melongo.


"Apa maksud dari kata-kata nya menenangkan diri? apa terjadi sesuatu?" batin Sarah.


Sarah bingung dengan sikap Hardi hari ini yang mulai dingin lagi kepadanya, ia berpikir sepertinya ia melakukan suatu kesalahan yang membuat Hardi bersikap dingin lagi seperti itu. Sarah pun mencoba mengingat-ingat apa kesalahannya kepada Hardi. Namun ia malah menemukan jalan buntu dan semakin tak mengerti. Sarah turun bersama Cilla ke ruang Televisi untuk menonton acara kesukaan Cilla.


"Bunda kenapa bengong?" tanya Cilla.


"Eh... Bunda gak bengong. Bunda cuma lagi memikirkan sesuatu. Cilla lanjutkan nontonnya aja yah. Cartoon nya kan sedang seru tuh" balas Sarah tersenyum mengalihkan pembicaraan.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2