Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Melunak


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Sarah dan Hardi tak sekalipun membahas tentang pak Wahyu. Sarah seolah tak pernah membahas itu dengan suaminya, Hardi yang sebenarnya sangat ingin membujuk Sarah namun ia mengurungkan niatnya karena melihat Sarah kembali ceria, Hardi tak ingin melihat istrinya murung memikirkan hal hingga mengakibatkan stres dan tak baik untuk kandungannya.


Ketika Hardi akan berangkat kerja tiba-tiba Sarah menarik tangannya menghentikan langkah Hardi yang hendak menuju mobilnya.


" Mas sebentar." ucap Sarah menggenggam tangan Hardi sedikit erat.


" Ada apa sayang?" tanya Hardi heran.


" Apa mas tahu dimana papahku di rawat?" pertanyaan Sarah menbuat Hardi terkejut.


" Di RS xxx, kamar no 120, mau mas antar!" ujar Hardi yang merasa senang.


" Iya mas, pada saat jam makan siang mas bisa kan mengantarkanku ke sana?" tanya Sarah.


" Iya sayang, pasti. Nanti mas antarkan kesana." ucap Hardi mengecup kening Sarah kembali lalu melanjutkan langkahnya menuju ke dalam mobil.


Sarah memikirkan hal ini berhari-hari hingga ia bisa mengambil keputusan untuk menemui papahnya dan melihat kondisi papahnya saat ini. Sarah berpikir mungkin ini jalan terbaik walau hatinya belum bisa memaafkan papahnya sepenuhnya namun ia akan berusaha mengabaikan rasa sakit hatinya sebagai seorang anak, darah daging dari papahnya tersebut.


________


Hardi dan Sarah telah tiba di RS xxx, Sarah menguatkan hatinya untuk bertemu dengan papahnya yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah bertemu. Hardi dan Sarah segera masuk ke ruang rawat pak Wahyu, di sana Sarah langsung terkejut mwlihat kondisi papahnya yang terbaring dengan tubuh yang sudah kurus dan rambut yang memutih. Beda sekali dengan bertahun-tahun yang lalu saat terakhir kali Sarah melihat papahnya yang tinggi besar dengan badan yang masih tegap.


Untuk beberapa saat Sarah terdiam mematung, air matanya tak terasa keluar begitu saja tat kala suara panggilan dari Hardi menyadarkan dirinya. Hardi membantu Sarah berjalan mendekati ranjang di mana papahnya berbaring, Hardi memegang kedua pundak Sarah dan berjalan bersama secara perlahan.


Pak Wahyu menoleh ke arah Sarah, wajahnya berbinar dihiasi dengan senyum yang mengembang. Terlihat mimik wajahnya yang sangat bahagia melihat kehadiran Sarah di dekatnya.


" Sarah! nak, ini papahmu. Maafkan papah yah nak, maafkan papah yang telah meninggalkanmu." ucap Pak Wahyu sambil tersenyum namun terlihat buliran air mata di ujung sudut kedua matanya.


Sarah hanya terdiam, dia mencoba menahan air matanya keluar sekuat tenaga. Ia mencoba menguatkan hatinya dan meyakinkan hatinya untuk memaafkan atau karena rasa iba serta prihatin dengan keadaan papahnya. Hardi mendorong perlahan Sarah untuk semakin mendekat dan meletakkan tangan Sarah di samping ranjang pak Wahyu, lalu tangan pak Wahyu perlahan dan gemetar bergerak memegang tangan Sarah, sekali lagi Sarah hanya diam sambil menatap tangannya yang di genggam oleh pak Wahyu. Setetes air mata membasahi tangan pak Wahyu, itu adalah air mata Sarah yang menetes begitu saja tanpa bisa tertahan.

__ADS_1


" Sarah, sekali lagi papah minta maaf. Papah sangat menyesal telah menelantatkanmu waktu dulu, mungkin ini adalah balasan yang papah terima karena perbuatan papah dulu pada kalian. Namun papah senang sekali karena kamu sudah mau menemui papah, kamu tak perlu memaafkan papah, melihatmu bahagia saja papah sudah bahagia." ujar Pak Wahyu dengab lemah.


Karena tak sanggup menatap papahnya dan rasa iba pada kondisi papahnya, Sarah berlari keluar melepaskan genggaman tangan pak Wahyu, Hardi yang kaget segera menyusul Sarah. Hardi melihat Sarah menangis tersedu-sedu di depan ruangan pak Wahyu, Sarah memang masih merasa sakit hati dengan apa yang papahnya lakukan terdahulu namun melihatnya tak berdaya seperti ini, Sarah merasa hatinya sudah mulai luluh.


Hardi menghampiri Sarah dan duduk di samping istrinya lalu ia mencoba untuk menenangkan Sarah. Sarah terus saja tak bisa menahan air matanya yang terus mengalir keluar dari kedua matanya, melihat itu akhirnya Hardi berinisiatif untuk mengajak Sarah untuk pulang. Sebelum itu Hardi kembali masuk ke dalam ruang rawat pak Wahyu untuk berpamitan dan berjanji untuk kembali datang jika Sarah sudah bisa tenang. Akhirnya Hardi dan Sarah pulang kerumah dengan Sarah yang masih terlihat sedih, di dalam mobil Hardi mendekap Sarah dan menenangkan istrinya tersebut.


Setelah sampai rumah, Sarah segera masuk kedalam kamarnya, ia duduk di tepi ranjang lalu mencoba menenangkan hatinya. Hardi masuk ke dalam kamar dengan segelas air di tangannya dan memberikannya pada istrinya agar bisa tenang.


" Sayang, sudah jangan menangis terus." ucap Hardi.


" Iya mas, aku juga tak tahu kenapa air mata ini terus keluar begitu saja. Aku tak menyangka jika papah dalam kondisi yang sangat terpuruk seperti itu. Aku kira papah meninggalkan kami itu akan bahagia dan bebas baginya ternyata dugaanku salah. Kenapa dia meninggalkan kami jika akan hidup menderita seperti itu? kenapa dia tak bertahan saja bersama kami?" ujar Sarah dan lagi-lagi berlinang air mata.


" Sudah sayang, mungkin ini memang takdir beliau dan pilihan beliau yang salah. Kita doakan saja semoga beliau bisa melewati masa kritisnya dan bisa sembuh dari penyakitnya." ucap Hardi.


" Iya mas, aku juga akan memikirkan untuk memaafkannya. Aku akan menghilangkan egoku, aku memang masih marah namun dia tetap papahku, aku masih tetap darah dagingnta." ucao Sarah luluh.


" Yasudah, nanti kita menjenguknya lagi. Mas juga sudah meminta papahmu untuk di pindahkan ke rumah sakit tempat Devan berada dan menyuruh Devan untuk selalu memberikan kabar pada kita. Karena rumah sakit sekarang kecil, mas harus memindahkan ke rumah sakit yang lebih besar." ujar Hardi.


Hardi memeluk Sarah dan mengelus rambut panjang Sarah yang terurai indah. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Cilla masuk kedalam kamar orangtuanya.


" Ayah! Bunda kenapa nangis?" tanya Cilla.


Hardi melepaskan pelukannya pada istrinya, Sarah memanggil Cilla untuk mendekat ke arah mereka.


" Bunda tidak apa-apa nak, bunda hanya kelilipan. Bunda tak akan menangis, kalau bunda nangis nanti dede bayi ikut nangis." ucap Sarah mencoba tersenyum ke arah Cilla.


" Dede bayi jangan nangis yah, bunda juga gak nangis. Dede bayi juga harus sehat biar nanti bisa main sama kakak." ucap Cilla mengelus perut Sarah seolah berbicara dengan bayi dalam kandungan Sarah.


" Yasudah Cilla cepat tidur, sudah malam biar besok tidak bangun kesiangan." ujar Hardi.

__ADS_1


" Iya ayah, bunda Cilla bobo dulu yah." Cilla mengecup pipi Sarah dan Hardi bergantian lalu keluar dari kamar orangtuanya.


________


Sinar matahari sudah mengintip di sela gorden kamar Sarah, Sarah masih tertidur lalu ia mencium aroma greentea yang menenangkan. Sarah perlahan membuka matanya dan melihat Hardi membawa nampan di tangannya dengan segelas greentea dan roti bakar.


" Pagi sayang." ucap Hardi dengan senyum manisnya.


" Eh mas sudah bangun." ucap Sarah membalas senyuman suaminya.


" Sudah dong sayang malahan sudah wangi dan tampan." ucap Hardi percaya diri.


" Sekarang jam berapa?" tanya Sarah.


" Jam 9 pagi." balas Hardi.


" Jam 9! kok mas tak berangkat kerja sih." ujar Sarah.


" Hehehe hari ini mas tak ke kantor, lagipula pekerjaan tak begitu banyak. Mas kan bosnya jadi bisa santai kapan saja. Hari ini mas ingin memanjakan itri mas yang sedang hamil besar ini." balas Hardi.


Hardi memotong rotinya lalu menyuapi Sarah, Sarah sangat senang akan perhatian Hardi, Sarah menerimanya dengan senyuman. Beberapa potong Sarah menyantap roti itu dan meminum teh yang membuatnya segar kembali di pagi hari. Hardi sangat senang memanjakan istrinya seperti ini, ia tak akan melewatkan momen yang jarang seperti ini.


" Sekarang kau mandi yah, apa mau mas mandiin!" goda Hardi.


" Apaan sih mas ini! aku mandi sendiri saja." ucap Sarah memukul dada bidang Hardi.


" Yah siapa tahu, mau sekalian gitu..." Hardi terus menghoda Sarah.


" Udah ah.. aku mandi dulu." Sarah bangkit dari tempat tidur lalu segera menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan cepat karena ia tahu Hardi terus mengikutinya. Hardi hanya tersenyum karena berhasil menggoda istrinya yang tersipu malu.

__ADS_1


Bersambung......


Jika ada Saran dan Kritik silahkan tulis di kolom komentar... ☺️


__ADS_2