
Adrian ingin memesan minuman kesukaannya, memang ini cafe langganannya. Walaupun cukup jauh dari rumahnya namun cafe ini cukup dekat dengan kantornya dan dekat pula dengan kampus kekasihnya. Adrian sedang menunggu pesanannya sambil mengedarkan pandangannya dan tak menyangka dia melihat Cilla berada di sana sedang duduk bersama teman-temannya namun dia penuh tanya dengan pria-pria yang duduk bersama mereka.
" Oh... Terimakasih." ucap Adrian ketika menerima pesanannya, tanpa pikir panjang Adrian langsung menghampiri meja Cilla.
Setelah berada di belakang Cilla, Adrian menepuk dan meletakkan tangannya di pundak kanan Cilla.
" Cilla, sedang kumpul bareng yah!" tanya Adrian mengejutkan Cilla.
" Eh... Adrian, iya aku cuma ingin nongkrong saja sama teman-teman." balas Cilla, Adrian mengambil kursi di belakangnya lalu meletakkan kursi di samping Cilla kemudian duduk disana.
" Apa kabar mas Adrian?" tanya Dona cengengesan.
" Baik, udah pada pulang kuliahnya?" tanya Adrian.
" Iya sudah dari tadi." balas Citra.
" Kamu kok gak telpon atau chat aku sih!" Adrian mengelus kepala Cilla.
" Maaf Adrian, aku lupa mau ngabarin kamu." balas Cilla lembut dengan senyuman di bibirnya. Sangat beda sekali dengan sikap Cilla yang dari tadi hanya diam saja dan Mario menyadari perubahan sikap Cilla.
" Oh iya.. maaf yah, perkenalkan ini pacar saya, Adrian." ujar Cilla memperkenalkan Adrian karena melihat ketiga pria di depannya terlihat bingung.
Mereka pun saling berjabat tangan saling memperkenalkan diri, namun Mario sedikit merubah sifatnya seperti ada rasa tidak suka dengan kehadiran Adrian.
Cilla pun asik berbincang dengan kekasihnya seakan yang lainnya terlupakan, Citra dan Dona juga masih saja cari perhatian pada Arman dan Damar sementara Mario mulai tidak nyaman karena merasa di hiraukan. Mario pun mengajak kedua temannya untuk kembali ke kantor, Damar dan Arman pun mengikuti Mario namun sebelumnya Arman dan Damar sudah saling bertukar nomor telepon dengan Dona dan Citra.
Dona dan Citra memperhatikan Cilla yang tengah asyik berbincang dengan kekasihnya seakan dunia milik mereka berdua. Tanpa peduli dengan adanya mereka berdua.
" hello... yang lagi asyik pacaran sampai lupa ada teman yang lagi ngeliatin." ujar Dona.
" Sorry sorry... soalnya Gue lihat kalian sedang asyik berbincang dengan gebetan kalian, daripada ganggu mending Gue juga ngobrol aja sama Adrian hehehe."
" Iya iya... sampai Loe gak nyadar kalau mereka udah pergi."
" Yasudah kita pulang duluan aja yah, gue gak mau ganggu orang yang lagi pacaran. Bye Cilla, bye Adrian." ujar Dona yang sebelumnya sudah cipika-cipiki dengan Cilla, begitupun Citra yang ikut dengan Dona.
Setelah melihat Citra dan Dona telah jauh baru Adrian membicarakan sesuatu yang dari tadi ingin ia tanyakan kepada Cilla.
" Sayang, sepertinya cowok yang berjaket denim itu suka sama kamu deh, sesekali aku lihat dia memperhatikan kamu terus."
" Oh... Mario. Ah peduli amat, aku sama sekali tak meresponnya kan, kamu juga lihat sendiri tadi."
" Iya deh, aku cuma tanya aja soalnya aku tak mau ada orang lain yang akan merebut kamu. Kamu itu milikku dan selamanya tetap milikku." Adrian mencubit gemas pipi kekasihnya itu.
" Iya aku juga tahu kok, kamu cinta banget kan sama aku." ucap Cilla menggoda Adrian.
" Yah... itu betul banget, kamu juga cinta kan sama aku."
" Cinta gak yaaahhh." ucap Cilla pura-pura berfikir.
" Sayang, kamu cinta aku kan!" dengan nada menekankan.
" Hehehe iya, aku cinta kok sama kamu, aku sayang kamu." Balas Cilla tertawa.
" Ih... masa harus berfikir dulu baru bisa jawab." Adrian pura-pura sebal.
" Yeehhh... gak lucu ah, kenapa kamu ngikutin tingkah aku sih! Jelek tahu."
" Hahaha iya, aku percaya sama kamu, makasih banyak sayang." Adrian mengacak sayang rambut Cilla.
Adrian meletakkan sebuah kotak merah yang di ikat pita cantik di depan Cilla begitu saja.
" Ini apa? tanya Cilla bingung.
" Buka aja." senyuman Adrian membuat penasaran.
Cilla pun membuka kotak tersebut dan sedikit terkejut melihat isinya yang ternyata sebuah cincin sederhana namun terlihat elegan dan Cilla hanya masih terdiam.
" Ini apa?"
" Cincin."
__ADS_1
" Iya tahu, cincin. Tapi maksudnya apa?"
" Aku ingin hubungan kita lebih serius."
" Maksudnya, kamu melamar aku?"
" Iya, aku melamarmu. Memang sih ini masih antara kita berdua, nanti kalau orangtuaku ke Indonesia, aku akan resmi melamarmu di depan orangtua kita."
Mata Cilla berkaca-kaca, ia sangat terharu sekaligus bahagia mendapat lamaran dari Adrian.
" Tapi aku masih kuliah, aku juga belum tahu tanggapan ayah nanti."
" Kita kan bisa bertunangan dulu dan nikahnya bisa setelah kamu lulus, kan!"
" Iya, terimakasih sayang. Aku sayang banget sama kamu." Cilla memeluk Adrian.
" Sini aku pasangkan cincinnya, aku akan berusaha agar ayahmu dan keluargamu menerimaku. Aku tak akan menyerah untuk bersamamu." Adrian mengecup kening Cilla.
" Maaf yah, tadinya aku ingin mempersiapkan hal romantis untuk melamarmu namun aku malah tak sabar untuk segera melamarmu hati ini, nanti aku akan mengulang lamaranku di tempat romantis." tambah Adrian.
" Tak perlu, ini saja sudah cukup romantis untukku, yang penting aku sekarang sudah yakin dengan kesungguhan hatimu."
" I love you."
" I love you too."
Senyuman mengembang di bibir keduanya pertanda bahwa hati mereka tengah berbahagia, lamaran yang di ungkapkan oleh Adrian membuat Cilla sangat bahagia. Hatinya semakin yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat, hatinya mungkin tak akan goyah dengan kesungguhan cinta Adrian padanya.
_______________
Adrian membuka pintu rumahnya lalu langsung menuju ke arah dapur untuk mengambil sebotol air mineral didalam kulkas dan wajahnya selalu berseri-seri dengan senyuman menghiasi wajahnya. Reza yang melihat tingkah aneh abangnya tak segan langsung bertanya.
" Loe kenapa bang? dari masuk senyum-senyum terus, mana gak nyapa seperti biasanya lagi."
" Sorry sorry, hari ini gue lagi senang banget." Adrian duduk di samping adiknya.
" Senang kenapa? bagi-bagi dong sama gue."
" Gini, gue tadi melamar Cilla."
" Lah kenapa loe sekaget itu sih?"
" Oh... gak.. gak... Terus gimana? Cilla nerima loe?" Reza sedikit terlihat lesu.
" Pastinya, dia malah terlihat senang banget dan langsung menerima gue tanpa pikir panjang." Senyuman masih mengembang di bibir Adrian.
" Selamat bang, akhirnya loe gak bakal nikah." ujar Reza dengan senyum yang terkesan di paksakan.
" Makasih bro, tapi gue harus nunggu Cilla lulus kuliah dulu, gue juga harus bilang sama nyokap bokap buat melamar Cilla secara resmi. Semoga gak ada kendala, terutama ayahnya Cilla yang sekaligus bos gue."
" Iya bang, jangan nyerah... Semangat, gue doakan keluarga Cilla nerima keluarga kita dengan tangan terbuka."
" Ammiinnn.. makasih Za."
________
Cilla sedang menelungkup di atas tempat tidurnya, ia terus memandangi cincin di jari manisnya dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Tanpa disadari Cilla, Sarah masuk membawa segelas susu hangat yang biasa Cilla minum sebelum tidur.
" Wah .... Cincin dari siapa tuh?" pertanyaan Sarah membuat Cilla terkejut dan langsung duduk di tepi tempat tidurnya.
" Eh Bunda, kok malah bunda yang nganterin susu Cilla?" ucap Cilla tanpa menjawab pertanyaan dari Sarah.
" Kayaknya putrinya bunda sedang bahagia, cincinnya bagus. Apa Adrian yang memberikannya?" Sarah meletakan susu di atas meja kecil dan ia pun duduk di samping Cilla.
" Iya bun, tadi Adrian melamarku."
" Hah.. Yang benar?" Sarah sedikit terkejut.
" Iya, sepertinya dia sangat serius dengan hubungan kami."
" Tapi kan kalian masih belum lama pacaran dan Cilla juga belum lulus kuliah."
__ADS_1
" Itu yang buat Cilla bingung, Cilla juga terlanjur menerima lamaran Adrian karena memang itu juga yang Cilla mau. Tapi.... Cilla belum bisa bicara pada bunda maupun ayah, tadinya Cilla akan cerita besoknya sebelum bunda tahu sekarang. Yang Cilla khawatirkan itu dengan pendapat ayah, Cilla takut ayah akan menolak Adrian. Soalnya Adrian bilang jika orangtuanya telah datang dari Australia ke Indonesia, mereka akan datang ke rumah kita untuk melamarku secara resmi. Bunda, bantu aku bicara pada ayah, yah! please!!"
" Iya iya, bunda akan bantu. Tapi bunda juga tak tahu bagaimana reaksi ayah nanti, semoga ayah bisa menerima hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius."
" Sebenarnya Adrian tak menuntut untuk segera menikah sih, dia hanya ingin kami bertunangan terlebih dahulu, dia bersedia menunggu sampai aku lulus."
" Bagus kalau begitu, besok kita temui ayah dan menjelaskan semuanya, pasti ayahmu mengerti. Yasudah, sekarang kamu tidur, jangan lihatin cincinnya terus, gak bakalan hilang kok hehehe. Bunda keluar yah, selamat tidur."
" Selamat tidur juga bunda."
_________
Hardi baru keluar dari kamar mandi ketika Sarah baru saja masuk kedalam kamarnya.
" Habis darimana?" tanya Hardi sambil mengeringkan rambut dengan handuk di tangan kirinya.
" Aku habis dari kamar Cilla, biasalah urusan perempuan."
" Tumben nih, rahasia-rahasiaan."
" Besok juga mas tahu, soalnya Cilla mau bicara serius dengan mas."
" Gak bisa sekarang? Sepertinya kamu sudah tahu!"
" Biar Cilla aja yang jelasin sama mas."
Pembicaraan pun tidak berlanjut karena dengan sekejap Hardi telah terlelap, rasa kantuknya lebih kuat daripada rasa penasarannya. Sarah tersenyum memandang suaminya yang tengah terlelap, pria setengah baya di hadapannya masih terlihat tampan di matanya. Rasa Cinta Sarahpun semakin bertambah seiringnya waktu, masa pernikahan yang sudah lebih dari 10 tahun pun masih terasa belum lama baginya. Hambatan dan rintangan yang Sarah rasakan menjadi ringan dengan saling melengkapi satu sama lain.
Hardi, Sarah dan Cilla sudah duduk di ruang keluarga, tak berapa lama Arka dan Arsa pun ikut berkumpul disana. Cilla terlihat ragu untuk berbicara terlebih dahulu pada ayahnya, hatinya tidak karuan antara was-was dan khawatir jika ayahnya nanti menolak menerima lamaran Adrian sebelum Adrian benar-benar melamarnya.
" Kenapa? Kok diam! Katanya ada yang ingin kamu bicarakan pada ayah." Hardi memulai pembicaraan karena dari beberapa menit ini mereka hanya diam.
" Ah.... itu.... begini .. " Cilla menunjukkan cincin di jari manisnya.
" Maksudnya apa?" Hardi sedikit menaikkan nada bicaranya.
" I-itu..... Adrian melamar Cilla." ucap Cilla ragu.
" Apa? memangnya siapa dia berani sekali melamarmu tanpa datang menemui ayah terlebih dahulu." Hardi sedikit tak suka.
" A... ayah... ini ... hanya simbolis saja, untuk lamaran resminya, Adrian akan datang dengan keluarganya nanti."
" Kapan?"
" Aku juga tak tahu pastinya tapi katanya jika orangtuanya datang dari Australia, Adrian akan langsung melamarku secara resmi."
" Cilla, kamu itu masih kecil dan kuliah juga belum selesai, ayah minta kamu untuk selesaikan kuliah terlebih dahulu dan merintis karirmu terlebih dahulu baru kamu bisa menikah." ujar Hardi dengan serius.
" Tapi ayah, aku sudah menerima lamaran Adrian dan Adrian juga tak memaksakan aku untuk segera menikah. Adrian akan menungguku sampai lulus."
" Tunggu. Apa dia sanggup menunggu beberapa tahun sampai kamu lulus dan berkarir? Apa omongannya bisa dia mempertanggungjawabkan? Apa kamu yakin dia tak akan mengingkarinya?" perkataan Hardi membuat Cilla terdiam sejenak.
" Tapi ayah ...."
" Tak ada tapi tapian, ayah tak izinkan kamu menikah terlalu dini, kamu itu masih banyak waktu untuk merintis karir terlebih dahulu sebelum kamu harus menanggung beban rumah tangga. Tapi ayah akan mempersilahkan dia datang bersama orangtuanya, setelah melihat semuanya, ayah akan menilainya dia cocok denganmu atau tidak dan juga ayah harap kamu tak akan menentang ayah jika ayah menolaknya."
" Baik ayah... Terimakasih" ucap Cilla tak bersemangat.
Cilla meninggalkan tempatnya menuju kedalam kamarnya dengan wajah murung. Sarah menepuk pundak suaminya terpihat sangat kecewa lalu mengikuti Cilla yang sudah masuk kedalam kamarnya. Sarah duduk di samping Cilla yang sedang menangis, Sarah mengelus kepala putrinya dan memberinya nasihat juga sekaligus untuk menenangkannya. Mendengar perkataan bundanya, Cilla pun menjadi tenang, ia pun bangun dan langsung memeluk bundanya, Sarah membalas pelukkan Cilla dan mengelus kembali rambut panjang Cilla yang tergerai sebatas punggungnya.
Sarah kembali ke kamar dimana suaminya sedang berkutat dengan pekerjaannya.
" Mas, sepertinya Cilla benar-benar menyukai Adrian, apa mas tak terlalu keras dengan Cilla?" Sarah duduk di samping suaminya.
" Mas tidak keras, mas hanya ingin Cilla menikmati masa mudanya saja. Pernikahan itu sesuatu yang tak mudah untuk dijalani, pernikahan itu butuh kematangan terutama dari sisi mental. Mas merasakan bagaimana pernikahan tanpa rencana yang matang dan hanya bermodalkan cinta dan akhirnya berakhir begitu saja. Mas tak ingin Cilla mengalami hal seperti itu juga, mas ingin Cilla memikirkan terlebih dahulu apa keputusannya benar atau salah agar dia bisa menikah sekali dalam seumur hidup tanpa adanya kegagalan."
Sarah hanya diam mendengar perkataan suaminya, memang tak ada salahnya menikah muda tapi benar juga, semua itu perlu perencanaan yang matang. Sarah juga menjadi ingat pada dirinya di masa lalu yang menikah begitu saja karena suatu yang tak terduga namun ia juga tak menyangka bahwa pernikahan yang di awali dengan kecelakaan bisa berjalan baik sampai sekarang. Tapi tak semua bisa berjalan semudah itu, Sarah berharap Cilla dan Adrian bisa menjalankan hubungannya dengan baik, dalam hal apapun. Sarah naik ke atas tempat tidur lalu menarik selimutnya hingga sampai pinggangnya, ketika matanya sudah terpejam dia merasakan pelukan di tubuhnya. " Aku hanya bisa tenang tidur jika memelukmu, aku mencintaimu." bisik Hardi lembut, Sarah hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya.
Bersambung.....
__ADS_1
Maaf yah lama up, memperbanyak ibadah di hari ramadhan.
Mohon maaf lahir dan batin untuk pembaca setia ' Bunda Untuk Cilla ' 🙏🙏