
Pagi hari Devan sudah duduk di meja makan, dia sedang menikmati sebuah roti yang di oles selai kacang dengan ditemani secangkir kopi susu kegemarannya.
Hardi pun turun dari kamarnya menuju ke meja makan di ikuti oleh Sarah di belakangnya, mereka pun duduk bersebelahan di depan Devan.
"Ehem... ehemm... uhuk uhuk uhuk" Devan tiba-tiba pura-pura batuk.
"Kamu keselek, kalau keselek minum aja" ucap Hardi santai sambil mengoleskan selai nanas di rotinya.
"Mmm... Gak keselek kok, cuma ingat semalam aja. Makanya mas kalau lagi main jangan kasar kasar lah, kan bikin seisi rumah denger." celetuk Devan menggoda Hardi sambil cengengesan.
Bi Lilis dan Bi Sumi yang sedang melayani mereka pun senyum-senyum, mendengar perkataan dari Devan dan mungkin juga mereka mengingat kejadian tadi malam.
"Kamu tuh yah, pikirannya ngeres mulu. Orang semalam gak ngapa-ngapain" ucap Hardi keceplosan, Sarah hanya merona malu dengan tersenyum canggung.
"Masa sih, ah gak percaya. Mbak Sarah sampai teriak kenceng gitu, Mbak kalau di kasarin sama mas Hardi bilang ke aku yah. Aku siap membantu menghukum mas Hardi sampai kapok" Devan sangat puas menggoda kakaknya hingga Hardi jengkel di buatnya.
"Dasar bocah, seneng banget bikin orang jengkel. Mas doain kamu jadi jones seumur hidup" canda Hardi memasang wajah jengkel.
Sarah melerai mereka untuk tak bercanda terus saat makan. Devan masih saja cengengesan senang membuat kakaknya kesal. Hardi melemparkan sendok kearah Devan namun tak kena karena Devan berkelit dan sendok itu jatuh ke lantai.
Cilla baru selesai berpakaian seragam sekolah dan ikut gabung untuk sarapan. Cilla memakan rotinya yang sebelumnya sudah Sarah siapkan beserta segelas susu putih kesukaan Cilla.
Setelah selesai sarapan, Cilla dan Sarah pun berangkat untuk kesekolah pamit pada Hardi dan Devan.
Hardi pun segera ke kamar begantibpakaian lalu siap-siap untuk berangkat bekerja, sementara Devan masih saja santai-santai di depan televisi karena memang belum ada kerjaan yang bisa ia kerjakan. Ia masih menimbang-nimbang untuk bekerja di rumah sakit mana yang cocok dengannya.
"Kamu tak ada acara keluar Van? sebelum kamu mulai bekerja nantinya." tanya Hardi.
"Sekarang sih belum pengen kemana-mana mas, lagian teman-teman aku di sini belum pada tahu kalau aku sudah pulang. Nanti sih agak siang aku akan pulang kerumah mamah" balas Devan.
"Oh iya, mas lupa ngabarin mamah dan papah kalau kamu sudah di Indonesia, kamu udah telpon mereka?" tanya Hardi.
__ADS_1
"Belum mas, gak perlu nelpon juga lagian aku kan mau kesana jadi biar kejutan juga" balas Devan dengan cengiran khasnya.
"Yaudah hati-hati aja, tahu kan sikap papah pada kita itu seperti apa" canda Hardi.
"Iya, semua sikap papah turun ke mas semua" balas Devan.
"Yasudah ngobrol sama kamu gak bakal ada habisnya, aku berangkat" pamit Hardi pada adiknya.
Devan kembali fokus nonton televisi walau acaranya tak begitu menarik menurutnya. Namun demi mengisi waktu luang mau tidak mau ia menyaksikan acara yang ditayangkan di televisi.
***
Sebulan setelah Launching produk kecantikan Hasa Beauty.
Dikantor
Hardi memanggil Rio untuk segera keruangannya dan disuruh untuk membawa beberapa berkas yang ia suruh. Tak berapa lama akhirnya Rio tiba di ruangan Hardi.
"Ini pak, penjualannya sangat bagus dan lihat grafik penjualan ini setiap minggunya naik 10% hingga 15%. Itu sudah melebihi dari target yang kita tetapkan. Semuanya juga sangat puas dengan hasil dari penggunaan produk kita, banyak yang komentar jika kulitnya menjadi lebih cerah dan halus dalam waktu 2 minggu." jelas Rio sambil memberikan berkas-berkas di tangannya dan menunjukan beberapa komentar positif di iPad yang di bawanya.
"Bagus, bagus... Ok mulai sekarang kita siapkan beberapa Outlet untuk memasarkan produknya secara langsung. Tempatkan di MK mall dan cabang-cabang lainnya. Rekrut pegawai-pegawai yang kompeten dan berpenampilan menarik agar menambah kesan baik nantinya" ujar Hardi memerintah Rio.
"Baik pak, akan saya urus semuanya dan nanti saya berikan rincian laporan nya" Rio pun bangkit dan permisi keluar ruangan Hardi.
Hardi sangat puas akan hasil dari produknya ini, segala pengeluaran dan kerja kerasnya terbayar sudah dengan omset penjualan yang terus meningkat.
***
Malam ini Hardi merasa sangat lelah, ia ingin sekali segera tidur untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.
Sebelumnya ia ingin mandi air hangat terlebih dahulu agar tubuhnya segar kembali. Ia selesai mandi namun ia lupa membawa baju handuknya.
__ADS_1
"Sar, Sarah... tolong ambilkan saya baju handuk, tadi aku lupa bawa." pinta Hardi sedikit berteriak. Tak lama Sarah pun menyerahkan baju handuk kepada Hardi di balik pintu kamar mandi.
Sarah hendak kembali ke tempat tidur karena memang waktu menunjukan pukul 9 malam dan ia benar-benar mengantuk. Namun Hardi tiba-tiba menarik tubuh Sarah dan memeluknya dari belakang, membuat Sarah tersentak kaget karena perlakuan Hardi.
"Pak, lepasin. Saya mau tidur, tuh lihat bajuku juga kan jadi basah." Sarah mencoba melepaskan dirinya dengan terus meronta dari dekapan suaminya.
"Sebentar.. Sebentar saja aku ingin memelukmu sebentar saja. Ini membuatku lebih nyaman dan sedikit mengurangi rasa penatku, biarkan aku seperti ini untuk sesaat. Tubuhmu wangi dan hangat yang bisa menenangkan dan meringankan beban pikiranku." ucap Hardi memelas semakin mempererat pelukannya.
Sarahpun hanya diam membiarkan suaminya memeluknya, mungkin memang suaminya merasa sangat lelah akan beban pekerjaannya selama ini. Sebenarnya Ia juga ingin menjadi naungan dan tempat bersandar dimana suaminya merasa penat ataupun sedih agar merasa nyaman berada di dekatnya. Beberapa lama Sarah akhirnya berani membalikan tubuhnya dan mencoba membalas pelukan suaminya, ia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Itu membuat Hardi tersenyum senang dalam pelukannya.
"Bagaimana pak? sudah enakan" tanya Sarah.
"Iya, pelukanmu membuatku segar kembali" Hardi mengecup pucuk kepala Sarah.
"Apa boleh kita berlanjut?" tanya Hardi penuh arti.
"Maksud pak Hardi?" tanya Sarah bingung.
"Maksud saya, berlajut pada hal yang lebih intim" jelas Hardi tanpa basa-basi.
Sarah menundukan wajahnya tak bisa menjawab apa-apa karena ia merasa malu dan ragu. Akankah ia bisa melakukannya malam ini juga, menuntaskan kewajibannya yang belum ia laksanakan sampai sekarang.
Namun tiba-tiba Hardi mengangkat tubuh Sarah membuat Sarah terkejut menatap nanar pada Hardi. Hardi hanya memberikan isyarat dengan matanya dan senyuman penuh arti di bibirnya.
Bersambung....
Jangn lupa Like dan Vote untuk mendukung Author.
Tulis saran dan kritik pada kolom komentar agar Author dapat menulis lebih baik lagi.
terimakasih 😊**
__ADS_1