Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Season 2 : Hari yang di tunggu


__ADS_3

Adrian sedang bersantai di balkon apartemennya sambil menikmati seduhan kopi susu yang di temani potongan buah yang terletak di atas meja kecil di sampingnya. Lalu terdengar seseorang yang membuka pintu apartemennya, Adrian segera masuk kedalam melihat Reza dengan wajah lelah masuk dan langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa.


" Za, beru pulang? Seminggu ini loe kemana aja? gak ada kabar pula?" Adrian menghampiri Reza.


" Gue refreshing bang, bosen aktifitas gitu-gitu aja."


" Lah, habis refreshing kok malah kelihatan suntuk dan lelah banget? harusnya kan fresh."


" Gue refreshingnya naik gunung jadi gue lelah banget, suara gue juga abis buat teriak-teriak ngilangin penat."


" Pantes loe bau banget, mandi sana, bau loe udah kayak ******."


" Ntar bang, gue mau istirahat dulu. Oh iya... gimana lamaran romantis loe sama Cilla?"


" Cilla senang banget, dia sangat suka dengan semuanya bahkan aku mendapatkan ciuman romantis darinya." ucap Adrian yang terlihat masih membayangkan kejadian seminggu yang lalu.


" Oh.... bagus dong."


" Makasih yah bro, loe tahu dimana hal romantis kayak gitu?"


" Loe sih terlalu sibuk sama kerjaan, sekarang jaman teknologi, loe tinggal searching aja nanti pada muncul."


" Iya yah... gue gak kepikiran, tapi sekali lagi thanks yah. Gue tinggal nunggu ortu buat datang dan melamar Cilla untukku."


_____________


Cilla masih terus melihat cincin di jarinya, dia juga selalu menyentuh bibirnya, masih membayangkan suasana romantis saat itu. Padahal seminggu sudah berlalu namun seakan kejadian itu baru saja terjadi kemarin. ' Kenapa kehangatan bibirnya masih terasa?' pikir Cilla. Cilla menggelengkan kepalanya tanda sanggahan akan pikirannya yang mulai tidak sehat. ' OMG ada apa sih sama aku! jangan berpikiran mesum dong, positif positif positis.' gumam Cilla sambil memukuli kepalanya pelan.


" Kamu kenapa kak?"


" Eh... Arka, bikin kaget aja."


" Kayaknya kakak kita udah gila tuh hehehe." Ejek Arsa.


" Apa sih kalian! Ganggu orang aja." ketus Cilla.


" Suka-suka kita dong, kakak aja pergi sana, benerin pikiran kakak biar gak miring. Kita sih mau main basket mumpung masih sore." Ujar Arka.


" Ayo Ka, udah cuekin aja kak Cilla." ujar Arsa sambil berlari mendribble bola basketnya dan Arka langsung mengikuti Arsa menuju lapangan basket belakang rumahnya.


Cilla cuek saja, dia sekarang melihat kedua adik kembarnya bermain basket namun pikirannya selalu melayang ke Adrian yang sekarang sudah memenuhi hatinya.


________


1 tahun pun berlalu, semenjak lamaran di kapal pesiar itu belum ada kabar lagi kelanjutan hubungan Cilla dan Adrian. Mereka seperti biasanya bertemu, saling chatting dan berjalan begitu saja. Cilla pun sudah mulai magang di perusahaan ayahnya sebagai syarat untuk menyusun skripsi, dia di tempatkan di bagian divisi sekertaris yang di pimpin oleh Rio. Semua staf sekertaris ramah padanya karena dia sudah tahu bahwa Cilla adalah anak dari big bos mereka. Mereka mengajarkan Cilla dengan baik dan membantu Cilla jika mengalami kesulitan, sesekali Cilla selalu mengantarkan langsung berkas yang di butuhkan kepada ayahnya. Sebulan magang di perusahaan ayahnya Cilla sama sekali tak pernah bertemu dengan Adrian yang katanya departemen sekertaris dan departemen Adria saling terhubung namun tak sekalipun mereka bertemu.


Cilla baru saja keluar dari toilet ketika ia tak sengaja menyenggol seseorang ketika berjalan sambil merapikan pakaiannya.


" Eh... Maaf." ujar Cilla tanpa menatap lawan bicaranya.


" Cilla!" ujar orang tersebut.


" Adrian!" Cilla menyadari bahwa orang yang di hadapannya adalah kekasihnya.


" Kamu jahat, padahal kamu tahu kan aku magang disini tapi tak sekalipun kita berpapasan, aku kan sudah sebulan disini." Ujar Cilla sedikit ngambek.


" Maaf, aku sibuk banget, banyak banget pekerjaan yang aku kerjakan, biasanya laporan untuk pak Hardi aku yang mengantarkan tapu karena aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku akhirnya aku menyuruh orang lain mengantarkannya. Maaf yah sayang." Adrian memeluk Cilla dan membelai rambutnya yang terurai indah.


" Kita jarang sekali bertemu, hanya Chatting tak memuaskan rasa rinduku, aku rindu sekali." ucap Cilla masih dalam dekapan Adrian.


Lalu terdengar langkah seseorang mendekat, hingga Adrian melepaskan pelukannya pada Cilla. Cilla dan Adrian terlihat canggung menyapa karyawan lain lewat untuk menggunakan toiletnya.


________


Cilla duduk di kursi di sebuah ruangan yang sunyi, wajahnya terlihat tegang dan gelisah serta tubuhnya terlihat sedikit gemetar. Terlihat 3 orang duduk di hadapannya, seorang wanita dan 2 pria, tak lama mereka melontarkan beberapa pertanyaan kepada Cilla dan Cilla menjawabnya dengan lancar dan lantang. Setelah selesai Cilla di persilahkan keluar dan ketiga orang itu mulai mencatat penilaiannya di sebuah lembar daftar yang tertera di hadapan mereka. Dona dan Citra sudah menunggunya di luar, mereka langsung menghampiri Cilla ketika Cilla keluar dari ruangan tersebut.


" Bagaimana sidangnya? apa dosennya killer-killer?"

__ADS_1


" Syukurlah, gue bisa menjawab semuanya walau ada beberapa yang sedikit melenceng dari pertanyaan, semoga dapat nilai bagus."


" Bagus deh, gue jadi cemas nih jadwal jurusan kami kan besok yah, Don."


" Iya, andai otak gue semoncer Cilla pasti tak akan segelisah ini."


" Udah-udah, cuma 1 caranya kok. B.E.L.A.J.A.R..hehehe semoga sidang kalian lancar."


" Yuk ah cabut." ujar Citra.


Ketika mereka baru berjalan lalu mereka berpapasan dengan Reza.


" Hei Za, loe juga baru beres sidang skripsi?" tanya Dona ketika melihat Reza baru keluar dari sebuah ruangan.


" Iya, baru saja. Kalian tiga serangkai mau pada kemana? Kayaknya cuma Cilla aja yang baru selesai sidang skripsi." Reza melihat baju yang di pakai Cilla.


" Iya, gue dan Dona kan lain jurusan, jurusan kami sidangnya minggu depan." balas Citra.


Cilla dan Reza tak berani saling menatap terlihat kecanggungan pada keduanya. Lalu 3 serangkaian meninggalkan Reza yang sekarang malah menatap Cilla yang berjalan menjauhinya. ' Kenapa perasaan ini tak ingin pergi sih? Hatiku selalu berdebar jika berhadapan dengan Cilla. Ingat Reza, dia kekasih abangmu, lupakan perasaanmu padanya.' ujar Reza dalam pikirannya.


Cilla, Dona dan Citra melanjutkan langkah mereka menuju ke kantin untuk makan siang sekaligus untuk mengobrol bersama menghabiskan waktu di kampus. Baru saja mereka duduk di kursi dimana biasa mereka duduk, terdengar suara ponsel Cilla berbunyi.


Cilla : ' Iya Halo Adrian!'


Adrian : ' Cilla, malam minggu ini aku akan datang dengan keluargaku untuk melamarmu.'


Cilla : ' APA? Kok mendadak banget, mana malam minggu tinggal 2 hari lagi.'


Adrian : ' Iya, orangtua aku sudah datang dari Australia hari ini, sekarang aku juga sedang di bandara untuk menjemput mereka. Katanya mumpung waktunya mereka sedang tak terlalu sibuk hingga mereka datang ke Indonesia secepatnya daripada nanti gak sempat datang lagi.'


Cilla : ' Ta.... tapi..... aku masih belum mempersiapkan diri dan harus memberitahu orangtuaku juga.'


Adrian : ' Iya kan masih ada 2 hari, cukup kan! tak perlu banyak persiapan, kami di sambut saja sudah cukup. Yasudah, sampai bertemu nanti.'


Cilla : ' Ta... Tapi... Adrian.... huft...'


Cilla menarik nafas karena Adrian menutup telponnya begitu saja, Cilla merasa ini terlalu mendadak dan mengejutkan hingga dirinya sulit untuk berkata apapun pada Adrian.


" Gak apa-apa, gue cuma kaget aja Adrian mau melamar gue malam minggu nanti." balas Cilla.


" APA?" Dona dan Citra pun terkejut mendengarnya.


" Serius Loe?"


" Yah... Serius lah... Makanya gue bingung karena mendadak kayak gini."


" Bagus deh, selamat yah Cilla, akhirnya temen gue mau married juga." ujar Citra.


" Apa sih belum tentu dalam waktu dekat juga kali." sanggah Cilla malu-malu.


" Loe ini, kalian pacaran udah hampir 2 tahun tahu, wajar dong kalian meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan." tambah Dona.


Cilla hanya tersenyum dengan ucapan kedua temannya, sekarang Cilla harus memikirkan bagaimana bicara dengan kedua orangtuanya. Cilla mungkin akan berbicara terlebih dahulu dengan Sarah, lalu Sarah bisa membantu menemaninya untuk memberitahu hal tersebut pada Hardi, ayahnya.


_______


Cilla menuju ke kamar orangtuanya, ia ingin membicarakan tentang lamaran Adrian pada Sarah, Bundanya. Cilla mengetuk pintu kamar orangtuanya Ttookk tookk tookkk, beberapa kali Cilla mengetuk pintu dan akhirnya Sarah membuka pintunya.


" Cilla? masuk..." Cilla pun masuk dan langsung duduk di Sofa bersama Sarah.


" Bunda, ada yang ingin aku bicarakan."


" Mau bicarakan apa? bilang saja."


" Begini... anu. . . i... itu... malam Minggu ini Adrian akan datang ke rumah kita." ujar Cilla gugup.


" Benarkah, bagus dong jadi bunda bisa tambah kenal Adrian, lagi pula selama kalian pacaran kan Adrian jarang ke rumah kita."

__ADS_1


" Tapi bun... Adrian datang kerumah kita dengan orangtuanya untuk melamar Cilla."


" Apa? benarkah? Bunda ikut senang." Sarah memeluk Cilla.


" Tapi bunda harus bantu aku untuk memberitahu ayah."


" Iya pasti dan bunda juga akan membantu membujuk ayah jika ayah menolak."


" Iya terimakasih bunda."


" Ayah sudah dengar semuanya." Tiba-tiba suara Hardi membuat Cilla dan Sarah terkejut.


" Mas? Mas sudah pulang." Sarah menghampiri Hardi dan mengambil jas serta tas yang Hardi bawa.


" Silahkan dia datang nanti, ayah akan melihat keluarganya baru setelah itu ayah akan mempertimbangkannya nanti."


" Baik ayah." Cilla pun keluar dari kamar orangtuanya.


" Mas tak masalah kan jika Cilla menikah muda?" tanya Sarah.


" Sebenarnya mas ingin Cilla meniti karirnya terlebih dahulu namun mas juga kan belum pasti menerima Adrian, sebelum mas tahu keluarganya. Mas juga tak ingin membuat Cilla kecewa namun mas juga tak ingin memberikan Cilla pada sembarang orang. Walaupun aku lihat attitude Adrian selama ini cukup baik, namun dengan keluarganya kan mas juga harus tahu. Karena sebuah pernikahan itu bukan hanya antara 2 orang namun antara 2 keluarga."


" Terimakasih mas, aku tadinya khawatir jika mas akan langsung menentangnya."


" Yasudah, mas gerah mau mandi. Tolong siapkan kopi untuk mas."


" Iya mas."


_________


Dirumah Cilla sudah siap dengan hidangan yang terlihat sangat lezat, Hardi sengaja mendatangkan Chef ternama di hotel bintang lima. Hardi ingin memberikan yang terbaik untuk putri kesayangannya walaupun itu tak menjamin Hardi akan menyetujui lamaran Adrian nantinya.


" Semuanya sudah siap?"


" Sudah nyonya, kami sudah menyelesaikan semuanya."


" Bagus, saya suka dengan cara menata mejanya, cantik dan makanan juga tak hanya terlihat bagus di pandang tapi rasanya juga enak, kerja bagus."


" Terimakasih nyonya, Chef kami memang sudah tak di ragukan lagi. Kalau begitu saya permisi."


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 Wib, sesuai rencana keluarga Adrian akan datang pada pukul 20.00 Wib. Semuanya sudah siap begitupun Cilla yang sudah berdandan dengan cantik namun dia terlihat gugup dan gemetaran menunggu waktunya tiba.


" Sayang, sudah siap?" tanya Sarah yang menghampiri Cilla yang masih di kamarnya.


" Sudah bunda."


" Kamu terlihat cantik, pantas Adrian tergila-gila padamu." Canda Sarah, Cilla tersenyum malu-malu.


Mereka pun keluar kamar menuju ruangan dimana acara akan dilaksanakan. Tak lama setelah mereka turun, terdengar suara bell pintu berbunyi. Salah seorang Asisten rumah tangga membukakan pintunya dan ternyata memang benar itu adalah keluarga Adrian yang telah datang. Keluarga Adrian pun dipersilahkan masuk dan langsung disambut dengan ramah oleh keluarga Cilla, kecuali Hardi yang hanya tersenyum dingin.


Disana Hadir juga orangtua Hardi dan mamanya Sarah turut menyaksikan acara yang sangat penting ini. Semuanya telah duduk di kursi masing-masing dan acara pun sudah siap di mulai. Pertama-tama keluarga Adrian memperkenalkan diri yang dilakukan oleh papanya Adrian, memperkenalkan keluarganya yang datang, yaitu mamanya Adrian dan Reza Adiknya Adrian.


" Kami datang kesini atas permintaan putra kami, Adrian. Untuk datang kerumah seorang gadis yang sangat ia sayangi yaitu adinda Cilla, Adrian meyakinkan kami untuk secepatnya datang. Kebetulan kami sedang memiliki waktu luang sehingga kami tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk merealisasikan keinginan putra kami yaitu melamar putri bapak untuk menjadi bagian dari keluarga kami. Kami yakin, putra kami bisa memberikan kebahagiaan dan memberikan kasih sayang untuk putri bapak. Terimakasih."


" Terimakasih atas kedatangan bapak, ibu dan semuanya. Saya sebenarnya masih tak menginginkan putri saya satu-satunya ini untuk menikah terlalu awal, namun di lihat dari keinginan putri saya sampai mencoba tanpa henti membujuk saya untuk mengijinkannya menikah muda hingga saya sedikit luluh. Namun saya juga selalu berpikir dan berharap bahwa putri saya dapat meniti karirnya terlebih dahulu sebelum menikah namun saya tak bisa berbuat apa-apa karena keinginan putri saya yang sudah tak bisa di kekang lagi. Saya pun tak ingin kejadian yang tak mengenakan nanti yang akan mencoreng nama baik keluarga saya jika saya tak mengikuti keinginan dari putri saya." ujar Hardi dingin.


" Jadi, apakah lamaran putra kami di terima atau tidak?"


" Saya punya beberapa permintaan. Yang pertama, saya minta nak Adrian tak mengekang Cilla baik itu masalah karir atau apapun yang Cilla inginkan. Kedua, tolong bimbing dia jangan sampai salah arah. Ketiga, jangan pernah sekalipun menyakitinya walaupun hanya secuil. Keempat, sayangi dia apa adanya dan berikan dia kasih sayang dengan tulus."


" Baik om, saya berjanji akan memenuhi semuanya tanpa terkecuali, saya tak akan mengingkari janji saya." Ujar Adrian tegas.


" Ok, kalau begitu. Siapkan dirimu, untuk pesta pernikahan sebulan lagi." ujar Hardi santai.


"APA?"


Semua orang tak percaya dengan keputusan Hardi yang begitu santainya ia ucapkan tanpa meminta pertimbangan dari keluarga Adrian. Namun apa boleh buat, Hardi tak akan bisa mengubah keputusannya. Tak ada satu orangpun yang protes semua takut jika nanti Hardi berubah pikiran. Adrian pun meyakinkan orangtuanya untuk menuruti saja apa kemauan dari keluarga Cilla dan Akhirnya semua menyetujuinya. Disisi lain Reza terlihat lesu, walaupun dia mencoba untuk tersenyum namun terlihat jelas di matanya tersirat kesedihan atau kekecewaan. Reza senang jika saudaranya akan segera menikah namun hatinya tak dapat berbohong jika orang yang ia sayangi akan menjadi kakak iparnya kelak.

__ADS_1


Bersambung.....


Selalu dukung Author dengan cara memberi Vote, Hadiah, Like dan Komen ... Terimakasih ☺️


__ADS_2