Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Ketemu lagi!


__ADS_3

Sarah dapat telpon dari pihak sekolah jika Cilla kecelakaan, pihak sekolah telah membawanya kerumah sakit xxx untuk segera mendapat perawatan.


Sarah bergegas pergi menuju ke rumah sakit tersebut sebelumnya ia menelpon Hardi agar menyusul ke rumah sakit.


Sarah sampai terlebih dahulu, ia menanyakan Cilla pada suster jaga. Dan ternyata Cilla berada di kamar 101, Sarah segera kesana sambil sedikit berlari. Sarah membuka pintu kamar 101 dengan agak kencang sehingga perawat yang ada disana langsung menoleh. Sarah menghampiri Cilla yang terbaring di tempat tidur.


"Sus, bagaimana keadaan putri saya, apa dia baik-baik saja" Sarah terlihat sangat khawatir karena kepala Cilla di perban.


"Dek Cilla keningnya robek dan mendapat 5 jahitan, kata pihak sekolah ia terjatuh kena batu hingga kepalanya robek, dokter mengatakan tak perlu ada yang terlalu di khawatirkan, tak ada luka dalam juga." kelas Suster.


"Terimakasih sus" ucap Sarah.


"Sama-sama bu, saya permisi" ucap Suster.


Sarah menatap sedih kepada putrinya yang terbaring tak sadarkan diri. Ia meraih tangan Cilla dan menggenggamnya denga sangat khawatir. Kemudian Hardi sampai dan segera menghampiri Sarah.


"Mas" ucap Sarah.


"Sayang, bagaimana keadaan Cilla. Apa parah?" Hardi ngos-ngosan mungkin karena berlari ketika kesini.


"Alhamdulillah, kata suster sih Cilla hanya luka luar dan tak ada luka yang serius" ucap Sarah.


"Syukurlah, mas sangat khawatir ketika kau menelpon tadi" Hardi merasa lega.


"Kau sudah makan siang?" tanya Hardi.


"Belum mas" balas Sarah.


"Yasudah, mas keluar dulu cari makan yah, kau jaga Cilla" Hardi pun keluar ruang rawat.


Sarah masih setia menunggu Cilla yang masih bekum sadarkan diri. Ia memandangi wajah putrinya tanpa sadar meneteskan airmatanya.


Ada yang mengetuk pintu, masuklah perawat dan seorang dokter muda yang tampan. Sarah menoleh lalu terkejut saat melihat siapa dokter yang di depannya begitu pun dokter itu menunjukan reaksi yang sama.


"Sarah!" "Martin!" mereka sedikit teriak secara bersamaan.


"Kau siapanya anak ini?" tanya Martin sambil memeriksa Cilla.


"Dia ibunya Cilla, dok" balas Suster, Sarah hanya diam.


Martin sekali lagi terkejut mendengar perkataan suster. Karena ia tahu jika Cilla bukan anak kandung Sarah.


"Ternyata kau telah menikah Sarah, sepertinya kau menikah dengan duda beranak satu" guman Martin dalam Hatinya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Sarah mencoba bersikap biasa.


"Putrimu baik-baik saja. Semuanya stabil" balas Martin.


"Tapi daritadi kok dia belum sadar juga" Sarah khawatir.


"Tak perlu khawatir, dia hanya tertidur" jelas Martin.


Hardi yang baru datang langsung masuk ke kamar Cilla.


"Sayang, ini mas bawakan makan siangnya" ucap Hardi tanpa menatap ke depan.


"Eh... dokter! Bagaimana keadaan putri saya, dok" tanya Hardi setelah melihat ada Martin di sana.


"Dia baik-baik saja kok mas" malah Sarah yang membalas.


"Yasudah, karena saya sudah selesai memeriksa, saya permisi" Pamit Martin, Hardi hanya tersenyum.


"Ternyata, itu suami Sarah. Mmmm pantas saja dia berani ninggalin aku, ternyata dia mendapatkan mangsa yang lebih besar." batin Martin mencibir, sambil tetap melanjutkan langkahnya.


Martin mengenali siapa suami Sarah, seperti yang orang tahu Hardi adalah pengusaha muda yang sukses dan kaya raya. Sehingga Martin berpikir jika Sarah meninggalkannya karena Sarah mendapatkan orang yang lebih segalanya dari padanya. Ia tak menyadari kesalahannya, padahal dulu ia yang selingkuh di belakang Sarah sehingga Sarah memutuskan hubungan dengannya.


"Sayang! kok bengong!" tanya Hardi melihat Sarah terdiam dengan pandangan kosong.


Sarah menyajikannya di depan meja, tak perlu sendok atau piring tambahan karena makanannya sudah di kemas rapi bisa langsung makan di kemasannya langsung.


Mereka pun melahap makan siang mereka sampai habis.


Sarah menatap Cilla yang terlihat bergerak, lalu ia menghampiri Cilla yang mulai membuka matanya.


"Mas, cepat kesini. Cilla sudah bangun" mendengar perkataan istrinya Hardi langsung menghampiri Cilla.


"Sayang, kau sudah bangun nak. Syukurlah" Hardi senang.


"Bunda, ayah" ucap Cilla lemas.


"Kepala Cilla sakit" lanjutnya.


"Kepala Cilla terluka, tapi jangan khawatir nanti juga cepat sembuh" ujar Sarah, Cilla pun mengangguk.


Terdengar ada tamu yang datang, ternyata itu adalah orangtua Harfi dan bu Rahma.


"Bagaimana keadaan Cilla, sekarang!" ujar bu Rahma khawatir.

__ADS_1


"Cilla tak apa-apa mah, nih lihat udah bisa senyum kan" balas Sarah menatap putrinya.


Mereka sangat bersyukur bahwa Cilla tidak apa-apa. Sarah menyuapi Cilla dengan bubur yang di sediakan rumah sakit, memang Cilla adalah anak yang tak memilih-milih makanan, yang penting rasanya enak, pasti Cilla makan.


_________


Malam pun tiba, Kedua orangtua Hardi dan bu Rahma pulang setelah memastikan keadaan Cilla baik-baik saja. Cilla harus menginap satu malam lagi agar dokter dapat melihat hasil jahitannya esok hari.


Hardi memesan kasur tambahan untuk tempat tidur mereka dan di letakkan di samping tempat tidur Cilla.


Hardi langsung merebahkan tubuhnya di sana, sementara Sarah masih saja duduk di kursi samping tempat tidur Cilla, putrinya itu sudah tertidur dari tadi.


"Sini sayang, sudah jam 9 kita tidur, besok kan harus siap-siap untuk pulang" pinta Hardi sambil menepuk-nepuk kasur tepat di sampingnya.


Sarahpun menghampiri Hardi dan langsung berbaring di samping suaminya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, Hardi tiba-tiba memeluk istrinya.


"Mas, jangan seperti ini. Ini kan rumah sakit, tak enak kalau tiba-tiba ada yang masuk." pinta Sarah.


"Maaf sayang, habisnya sudah jadi kebiasaan" senyum Hardi lalu melepaskan pelukannya pada Sarah.Tak lama mereka pun tertidur.


Pukul 6 pagi, Dokter Martin siap masuk ke dalam ruangan Cilla. Terlihat Hardi dan Sarah masih tertidur dengan posisi tangan Hardi berada di perut Sarah seperti memeluk.


Martin dan perawat tak enak hati namun ini sudah waktunya pemeriksaan akhir. Martin mencoba membangunkan dengan suara deheman yang agak keras, mungkin akan membuat mereka terbangun. "Hmmm...Hmmm"


Sarah mendengarnya lalu ia membuka matanya, alangkah terkejutnya ternyata sudah ada Martin dan seorang perawat di hadapannya. Sarah tersenyum menyapa lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Sambil mencoba membangunkan Hardi yang masih terlelap.


"Maaf mengganggu" ujar Martin yang tersenyum tipis dan seorang perawat yang juga menahan senyumnya.


Martin memeriksa Cilla, lalu menuliskan resep obat untuk Cilla. Dan perawat segera membuka jarum infus di tangan Cilla.


"Dek Cilla hari ini sudah boleh pulang" ucap Martin setelah memeriksa lalu keluar kamar Cilla bersama perawat itu.


Tak berapa lama perawat itu kembali membawa kertas di tangannya.


"Ini obat untuk dek Cilla dan ini biaya administrasi yang mesti dilunasi, permisi" ucap Perawat memberikan semuanya lalu pamit.


Setelah semuanya telah selesai di urus dan Cilla telah berganti pakaian mereka pun segera berlemas dan pulang kerumahnya.


**Bersambung........


Selalu dukung Author dengan Like, vote dan komen.


Terimakasih 😊**

__ADS_1


__ADS_2