Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Pengganggu


__ADS_3

Lagi-lagi Devan mwndapat telpon dari nomor yang tidak dikenal, sekarang Devan mengabaikannya karena memang dia tak kenal dengan nomor yang menghubunginya. Dari kejauhan, seseorang yang mencoba menelponnya namun melihat Devan tak mengubris panggilannya merasa jengkel, ia sedikit membanting tangannya yang tengah memegang ponselnya dengan tidak menjatuhkan ponselnya. 'Sialan.... dia masih saja mengabaikanku' geram seseorang tersebut.


Merasa sudah tidak sabar lagi untuk menunggu, orang itu keluar dari persembunyiannya lalu berjalan menghampiri Devan yang sekarang sedang duduk di kursi taman depan kampusnya.


Pppllllaaaakkkk.... terdengar suara tamparan yang dilayangkan orang tersebut kepada Devan, Devan yang tadinya sedang asik dan fokus membaca buku studinya terlihat sangat kaget sambil memegangi pipinya yang terasa panas dan sedikit perih oleh tamparan tersebut. Seketika Devan menengok ke arah orang tersebu dan matanya membelalak dengan siapa orang yang berada di depannya.


"LARISA..... Apa-apaan kamu ini? tiba-tiba nampar aku. Terus ngapain kamu ada di sini?" Teriak Devan yang tambah terkejut dengan orang yang di depannya yang ternyata itu adalah Larisa.


" Bagus yah, kamu pergi begitu aja tanpa memberitahuku dan aku terus menelponmu tapi kamu tak menghiraukannya." Geram Larisa.


" Halah.... memangnya kamu siapa sampai aku harus memberitahukanmu kemana aku harus pergi? Aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa, baik teman ataupun apalah. Sekarang kamu jangan sok kenal denganku, anggap saja kita tak saling mengenal satu sama lain, kamu jalani saja hidupmu sendiri begitupun aku." ujar Devan yang menatap Larisa dengan penuh kebencian.


" Kamu kenapa jadi seperti ini sih? kamu tahu kan kalau aku sangat menyukaimu, bahkan aku rela menyusulmu ke sini demi bertemu denganmu." ujar Larisa yang menurunkan nada suaranya dan bertingkah seolah dia sangat sedih.


" Jangan sok mendramatisir lah... aku tak akan terkecoh dengan kebohonganmu, aku bukan orang bodoh yang bisa terjebak dengan tipuan busukmu. Apa yang kamu lakukan dengan kakakku dulu itu aku jadikan pelajaran agar aku tak mudah percaya pafa wanita busuk sepertimu." ujar Devan mencoba berdiri untuk meninggalkan Larisa namun Larisa menahan pundak Devan dan menekannya untuk tidak pergi.


Namun kekuatan Larisa kalah besar dengan tenaga Devan dan Devan menyingkirkan tangan Larisa di kedua bahunya sampai Larisa oleng dan jatuh di hadapannya. Devan hanya menatapnya tajam lalu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun meninggalkan Larisa yang terduduk di atas rumput.


" Awas saja Devan, akan aku balas semua perlakuan burukmu terhadapku... Camkan itu." kesal Larisa.


_________


Sore harinya Devan menelpon Hardi karena dia butuh berbincang dengan kakaknya serta ingin sekali menanyakan kabar keponakan-keponakannya.


Devan : Malam mas, apakabar disana?


Hardi : Selamat siang, karena disini masih siang Van.


Devan : Hehehe iya lupa mas, perbedaan waktunya kan memang cukup jauh yah. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu.


Hardi : Berbicara soal apa Van?


Sebelum Devan mencawab, terdengan keributan di seberang telpon tak lama terdengar suara Cilla yang khas dengan lengkingannya.


Cilla : Om Devan... kapan pulang? Cilla sudah kangen.

__ADS_1


Devan : heheh Cilla yah, nanti kalau om Devan selesai sekolahnya sayang.


Cilla : Sudah besar kok om Devan masih saja sekolah sih, harusnya yang sekolah kan anak kecil kayak Cilla.


Devan : Hehehe .... Sekolah itu kan tak memandang umur, Cilla. Om Devan ingin lebih pintar dan lebih sukses jadi om Devan sekolah lagi.


Cilla : Oh.... nanti kalau om Devan pulang, bawain Cilla oleh-oleh yah yang banyak, sekalian buat Arka dan Arsa juga. Om Devan, Cilla sayang om Devan.


Devan : Iya, siap tuan putri. Om Devan janji, om Devan akan bawa banyak hadiah buat kalian bertiga yang banyak.


Terdengar Hardi kembali mengambil alih panggilan telponnya.


Hardi : Maaf Van, Cilla malah mengganggu, tadi kamu mau membicarakan apa?


Devan : Gak apa-apa mas, oh iya... Si Larisa menyusulku ke sini mas, tadi dia menghampiriku bahkan menamparku.


Hardi : Apa? menamparmu? dasar wanita tak tahu diri.


Devan : Iya mas, dia lagi-lagi mengejar-ngejar aku dan berusaha memaksaku untuk menerimanya, aku jadi semakin risih di buatnya. Aku sudah benar-benar tak ada rasa apapun padanya, apalagi dengan sikap yang dia tunjukkan sekarang, aku malah semakin ilfil padanya.


Devan : Terimakasih mas, tapi tak perlu repot-repot seperti itu, aku akan coba menghandlenya sendiri dulu, semoga tak ada pergerakan yang fatal yang di lakukan Larisa.


Hardi : Yasudah hati-hati saja disana, pesan mas jangan anggap remeh si Larisa karena dia perilakunya tak bisa di tebak, bisa saja dia bersikap berlebihan dan membahayakan jika keinginannya tak terwujud.


Devan : Iya mas, terimakasih. Yasudah, aku tutup dulu yah soalnya udah waktunya masuk kelas.


D van dan Hardi pun mengakhiri panggilan telponnya, Hardi terlihat tidak suka dengan sikap Larisa yang terobsesi dengan adiknya. Hardi akhirnya memutuskan untuk mengirim 3 orang bodyguard untuk melindungi Devan dengan tidak diketahui Devan, agar Devan tidak merasa risih.


Sarah tiba-tiba masuk kekamar dan langsung memeluk Hardi dari belakang serta menaruh dagunya di bahu tegap suaminya.


"Sayang, buat mas terkejut saja. Tumben nih meluk-meluk mas seperti ini." ucap Hardi tersenyum sambil memegang tangan Sarah yang melingkar di pinggangnya.


" Yah sekali-kali ingin manja sama suami tak masalah kan mas, lagipula sudah cukup jarang kita seperti ini." ucap Sarah yang masih memeluk suaminya.


" Memangnya Cilla dan si kembar sudah tidur?" tanya Hardi.

__ADS_1


" Sudah mas, baru saja aku dari kamar Cilla dan Cilla sudah terlelap dengan memeluk boneka dan si kembar sudah tidur dari tadi kan." jelas Sarah.


" Padahal kamu lagi manja-manja kayak gini, kalau mas lagi tak capek, mas akan langsung serang kamu nih heheheh." ujar Hardi.


" Dasar otak mesum, istri itu ingin manja-manja pada suami bukan hanya untuk tidur bersama tapi untuk mendapatkan kenyamanan dan hanya ingin mendapat perhatian juga mas. Jangan berpikiran mesum terus dong." ucap Sarah lalu melepaskan pelukannya.


" Iya sayang, mas tahu itu kok. Yasudah sekarang kita tidur, sudah malam juga." ajak Hardi menggandeng tangan istrinya.


Sarah dan Hardi pun membaringkan tubuh mereka masing-masing, Hardi merentangkan sebelah tangannya dan di mengerti oleh Sarah. Dan Sarah meletakkan kepalanya pada lengan Hardi lalu Hardi segera memeluknya dengan sebelumnya mengecup sekilas kening istrinya. Hingga akhirnya mereka pun terlelap dengan Sarah berada dalam dekapan suaminya.


___________


Rio membawa tumpukkan dokumen kedalam ruangan Hardi dan meletakkannya di atas meja kerja Hardi.


" Ini semua berkas yang pak Hardi minta, semuanya sudah lengkap dan bisa langsung untuk di pelajari." ucap Rio.


" Huhfh.... Ternyata sebanyak ini yah, nanti kita bahas semuanya setelah waktu makan siang dan aku akan mempelajari semuanya dulu. Terimakasih.... Oh iya, bagaimana kabar istrimu? sepertinya sudah jarang datang bertemu dengan Sarah." ujar Hardi.


" Oh itu... Sita sedang tidak enak badan, dia sering sekali merasa lelah dan lemas. Jadi dia hanya tiduran di rumah saja." Balas Rio.


" Sudah kau bawa ke dokter?" tanya Hardi.


" Belum pak, soalnya Sita selalu menolaknya katanya ingin istirahat saja di rumah." jawab Rio.


" Yasudah, kau lanjutkan lagi saja pekerjaanmu." ujar Hardi.


Dan Rio pun permisi untuk kembali ke ruangannya.


Bersambung.....


Masih suka dengan ceritanya?


Jika ada Saran dan Kritik silahkan di sampaikan...


Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2