
Hari ini tepat dimana Devan akan berangkat keluar negeri untuk menempuh pendidikan kembali sesuai keinginannya. Semua keluarga mengantarkan Devan ke bandara, Devan memeluk kedua orangtuanya sebagai tanda selamat tinggal serta mencium keponakan-keponakannya. Tak lupa Hardi pun memeluk adiknya itu, dia pun mendoakan semoga Devan selamat sampai tujuan. Semua orang yang ada di sana melambaikan tangannya pada Devan sebagai tanda perpisahan sebelum semuanya meninggalkan bandara.
Setengah jam sudah Devan menunggu di ruang tunggu bandara karena waktu penerbangan masih sekitar kurang lebih sejam lagi, dia memainkan ponselnya sambil mendengarkan music kesukaannya. Di sisi lain Larisa berlarian kesana kemari dengan sangat gelisah, matanya diedarkan kesegala arah untuk mencari keberadaan Devan namun tak kunjung di temukan.
Larisa sudah mulai putus asa, langkahnya yang tadinya cepat berubah menjadi gontai dengan nafas yang terengah karena cukup lelah mengitari setiap sudut bandara. Larisa mencoba menghubungi Devan namun tak bisa terhubung mungkin saja nomor telponnya sudah di blokir oleh Devan. Di tengah kegundahannya, mata Larisa akhirnya melihat ke arah orang yang dirasanya sangat di kenalnya dan itulah Devan. Larisa tersenyum senang karena ia belum terlambat, Devan masih berada di bandara dengan masih menikmati musicnya sambil memejamkan matanya dan sedikit bersenandung kecil.
Larisa berlari ke arah Devan tanpa Devan ketahui Larisa sudah duduk di sampingnya, Larisa terus mengembangkan senyumannya lalu akhirnya memberikan diri untuk memanggil Devan dengan sedikit menepuk pelan pundak Devan. Devan yang tadinya tengah memejamkan matanya sambil menikmati musik sedikit tersentak dengan tepukan di pundaknya, ia kemudian membuka matanya menengok ke arah di sampingnya, mata Devan melotot ketika melihat orang yang menepuknya ternyata Larisa.
" Mau apa kau kemari?" ucap Devan dingin.
" Aku dari tadi mencarimu sampai mengitari hampir seluruh sudut bandara dan akhirnya aku menemukanmu disini." ucap Larisa lega.
" Untuk apa kau mencariku? Diantara kita tidak ada urusan apa-apa." ucap Devan yang lagi-lagi sangat dingin.
" Tapi Devan, aku mencintaimu, aku sangat menyukaimu, apa tak ada tempat untukku di hatimu?" ucap Larisa memelas.
" Dulu... Dulu aku sempat menyukaimu bahkan aku sempat akan mengutarakan perasaanku kepadamu, tapi ada satu pertimbangan yang membuatku mengurungkan niatku dan sekarang aku sudah tidak lagi menyukaimu, perasaanku yang dulu pernah ada sekarang sudah sirna. Jadi kau tak perlu lagi mencariku, kita tidak ada urusan lagi kan, kau pergi saja sana." usir Devan.
" Devan, aku mohon padamu beri aku kesempatan sekali lagi aja, aku janji akan menjadi wanita yang baik untukmu, aku akan mengubah semua sifat burukku dan aku akan menuruti semua perintah juga keinginanmu." ucap Larisa dengan memegang lengan Devan erat namun Devan menepis genggaman Larisa hingga tangan Larisa sedikit terhempas.
" Aku mohon Devan, aku benar-benar mencintaimu." lagi-lagi Larisa meraih tangan Devan.
Suara pemberitahuan jadwal keberangkatan pesawat Devan telah di umumkan, Devan segera beranjak berdiri lalu kembali menghempaskan tangan Larisa yang menggenggam lengannya hingga membuat Larisa terjatuh. Devan sempat melihat kebelakang namun tak mencoba menolong Larisa, Devan malah melanjutkan langkahnya karena pesawatnya akan segera berangkat. Larisa terus saja memanggil-manggil nama Devan dengan tangisannya namun Devan benar-benar tak memperdulikannya sampai Devan tak terlihat lagi dari pandangannya, Larisa masih saja menangis tersedu tanpa beranjak dari tempatnya semula walau banyak mata yang memperhatikannya namun ia tidak peduli, hatinya sangat sakit dengan penolakan Devan.
________
__ADS_1
Sarah dan Sita janjian di rumah makan ibunya Sarah, sekalian mereka akan makan siang karena Sarah membawa ketiga anaknya dan suami meteka akan menyusul ketika jam makan siang.
" Pengantin baru nih, bagaimana rasanya? senang kan di kasih libur panjang!" tanya Sarah kepo.
" Duh sebelumnya aku ucapkan terimakasih karena suamimu sudah memberi hadiah pada kami terutama waktu 2 minggu yang cukup untuk kami bulan madu." balas Sita.
" Bagaimana Rio? dia masih pemalu?" lagi-lagi Ssrah penasaran.
" Dia! udah jangan di ragukan lagi, sifat pemalunya sudah mendarah daging sampai-sampai aku yang malah berinisiatif lebih dulu." ucap Sita yang malah keceplosan.
" Berinisiatif lebih dulu? maksud kamu? apa kamu yang mulai duluan?" Sarah malah menjadi tambah penasaran karena ucapan Sita yang keceplosan.
Sita hanya mengangguk malu, dia beralasan jika dia tidak berinisiatif lebih dulu makan malam pertama mereka akan berlalu begitu saja tanpa terjadi apa-apa dilihat dari sifat Rio yang seperti itu. Sarah hanya tertawa puas dan mengejek sahabatnya itu, namun Sarah senang jika Sita sudah mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Tapi Sarah senang menggoda sahabatnya itu sampai-sampai wajah Sita memerah karena malunya, terladang Sita menyangkal jika dirinyalah yang terus meminta, Sita menjelaskan setelah kejadian di malam pertama, Rio menjadi lebih berani untuk meminta haknya pada istrinya jadi Sita tak perlu lagi seagresif saat pertama mereka melakukannya.
" Kok berhenti ngobrolnya sayang? tadi kelihatannya seru banget sampai-sampai suara tawa kalian terdengar jelas." tanya Hardi yang duduk di samping Sarah.
" Oh itu, cuma pembicaraan sesama perempuan, laki-laki tak perlu tahu." balas Sarah tersenyum.
Sita dan Rio duduk sangat dekat sehingga lagi-lagi ada bahan godaan untuk Sarah.
" Cie cie... pengantin baru susah terpisahkan, lengket banget kayak pake lem." ejek Sarah.
" Udah ah Sar, dari tadi senang banget godain, kita makan aja mumpung masih hangat." kilah Sita dengan wajah merona, Rio dan Hardi hanya bisa tertawa saja.
" Si kembar mana sayang?" tanya Hardi.
__ADS_1
" Tuh lagi sama mamah, mamah bilang kita makan saja biar si kembar mamah yang jaga sama Lia." balas Sarah.
" Apa mamah gak ikutan makan siang?" tanya Hardi lagi.
" Udah aku ajakin tadi tapi katanya nanti saja, mamah mau main dengan cucunya dulu." jawab Sarah.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan, Hardi dan Sarah seketika melihat ke arah suara dan ternyata Cilla menangis, Cilla di bantu oleh Lia untuk berdiri karena terjatuh. Sarah dan Hardi segera menghampiri Cilla sementara Sita dan Rio pun menghentikan makannya dan ikut menghampiri Cilla.
" Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Sarah khawatir.
" Sebenarnya kenapa Cilla bisa jatuh begitu?" tanya Hardi pada Lia.
" Non Cilla terus saja berlarian saat saya suapi dia makan, tanpa sadar ada parit kecil sehingga sebelah kakinya terperosok hingga jatuh." jelas Lia.
Terlihat luka gores di lutut dan sikunya, bu Rahma mengambilkan kotak P3K dan Hardi pun mengobati luka Cilla. Sarah mencoba menenangkan Cilla agar tak menangis lagi dengan duduk di dekatnya sambil memeluknya.
Sejam sudah mereka berada di sana, Hardi dan Rio pun pamit untuk kembali ke kantornya, Sita pun pamit untuk segera pulang kerumah sementara Sarah dan anak-anaknyaemutuskan untuk tetap di sana sampai Hardi menjemput mereka pulang. Karena memang mereka ingin menghabiskan waktu dengan bu Rahma, tak jauh dari rumah makan terdapat rumah dimana bu Rahma tinggal, rumah yang cukup besar dengan halaman yang lumayan luas.
Sarah memutuskan untuk beristirahat disana karena memang Arka dan Arsa telah terlelap tidur begitupun Cilla juga terlelap. Lia bisa bersantai juga dan di ajak Sarah ke halaman belakang untuk sekedar mengobrol bersama.
Bersambung....
Masih mau lanjut???
jangan lupa tinggalkan jejak 😊
__ADS_1