
*Tiga minggu kemudian
" Mas, mas cepat kesini mas." teriak Sarah.
" Ada apa sayang? kaki kamu sakit lagi." Hardi datang dengan wajah panik karena memang selama ini Sarah sering merasakan sakit di kakinya.
" Tidak mas, aku sama sekali tak merasakan sakit sama sekali. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu pada mas, tapi mas jangan terkejut yah." ucap Sarah dengan senyuman yang mengembang menghiasi wajahnya.
Sarah berjalan perlahan menghampiri Hardi, tak ada tongkat di kedua tangannya. Sarah berjalan dengan lambat namun sekarang dia berjalan dengan normal, tak lagi pincang. Hardi yang melihatnya sangat terkejut sekaligus bahagia, Hardi segera menghampiri Sarah yang masih berjalan perlahan. Hardi segera memeluk Sarah dengan erat sampai tubuh Sarah sedikit terangkat, Hardi memutar tubuhnya hingga tubuh Sarah pun ikut terbawa. Terlihat wajah yang sumringah dari keduanya, rasa bahagia yang teramat sangat hingga tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
" Sayang, terimakasih kamu terus optimis dengan harapan yang sekarang telah terkabul. Mas sangat bahagia melihatmu bisa berjalan seperti semula." ucap Hardi lalu melepaskan pelukannya.
" Iya mas, aku bersyukur dapat berjalan kembali seperti semula, tak sia-sia segala usaha dan doa yang kita panjatkan setiap harinya. Aku benar-benar bersyukur pada Tuhan." ujar Sarah yang begitu bahagia.
Lalu Sarah berjalan keluar kamar di dampingi oleh Hardi, senyum bahagia mereka tak lepas dari bibir mereka. Arka dan Arsa datang menghampiri Sarah lalu Sarah langsung memeluk keduanya, si kembar yang bingung hanya membalas pelukan dari bundanya dan senang-senang saja mendapat pelukan seperti itu. Tak lama Cilla pun datang dan melihat bundanya memeluk kedua adiknya.
" Bunda, kenapa bunda menangis memeluk Arka dan Arsa?" tanya Cilla melihat air mata menetes di pipi Sarah.
" Bunda tidak menangis sayang, bunda hanya merasa bahagia saja." ucap Sarah sambil memanggil Cilla mendekatinya dan mereka pun berpelukan.
Sarah melepaskan pelukannya kepada ketiga anaknya lalu berjalan mengajak anak-anak ke taman belakang rumah. Sarah bermain dengan mereka, Sarah mencoba berlari kecil walau masih sedikit kaku tapi dia bisa berlari dengan normal lagi, alangkah bahagia hatinya sekarang dia bisa berlarian dan berkejaran dengan anak-anaknya. Hardi hanya duduk di kursi taman sambil melihat anak istrinya bermain senang, Hardi hanya ikut tersenyum terbawa suasana mereka.
Setelah itu, Hardi memberitahu orangtuanya bahwa Sarah telah bisa berjalan dengan normal, orangtua Hardi sangat senang mendengarnya sehingga mereka akan datang jika sempat. Sarah pun memberitahukan ibunya yang membuat bu Rahma menangis bahagia di balik telponnya.
Devan yang sudah kembali ke Amerika mendapatkan panggilan telpon dari Hardi.
Hardi : Halo Van!
Devan : Iya mas, ada apa nih nelpon, belum juga seminggu pulang ke Amerika mas udah kangen sama aku hehehehe
Hardi : Menghayal jangan ketinggian hehe... Begini Van, mas ingin berterimakasih padamu telah mengenalkan mas pada Dr. Damar. Sekarang Sarah bisa berjalan seperti semula, sudah tak pincang lagi.
Devan : Alhamdulillah, aku ikut bahagia mendengarnya mas. Itu semua berkat doa dan rasa optimis kalian juga mas, serta semangat mbak Sarah yang tak kunjung padam.
Hardi : Iya Van, mas juga merasa bersyukur memilikinya. Yasudah, mas harus bekerja, sekali lagi terimakasih.
Devan : Iya mas, sama-sama.
Panggilan telpon pun terputus, Devan merasa senang dan bersyukur bahwa Sarah telah bisa berjalan seperti semula.
________
Sarah datang ke perusahaan suaminya, pak Tono membuka pintu mobil dan Sarah pun turun dengan mengenakan pakaian yang sangat elegan walau Sarah hanya mengenakan setelan jas sederhana namun berkelas di tambah dengan sepatu high heels serta tas kecil di lengannya.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Sarah dan ada beberapa yang menatapnya diam terpana dan ada pula yang kasak kusuk soal cara berjalan Sarah yang telah normal kembali.
A : " Waahhh.... beneran cantik banget bu Sarah, cuma berjalan begitu saja bagai berjalan di atas catwalk."
B : " sudah cantik di tambah tubuhnya bagus, tak terlihat kalau bu Sarah sudah pernah melahirkan."
C : " Lihat, sekarang bu Sarah sudah berjalan normal, siapa nih yang suka ngehujat bu Sarah ketika pincang."
D : " Iya, buat yang ngehujat bisa minder melihat bu Sarah sudah normal kembali, aku salut sama pak Hardi yang selalu setia."
E : " Namanya orang kayak, orang berduit pasti mudah untuk berobat kemana-mana, melakukan apa saja sampai sembuh. Lah kita yang hanya punya uang pas-pasan pasti selamanya akan pincang."
A : " Hush udah jangan bicara yang aneh-aneh lagi, kita butuh uang kan! hayo kerja lagi."
_____________
Di Ruangan kantor Hardi
" Hai sayang, masih sibuk bekerja nih?" tanya Sarah mendadak.
" Sayang! kamu kesini kok gak bilang-bilang." ujar Hardi.
" Sengaja, biar jadi kejutan buat mas." balas Sarah tersenyum manis.
" Kamu cantik, sehingga membuatku ingin menggigitmu." gumam Hardi di telinga Sarah lalu mengecup samping leher istrinya.
Sarah yang terkejut dengan perbuatan Hardi, refleks mendorong tubuh Hardi menjauh.
" Kenapa sayang? kok mas di dorong?" ujar Hardi heran.
" Mas ini main nyosor saja, ini kan di kantor, nanti kalau ada yang masuk tiba-tiba kan kita bisa malu." ujar Sarah tak nyaman.
" Sayang, sayang... Mana ada orang yang berani masuk keruangan presdir, kalau ada nanti mas langsung pecat." ucap Hardi
Hardi hendak merangkul kembali Sarah namun tiba-tiba Rio masuk mendadak membuat Hardi merasa kikuk, Sarah hanya tersenyum melihat Hardi.
" Duh... eh... maaf pak, saya mengganggu yah. Yasudah saya akan keluar dulu nanti saya kembali lagi." ucap Rio yang merasa tak enak pada bosnya itu.
" Gak perlu, kalau mau masuk ketuk pintu dulu bisa!" ujar Hardi ketus.
" Saya sudah mengetuk pintu berkali-kali namun tak ada jawaban jadi akhirnya saya buka saja, namun malah.... Saya minta maaf." Rio tak melanjutkan ucapannya karena melihat tatapan tajam Hardi.
" Sudahlah, ada apa kemari?" tanya Hardi dingin.
__ADS_1
" Ini pak, ada beberapa dokumen yang harus pak Hardi pelajari." Rio menyerahkan beberapa map pada Hardi.
" Ok, akan saya pelajari sekarang kau boleh keluar." ujar Hardi.
" Baik pak, permisi." Rio masih merasa tak enak hingga dia keluar ruangan Hardi dengan kepala sedikit menunduk.
" Hehehehe... katanya jika ada yang mendadak masuk mau langsung mas pecat hehehe." ejek Sarah.
" Iya, kalau orang lain yang masuk mas akan pecat, terkecuali Rio." balas Hardi.
Sarah kembali tersenyum karena Sarah tahu jika Hardi tak akan pernah mau memecat Rio, karena Rio adalah orang kepercayaannya juga sudah merasa dekat, semakin dekat ketika Rio menikahi Sita sahabatnya Sarah.
" Hayo sayang, kita makan siang dulu." ajak Hardi.
" Tapi pekerjaan mas sepertinya banyak. Apa kita batalkan saja makan siangnya? nanti kita atuh lagi di lain hari." ujar Sarah.
" Tak apa-apa sayang, paling nanti mas lembur jadi sekarang kita makan siang saja." ujar Hardi.
Dan mereka berdua pun akhirnya pergi kesebuah restoran untuk makan siang, ternyata di sana sudah ada Rio yang sedang makan siang dengan Sita beserta putrinya yang sekarang sudah cukup besar.
" Mas, ada Rio dan Sita tuh, kita makan bareng mereka yuk." ajak Sarah menarik kecil lengan Hardi.
" Baiklah sayang." Hardi dan Sarah pun menghampiri Sita.
" Hai Sita..." sapa Sarah.
" Sarah, wah sudah lama sekali kita gak ketemu, senang banget bisa bertemu disini." balas Sita.
" Pak Hardi, hayo makan bersama." ajak Rio dan Hardi hanya mengangguk.
" Kalian kenapa kok terasa canggung begitu?" Sita merasa heran dengan Hardi dan Rio yang biasanya santai jika di luar kantor.
" Hehehe ada lah kejadian di kantor, kamu gak perlu tahu." ujar Sarah terus tersenyum, Hardi memelototi Sarah tanda jangan di beritahu dan Sarah membalas dengan cengiran.
" Oh iya, mumpung ketemu, aku mau ngasih tahu jika hari minggu nanti saya akan mengadakan syukuran untuk kesembuhan Sarah, kalian harus datang yah." ucap Hardi.
" Mas, kok mas tak memberitahuku?" heran Sarah yang tak tahu apa-apa.
" Iya pak, kami pasti datang." balas Rio.
Mereka pun makan siang sambil berbincang bak keluarga, terutama Sarah yang merasa gemas dengan anak Sita yang baru berumur 1 tahun dan masih lucu-lucunya. Anak Sita pun sangat akrab dengan Sarah padahal baru beberapa kali bertemu seolah sudah merasa nyaman dan mungkin merasakan ketulusan dari Sarah.
Bersambung......
__ADS_1
Selalu dukung Author dengan Like, Vote dan komen yah... Terimakasih 😁